
Natasha membawa Boy pergi dari apartemen Fajri. Sekali lagi ia amat berterimakasih pada sahabat-sahabat Boy yang sudah setia menemani Boy saat dirinya terpuruk.
Fajri dan Rana melepas kepergian Boy dan Natasha dengan perasaan lega.
"Ternyata mereka baik-baik saja, Ji,"ucap Rana.
"Mereka memang baik-baik saja. Hanya saja ada hal yang terjadi pada Boy."
"Eh, bagaimana kalau kita memaksa Dion untuk mengatakan yang sebenarnya tentang kondisi Boy?" usul Rana.
"Ish, kau ini! Dion tidak akan mengatakan apapun karena dia adalah seorang dokter. Dia terikat sumpah sebagai seorang dokter."
"Ah, benar juga ya." Rana menggaruk tengkuknya.
"Apapun yang terjadi, kita hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Boy," sahut Fajri kemudian masuk ke dalam kamarnya.
Natasha memutuskan untuk mengemudikan mobilnya sendiri dan Boy ikut dengannya.
"Aku akan mengantarmu pulang. Mobilmu biar diurus oleh asistenku," ucap Natasha.
"Baiklah. Terima kasih, sayang. Kau adalah yang terbaik," puji Boy dengan mengusap wajah Natasha.
"Lain kali jangan berbuat bodoh seperti hari ini. Semua orang mencemaskanmu dan kau malah mabuk di tempat orang."
"Oh ya? Apa Papa dan Mama tahu soal ini?"
"Aku sudah menghubungi mereka setelah Fajri menghubungiku," balas Natasha lalu melajukan mobilnya.
"Huft! Syukurlah! Aku tidak tahu seperti apa reaksi Mama jika tahu aku mabuk semalam." Boy nampak menyesali perbuatannya.
"Aku bilang kita sedikit berselisih, makanya kau tidak pulang ke rumah," sahut Natasha.
"Kenapa kau berbohong?"
Natasha mengedikkan bahunya. "Karena aku memang sedang kesal denganmu. Kau tidak mengangkat panggilan dan juga mabuk di tempat Fajri."
"Baiklah, aku minta maaf. Aku akan menebus kesalahanku padamu."
Natasha tidak menjawab dan fokus mengemudikan mobilnya.
Tiba di kediaman Avicenna, Boy turun dari mobil kemudian memutar dan membuka pintu Natasha.
"Ayo ikut!" Boy menarik lengan Natasha pelan.
"Hei, apa yang kau lakukan?" Natasha sedikit berteriak karena Boy terus memaksanya.
"Ayo ikut! Dulu bukankah kau sangat suka bertandang ke kamarku? Sekarang kau sudah jarang datang kesini karena kesibukanmu, jadi aku harus memaksamu untuk ikut denganku!"
Natasha tidak bisa menolak permintaan Boy. Ia takjub dengan kerapian kamar Boy. Sudah lama ia tidak masuk ke kamar ini. Sejak mereka mulai beranjak dewasa, Natasha enggan berkunjung ke kamar Boy. Tentu saja ia sendiri malu jika harus masuk ke kamar pria.
"Duduklah disini! Aku akan membersihkan diri dulu." Boy mendaratkan tubuh Natasha di sofa kamarnya.
__ADS_1
Natasha mengangguk paham. Ia melihat sekeliling kamar yang sudah banyak berubah. Ia bangkit dari duduknya dan berkeliling ruang kamar yang nampak lebih besar dari yang dulu pernah ia lihat.
Buku-buku bacaan tersusun rapi di kamar itu yang menyatu dengan ruang kerja Boy. Natasha tersenyum melihat foto dirinya ada di meja kerja Boy.
Kemudian Natasha beralih ke walk in closet milik Boy yang tertata rapi. Kemeja panjang, dasi, jam tangan, sepatu dan aksesoris lainnya tertata rapi di tempat itu.
Natasha mengambilkan pakaian ganti untuk Boy. Ia tersenyum geli karena dirinya seakan menjadi istri untuk Boy.
Natasha akan keluar dari walk in closet namun terhenti karena Boy juga masuk ke ruang itu dengan hanya memakai handuk yang melilit pinggangnya. Ia membulatkan mata melihat tubuh Boy terpampang nyata didepannya.
"Kya!" Natasha memekik dan menutup wajahnya.
Boy terkejut karena kekasihnya ada disana.
"Sayang, apa yang kau lakukan disini? Apa kau sengaja ingin menggodaku, huh?" Pria datar seperti Boy tiba-tiba tertantang untuk menggoda kekasihnya yang seorang selebritis. Bukankah seharusnya Natasha tidak canggung lagi melihat tubuh pria yang bertelanjang dada? Pastinya teman-teman artisnya sering melakukan ini di beberapa adegan drama.
"Aku ... aku ... hanya ingin melihat-lihat kamarmu. Karena sepertinya sudah banyak berubah," ucap Natasha gugup dengan tetap menutup matanya.
"Tentu saja sudah banyak berubah. Bahkan kita juga sudah banyak berubah, bukan?" Boy makin mendekat kearah Natasha hingga ia benar-benar berada didepan tubuh gadis itu.
Aroma sabun dan shampoo khas pria tercium di hidung Natasha sehingga membuatnya membuka matanya. Ia makin terkejut karena Boy malah tersenyum melihatnya tersipu malu.
"Apa kau malu, sayang? Dulu bahkan kita sering mandi bersama."
"Ish, kau! Itu kan saat kita kecil. Sekarang kita sudah dewasa, mana mungkin melakukan hal seperti itu lagi." Natasha menundukkan wajahnya.
"Lalu setelah kita dewasa, apa yang harusnya kita lakukan? Apakah seperti ini?"
"Boy!" Natasha merengut.
"Kenapa? Sudah lama kita tidak melakukannya, bukan? Aku merindukanmu, Natasha." Boy membelai wajah Natasha kemudian menarik tubuhnya mendekat hingga tak berjarak.
Boy mulai mendaratkan bibirnya di bibir Natasha lalu menyesapnya pelan dan lembut. Natasha yang terbawa suasana segera melingkarkan tangannya ke leher Boy. Mereka saling mendamba sekarang.
"Emh..." suara lembut Natasha membuat Boy semakin bersemangat. Apalagi dirinya kini hanya menggunakan sepotong handuk saja.
Boy menekan tubuh Natasha hingga menempel dinding dan tangannya mulai menyingkap dress Natasha.
"Boy, jangan!" sela Natasha diantara ciuman panas mereka.
Boy tak peduli dengan larangan Natasha karena ternyata tubuhnya menginginkan lebih.
"Boy..." Natasha memejamkan mata ketika bibir Boy menyesap pelan leher jenjangnya dan meninggalkan jejak disana. Natasha makin terbuai dengan semua sentuhan Boy. Namun akal sehatnya masih bisa berpikir.
"Tidak, Boy..." Natasha meraih wajah Boy dan memintanya berhenti.
Boy makin gemas dengan wajah Natasha yang memerah. Ia kembali meraih bibir merah delima itu lalu memagutnya, melumaat habis dengan penuh gairah. Mereka sedang dimabuk cinta hingga penolakan pun tak lagi terdengar dari bibir Natasha.
"Kak! Kak Boy!" suara Nathan membuyarkan gairah dua sejoli yang telah memuncak.
"Kak Boy! Kak Tasha!"
__ADS_1
Natasha segera mendorong tubuh Boy. Ia mengatur napasnya yang sempat terengah karena ulah Boy.
"Sebaiknya kau ganti baju dulu. Aku akan menunggu di luar." Natasha merapikan penampilannya kemudian keluar dari walk in closet Boy.
"Nathan? Kau sudah pulang sekolah?" tanya Natasha berbasa-basi.
"Iya, Kak. Dimana Kak Boy?"
"Dia sedang berganti baju."
"Semalam dia tidak pulang. Sebenarnya apa yang terjadi dengan kalian?" selidik Nathan.
"Um, kami..."
"Anak kecil tidak perlu tahu masalah orang dewasa. Sudah sana keluar!" Boy keluar dari walk in closetnya dan mengusir Nathan.
Nathan yang malas berdebat dengan kakaknya akhirnya memilih keluar dari kamar Boy.
"Boy, jangan bicara kasar begitu pada adikmu!" lerai Natasha.
"Sayang, jangan membelanya! Dia selalu ingin tahu semua masalahku."
Natasha menggeleng pelan lalu melirik jam dinding yang tergantung di kamar Boy.
"Ada apa, sayang?"
"Boy, aku harus pergi. Ada acara reading naskah dengan para kru drama," jelas Natasha.
Boy mengernyitkan dahi.
"Boy, maaf. Aku belum menceritakannya padamu. Aku sudah menerima kontrak untuk drama baru."
Boy tidak menjawab dan memasang wajah datarnya.
"Sayang, jangan marah. Aku berniat ingin memberitahumu semalam, tapi..."
Kalimat Natasha terhenti karena Boy segera membungkamnya.
"Aku tidak marah. Aku senang kau selalu jujur padaku. Hari ini, aku akan menemani kemanapun kau pergi," balas Boy.
"Benarkah? Kau tidak ada pekerjaan?" tanya Natasha.
"Untuk hari ini aku tidak akan bekerja. Aku hanya ingin bersama denganmu." Boy memeluk pinggang Natasha mesra kemudian membawanya keluar kamar.
...B E R S A M B U N G...
"Aw aw aw, Babang Boy bucin bat sama Natasha. Mau juga dong di bucinin, wkwkwkwk"
...HAPPY FRIDAY...
...JUMUAH MUBARAK...
__ADS_1