
...Kau pernah dengar pepatah bagus ini?...
...Amarah adalah musuh terbesar manusia,...
...Maka jangan jadikan itu sebagai pengendali dirimu,...
......***......
Zetta kembali ke rumahnya dan disambut dengan kemurungan Andra dan Imah. Tidak biasanya putranya itu menampakkan wajah muram apalagi setelah kedatangan Aleya.
"Imah, ada apa ini?" tanya Zetta pada asistennya itu.
Imah bingung harus menjawab apa.
"Ma, Bunda Aleya menangis saat pulang tadi," jawab Andra dengan polosnya.
"Menangis? Memangnya bundamu kenapa?"
"Aku tidak tahu. Tadi ada Paman yang datang kesini. Tapi bukan dia yang membuat bunda menangis."
"Paman?" Zetta menatap Imah seraya bertanya siapa paman yang dimaksud Andra.
"Ini, Nona." Imah menyerahkan kartu nama Rion pada Zetta.
"Rion?" Zetta mengerutkan dahinya. Sepertinya ia tahu apa yang sudah terjadi dengan Aleya.
Zetta mengetuk pelan pintu kamar Aleya.
"Aleya, ini aku! Tolong buka pintunya!" seru Zetta.
"Aleya! Kumohon!"
Tak ada jawaban dari dalam kamar itu.
"Nona Aleya juga belum makan sejak dari siang tadi," tutur Imah.
"Astaga! Dia bisa sakit kalau begini. Aleya, kakak mohon buka pintunya!"
Setelah menunggu beberapa saat, pintu kamar Aleya akhirnya terbuka.
"Kakak!" Aleya langsung menghambur memeluk Zetta dan menangis.
"Kakak, aku harus bagaimana?" ucap Aleya sambil terisak.
"Keluarkan saja dulu semua bebanmu. Kakak akan ada disini mendengarmu." Zetta mengusap punggung Aleya pelan.
Zetta memberi kode pada Imah agar membawa Andra ke kamarnya. Andra pun menurut.
"Kita bicara di dalam kamar saja," ajak Zetta.
Mereka duduk di tepi ranjang. Aleya sudah cukup tenang setelah menangis.
"Apa kau bertemu dengan dia?" tanya Zetta.
Tatapan mata Aleya kosong. Zetta tahu apa yang Aleya rasakan. Aleya sudah menceritakan semuanya pada Zetta.
Zetta membelai lembut rambut panjang Aleya.
"Pasti terasa berat untukmu. Tapi kau harus..."
__ADS_1
"Aku tidak tahu bagaimana dia bisa menemukan aku, Kak. Aku sungguh ... Tidak ingin mengganggu hidupnya lagi. Dan aku juga ingin melupakannya."
Zetta menatap adiknya itu. "Aku tahu. Mungkin sudah saatnya kau membuka hatimu untuk orang lain. Dengan begitu kau akan bisa melupakan masa lalumu."
"Aku tidak ingin menyakiti Kak Rion lebih dari ini, Kak. Aku..."
"Kau belum mencobanya kenapa mengatakan tidak bisa? Rion selalu ada untukmu, Aleya. Apakah kau sadar jika dia lebih terluka saat melihatmu seperti ini? Dia memang cinta pertamamu, dan cinta pertama sulit dilupakan. Tapi, jika dia hanya menoreh luka untukmu, untuk apa kau terus mengharapnya? Dia bahkan sudah bahagia dengan orang lain."
Aleya terdiam mendengar nasihat Zetta.
"Aku yakin kau pasti kuat. Sekarang kau harus makan dulu. Imah bilang kau belum makan sejak siang. Jangan menyiksa dirimu hanya karena pria seperti dia."
Aleya memeluk Zetta. "Terima kasih, Kak. Kau adalah cahaya dalam hidupku."
"Jangan bicara begitu. Kita tinggal di kota orang, kita harus kuat untuk bisa bertahan hidup."
"Iya, Kak. Aku mengerti."
......***......
Boy mengusap wajahnya kasar. Bayangan akan kejadian siang tadi bersama Aleya membuatnya merasa tak tenang. Bayangan kesedihan Aleya dan kebodohannya yang akan membuat Aleya membencinya.
"Sial! Kenapa aku jadi gegabah begini? Aleya pasti akan membenciku!" Boy menarik rambutnya.
Bagaimana bisa Boy menemukan Aleya? Setelah bertemu dengan Aleya di sekolah Aurel, Boy meminta Choky untuk mencari tahu tentang Aleya. Orang kepercayaan Boy itu mendapat informasi jika Aleya datang ke kota ini untuk melanjutkan studinya.
Tanpa berpikir lama, Boy langsung menemui Aleya di depan kampus Avicenna. Beruntung Boy langsung bertemu dengan Aleya ketika gadis cantik itu baru keluar dari kampus.
Namun kini Boy menyesali tindakannya yang seakan menganggap Aleya sebagai gadis rendahan yang bisa dengan mudah ia permainkan. Ia akan meminta maaf pada Aleya. Tapi, akankah Aleya bisa memaafkan Boy?
......***......
Rion berjalan cepat menuju ruangan kerja milik Boy. Tangannya mengepal kuat menandakan ia sedang dalam mode marah. Sudah bisa ia duga jika yang membuat Aleya menangis adalah Boy.
Rion tidak akan membiarkan Boy terus menyakiti Aleya. Dan hari ini akan Rion tegaskan jika Aleya adalah miliknya.
Seperti kata pepatah, pucuk dicinta ulampun tiba. Tanpa harus menemui Boy di ruangannya, Rion ternyata bertemu Boy di sebuah lorong rumah sakit Avicenna.
Tanpa berbasa basi Rion langsung melayangkan tinjunya kearah Boy dan membuatnya jatuh tersungkur.
"Brengsek! Aku tidak menyangka jika kau sebrengsek ini, Boy!" ucap Rion penuh amarah.
Boy yang tidak tahu apa masalah Rion hanya memegangi wajahnya yang terasa nyeri setelah mendapat satu pukulan dari Rion. Ia pun bangkit dan menatap Rion.
"Apa masalahmu?" tanya Boy.
"Kau masih bisa bertanya?! Kau sudah menyakitinya empat tahun lalu dan kau menyakitinya lagi sekarang! Apa maumu, huh?" Rion menarik kerah baju Boy.
"Kau harus ingat, Boy. Aleya adalah milikku! Dan kau jangan pernah menemuinya lagi!"
Beberapa orang melihat keributan antara Boy dan Rion.
"Kau bisa saja menyebutnya sebagai milikmu, tapi hatinya akan selalu tertambat padaku! Dia bahkan rela menyerahkan semuanya padaku!" ucap Boy tak mau kalah.
"Brengsek, kau!" Rion kembali melayangkan bogem mentah kearah Boy.
"Dokter Rion! Dokter Boy!" suara seseorang menghentikan aksi Rion.
"Ada apa ini? Apa kalian tidak malu menjadi tontonan orang-orang disini?" tanya pria paruh baya yang adalah Maliq.
__ADS_1
Dion pun ikut datang karena dihubungi oleh Choky.
"Kalian ini kenapa? Rion, jangan membuat keributan disini!" seru Dion.
"Kakak tanyakan saja pada sahabat baik kakak ini!" Rion melepaskan tangannya dari kerah Boy kemudian berlalu pergi.
"Boy, kau tidak apa-apa?" tanya Dion dengan memegangi wajah Boy yang nampak memar.
"Aku baik-baik saja," jawab Boy singkat.
"Sebaiknya segera obati lukamu, Boy. Tolong maafkan Rion. Paman akan bicara dengannya." Maliq ikut bersuara.
Boy mengangguk kemudian pergi bersama Dion. Choky segera membubarkan kerumunan orang-orang yang melihat adegan adu pukul tadi.
Maliq segera menyusul Rion yang berjalan cepat keluar rumah sakit.
"Rion! Tunggu, Rion!" seru Maliq.
Rion menghentikan langkahnya.
"Ada apa? Jika ayah datang hanya untuk memarahiku, aku tidak butuh itu!"
Maliq menghela napas kasar melihat kemarahan putranya.
"Ada apa denganmu, Nak? Tidak biasanya kau seperti ini. Boy adalah sahabatmu. Jika kau ada masalah kau bisa bicara dengan ayah atau ibumu." Maliq berusaha setenang mungkin bicara dengan Rion.
Rion mengacak rambutnya. "Maafkan aku, ayah. Aku salah! Aku akan meminta maaf pada Boy. Tapi tidak sekarang. Sekarang tolong biarkan aku sendiri dulu. Aku mohon!"
"Baiklah. Ayah pergi. Jangan lakukan hal yang nekat."
Rion tersenyum getir. "Tentu saja tidak, Ayah."
Maliq berbalik badan dan meninggalkan Rion yang akan menuju mobilnya. Rion memutuskan pergi dari rumah sakit dan menenangkan diri.
Sementara itu, Dion mengobati luka memar Boy. Tenaga Rion cukup kuat saat memukul Boy tadi.
"Sebenarnya apa yang terjadi hingga Rion semarah itu?" selidik Dion.
Boy memilih untuk tidak menjawab.
"Boy!" panggil Dion. Ia membutuhkan jawaban karena ia tak ingin ada permusuhan dalam persahabatan mereka.
"Akulah yang salah, Dion. Bukan adikmu. Aku yang lebih dulu membuat masalah."
"Apa ini tentang..."
"Iya. Semuanya tentang Aleya." jawab Boy jujur. Dion sudah mengetahui semuanya, maka tidak ada lagi hal yang harus Boy tutupi.
"Astaga!" Dion mengusap wajahnya kasar.
"Kau sudah menikah, Boy. Kau harus ingat itu!" lanjut Dion.
"Aku tahu. Aku terlambat menyadari perasaanku." sesal Boy.
"Jika kau seperti ini, maka aku juga akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh adik kembarku." Dion berlalu pergi meninggalkan Boy tanpa melanjutkan mengobati luka memar Boy.
"Argh!" Boy berteriak. Ia pun menyesali semua perbuatannya pada Aleya dan Rion. Tanpa disadari ia sudah menyakiti hati banyak orang.
...B E R S A M B U N G...
__ADS_1
...*Huft, nothing i have to say. Semuanya masih terasa membagongkan π π π ...
hope you still enjoy it πππ