Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 97. Duka dan Kesedihan


__ADS_3

Seperti yang diinginkan oleh Donald jika dirinya ingin dimakamkan di samping makam istrinya, maka kedua cucunya memenuhi wasiat Donald tersebut. Hari ini duka menyelimuti keluarga Avicenna. Semua hal yang terjadi selama beberapa tahun ini akhirnya terkubur bersama orang yang ternyata sudah memberikan kesedihan untuk keluarganya sendiri.


Roy mematung saat jasad kakeknya masuk ke liang lahat. Tak ada lagi air mata yang mengiringi kepergian Donald Avicenna, yang dikenal sebagai raja segala bisnis.


Hujan gerimis mewarnai pemakaman Donald. Suasana hati keluarganya sedang bimbang setelah mengetahui semua kebenaran tentang dirinya.


"Mas, ayo kita pulang!" Ajak Lian.


Roy hanya mengangguk. Boy yang kini telah kembali dengan senyum hangatnya menggandeng tangan ayahnya.


Sementara Julian, ia hanya memandangi dari jauh prosesi pemakaman kakeknya. Banyak hal yang masih ingin ia tanyakan pada kakeknya itu. Banyak hal yang ingin ia lakukan sebelum kakeknya pergi. Meski kakeknya penuh dosa, tapi ia melakukan semua itu untuk keluarganya. Dan Julian yang tak pernah merasakan hal itu.


"Tuan, kita harus mengurus masalah saham perusahaan yang terus merosot," ucap Leon menginterupsi keheningan yang dirasakan Julian.


Julian hanya mengangguk. Tak banyak kata yang ia ucapkan sejak kedatangan jenazah kakeknya hingga dimakamkan.


Julian juga belum bicara lagi dengan Roy dan Lian. Ia pergi ke perusahaan setelah pemakaman kakeknya. Ternyata sudah banyak pencari berita yang mangkal di depan Ar-Rayyan Grup.


"Apa ini, Leon?" tanya Julian yang malas untuk bicara dengan wartawan saat ini.


"Maaf, Tuan. Saya akan mengurus semuanya. Tuan silakan masuk saja!" Jawab Leon.


Julian kembali mengangguk dan melangkah masuk menuju ke ruangannya.


......***......


Beberapa hari berlalu, hari-hari berkabung pun sudah berakhir. Kini keluarga Avicenna harus melanjutkan hidup mereka masing-masing tanpa adanya kehadiran tetua diantara mereka.


Lian ingin mencari tahu tentang putranya yang dinyatakan telah di titipkan ke panti asuhan oleh Zara. Lian bertanya pada Julian apakah Julian memiliki informasi mengenai keberadaan anak Lian.


"Aku tidak tahu pasti, Lian. Tapi, aku menemukan berkas mengenai ini. Maaf baru memberitahumu. Aku harus mengurus urusan perusahaan lebih dulu."


"Tidak apa, Kak. Tapi, apa kakak sudah mengeceknya?"


"Belum. Aku sendiri takut mendapati kenyataan yang tidak sesuai dengan harapanku."


Lian menautkan kedua tangannya. Ia sendiripun takut jika kenyataan tak sesuai dengan harapannya.


"Baiklah, aku akan pergi kesana bersama Mas Roy. Sekali lagi terima kasih, Kak."


Julian mengangguk dan tersenyum. "Jika ada apa-apa tolong beritahu aku. Aku akan membantumu."


"Iya, Kak."


Lian dan Roy tiba di sebuah panti asuhan bernama Kasih Bunda. Mereka saling pandang sebelum memasuki halaman panti asuhan.


"Kau siap?" Tanya Roy.


Lian hanya menjawab dengan sebuah anggukan. Mereka bertemu dengan Nur, ibu pengurus panti.

__ADS_1


Lian dan Roy menceritakan semua sedetil mungkin sesuai dengan cerita Julian tentang Zara. Nur sangat mengerti perasaan Roy dan Lian. Ia bisa melihat kesedihan di wajah keduanya.


"Tapi..." Nur menggantung kalimatnya.


"Tapi apa, Bu?" Lian sudah tak sabar.


"Saya mohon maaf, pihak kami sangat menghargai keluarga pengadopsi anak-anak di panti ini. Jadi ... saya tidak bisa memberikan informasi apapun kepada kalian berdua."


"A-apa?!" Mata Lian memerah mendengar penjelasan Nur.


"Tapi ... bayi itu adalah anak kami. Tentu saja kami berhak mengetahui siapa yang mengadopsi anak kami!" seru Lian.


Roy memegangi bahu Lian agar tidak terbawa emosi.


"Kami mohon maaf, Nyonya. Tolong hargai privasi kami."


Roy membujuk Lian agar pergi dari sana.


"Ayo, sayang. Kita pergi saja dari sini," ucap Roy.


"Lho, Mas! Tidak bisa begitu! Anak kita dibawa oleh orang yang entah siapa orang itu. Aku tidak akan pergi sebelum ibu ini memberitahuku."


"Sayang... Ayolah! Jangan begini!"


Lian bangkit dari duduknya kemudian menghampiri Nur.


"Katakan dimana anakku?!" Lian mengguncang bahu Nur.


Roy segera mencegah Lian agar tidak berbuat lebih jauh.


"Sayang, ayo kita pergi."


"Tidak, Mas! Aku ingin anakku! Katakan dimana anakku!!!" Tubuh Lian luruh dengan berderai air mata.


"Aku mohon katakan dimana anakku... Apa kalian tidak punya hati? Aku adalah ibunya. Selama bertahun tahun aku meratapi kematiannya tapi ternyata dia masih hidup..." Bahu Lian bergetar hebat.


Roy tak tega melihat istrinya begitu terpuruk.


"Katakan dimana anakku!!!" suara Lian mulai lirih. Tubuhnya sudah tak kuat lagi menghadapi kenyataan yang harus diterimanya. Ia pun ambruk tak sadarkan diri.


"Lian! Sayang! Bangun, sayang!" Roy menepuk pelan pipi Lian. Tak mau semua semakin kacau, Roy membawa Lian keluar dari panti asuhan.


......***......


Lian tiba di rumah dengan masih tak sadarkan diri. Boy yang melihat ibunya terpejam segera bertanya pada Roy.


"Pa, apa yang terjadi dengan Mama?"


"Mamamu pingsan, Nak. Tolong minta Bibi untuk bawakan segelas air untuk Mama."

__ADS_1


"Iya, Pa." Boy sigap membantu ayahnya.


Sementara itu, Julian mendapat laporan jika Lian mengamuk di panti asuhan hingga jatuh pingsan. Julian mengepalkan tangan menahan gemuruh hatinya. Sungguh ia ingin melakukan sesuatu.


"Aku harus berbuat sesuatu. Aku tidak bisa melihat Lian terus menderita karena kehilangan putranya."


Julian segera bangkit dari kursi kebesarannya kemudian menggamit kunci mobil.


"Lho, Tuan? Tuan mau kemana? Kita ada rapat dengan klien penting hari ini, Tuan." Leon mengikuti langkah Julian yang terburu-buru.


"Ah! Sialnya!" Langkah Julian terhenti.


Julian berpikir sejenak. "Umm, begini saja. Kau urus semua rapatnya dulu. Aku ada urusan penting."


"Tuan! Mereka tidak akan mau jika hanya rapat bersama saya."


Julian kembali berpikir.


"Kalau begitu batalkan saja rapat hari ini. Tunda sampai besok. Oke?" Julian kembali melangkah tanpa mendengarkan Leon yang sedari tadi meneriakkan namanya.


Julian bergegas menuju ke panti asuhan dimana Lian dan Roy juga baru saja dari sana. Ia bersikeras menemui ibu panti yang tak lain adalah Nur.


Nur tahu jika yang ingin menemuinya adalah kerabat dari yang tadi menemuinya dan menanyakan tentang bayi lima tahun lalu. Nur memerintahkan penjaga panti untuk tidak mengijinkan Julian masuk kedalam panti.


Namun bukan Julian namanya jika menyerah begitu saja tanpa mendapat hasil yang ia inginkan.


"Saya tidak akan pergi sebelum Anda memberitahu dimana keponakanku!!!" Teriak Julian dari luar panti.


Tak lama setelahnya terdengar suara petir menggelegar. Bahkan semua itu tak menggoyahkan tekad Julian untuk mendapat informasi mengenai keponakannya.


Hujan mulai turun membasahi bumi. Sedang Julian masih setia menanti di depan gerbang panti meski tubuhnya telah basah oleh tetesan air hujan.


"Aku tidak boleh menyerah! Aku tidak akan menyerah!" Gumam Julian di sela-sela kedinginan yang mulai menusuk kulit dan tulangnya.


"Bu, pria itu masih berdiri di depan panti. Bagaimana ini? Sepertinya dia tidak akan pergi meski tubuhnya telah basah kuyup," lapor penjaga panti pada Nur.


Nur mulai cemas karena melihat hujan yang sepertinya tak kunjung berhenti. Sudah satu jam berlalu dan Julian masih setia berdiri di bawah guyuran air hujan.


"Bagaimana ini?" Nur menautkan kedua tangannya.


"Apa tidak akan terjadi apapun pada anak itu jika aku memberitahu dimana keberadaannya? Orang itu mengancam jika aku mengatakan kebenarannya pada orang lain maka nyawa anak itu akan terancam. Apa yang harus kulakukan, Tuhan?" Nur bergumam sambil menatap derasnya air hujan melalui jendela kamarnya.


Tubuh Julian yang tinggi tegap tiba-tiba ambruk dan bersimpuh. Wajahnya mulai pucat dan bibirnya membiru.


"Aku ... tidak akan menyerah..." Ucapnya sambil terus berusaha bangkit.


"Kuatkan aku, Tuhan!" Gumam Julian dengan mata memerah.


...B E R S A M B U N G...

__ADS_1


"Mewek lagi daaahhh 😭😭😭😩😩😩 semoga Julian kuat yaa..."


__ADS_2