
Lian tiba di kantornya agak sedikit terlambat karena terjebak kemacetan. Julian yang sedari tadi menunggunya sudah berkacak pinggang menanti kedatangan Lian.
Lian tersenyum meringis kearah Julian. Pria itu hanya menggeleng pelan dan menunjukkan jam tangannya.
Lian tahu jika ia sudah terlambat untuk melakukan presentasi dan demo di depan klien. Ia segera meminta Dessy dan Desta untuk menyiapkan segala keperluan demo kali ini.
Beruntung klien kali ini adalah klien biasa yang sudah sering bekerja sama dengan Ar-Rayyan Grup. Mereka tidak meragukan kemampuan para ahli di Ar-Rayyan.
Lian bernafas lega dan saling ber'tos' ria bersama Dessy dan Desta karena klien sangat puas dengan demo mereka. Lian melihat Julian sibuk mengotak-atik ponselnya. Lian pun menghampirinya.
"Kak! Apa ada masalah?" tanya Lian.
"Tidak ada. Aku hanya sedang menghubungi Noel. Sedari tadi dia tidak menjawab panggilan dariku." jawab Julian.
"Oh, begitu. Apa ada pekerjaan yang penting?"
"Tidak sih. Aku hanya ingin melihat hasil evaluasi eksperimennya minggu ini."
Lian mengangguk paham. Ia memperhatikan raut wajah Julian yang nampak khawatir.
"Ada apa ini? Apa yang sebenarnya dia rencanakan?" batin Lian.
Tak lama ponsel Julian berdering. Sebuah panggilan dari Noel.
"Halo, Noel. Kau dimana?"
Lian berusaha mendengarkan apa yang mereka bicarakan.
"Maaf, Tuan. Sepertinya hari ini aku tidak bisa pergi ke kantor."
"Oh, begitu ya." Julian melirik kearah Lian.
"Iya, Tuan. Hari ini aku harus menemani adikku. Dia baru kembali kemarin. Kami sudah lama tidak bertemu, jadi..."
"Iya, iya. Aku mengerti. Ya sudah. Kau temani saja dia. Aku bisa meminta asistenmu untuk menggantikanmu."
Panggilan berakhir.
"Ada apa, Kak?"
"Eh? Itu... Noel tidak bisa datang bekerja hari ini. Dia harus menemani adiknya."
"Ah, aku tahu. Rumornya sudah beredar, Kak. Adik Profesor Noel adalah dokter forensik baru untuk rumah sakit Avicenna. Namanya Esther Alexandra."
Julian nampak terkejut dengan pernyataan Lian.
"Oh, iya kemarin aku juga sempat melihat beritanya. Terima kasih atas presentasi hari ini. Kau selalu melakukan pekerjaan dengan baik." Julian mengacak pelan rambut Lian kemudian berlalu.
Lian memperhatikan Julian yang kian menjauh.
"Aneh sekali! Aku yakin ada yang dia sembunyikan. Tapi apa ya?" gumam Lian.
*
*
*
Di apartemennya, Noel memberi obat penenang pada Esther. Sejak kehilangan bayinya, Esther harus mengkonsumsi obat penenang karena emosinya sering meledak-ledak tak menentu.
Noel menyelimuti tubuh Esther yang kini sudah terpejam karena pengaruh obat. Noel mengusap rambut Esther dengan penuh kasih.
__ADS_1
"Kapan kau akan menyadari perasaanku? Apa kau tidak bisa melihatnya? Kenapa kau hanya melihat Roy saja?" gumam Noel.
Noel beranjak pergi dari kamar Esther dan menuju balkon. Ia memandangi langit biru yang cerah namun hatinya terasa mendung.
"Seandainya saja aku tidak mengikuti keinginanmu, mungkin saat ini ... kau tidak akan menderita seperti ini. Aku yakin bisa membuatmu bahagia, Zara." Noel memejamkan mata. Ingatan tentang banyaknya memori di lima tahun terakhir melintas di otaknya.
Setelah mengetahui bayinya meninggal dalam kandungan, Zara terus berontak dan tak ingin menerima kenyataan. Noel merasa tak tega melihat Zara begitu terpuruk. Ia memeluk Zara erat dan menenangkannya. Ia meyakinkan Zara jika bayi dalam kandungannya harus segera dilahirkan.
Setelah terdiam beberapa saat, Zara tiba-tiba berteriak.
"Tidak!!! Aku tidak bisa membiarkan mereka bahagia! Tidak!!!"
"Zara, ada apa?" tanya Noel memegangi kedua lengan Zara.
Zara memandangi siaran televisi yang menampilkan wawancara Roy yang akan menyambut kelahiran putra keduanya.
"Jika aku tidak bisa mendapatkan seorang putra, maka diapun tidak berhak memiliki seorang putra." gumam Zara dengan sorot mata kemarahan.
"Zara, apa maksudmu?"
"Mereka! Merekalah yang sudah membuatku jadi begini! Jika saja wanita itu tidak muncul dalam kehidupan Roy, maka aku akan bahagia dengan Roy dan menikah dengannya." tunjuk Zara pada layar televisi.
"Zara... Hentikan! Kau harus segera di operasi."
"Tidak! Aku tidak akan melakukan operasi disini. Kau harus membawaku pada mereka!"
"Zara, hentikan!"
"TIDAK!!! Aku tidak akan berhenti! Kumohon tolong aku, Noel! Hanya kau yang bisa menolongku! Kumohon!!" pinta Zara dengan meraung-raung.
"Baiklah. Apa yang bisa kulakukan untukmu?" Noel mengalah.
"Bawa aku pada mereka. Wanita itu harus merasakan apa yang kurasakan!"
"Hah?! Apa maksudmu?"
"Aku akan menukar bayinya dengan bayiku!"
Noel tercengang. Ia sangat syok dengan penuturan Zara.
Noel masuk kedalam rumah dan menuju ruang kerjanya. Ia duduk disana lama dengan memandangi sebuah foto.
"Esther... Maafkan kakak."
Noel memandangi fotonya dan foto adiknya.
"Maafkan kakak karena sudah menjadi egois. Aku pikir dengan menuruti segala keinginannya, dia akan mulai berubah. Dia bisa menjadi Zara yang manis yang dulu kukenal. Maafkan kakak..."
Noel menuju ke mini bar di rumahnya dan menuang bir ke dalam gelas. Sambil memandangi foto Esther yang tersenyum manis, Noel meneguk minuman di gelasnya.
"Bagaimana bisa aku kini berakhir dengan begitu menyedihkan? Aku memiliki segalanya namun aku tak bisa menggapai satu hati..."
Noel meneguk segelas lagi minuman memabukkan itu.
"Andai saja aku tak mengikuti keinginanmu, Zara... Andai saja..."
Noel yang melihat Zara selalu murung akhirnya memutuskan membawa Zara tinggal bersama di apartemennya. Zara masih terpukul karena kehilangan bayinya meski ia juga sudah membalas sakit hatinya pada Roy dan Lian.
Zara puas karena Roy dan Lian juga mengalami hal yang sama. Kehilangan seorang anak. Bayi Lian dan Roy ia titipkan ke panti asuhan dengan meminta bantuan Laras.
"Siapa ini?" tanya Zara saat melihat sebuah foto di apartemen Noel.
__ADS_1
"Itu adalah adikku. Namanya Esther." jawab Noel.
"Oh ya? Aku tidak tahu kau memiliki seorang adik."
"Yeah. Tak banyak orang yang tahu soal itu."
"Dimana dia sekarang?"
"Dia ... sudah meninggal."
"Sorry..."
"Tidak apa. Dia meninggal di usia 20 tahun karena kanker. Usianya 3 tahun lebih muda dariku."
Zara mengangguk. Tiba-tiba terlintas hal gila dalam otaknya.
"Umm, dengar Noel. Aku tidak mungkin tinggal disini terus menerus. Julian pasti akan menemukanku cepat atau lambat. Dia menganggap jika aku masih hidup."
"Lalu? Kau ingin tinggal dimana?"
Dengan menunjuk foto Esther, Zara berkata...
"Jadikan aku adikmu!"
"Apa?!"
"Iya, Noel. Julian tidak akan menemukanku jika aku menjadi orang lain."
Noel sekali lagi terkejut dengan ide gila yang diucapkan Zara. Kemarin menukar bayi, sekarang meminta tukar identitas.
"Zara, kau..."
"Tolonglah, Noel... Aku tidak bisa menjadi Zara lagi. Terlalu beresiko jika aku terus menjadi Zara."
Noel menghela nafas kasar. Zara menghampiri Noel dan berlutut di kaki Noel.
"Tolonglah, Noel... Hanya kau harapanku satu-satunya. Aku tidak memiliki siapapun lagi di dunia ini..." Zara menangis terisak.
"Bangunlah! Tolong jangan begini!" Noel memegangi kedua bahu Zara.
"Jika kau tidak bisa mengabulkan keinginanku, maka biarkan saja aku mati. Bukankah semua orang sudah menganggapku mati?" Zara berlari ke dapur dan mengambil sebilah pisau.
"Zara! Jangan!"
"Percuma saja aku hidup! Harusnya kau tidak perlu menolongku! Biarkan aku mati, Noel. Aku akan menyusul orang tuaku dan juga kakek Gerald."
"Zara, hentikan! Oke! Baiklah! Aku akan melakukan apapun yang kau inginkan. Tapi jangan pernah berpikir untuk mati. Mengerti?!"
Zara menjatuhkan pisau itu kemudian berhambur memeluk Noel.
"Tapi berjanjilah padaku! Kau akan tinggal di luar negeri. Jangan kembali dengan alasan apapun!" tegas Noel.
Zara mengangguk dalam pelukan Noel.
Kini Noel hanya bisa merutuki semua yang sudah terjadi.
"Maafkan aku, Esther. Maafkan aku, Zara..." ucapnya sambil terisak.
"Jika cinta itu memang buta... Mungkin itulah yang dirasakan Noel...
Dia tak bisa melihat apapun kecuali cintanya.
__ADS_1
Cinta yang bertepuk sebelah tangan..."
Selamat malam, sampai jumpa besok ๐๐๐