Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 67. Konferensi Pers


__ADS_3

Seorang gadis muda berjalan terseok-seok menyusuri rimbunnya tanaman didalam hutan. Tenaganya sudah tak kuat lagi untuk berlari menghindari beberapa pria yang tengah mengejarnya.


Namun gadis itu pantang menyerah. Ia terus berlari keluar dari hutan hingga menemui permukiman penduduk pinggiran kota.


Ia mengatur nafasnya. Ia bersembunyi di balik semak-semak lebih dulu sebelum melanjutkan pelariannya.


"Bagaimana ini? Gadis itu menghilang! Tuan Julian pasti akan sangat marah pada kita." seru seorang pria berperawakan tinggi besar berpakaian serba hitam.


"Cari terus sampai dapat. Dia pasti tak jauh dari sini." seru pria yang lainnya.


Gadis itu menutup mulutnya tak percaya. "Tuan Julian? Jadi, yang menyekapku selama ini adalah atas perintah Tuan Julian?"


Gadis itu menggeleng cepat. Ia memperhatikan para pria tadi sebelum akhirnya ia keluar dari semak dan meminta pertolongan. Hari sudah gelap. Ia harus bisa bertahan hidup.


Gadis itu adalah Belinda. Gadis kloning yang di manfaatkan Julian dan Zara untuk mengelabui Helena.


Sejak berita tertangkapnya Helena mencuat, Julian mengurung Belinda di tempat terpencil agar tidak dicurigai oleh pihak berwenang. Namun setelah lama di kurung, akhirnya hari ini Belinda berhasil kabur dari penjagaan anak buah Julian.


Belinda berlari ke jalan raya. Ia sengaja berdiri di tengah jalan untuk memberhentikan kendaraan yang melintas. Tanpa sengaja sebuah mobil mengerem mendadak karena melihat seorang gadis berada di tengah jalan.


Pengemudi itu keluar dari mobil dan rasanya ingin memaki gadis yang hampir mencelakakan nyawanya.


"Hei, apa yang kau lakukan? Apa kau ingin mati?"


Gadis itu menunduk. Ia memohon pertolongan dari pria yang berusia sekitar 40 tahunan itu.


"Tolong saya, Tuan! Saya diculik dan dianiaya." pinta Belinda.


Pria itu mengamati Belinda sejenak.


"Kau yakin kau bukan ingin menipu?" Pria itu mengambil senjata api dari balik jas hitamnya.


"Tidak, Tuan! Saya bukan penjahat! Saya korban penculikan! Tolong saya!" Belinda menengadahkan wajahnya. Ia memohon agar dirinya diselamatkan.


Pria itu bergeming menatap wajah Belinda seakan ia mengenalnya.


"Tidak mungkin!" gumam pria itu.

__ADS_1


"Tolong saya, Tuan! Saya mohon! Saya takut orang-orang itu akan menemukan saya!" Penampilan kacau Belinda bertambah kacau dengan air mata yang kini membasahi pipinya.


"Baiklah, kalau begitu cepat masuk ke mobil!"


"Baik, Tuan. Sekali lagi terima kasih." Belinda berjalan cepat masuk kedalam mobil dan meringkuk disana.


Pria itu membalikkan badan dan juga masuk kedalam mobil. Ia melajukan mobilnya menuju rumah di pinggiran kota.


......***......


Hari ini, Roy akan melakukan konferensi pers di gedung kantor Avicenna Grup. Roy dan timnya mengundang beberaoa wartawan dan juga media online untuk meliput acara konferensi pers tersebut.


Roy berdiri tegap di hadapan para awak media yang sudah siap merekam setiap kata yang keluar dari bibir Roy. Lian dan Ben berdiri agak jauh dari panggung dan memperhatikan Roy dengan harap-harap cemas.


Lian berharap jika konferensi pers hari ini bisa memperbaiki situasi yang kian meruncing ini. Situasi Roy memang tidak bagus ditambah imej yang kini melekat pada diri dan keluarganya.


Untuk itu penjagaan kali ini diperketat di seluruh bagian gedung Avicenna Grup. Ben juga memastikan juga keselamatan Roy tetap terjaga dengan memeriksa seluruh awak media yang datang dengan undangan. Tidak sembarang media yang meliput konferensi pers hari ini.


Setelah sekian lama bungkam, akhirnya Roy memberanikan diri untuk tampil menghadapi musuh-musuhnya. Roy mengambil microfon dan mulai mengatur nafasnya.


"Selamat siang semuanya..." Roy memulai sambutannya.


"Saya Vincent Roy Avicenna. Selaku perwakilan dari Avicenna Grup, ingin meminta maaf sebesar-besarnya atas apa yang menjadi berita akhir-akhir ini mengenai kasus ibu saya, Helena Avicenna."


Kilat lampu flash kamera menyorot kearah Roy.


"Saya tahu jika kejahatan yang dilakukan oleh ibu saya adalah hal yang tidak termaafkan. Kini ibu saya sedang menjalani proses hukum dan akan dijatuhi hukuman yang setimpal sesuai dengan hukum yang berlaku di negara ini."


Lian menautkan kedua tangannya. Ia tahu jika ini pasti berat untuk Roy.


"Saya tahu jika hukuman penjara yang akan dijalani ibu saya, tidak akan bisa mengembalikan korban yang sudah ia lenyapkan. Tapi ... apakah kalian akan menyalahkan semuanya atas apa yang terjadi?"


"Apakah saya ikut bersalah hanya karena saya lahir dari rahim seorang ibu pembunuh? Kenapa semua orang ikut menyudutkan kami? Saya tidak tinggal sendiri. Saya tidak hidup sendiri. Ada banyak orang yang menggantungkan hidupnya pada perusahaan ini. Ada banyak orang yang perlu ditolong oleh para dokter yang tidak bersalah itu. Kenapa kalian harus menyalahkan mereka? Kenapa perusahaan ini harus tutup untuk sementara? Apa salah para karyawan perusahaan ini?"


Lian dan Ben saling pandang. Mereka ikut merasakan beban berat yang dirasakan Roy.


"Atas nama ibu saya, saya memohon maaf kepada semua korban dan juga keluarga korban yang sudah merasa tersakiti atas perbuatan ibu saya. Saya mohon kalian jangan lagi menghakimi perusahaan ini dan juga para dokter yang memang bekerja dalam jalan kebaikan."

__ADS_1


Roy keluar dari podium dan menuju ke depan para awak media. Roy berlutut dan bersimpuh disana.


"Tolong jangan kalian hukum kami para pencari nafkah!!" seru Roy.


"Biarkan mereka tetap bekerja dan berjuang menolong orang lain. Para dokter itu tidak bersalah. Mereka berjuang untuk menafkahi keluarga mereka. Tolong jangan hukum mereka."


Roy membungkukkan badan. Lian dan Ben sangat terenyuh dengan tindakan yang diambil oleh Roy.


"Hari ini, saya ingin mengumumkan bahwa ... sisa saham yang saya miliki akan saya bagikan kepada seluruh karyawan Avicenna Grup yang selama ini telah berkontribusi untuk memajukan perusahaan ini."


Lian tersenyum bangga pada suaminya itu. Ia berharap setelah acara konferensi pers ini, akan ada banyak orang yang bersedia mendukung Roy terlepas dari kasus pidana yang sedang dihadapi ibunya.


......***......


Di ruang kerjanya, Julian menonton siaran langsung yang memperlihatkan sosok Roy, adiknya yang sedang bicara didepan para awak media. Julian menggeram kesal karena ternyata siara. langsung adiknya mendapat respon yang baik dari para penonton.


Simpati untuk Roy mulai berdatangan. Julian mulai kelimpungan. Siasat Roy untuk mencari dukungan akhirnya membuahkan hasil.


"Sial! Bagaimana bisa orang-orang berbalik mendukung Roy? Aku tidak bisa membiarkan hal ini terus berlanjut." Julian menggebrak meja kerjanya.


Leon hanya diam melihat tingkah tuannya. Sebenarnya ia ingin mengabarkan soal Belinda yang berhasil kabur. Namun ternyata mood Julian sedang tidak bagus untuk mendengar berita buruk. Sehingga Leon memutuskan untuk tidak memberitahu Julian.


"Leon!!!"


"Iya, Tuan."


"Menurutmu apa yang harus aku lakukan untuk menghadapi adikku itu?"


"Eh?" Leon menggaruk tengkuknya.


"Jangan bilang kau tak punya rencana apapun untuk membantuku!"


"Maaf, Tuan. Tapi menurut saya ... sebaiknya Tuan jangan melakukan hal apapun hingga situasi kondusif."


Julian nampak berpikir. Ia manggut-manggut dengan ide yang di berikan Leon.


#bersambung

__ADS_1


"Gimana reaksi Julian kalo tahu Belinda udah kabur? Lalu siapa yang sudah menolong Belinda?"


__ADS_2