Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 08. Pindah Rumah?


__ADS_3

Boy


kembali ke rumah dengan perasaan bahagia. Ia senang bisa bekerja dengan


ayahnya. Meski awalnya sempat berdebat karena ayahnya tak mau mengalah, tapi


akhirnya di deduksi terakhir mereka berdua mengemukakan pendapat yang sama. Dan


membuat pelaku pembunuhan jasad tadi terbongkar.


“Ada


apa, sayang? Kau terlihat sangat senang setelah kembali dari rumah sakit.” Tanya


Lian sambil menyiapkan makan siang.


“Iya,


Ma. Tadi aku kembali melakukan autopsi. Dan Mama tahu, aku bekerja bersama


siapa?”


“Siapa


memangnya?”


“Dokter


Roy.”


“Dokter


Roy?” Lian mengernyitkan kening.


“Vincent


Roy Avicenna, Ma. Dia dokter forensic yang sangat terkenal.”


Lian


tersedak ketika mendengar nama Roy.


“Ada


apa, Ma?”


“Ti-tidak


apa-apa.” Entah kenapa wajah Lian menjadi panic ketika mendengar nama Roy. Padahal


mereka saling mengenalpun tidak. Mereka hanya tak sengaja bertemu saat ponsel


Lian tertinggal di resto hotel.


“Kau


makanlah dulu, ya. Mama mau ke kamar mandi.” Lian segera bergegas menuju kamar


mandi.


Lian


memandangi wajahnya di cermin. “Ada apa denganku? Kenapa aku jadi gugup saat


mendengar nama pria itu?” Lian memegangi wajahnya. “Astaga!!!”


Lian


mencuci wajahnya agar terlihat lebih segar. Dia berusaha menetralkan detak


jantungnya yang tak beraturan.


“Keluarga


Avicenna adalah keluarga yang sangat terpandang, Lian. Kau harus sadar siapa


dirimu. Bahkan memikirkannya saja kau tak pantas. Huft!!!”


,


,


,


“Aku


tidak tahu sebenarnya ini pantas untuk kukatakan atau tidak. Tapi, aku ingin


mempermudah pekerjaan putramu.” Jelas Patrick.


“Jadi,


apa maksudmu?” Tanya Lian tak paham.


“Akan


lebih mudah untukku mengawasi Boy jika kami tinggal berdekatan.”


“Maksudmu…”


“Ikutlah


pindah ke apartemenku!”


“Hah?!


Apa maksudmu?!” sungut Lian.


“Jangan


salah sangka dulu, Nona. Maksudku bukan tinggal satu unit apartemen denganku,


tapi berbeda unit.”


“Lalu?”


“Aku


sudah menyiapkan apartemen untuk Boy. Dia akan bekerja dengan lebih baik. Aku


menyiapkan satu kamar khusus untuknya.”


Lian


menghela nafasnya. “Kenapa kau melakukan ini?”


“Karena


ini adalah tugasku sebagai pembimbing Boy.”


Lian


terdiam dan tidak menjawab.

__ADS_1


“Kau


pikirkan saja dulu, Nona. Kau bisa pindah bersama temanmu juga.”


,


,


,


“Pindah?”


Riana berjingkat antusias. “Kurasa itu ide yang bagus juga!” Ia meringis


memperlihatkan deretan giginya.


“Ish,


kau ini!”


“Rejeki


mana boleh ditolak sih, Li!”


“Tapi…


aku merasa tidak enak hati dengannya. Kami bahkan baru sebulan ada disini.”


“Mungkin


dia lelah harus bolak balik kemari. Apartemen apa yang dia tawarkan?”


“Prince


Town.”


“What?!


Prince Town! Kau serius, Li? Itu adalah apartemen mewah di kota ini. ayolah,


Li, kita pindah saja kesana!” rengek Riana pada Lian.


“Ish,


kau!” Lian ingin sekali memukul gadis manis yang merajuk pada dirinya itu.


“Lagipula


kurasa itu adalah imbalan untuk pekerjaan Boy. Benar, ‘kan?”


“Entahlah.”


Lian memutar bola matanya malas.


“Kau


beruntung memiliki Boy dalam hidupmu, Li.”


“Dia


adalah cahaya hidupku, Ri. Aku tidak tahu bagaimana hidupku jika tanpanya.”


Riana


memeluk sahabatnya itu. Riana tahu bagaimana perjuangan Lian di saat-saat


sendiri mengandung Boy tanpa seorang suami di usia yang masih amat muda. Ia mengusap


punggung Lian lembut.


“Kau


sudah menuai hasil yang manis sekarang. Jangan memikirkan apapun lagi. Oke?”


Lian


mengangguk. “Terima kasih, Ri. Aku tidak tahu bagaimana hidupku tanpa dirimu.”


Esok


harinya, Lian menghubungi Patrick dan mengatakan jika dirinya bersedia pindah


bersama Boy juga Riana. Dan hari ini mereka sedang mengemas barang-barang yang


akan dibawa. Patrick dan Kenzo pun ikut membantu membawa barang pindahan milik


Lian dan Boy.


“Kau


tidak perlu membawa banyak barang, Nona. Apartemen itu dilengkapi fasilitas


yang lengkap.” Terang Patrick. Lian mengangguk paham.


Sekitar


45 menit perjalanan menuju apartemen Prince Town di tengah kota. Lian terkesima


melihat unit apartemen yang cukup mewah itu. Dominasi warna krem membuat hati


menjadi tenang. Lian menyukai warna yang lembut.


Lian


menuju dapur. Tempat ini adalah tempat favoritnya setelah menjadi seorang ibu.


“Kau


suka memasak?” Tanya Patrick.


“Hmm,


begitulah.” Jawab Lian singkat.


“Kalau


begitu kau bisa masak untukku?”


“Eh?”


Sejenak tatapan mata mereka bertemu. Lian melihat ketenangan dalam tatapan


Patrick.


“Umm,


maksudku… masak untuk kami semua. Tidak hanya untukku.” Patrick menggaruk


tengkuknya yang tak gatal. Ia gugup setelah saling bertatapan dengan Lian.


Lian


tersenyum. Senyumnya sangat manis. “Tentu saja. Aku akan membuatkan makanan

__ADS_1


untukmu setiap hari. Tapi ada syaratnya.”


“Heh?


Apa syaratnya?”


“Kau


tidak boleh membuang makanannya. Kau harus menghabiskannya.”


Patrick


tertawa. “Hanya itu saja syaratnya? Tentu saja aku akan melakukannya.”


“Terima


kasih.” Ucap Lian.


“Untuk


apa?”


“Semuanya.


Kau orang yang baik, Tuan Hensen.” Jawab Lian kemudian menghampiri Riana dan


Kenzo yang sedang berbenah.


Setelah


seharian memindahkan barang-barang, Patrick dan Kenzo memutuskan untuk


bersantai dan meminum kopi di café apartemen di lantai bawah. Meski barang


milik Lian dan Boy tidak terlalu banyak, tetap saja mereka merasa lelah.


Saat


sedang menyesap kopinya, netra Patrick tertuju pada seseorang yang tidak asing.


Kenzo yang melihat ekspresi sahabatnya berubah, segera mengikuti kemana arah


mata Patrick memandang.


“Astaga,


Pat! Kau memandanginya sampai matamu akan terlepas.” Ledek Kenzo.


“Jangan


asal bicara! Kau tahu kenapa bosmu ada disini?”


“Maksudmu


dokter Roy?”


Patrick


memutar bola matanya malas. “Siapa lagi?”


“Dia


memang tinggal disini.” Balas Kenzo santai.


“Dia?


Benarkah? Sejak kapan?” Patrick sangat terkejut.


“Sebelum


kau pindah kemari, dia sudah tinggal disini, Pat.”


Patrick


berusaha menetralkan deru nafasnya. Orang yang ia bicarakan kini telah


menghilang tertutup pintu lift yang membawanya naik.


“Ada


apa, Pat?”


“Tidak


ada.” Patrick memalingkan wajahnya.


Kenzo


mengedikkan bahunya. Ia tak mau ikut campur urusan sahabatnya itu. Masa lalu


yang berusaha Patrick kubur bersama kenangan pahitnya kini kembali menyeruak. Terkadang


ia sendiri bingung, apakah keputusannya untuk kembali ke Negara ini adalah


benar atau tidak.


Wanita


cantik itu menerobos masuk sebuah ruangan laboratorium yang sudah lama


terbengkalai. Dia adalah Zara, yang sedang mencari bukti tentang apa yang


dilakukan kakeknya 7 tahun lalu. Bertahun-tahun mencari bukti yang konkret


namun masih belum ia temukan hingga akhirnya ia bertemu dengan Boy.


Firasatnya


tidak mungkin salah. “Ada sesuatu dengan anak itu yang terhubung dengan


peristiwa 7 tahun lalu.”


Zara


menggeram kesal karena tak menemukan apapun.


“Arrrggghhh!!!


Dasar kakek tua! Dimana kau sembunyikan semua bukti-bukti itu!”


Wanita


cantik itu kini berubah menyeramkan hanya karena ingin menemukan bukti dari


masa lalu.


“Aku


tidak akan melepaskan perempuan itu dan juga anaknya jika sampai semua itu


benar. Kau lihat saja, kakek. Kau akan menyesal karena sudah melakukan ini


padaku!”

__ADS_1


#bersambung


__ADS_2