Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 139. Baik-baik Saja


__ADS_3

Setelah mendengar cerita Zetta tentang kehidupannya selama ini, Aleya hanya bisa diam. Bagaimanapun saudaranya itu sudah mengalami banyak hal menyakitkan.


Aleya merasa jika semua hal yang menimpa Zetta membuatnya makin dewasa dan bijak dalam menjalani hidup. Zetta tak hanya hidup untuk dirinya sendiri. Ada seorang anak yang bergantung padanya.


"Kakak tidak pergi ke kantor?" tanya Aleya yang sadar jika hari mulai siang.


"Sebentar lagi. Lalu kau sendiri? Apa yang akan kau lakukan hari ini?"


"Umm, tidak ada. Aku akan mempelajari dulu studi apa yang akan kuambil untuk spesialisasiku."


"Baiklah. Kau bersenang-senanglah di rumah. Kalau kau butuh sesuatu, panggil saja Imah."


"Iya, Kak. Kakak tenang saja."


Sepeninggal Zetta, Aleya membuka berkas-berkas yang ada di dalam tasnya. Ia masih bingung untuk menentukan jalan ke depannya.


Ponsel Aleya berdering. Sebuah panggilan dari Rion.


"Halo, Kak!" jawab Aleya.


"Halo, Aleya. Kau sedang apa?"


"Aku sedang membaca berkas-berkasku."


"Kau belum memberitahuku dimana kau tinggal."


"Ah, iya. Aku lupa. Maaf ya, Kak. Semalam aku sudah sangat mengantuk. Aku akan mengirimkannya lewat pesan saja."


"Baiklah, aku tunggu!" Panggilan berakhir.


Rion menghela napas karena sedari tadi ibunya menguping pembicaraannya dengan Aleya. Ia menatap tajam kearah wanita yang sudah melahirkannya itu.


"Jadi kapan kau akan membawanya ke rumah?"


"Ibu! Jangan bicara sembarangan! Aku dan Aleya tidak memiliki hubungan apapun," kilah Rion.


"Tapi kau meninggalkan rumah karena dia, Nak! Tentu saja ibu ingin tahu seperti apa gadis yang berhasil meluluhkan hatimu."


"Ish, Ibu!"


"Baiklah. Ibu tidak akan memaksamu. Ibu hanya berharap kau selalu bahagia dengan segala keputusanmu."


"Terima kasih, Bu. Aku harus pergi. Ayah memintaku untuk datang ke rumah sakit hari ini."


Marinka mengangguk. "Hati-hati ya! Kau masih ingat jalan menuju rumah sakit?" goda Marinka.


"Ish, ibu! Tentu saja aku masih ingat. Aku pergi ya!" Rion mencium pipi ibunya.


"Iya, hati-hati di jalan."


......***......


Tiba di rumah sakit Avicenna, Rion menyapa kawan-kawan dokternya yang telah lama tak bertemu. Rion membeli beberapa boks pizza sebagai buah tangan untuk teman-teman seperjuangannya.


"Hai, Adik," sapa Dion.


"Ish, kau! Apa kau tidak sibuk? Bisa-bisanya kau ikut bergabung," cibir Rion.


"Kau tahu, aku tak ingin melewatkan momen makan pizza ini tentunya!" canda Dion.


"Huh, dasar kau!" Dan mereka pun tertawa bersama.


"Ada apa ini?" suara bariton seorang pria membubarkan tawa mereka. Siapa lagi kalau bukan si pemilik rumah sakit Avicenna yang terkenal tegas dan dingin.


"Hai, Boy! Kemarilah!" ajak Dion.


Boy melangkah mendekati mereka. "Hai, Rion. Kudengar kau sudah kembali."

__ADS_1


"Yeah, begitulah."


"Bagaimana kabarmu?" tanya Boy dengan rasa yang cukup canggung.


"Aku baik," jawab Rion singkat.


"Ah, maaf kawan. Ada panggilan darurat! Aku harus segera pergi," pamit Dion karena ponselnya terus berdering.


Karena tahu jika Boy ingin bicara padanya, Rion mengajak Boy bicara di tempat yang agak sepi.


"Kau ingin bicara sesuatu?" tanya Rion.


"Rion, aku..."


"Kau ingin tahu bagaimana kabarnya?" sarkas Rion.


"Eh?"


Meski tak pernah Rion tunjukkan dan katakan kepada siapapun, ia tahu hubungan Boy dan Aleya tidak hanya sekedar hubungan biasa. Mereka memang terpisah jarak dan waktu, tapi mereka masih tetap menyimpan rasa masing-masing dalam hati mereka.


Sebenarnya di hari itu, hari terakhir mereka di Desa Selimut, Rion melihat Boy dan Aleya pergi ke hutan lindung bersama. Ya, tentu saja Rion melihat adegan yang tidak seharusnya ia lihat. Ia melihat Boy mengungkapkan perasaannya pada Aleya. Dan itu cukup membuat hatinya sakit. Dan hingga bertahun-tahun Rion memendam semua rasa itu sendiri.


"Dia baik-baik saja," ucap Rion.


Boy hanya menatap Rion nanar. Tergambar jelas sebuah guratan kemarahan dan kekecewaan yang ia tunjukkan pada Boy.


"Rion, aku..."


"Cukup! Mulai saat ini, biarkan aku yang menjaganya. Jangan pernah mengingatnya atau bertanya tentang dia lagi karena kau juga sudah memiliki Natasha dalam hidupmu."


Setelah mengatakan apa yang ingin ia katakan, Rion meninggalkan Boy yang masih tertegun.


"Rion kembali, apa mungkin ... dia juga ikut kemari?" gumam Boy dengan masih ada beberapa pertanyaan yang tidak pernah terjawab.


......***......


"Kita akan jalan sekarang, Kak? Apa kakak tidak ingin mampir dulu?" tanya Aleya.


"Tidak perlu. Ini sudah waktunya jam makan siang. Ayo!" ajak Rion dengan meraih tangan Aleya.


"Apa semua orang sudah datang, Kak?" tanya Aleya.


"Aku lapar! Kita bicara di mobil saja."


Aleya mengerucutkan bibirnya. Siang ini rencananya Aleya akan bertemu dengan para pria tampan yang dulu pernah datang ke desanya selama dua bulan. Siapa lagi kalau bukan Rion dan gengnya. Tapi hingga di dalam mobil pun Rion tidak mengatakan apapun pada Aleya.


Akhirnya Aleya memutuskan mengedarkan pandangan menatap gedung-gedung tinggi yang seolah menantang langit.


"Itu adalah gedung Avicenna Grup." Rion menunjuk satu gedung besar yang ada di sebelah kiri jalan.


"Oh, besar sekali," gumam Aleya. Bayangannya akan Boy kembali menguar. Tidak mungkin kan manusia biasa seperti Aleya bisa mendapat pangeran seperti Boy? Bahkan ia tak memiliki apapun selain kepintarannya saja.


Rion menatap Aleya. Sepertinya ia tahu apa yang sedang dipikirkan oleh gadis cantik itu.


"Sudah sampai," seru Rion setelah memasuki area sebuah kafe.


"Eh? Sudah sampai ya!" balas Aleya kikuk. Sedari tadi ia hanya melamun dan tidak memperhatikan jalanan lagi.


"Ayo, masuk!" Rion membawa Aleya ke sebuah private room yang sudah ia pesan terlebih dahulu.


"Sepi? Apa hanya kita saja yang datang, Kak?"


"Duduklah dulu. Aku akan jelaskan semuanya."


Aleya mengangguk. Ia duduk berhadapan dengan Rion.


Seorang pelayan menghampiri mereka dan menghidangkan beberapa menu makanan.

__ADS_1


"Kakak sudah memesan semuanya?"


"Yup! Bukankah tadi aku sudah bilang, aku lapar!" ucap Rion dengan gaya anehnya.


Aleya pun tertawa. Pria berkacamata ini memang selalu bisa menghangatkan suasana.


"Makanlah dulu, oke?" ujar Rion.


Mereka menyantap hidangan dalam diam. Tak ada suara selain dentingan sendok dan garpu beradu dengan piring.


"Kak..." tiba-tiba Aleya membuka suara.


Rion menghentikan makannya dan menatap Aleya.


"Kau pasti ingin dengar alasannya, bukan?"


Aleya mengangguk.


"Begini, aku sudah menghubungi mereka semua, tapi..."


Aleya menunggu lanjutan kalimat Rion.


"Mereka tidak bisa datang. Rana, dia sekarang sangat sibuk mengurus perusahaan ayahnya. Lalu Fajri, dia tidak tinggal disini lagi. Dia pindah ke luar negeri beberapa tahun terakhir. Kemudian kakak kembarku, tadi dia mendapat panggilan darurat dari pasiennya. Kenji? Dia sudah kembali ke Jepang setelah kematian Paman Kenzo dua tahun lalu."


Aleya mengangguk paham. "Kupikir mereka tidak ingin menemuiku lagi."


"Tentu saja tidak!"


"Lalu bagaimana dengan..."


"Ah, maksudmu ... Boy?"


Aleya terdiam. Tergambar suatu keingintahuan dari wajah Aleya.


"Kau yakin ingin aku menghubunginya?"


"Tentu saja, memangnya kenapa dengan itu? Bukankah dia juga teman kakak?"


"Aleya... Aku tahu apa yang kau..."


"Aku baik-baik saja, Kak," tegas Aleya. Sejurus kemudian ia memalingkan wajahnya.


Rion tahu ia salah dalam mengatakan hal ini pada Aleya.


"Maaf, Aleya. Aku tidak bermaksud untuk..."


"Aku baik-baik saja. Kakak sudah bersama denganku selama setahun ini dan aku baik-baik saja." Suara Aleya seakan tercekat.


"Baiklah. Kau masih ingin makan? Kalau sudah tidak ingin memakannya sebaiknya kita pulang saja."


Aleya meneguk segelas air putih dan menganggukkan kepala. "Kita pulang saja!"


"Baiklah!"


...Aku tahu kau tidak baik-baik saja...


...semua hal tentu bisa kau ucapkan dengan mudah...


...tapi untuk menjalaninya, pastilah cukup sulit...


...bisakah aku menemanimu dalam menjalani masa sulit itu?...


...B E R S A M B U N G...


"Halo, Desember...


please be nice to me 😍😍

__ADS_1


__ADS_2