
Beberapa hari yang lalu, Zara menemui Julian di gedung Ar-Rayyan. Zara berkata jika ia memiliki sesuatu yang akan membuat Julian membuka matanya.
Bukti masa lalu yang selama ini Zara simpan untuk ia buka di waktu yang tepat. Kini ia tak punya pilihan lain selain membukanya di depan Julian. Ia harus mencari orang untuk diajak bekerja sama.
"Kau pasti ingin tahu siapa dalang dibalik kesakitanmu selama ini, bukan?" tanya Zara.
"Apa maksudmu?" tanya balik Julian.
"Apa kau tahu jika ibumu tidak meninggal dalam kecelakaan?"
"Hah?!" Julian masih berpikir jernih sebelum mempercayai Zara.
"Dengar Julian. Aku melakukan ini karena ... Kita sangat cocok untuk menjadi partner. Aku tahu aku terlihat sengaja melakukan ini karena wasiat kakekku. Tapi, aku yakin kita bisa menjadi partner yang hebat jika bersama."
"Tidak perlu bertele-tele. Katakan saja langsung apa yang ingin kau katakan!" Julian mulai tak sabar.
"Aku punya bukti-bukti jika ibumu tidak meninggal dalam kecelakaan, tapi sengaja dilenyapkan."
Julian menggertakkan giginya. "Katakan!"
Zara tersenyum tipis. "Ini. Kau lihat saja sendiri. Semua buktinya ada disitu."
Zara memberikan sebuah map kepada Julian. Beberapa berkas ada di dalam map itu.
Julian membaca satu persatu berkas yang tertera disana.
"Kau yakin semua ini benar?" tanya Julian memastikan.
"Apa kau pikir aku akan bercanda tentang hal seperti ini?" Zara menatap manik Julian yakin.
"Baiklah. Untuk saat ini aku percaya padamu. Aku hanya heran saja. Apa yang membuatmu berbalik meminta dukunganku?"
"Tidak ada alasan. Aku sudah sakit hati dengan semua permainan mereka. Aku tidak bisa tinggal diam lagi."
Julian terdiam dan tak bicara apapun lagi. Semuanya akan ia simpan sendiri terlebih dahulu karena ini bagaikan bom waktu yang kapan saja bisa meledak.
Kembali ke masa sekarang dimana Julian dihadapkan dengan Belinda yang meminta penjelasan darinya. Julian membuka laci mejanya dan menunjukkan sebuah kertas robek dari sebuah koran lama.
"Apa ini?" tanya Belinda.
"Kau bilang ingin tahu tentang Belinda. Bacalah!" pinta Julian.
Belinda kembali mengarahkan pandangannya pada sobekan kertas usang itu. Ia membaca dengan seksama isi tajuk berita di koran itu.
"Jadi, dia adalah Belinda?"
Julian mengangguk.
"Kenapa kau memberikan nama itu padaku?"
Julian menghela nafasnya. Ia meraih kedua tangan Belinda.
"Mungkin sudah saatnya aku jujur. Sejak bertemu denganmu aku ... merasakan sesuatu yang lain dalam hatiku. Kau memang bukan Belinda dan tidak akan pernah bisa menjadi dia. Kau adalah Putri Berlian. Wanita yang harus kulindungi dan kujaga."
"Pat..." Belinda menepis tangan Julian halus. Ia tak mau Julian terbawa suasana.
"Dia meninggal secara misterius. Tubuhnya ditemukan di tengah hutan. Tidak ada yang tahu pasti siapa yang sudah membawanya ke hutan dan melenyapkannya."
Raut wajah Julian berubah sendu.
"Bahkan polisi tidak menemukan jejak apapun tentang pelakunya. Hingga akhirnya kasus itu di tutup tanpa ada kejelasan."
__ADS_1
Belinda merasa iba pada Julian.
"Lalu tentang ibuku. Ibuku meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Mobil yang ditumpanginya masuk kedalam jurang. Dan dia meninggal ditempat kejadian." Julian menutup matanya merasakan kepedihan dihatinya yang kembali menyeruak.
Tangan Belinda terulur memeluk tubuh besar yang kini bergetar.
"Maafkan aku. Maaf karena sudah membuka kesakitanmu, Pat. Aku minta maaf."
Julian mengurai pelukan Belinda.
"Tidak, Bels. Kau tidak salah. Kau hanya ingin tahu apa yang tersembunyi di balik namamu."
"Pat, karena aku sudah mengetahui ceritanya maka ... kupikir aku tidak bisa memakai nama Belinda lagi. Maksudku..."
"Iya, tidak apa. Aku mengerti. Sekarang sudah ada Roy di sisimu. Dan keluarga Roy harus menerimamu dan juga Boy. Tugasku sebagai penjagamu sudah selesai, Bels. Misi yang diberikan oleh Profesor Gerald sudah selesai."
Belinda menghela nafas kemudian tersenyum pada Julian.
......***......
Belinda memasuki apartemennya dengan langkah gontai. Ia melewati lobi tanpa melihat sekelilingnya. Hatinya ikut teriris merasakan penderitaan yang dirasakan Julian di masa lalu.
"Bels..."
Sebuah suara membuyarkan kemurungan Belinda.
"Dokter Roy?"
"Kau dari mana? Kupikir kau langsung kembali ke kamarmu begitu aku pergi."
"Tidak. Aku baru saja menemui Patrick."
"Menemui kakakku? Dimana?"
"Ah, begitu."
Roy dan Belinda berjalan bersama memasuki lift. Tak ada percakapan yang terjadi selama mereka didalam lift.
Ketika lift tiba di lantai 17, Belinda berpamitan pada Roy.
"Kalau begitu aku permisi, Dokter Roy."
"Ah iya, Bels." Roy menjawab dengan canggung.
Belinda terhenti. "Apa dokter mau mampir?" tawar Belinda.
"Eh? Sure. Tentu saja." Roy ikut keluar dari dalam lift.
Tiba di apartemen Belinda, mereka berdua disambut oleh Riana.
"Hai, Ri. Kamu belum tidur?" tanya Belinda.
"Oh, belum Bels. Tapi ini aku akan masuk ke kamar. Kalian bicara saja di ruang tamu."
"Maaf ya, karena kamu harus diskors selama satu bulan." sahut Roy.
"Ah, tidak apa. Hanya diskors saja. Beruntung aku tidak dipecat." canda Riana kemudian masuk kedalam kamarnya.
"Silahkan duduk, Dokter." ucap Belinda.
"Ah, iya."
__ADS_1
"Mau minum apa?"
"Air putih saja. Terima kasih."
Belinda segera menuju ke dapur dan mengambil segelas air putih untuk Roy.
Roy tersenyum saat menerima gelas dari Belinda. "Thank you."
Belinda duduk berhadapan dengan Roy.
"So, apa ada yang ingin kau tanyakan?" Roy membuka perbincangan.
Ya, Belinda mengajak Roy berkunjung karena memang ada hal yang ingin dibicarakan.
"Umm, aku hanya ingin tahu kenapa kalian menyembunyikan fakta jika kalian adalah kakak beradik. Kau dan Patrick."
"Aku tidak bermaksud untuk menyembunyikannya. Aku hanya merasa jika semua akan bertambah rumit jika kau mengetahui hubunganku dengan Julian. Kau merasa jika keluarga Avicenna yang sudah membuatmu menderita selama bertahun-tahun. Lalu tiba-tiba kau mengetahui jika orang yang selama ini bersamamu juga adalah bagian dari keluarga Avicenna. Itu pasti akan sangat mengecewakan dirimu."
Belinda memahami apa yang diutarakan oleh Roy.
"Apa Patrick yang memintamu merahasiakan ini dariku?"
"Tidak. Julian tidak pernah mengatakan apapun padaku. Jadi ... apa saja yang kau dengar dari dia malam ini?"
Roy mulai mengupas hubungan Belinda dan Julian. "Kalian begitu dekat hingga kau mendatanginya ke rumah."
"Kami dekat karena dulu dia adalah pembimbing Boy di FBI."
"Lalu sekarang?" Sepertinya ada rasa tak biasa saat Roy mengetahui kedekatan kakaknya dan Belinda. Terlebih lagi kakaknya menyematkan nama Belinda pada Berlian.
"Dia adalah temanku. Tadi dia ... bercerita tentang kesakitannya di masa lalu. Aku tak menyangka dia menyimpan beban seberat itu."
Roy memperhatikan dengan seksama raut wajah Belinda saat bercerita tentang kakaknya.
"Kenapa?" tanya Belinda.
"Tidak. Tidak apa-apa."
"Sepertinya yang kau katakan itu benar, dokter. Jika Patrick tidak akan melakukan hal buruk."
"Saat itu aku tidak tahu apa yang menyebabkan dia pergi. Jika saja aku tahu maka ... aku pasti akan menghentikannya. Aku akan meyakinkan dia jika dirinya tidak sendirian. Ada aku yang selalu ada bersamanya."
"Kau bisa mengatakannya sekarang. Meski sedikit terlambat, tapi itu lebih baik dari pada tidak sama sekali."
Belinda menatap manik bulat Roy yang menyiratkan penyesalan.
"Kau tahu, aku akan kembali menjadi Putri Berlian. Aku tidak akan bersembunyi lagi."
"Kau serius?" mata Roy berbinar.
"Iya. Aku serius. Kita akan menghadapi semuanya bersama. Kita bertiga." tegas Belinda.
Roy yang merasa amat bahagia segera membawa Belinda dalam dekapannya.
"Terima kasih, Bels."
Belinda mengangguk dalam dekapan Roy.
......***......
__ADS_1
#bersambung
"Wah, mulai nih kisah Roy dan Berlian 😍😍 Cerita apa yang akan dibawa oleh mereka berdua? Akankah masalah masa lalu akan segera terkuak dan terselesaikan?"