
Berlian sejak pagi sudah berkutat di sebuah ballroom hotel termegah milik keluarga Royale. Ia mengecek semua persiapan untuk acara pertunangan sang putra tersayang. Tinggal beberapa jam lagi menuju acara akbar malam nanti.
"Nyonya Berlian!" seorang wanita muda menghampiri Lian.
"Perkenalkan saya Arzetta, saya adalah penanggung jawab untuk acara malam nanti. Mohon maaf karena saya baru bisa menemui Nyonya." Wanita muda itu mengulurkan tangannya.
"Ah iya, tidak apa. Ternyata pemilik perancang acaranya masih muda ya. Saya pikir sudah berumur," canda Lian sambil menyambut uluran tangan Zetta.
"Nyonya bisa saja. Saya memang baru berusia 20 tahun. Tapi saya sangat menyukai pekerjaan merancang acara. Ini adalah impian saya. Kalau boleh saya tahu, apa ada hal yang ingin Nyonya ubah atau Nyonya tambah? Mengenai dekorasi dan penataan tempat duduk tamu."
"Hmm, sepertinya tidak ada. Aku sangat menyukai dekorasinya. Kau sangat berbakat, Arzetta," puji Lian.
"Panggil Zetta saja, Nyonya."
"Baiklah, Zetta. Aku akan mengecek persiapan di kamar Boy dan Natasha. Sepertinya sebentar lagi mereka akan datang."
"Baik, Nyonya. Saya juga akan kembali bekerja."
......***......
Tiba di malam yang amat ditunggu-tunggu oleh Boy dan Natasha, malam dimana mereka akan melangkah ke jenjang yang lebih serius dalam hubungan mereka sebelum menuju ke pernikahan. Boy mematut dirinya di depan cermin dan bergaya dengan gagah di depan cermin.
"Nat pasti sedang bersiap! Aku akan mengejutkannya dengan datang ke kamarnya," gumam Boy dengan senyum mengembang.
Boy mengendap-endap menuju kamar hotel Natasha yang berada tepat di depan kamarnya. Ia membuka pintu dan bertemu dengan make up artist yang sedang merapikan riasan Natasha.
"Sudah sempurna, Nona. Kalau begitu saya permisi dulu," ucap si penata rias.
"Iya, terima kasih ya," balas Natasha.
Natasha meraih ponselnya untuk menghubungi Cicind yang katanya akan datang bersama teman-teman kru dramanya.
Saat sedang mengetik pesan, Natasha terkesiap karena secara tiba-tiba ada tangan yang melingkar di pinggangnya.
"Astaga!" pekik Natasha.
"Sayang, apa yang sedang kau lakukan? Kau ingin menghubungi siapa?" ucap Boy dengan mengecupi tengkuk Natasha yang terbuka karena memakai gaun tanpa lengan.
"A-aku ... sedang menghubungi Cicind. Dia bilang dia akan datang bersama teman-teman kru drama." Natasha mulai terbuai dengan sentuhan Boy.
"Kau sangat mempesona, sayang..." Boy melanjutkan aksinya.
"Boy! Hentikan!" pinta Natasha yang menolak namun tubuhnya menerima.
"Eumh..." Natasha menggumam.
"Astaga! Kalian ini! Apa sudah tidak tahan, hm?" Riana tiba-tiba datang dan mengacaukan segalanya.
Boy menggaruk tengkuknya sedang Natasha tertunduk malu.
"Maaf, Bibi. Putri bibi sangat menggodaku," aku Boy.
"Sebaiknya setelah pertunangan, kita tentukan tanggal pernikahan kalian. Kalian sudah tidak bisa dikontrol jika saja aku tidak datang tadi." Riana menggeleng pelan.
"Mommy! Jangan membuatku malu!" Natasha makin tersipu malu.
"Sudahlah! Ayo cepat keluar! Semua tamu sudah menunggu kalian," ajak Riana.
__ADS_1
"Baiklah, ayo sayang!" Boy menyodorkan lengan kirinya pada Natasha.
Gadis cantik itu langsung menyambutnya.
......***......
Begitu tiba di ballroom hotel, Boy dan Natasha disambut oleh tepuk tangan meriah dari para tamu dan lampu flash dari para pencari berita. Natasha cukup tercengang karena ternyata Boy benar-benar mengundang banyak wartawan untuk mendeklarasikan hubungan mereka.
Ada sedikit kegundahan di hati Natasha karena setelah malam ini semua orang akan mengetahui hubungannya dengan salah satu pewaris Avicenna Grup itu. Matanya menelisik satu persatu tamu undangan yang hadir di pesta pertunangannya.
Ada seringai aneh yang Natasha lihat dari sorot mata lawan mainnya, yaitu Sean Connan. Entah apa maksud tatapan yang dilayangkan pada kekasih Boy Avicenna itu.
Natasha tak.mau ambil pusing dengan ulah Sean. Selama ini ia hanya menganggap Sean sebagai temannya saja.
Tiba di atas panggung, Boy menyapa hangat para tamu undangan dengan memberikan sedikit kata sambutan. Di bawah panggung, teman-teman Boy berkumpul dan membicarakan soal pemilik acara malam hari ini.
"Tidak menyangka jika diantara kita berenam, Boy lah yang lebih dulu menuju pelaminan," celetuk Kenji.
"Lalu kau pikir harusnya kau yang harus naik pelaminan lebih dulu?" balas Fajri.
"Dia adalah pemain wanita, Ji. Dia tidak akan serius bersama dengan satu wanita tiap harinya," kekeh Rana yang sengaja mengejek Kenji.
"Sudah, sudah. Teman kita sedang bicara, kenapa malah kita tidak mendengarkannya?" lerai Dion.
"Mereka memang sangat cocok. Tapi, entah kenapa ada raut berbeda yang dirasakan oleh Natasha," timpal Rion.
"Saudaraku, mereka sedang menempuh kebahagiaan, kau jangan merusak suasana," sahut Dion.
"Iya, iya, baiklah. Maaf jika aku salah ucap." Rion pun tak melanjutkan perdebatan mereka.
......***......
Untuk menghidupkan suasana, Boy mencium singkat bibir Natasha setelah pertukaran cincin terjadi. Hingga akhirnya acara santai pun di gelar.
Boy menyapa rekan-rekan bisnisnya juga teman-temannya.
"Selamat ya, kawan!" ucap Fajri.
"Thanks, buddy. Kau sudah bawa hadiahku?" tanya Boy mengerling.
Fajri memutar bola matanya malas. "Iya, aku sudah bawakan khusus untukmu dari Jerman."
Boy tersenyum gembira. Ia seperti anak kecil yang permintaannya dituruti.
"Terima kasih banyak, kawan! Natasha pasti akan sangat senang."
"Kurasa bukan dia yang senang, tapi kau. Kau benar-benar punya ide yang sangat tidak masuk akal."
Boy tertawa. "Suatu saat kau juga pasti akan membutuhkan mobil seperti itu, kawan."
"Besok kita berangkat ke Desa Selimut. Kau sudah meminta ijin pada tunanganmu?"
"Tentu saja. Kami selalu saling mendukung dalam hal karir. Kau beritahu semua kawan-kawan agar bersiap. Bilang pada mereka jangan sampai mabuk malam ini. Mereka bisa terlambat jika malam ini mereka mabuk."
Fajri menepuk pelan keningnya. "Astaga! Kau benar. Aku akan melerai mereka." Fajri segera undur diri.
Boy mencari keberadaan wanita yang kini menjadi tunangannya. Matanya diedarkan bak seekor elang yang akan menangkap mangsanya.
__ADS_1
Boy tersenyum kala melihat kekasihnya sedang berbincang dengan kawan-kawan kru dramanya.
"Hai, sayang..." sapa Boy dengan memeluk pinggang ramping Natasha.
"Halo, Tuan Dokter Tampan," sapa Cicind dengan gaya gemulainya.
"Halo, Cind. Kuharap kalian menikmati pestanya. Bisakah aku membawa calon istriku ini bersamaku?" ijin Boy pada teman-teman Natasha.
Natasha mengerutkan keningnya. Namun ia tetap mengikuti kemana langkah Boy membawanya.
"Kita mau kemana?" tanya Natasha yang ternyata dibawa keluar ballroom oleh Boy.
"Kita akan berkendara," jawab Boy santai.
"Berkendara? Yang benar saja! Tamu-tamu kita masih banyak, Boy. Bagaimana bisa kita meninggalkan mereka?"
"Sudahlah! Lagi pula mereka juga sedang menikmati pestanya. Ayo!" Boy menarik tangan Natasha dan memperlihatkan mobil baru miliknya.
"Mobil siapa ini?" tanya Natasha.
"Mobilku. Mobil kita. Hadiah dari Fajri. Ayo naik!" Boy membuka pintu mobil dan mempersilakan Natasha duduk.
Boy pun ikut duduk di kursi kemudi. Natasha merasa aneh karena jok mobil baru Boy terpasang menjadi satu. Membuat pengemudi dan penumpang bisa saling duduk berdampingan.
"Kau pasti yang meminta mobil ini pada Fajri. Aku mengenalnya, dia tidak akan membuat mobil model seperti ini jika tidak ada permintaan dari pembeli."
Boy menggaruk kepalanya. "Ternyata kau sudah mengetahuinya. Baiklah, kita akan mencoba mobil otomatis ini."
Boy memberi perintah dengan suaranya, lalu perlahan mobil mulai melaju. Boy tersenyum seringai dan langsung menarik tubuh Natasha mendekat padanya.
"Boy! Apa yang kau lakukan?" pekik Natasha ketika dengan posesifnya Boy mengunci tubuhnya.
"Aku ingin menikmati malam ini bersamamu, sayang," bisik Boy di telinga Natasha.
Tak bisa menolak dengan sentuhan Boy, Natasha hanya bisa pasrah saat Boy mulai mendaratkan kecupan di bibirnya. Ciuman yang tadinya berirama pelan kini berubah panas dengan lumattan yang mulai membentuk suara.
Boy makin berani bergerilya dengan memberikan beberapa tanda merah di leher Natasha.
"Boy!" Natasha protes karena pastinya ia akan malu jika ada yang melihat tanda merah di tubuh mulusnya.
"Itu adalah tanda jika kau hanyalah milikku!" Boy kembali meraih bibir candunya dengan mobil yang masih melaju pelan membelah jalanan kota di malam hari.
Saat semua gairah mulai memuncak, tiba-tiba saja muncul sebuah suara dari pengeras suara didalam mobil.
"Boy! Kau sudah melewati batas! Aku akan mengambil kembali mobilku jika kau berbuat diluar batas! Ingat! Kau masih belum menikah! Aku tidak akan membiarkan kau berbuat lebih jauh pada Natasha. Kau pikir aku tidak tahu rencanamu dengan memesan mobil otomatis padaku, huh! Dasar dokter gila!" teriak Fajri dari pengeras suara.
Boy terkekeh karena aksinya diketahui oleh si pembuat mobil. Sedang Natasha memukuli Boy pelan karena sudah membuatnya malu di depan Fajri.
...B E R S A M B U N G...
"kakakakakak, Boy koplak bener daaah,
by the way, selamat ya Natasha-Boy yang sudah bertunangan."
...HAPPY TUESDAY...
Selasa, mari bahagiaaaaa
__ADS_1