
Pagi itu, rutinitas di rumah Zetta berjalan seperti biasa. Zetta yang bersiap pergi ke kantor, dan putranya Andra yang akan pergi ke sekolah.
Zetta mengantar Andra sampai ke depan rumah. Seperti biasa Andra berangkat diantar oleh supir Zetta bernama Diman.
"Hari ini apa yang akan kau lakukan, Aleya?" tanya Zetta ketika masuk kedalam rumah.
"Aku akan pergi ke kampus. Kenapa Kak?"
"Tidak ada. Hari ini kau tidak perlu menjemput Andra. Biar nanti aku saja yang menjemputnya."
Aleya mengangguk. "Kakak akan berangkat ke kantor sekarang?"
"Iya. Oh ya, apa kau butuh mobil?"
"Kurasa tidak, Kak. Aku akan memesan taksi saja."
"Kau sudah menyesuaikan diri dengan kehidupan kota rupanya."
Aleya meringis. "Imah yang mengajariku."
"Tetaplah berhati-hati. Aku berangkat ya!"
"Iya, Kak!"
Sepeninggal Zetta, Aleya menuju kamarnya dan menyiapkan buku-buku yang ia bawa ke kampus.
"Sepertinya sudah semua. Aku harus memakai baju apa ya untuk kuliah pertamaku?"
Aleya memilih koleksi baju-bajunya yang menurutnya sopan untuk pergi ke kampus.
Usai mematut diri, Aleya pun pergi ke luar rumah dan memanggil taksi melalui ponselnya.
Tiba di kampus, Aleya berjalan mencari kelasnya.
Hari pertama kuliah cukup mendebarkan untuk Aleya. Ia masih belum memiliki seorang teman yang bisa ia ajak mengobrol.
Semua orang terlihat sangat sibuk. Mereka langsung berhambur keluar begitu kelas usai.
Aleya membuka ponselnya dan mendapat sebuah pesan dari Rion. Pria itu kini telah resmi bekerja kembali di rumah sakit Avicenna.
"Aku akan menjemputmu untuk makan siang." Tulis Rion dalam pesannya.
Aleya tersenyum. "Baik, Kak." Ia membalas pesan dari Rion. Ia melihat jam di ponselnya dan masih menunjukkan pukul 10 pagi.
"Masih cukup lama untuk menuju makan siang. Kalau begitu aku akan ke perpustakaan saja. Aku akan mencari banyak buku untuk referensiku nanti."
Aleya berjalan kembali menyusuri jalanan setapak kampus. Ia mencari keberadaan perpustakaan.
Mata Aleya berbinar bahagia saat menemukan dimana letak perpustakaan. Ia masuk dan mencari tempat yang menurutnya nyaman untuk membaca buku.
Aleya meletakkan tasnya dan mencari buku-buku yang memang penting untuknya sebagai calon dokter anak. Setelah mendapat tiga buku, Aleya kembali duduk dan mulai membacanya.
"Permisi! Boleh saya duduk disini?" Suara seorang pria menginterupsi Aleya.
Aleya mendongak melihat siapa pria yang meminta izin padanya.
"Bukankah ini tempat umum? Tentu saja kau boleh duduk disini," balas Aleya sekenanya.
Pria itu membawa beberapa buku lalu duduk berhadapan dengan Aleya.
__ADS_1
"Aku meminta izin lebih dulu karena biasanya tidak banyak orang yang ingin bergabung dengan orang lain saat berada di perpustakaan."
Aleya mengernyit. "Apa maksudmu?"
"Kau pasti mahasiswi baru ya?" tanya pria itu.
"Aku memang baru disini, tapi aku bukan pertama kalinya kuliah. Aku melanjutkan studiku mengambil spesialis."
Pria itu melirik pada buku yang Aleya baca.
"Ah, kau adalah seorang dokter?"
Aleya mengangguk.
"Kakakku juga seorang dokter. Omong-omong kau mengambil apa?"
"Dokter anak."
"Oh ya? Kau pasti sangat menyukai anak-anak, benar kan?"
Aleya mulai tak suka dengan sikap pria di depannya.
"Maaf, jika aku mengganggu. Namaku Nathaniel. Kau bisa memanggilku Nathan. Atau ... Kau juga bisa memanggilku sayang."
"Ish, apa sih? Tidak jelas!" Aleya segera membawa buku-bukunya dan pindah ke meja yang lain.
"Nona, maafkan aku. Jangan pergi!" seru Nathan yang membuat petugas perpustakaan menegurnya.
Aleya duduk di tempat yang berbeda namun lagi-lagi Nathan kembali mendekatinya.
"Aku tidak akan mengganggumu, aku janji. Tapi katakan siapa namamu!" Nathan tidak menyerah.
"Dengar, Nona. Aku sudah memperhatikanmu sejak kau berjalan mencari perpustakaan. Berilah aku kesempatan!" mohon Nathan.
Aleya menatap Nathan tajam. "Berapa usiamu?"
Nathan tertawa. "Wah, apa kita akan seserius itu hingga kau menanyakan usiaku?"
"Jawab saja!" Aleya berusaha meredam emosinya.
"Aku baru 20 tahun. Tapi jika kau memang ingin serius maka aku..."
"Maaf, permisi! Aku masih banyak urusan." Aleya menutup bukunya dan berjalan keluar dari perpustakaan.
"Dasar anak jaman sekarang! Apa yang ada di otak mereka? Baru 20 tahun saja sudah berani merayu seorang gadis. Huft!" sungut Aleya sambil terus melangkahkan kakinya keluar kampus.
Tak disangka sebuah mobil tiba-tiba menghampiri Aleya. Aleya menyipitkan mata untuk mencari tahu siapa orang yang ada di dalam mobil. Namun kaca mobil itu terlalu gelap hingga ia tak bisa melihat siapa dibalik kemudi mobil itu.
Tiba-tiba pintu mobil terbuka dan seseorang dari dalam mobil menarik tangan Aleya hingga masuk kedalam mobil.
"Lepaskan! Siapa kau?" Aleya meronta. Ia membuka pintu mobil namun ternyata sudah dikunci oleh si empunya.
"Ini aku!" Sebuah suara yang sudah lama tidak didengar oleh Aleya.
"Kak Boy?" Aleya menatap lekat pria yang ada di sampingnya.
Dengan sebuah perintah suara, mobil mulai melaju tanpa harus dikemudikan oleh si pengemudi.
Aleya segera memalingkan wajahnya.
__ADS_1
"Turunkan aku, Kak! Aku bisa pulang sendiri."
"Maaf atas kejadian empat tahun lalu," ucap Boy.
"Tidak ada yang perlu di maafkan. Kakak sudah menikah. Maka jalanilah hidup kakak. Tidak perlu memikirkanku."
"Aku selalu memikirkanmu, Aleya."
Aleya tersenyum getir.
"Sudah cukup, Kak! Apa yang terjadi diantara kita bukanlah apa-apa. Aku hanya terlalu berharap saja."
"Tapi harapan itu semakin nyata ketika aku juga mengharapkanmu."
"Jika kau mengharapkanku kau tidak akan menikah dengan orang lain. Hentikan mobilnya! Aku mohon!" pinta Aleya dengan harap pada Boy.
Boy yang sudah amat merindukan gadis didepannya segera membawa Aleya dalam dekapannya.
"Lepaskan aku, Kak! Kau sudah tidak waras! Kau sudah menikah!" Semakin Aleya meronta semakin Boy mendekapnya erat.
"Maaf aku terlambat menyadari perasaanku. Maafkan aku, Aleya."
Aleya menangis terisak dalam dekapan Boy. Sungguh hatinya ingin bahagia karena bisa bertemu Boy, tapi ia sadar hubungan mereka takkan pernah bisa terwujud. Ada hati lain yang harus dijaga.
"Lepaskan aku, Kak!" tegas Aleya.
Boy mengurai pelukannya. "Maaf..." Hanya satu kata yang bisa ia katakan.
"Tolong turunkan aku! Aku mohon!" Aleya memohon dengan sangat.
Boy memberi perintah pada mobil otomatis itu untuk menepi.
"Terima kasih," ucap Aleya sebelum membuka pintu.
Namun sebuah kejutan kembali terjadi. Boy menarik lengan Aleya dan menarik tengkuknya dalam hingga tak ada jarak diantara mereka.
Boy mencuri sebuah ciuman dari gadis cantik itu. Tanpa bisa berkutik Aleya hanya bisa diam saat Boy mendekapnya makin erat.
Setelah puas, Boy melepaskan Aleya. Ia menyatukan keningnya dan kening Aleya. Seakan mengulang memori masa lalu mereka.
Buliran bening mulai mengalir dari mata indah gadis cantik itu.
"Kenapa kakak melakukan ini padaku? Apa aku hanya mainan bagimu? Jangan pernah menemuiku lagi atau aku akan membencimu selamanya."
Aleya membuka pintu mobil dan berlari sekencangnya meninggalkan Boy yang masih diam merutuki kebodohannya.
Ponsel Aleya terus berdering. Sebuah panggilan dari Rion. Beberapa pesan dari Rion tidak mendapat balasan dari Aleya hingga akhirnya Rion memutuskan menghubungi Aleya.
Telepon tersambung namun Aleya tidak menjawabnya.
"Maafkan aku, Kak Rion. Maafkan aku... Sekali lagi aku menyakitimu."
Aleya terduduk lemas di sebuah bangku panjang di taman kota. Air matanya tak mau berhenti karena mengingat apa yang sudah ia perbuat bersama Boy tadi.
"Aku memang bodoh! Kau bodoh, Aleya!" Aleya merutuki dirinya sendiri.
...B E R S A M B U N G...
*huhuhuhu, maaf jika alurnya tak sesuai ekspektasi kalian,
__ADS_1
Semoga terhibur dengan kisah ini.
...Terima kasih...