
Lian membawa Helena ke kantin rumah sakit yang bisa di bilang seperti restoran. Lian memesankan beberapa menu yang biasa Helena makan di rumahnya.
Ketika pesanan datang, Helena masih mematung tak memakan makanannya. Lian berinisiatif menyuapi makanan untuk Helena.
"Buka mulutnya, Mom!" perintah Lian dengan suara lembut.
Helena terharu dengan sikap hangat Lian. Ia pun menurut. Hingga akhirnya makanan di piring Helena telah tandas.
"Terima kasih," ucap Helena.
Helena memegangi pipi Lian. "Apakah sakit?"
"Eh?"
"Maaf aku selalu bersikap kasar padamu. Aku salah menilaimu. Kau adalah gadis yang baik."
"Sudahlah, Mom. Yang lalu biarlah berlalu. Sekarang yang harus kita pikirkan adalah kesembuhan Mas Roy."
Helena mengangguk. Ternyata begitu menyakitkan saat mengetahui Roy sakit parah dan sedang berjuang antara hidup dan mati.
"Mom, sebaiknya Mommy beristirahat di paviliun. Biar aku yang menjaga Mas Roy malam ini."
Helena mengangguk kemudian ia berjalan bersama Lian menuju paviliun khusus untuk keluarga direksi rumah sakit.
Sementara itu, Julian keluar dari kamar rawat Roy dan menemui Maliq.
"Apa yang harus kita lakukan, Maliq?"
"Bersabarlah! Aku yakin kita pasti akan mendapatkan donor yang cocok."
Julian mengangguk.
"Kulihat Bibi Helena mulai bisa menerima Lian," ucap Maliq.
"Oh ya? Wanita itu? Bisa menerima Lian?" cibir Julian.
"Kurasa karena kelembutan hati Lian, Bibi Helena mulai luluh." imbuh Maliq.
"Patrick?" Suara lembut itu memanggil nama Julian.
Julian menoleh dan melihat Lian dengan ekspresi bingung.
"Kau ada disini?" tanya Lian.
"Iya. Aku menjenguk Roy, adikku."
"Dokter Maliq, ada kondisi darurat di kamar rawat mawar." seorang perawat menghampiri Maliq dan bicara dengannya.
"Baiklah, saya akan segera kesana. Maaf ya, aku harus pergi." pamit Maliq.
Kini tinggalah Lian dan Julian. Mereka masih saling diam.
"Kau sudah makan?" tanya Lian berbasa-basi.
Julian terkekeh. "Aku bukan orang asing, Berlian. Jangan bersikap kaku padaku."
"Maaf..."
"Kau pasti terkejut mendapati kenyataan tentang keluargaku. Keluarga yang sudah lama kutinggalkan."
__ADS_1
"Apa kau membenci mereka?"
"Pertanyaan macam apa itu, Lian? Aku menyayangi keluargaku. Hanya saja aku ... tidak bisa membiarkan semua ini terus berlanjut. Hanya akan ada kesakitan yang di rasakan Roy jika semua ini terus terjadi."
"Jadi kau ingin membalaskan dendammu?"
"Dari mana kau mendapat informasi seperti itu? Aku tidak membalas dendam."
Lian meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Kau menghubungi siapa?" tanya Julian.
"Daddy. Sedari tadi aku menghubunginya tapi masih belum tersambung."
Julian berdecih. "Dia memang seperti itu. Sebaiknya kau jangan memaksakan dirimu."
"Kulihat Daddy adalah orang yang baik."
"Yeah, itu menurutmu. Kau tidak tahu seperti apa dia. Kau akan menginap disini? Kalau begitu, aku permisi. Aku harus kembali ke kantorku." Julian berpamitan dengan Lian yang masih bergeming tak percaya dengan apa yang terjadi.
......***......
Tengah malam, Lian tertidur disamping brankar Roy dengan beralaskan lengannya sebagai bantal. Tiba-tiba seseorang masuk kedalam kamar rawat Roy.
"Roy!" pekik orang itu yang membuat Lian seketika mengerjap bangun dari tidurnya.
Lian membenahi penampilannya.
"Daddy?" ucap Lian.
"Roy!! Apa yang terjadi denganmu, Nak?"
"Dimana Helena?"
"Mommy ada di paviliun bersama kakek."
Entah apa yang sedang dirasakan oleh Dandy, ia malah kembali pergi dari kamar Roy.
"Ada apa dengannya?" gumam Lian.
Tanpa diduga, Dandy menemui Maliq dan menangis di depannya. Dandy meraung-raung meratapi nasib Roy yang kini diatas tanduk.
"Selamatkan dia, Maliq! Ambillah jantungku! Tolong jangan biarkan dia pergi dengan cara seperti ini!" Dandy mengguncang tubuh Maliq yang tetap bergeming.
Maliq sendiri tak tahu harus bicara apa. "Paman, jangan begini! Kami semua sebagai tim dokter sedang mengusahakan yang terbaik untuk Roy."
Dandy melepaskan tangannya dari bahu Maliq. Ia terduduk lemas di depan Maliq.
"Sebaiknya Paman istirahat di paviliun. Ini sudah malam. Kita bicarakan besok saja tentang kondisi Roy." Maliq memapah tubuh Dandy menuju paviliun.
Maliq kembali bertemu Lian usai mengantar Dandy.
"Dokter Maliq, apa Daddy menemuimu?"
"Iya. Dia menemuiku dan kondisinya kacau. Sebaiknya kau kembali beristirahat. Kau juga terlihat lelah."
"Iya. Terima kasih, Dokter." Lian berpamitan pada Maliq.
......***......
__ADS_1
Keesokan harinya, terjadi keributan di ruang paviliun tempat khusus yang digunakan para direksi rumah sakit untuk beristirahat. Seorang security datang melerai namun ia memilih diam dan ingin ikut campur urusan pribadi kedua orang itu. Tidak ada yang berani melerai perdebatan antara petinggi rumah sakit itu.
Karena tak menemukan cara yang bagus untuk menghentikan perdebatan itu, akhirnya security itu memutuskan menemui Maliq yang ternyata sedang berada di kamar Roy. Lian yang mendengar cerita itu segera mengikuti langkah si security bersama Maliq.
Lian sangat terkejut karena ternyata Helena dan Dandy sedang berdebat di depan Donald. Lian menghampiri Donald yang terlihat frustasi karena tingkah menantu dan putranya.
"Berhenti kalian!" Lian terkejut karena ternyata Donald akhirnya bersuara.
"Tidak ada gunanya kalian berdebat seperti ini. Roy tidak butuh pertengkaran kalian!" ucap Donald yang membuat keduanya mematung.
"Apa kalian tidak malu dengan usia kalian? Apa kalian sudah melupakan citra kalian sebagai petinggi rumah sakit ini?"
Donald mengatur nafasnya. Usianya sudah tak muda lagi untuk berteriak seperti tadi.
"Baguslah kalian sudah melupakan siapa diri kalian. Karena semua itu tidaklah penting jika kalian melihat kondisi Roy yang koma. Bahkan kekayaan dan jabatan kalian tak bisa membuatnya sembuh seperti sedia kala. Jadi, hentikan semua ini dan jagalah putra kalian."
Lian dan Maliq saling pandang. Mereka tahu kesakitan apa yang sedang dirasakan Donald.
Perdebatanpun berakhir dengan Dandy yang mengalah dan memilih pergi. Donald yang hampir ambruk segera ditangkap oleh Lian.
"Kakek..." Lian amat cemas dengan kondisi Donald.
"Kakek tidak apa, Nak." Donald meyakinkan Lian.
"Entah apa yang salah dengan carw didik kakek, kenapa kakek memiliki putra yang seperti itu."
Lian menatap iba pada pria tua yang tengah meratapi nasibnya.
Di tempat berbeda, Dandy mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Ia marah pada dirinya sendiri karena tak bisa menjaga putranya. Lagi-lagi ia gagal menjadi seorang ayah yang baik untuk kedua putranya.
"Aku memang tidak berguna. Aku tidak pantas hidup! Aku bukan ayah yang baik. Maafkan Daddy, Julian, Roy..." Dandy menitikkan air mata sambil terus menginjak pedal gas makin dalam.
Kembali ke rumah sakit, kondisi Roy tiba-tiba menurun. Maliq segera membawa Roy ke ruang intensif untuk mengetahui kondisinya lebih jauh.
"Mas Roy, bertahanlah... Kumohon bertahanlah!" Lian terus menggumamkan doa untuk suaminya. Helena pun tak kuasa terus meneteskan air matanya.
"Jangan ambil anakku, Tuhan! Ambil saja nyawaku!" gumam Helena.
Sedangkan Donald hanya bisa pasrah dengan keadaan yang akan terjadi pada Roy nanti.
"Dia sudah lelah, Tuhan. Sudah cukup penderitaan yang dia alami selama ini. Jika memang kau ingin mengambilnya, maka itulah yang terbaik." Donald memejamkan matanya.
Kemudian Donald menghampiri Helena dan Lian yang sedang saling berpelukan.
"Biarkan dia pergi, Helena..." Ucap Donald.
Lian dan Helena membulatkan matanya.
"Sudah cukup dia kesakitan. Biarkan dia melepas semua beban dalam hidupnya."
Lian mematung tak percaya dengan apa yang dikatakan Donald.
......***......
#bersambung...
"Akankah ada keajaiban untuk Roy?"
😢😢😢😢
__ADS_1