Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 46. Kesaksian Belinda


__ADS_3

Roy masuk kedalam kamar Belinda dan melihat jantung hatinya sedang terpejam karena pengaruh obat bius yang disuntikkan Riana. Roy duduk di tepi ranjang dan memperhatikan kondisi Belinda dengan seksama. Ia mengusap puncak kepala Belinda dengan lembut.


"Kau pasti mengalami hal yang berat kemarin. Kuharap setelah ini kau bisa menjadi wanita yang kuat. Bukankah selama ini kau menjalani hari-harimu dengan kesendirian? Kau pasti bisa menghadapi ini. Lawanlah, Bels! Kuharap kau bisa memberi kesaksian atas apa yang terjadi di rumah itu. Berilah keadilan untuk Kakek Gerald. Meski aku tahu, kami banyak menabur luka padamu."


Roy mengecup lama dan dalam kening Belinda sebelum akhirnya ia keluar dari kamar Belinda.


Boy menatap Roy dengan penuh tanya.


"Pa, apa benar Profesor Gerald sudah meninggal?" tanya Boy.


"Iya, Nak."


"Maafkan Boy, Pa. Jika saja Boy bisa menemukan jejak Profesor Gerald lebih cepat, pasti beliau masih hidup."


Roy tersenyum menanggapi permintaan maaf Boy. "Kau masih terlalu kecil untuk masuk kedalam masalah ini, Nak. Biarkan Paman Patrick dan Paman Kenzo yang menyelidiki kasus ini."


"Tidak, Pa. Ini adalah kasusku. FBI memintaku untuk mencari keberadaan Profesor Gerald. Tapi aku gagal." Boy menundukkan kepala.


Roy memeluk putranya. "Jangan merasa bersalah, Nak. Ini semua sudah jadi suratan takdir." Roy mengusap punggung mungil yang kini sedang merasa bersalah.


"Sekarang kau istirahat saja. Dan temani mamamu. Papa yakin dia membutuhkanmu saat ini." ucap Roy.


"Mama juga membutuhkan Papa. Boy harap setelah ini Papa dan Mama bisa bersatu."


Roy tersenyum. "Iya, Nak. Papa juga berharap Mama bisa segera menerima Papa."


"Boy akan dukung Papa."


"Terima kasih, Nak. Sekarang kau masuklah ke kamar dan tidur. Besok kita bicara pada mama jika kondisinya sudah membaik."


Boy mengangguk kemudian masuk ke dalam kamarnya.


......***......


Keesokan harinya, Patrick dan Kenzo juga Danial, menemui Roy di apartemennya. Mereka berharap Roy bisa membuat Belinda membuka suara dan menceritakan apa yang terjadi.


"Tapi, aku tidak bisa memaksanya, Julian. Aku takut dia kembali histeris." ucap Roy.


"Iya, aku tahu. Aku tidak memintamu memaksanya, tapi membuatnya rileks agar dia bisa bercerita." balas Patrick.


"Tapi, kami tidak sedekat itu untuk bisa saling..." Roy menatap ketiga pria itu bergantian.


"Kau yakin memintaku yang menemui Belinda?" kerling Patrick.


"Eh?"


"Kau yakin tidak akan cemburu?"


Kenzo dan Danial hanya bisa menahan tawa dengan pertanyaan Patrick.


"Kau! Apa kau akan macam-macam pada Belinda?"


"Yah, kita 'kan tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Bagaimana jika ternyata Belinda..."


"Stop! Stop! Baiklah. Aku akan coba bicara padanya. Semoga cara kalian ini berhasil."


Kenzo melirik kearah Patrick. "Tentu saja berhasil dokter Roy." Kenzo menyenggol lengan Roy dengan kerlingan menggoda.

__ADS_1


Roy hanya mengedikkan bahunya tak paham dengan maksud kedua orang pria ini. Sedangkan Danial hanya bisa menggeleng pelan dengan tingkah para pria dewasa yang kekanak-kanakan.


.


.


.


Tiba di apartemen Belinda, Keempat pria itu saling bertukar sapa dengan Riana dan Boy. Roy langsung menempatkan diri dan membawa sebuah kamera yang terpasang di kemejanya berbentuk bolpoin.


Roy mengetuk pintu kamar Belinda sebelum masuk. Ia melihat Belinda sedang duduk di tepi ranjang dan membelakanginya.


"Bels..." sapa Roy sambil berjalan menghampirinya.


"Dokter Roy..." Belinda sudah bersedia merespon Roy.


Roy duduk di samping Belinda. Ia menatap wanita yang terlihat rapuh itu.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Roy.


"Aku baik-baik saja, Dokter. Maaf sudah membuatmu panik kemarin."


"Syukurlah kau baik-baik saja, Bels."


Tatapan Belinda berubah sendu. Roy harap-harap cemas takit terjadi sesuatu dengan Belinda.


"Aku tidak tahu apa yang mereka lakukan di tempat itu, dokter. Tapi..."


Roy menelan salivanya. Ia tak menyangka jika Belinda akan bercerita dengan sendirinya.


"Aku melihat kondisi Profesor Gerald sangat memprihatinkan. Dia ditempatkan diruangan itu sendirian. Jika saja aku tidak ada disana, mungkin dia telah meninggal sebelum aku tiba disana."


"Aku tidak tahu siapa orang-orang itu. Mereka berpakaian seperti... Perawat dan juga dokter. Aku juga tidak pernah bertemu dengan mereka secara langsung. Mereka selalu datang di saat aku masih terlelap. Mereka membawakan makanan dan pakaian ganti untukku. Sepertinya mereka ... Memang sengaja ingin melenyapkan Profesor Gerald secara perlahan."


Belinda menatap Roy. Roy pun jadi salah tingkah mendapat tatapan sayu dari wanita disampingnya.


"Dia menumpahkan segala penyesalannya. Dia meminta maaf padaku. Dia sudah menceritakan semuanya tentang proyek rahasia itu. Juga tentangmu."


"Tentangku?"


"Sudahlah. Aku tidak mau membahasnya sekarang. Yang pasti, aku akan membalas semua kesakitan yang mereka buat untukku."


"Eh? Mereka?"


"Aku masih belum tahu siapa dalang dibalik semua ini. Tapi, akan kupastikan, mereka mendapat hukuman yang setimpal." ucap Belinda dengan berapi-api.


......***......


Roy termenung di balkon kamarnya sambil mengenang semua kata-kata Belinda tadi. Sungguh ia takut jika apa yang akan terjadi nanti membuat hubungannya dengan Belinda bertambah rumit.


Semua kesakitan yang dirasakan Belinda bisa saja adalah ulah dari keluarga Avicenna. Tapi siapa? Dan kenapa harus bagian dari keluarga Avicenna? Bukankah itu membuat dirinya semakin sulit mendekati Belinda?


Roy mengusap kasar wajahnya. Dalam kesaksian Belinda tadi memang tidak menyebutkan tentang siapa yang sudah menculik dirinya. Tapi Roy sangat yakin jika Zaralah yang ada di balik semua ini.


Roy akan menemui Zara dan mencoba bicara baik-baik padanya. Mungkin dengan kepala dingin semua masalah dapat diatasi.


Roy mendatangi rumah Zara yang masih diliputi hawa berkabung. Banyak karangan bunga masih terpajang di sepanjang jalan menuju kediaman keluarga Rayyan.

__ADS_1


Roy bertemu dengan asisten rumah tangga Zara dan bertanya tentang keberadaan Zara.


"Nona Zara ada di kebun belakang, Tuan. Biasanya jika sedang sedih, Nona lebih suka menyendiri dengan merawat tanaman milik mendiang ibunya."


"Baiklah, Bi. Saya akan kesana."


Roy melangkah menuju kebun belakang yang diisi dengan berbagai macam tanaman kesayangan milik Lyra Rayyan, ibunda Zara.


"Zara..." sapa Roy.


Wanita pemilik nama menoleh dan menatap Roy aneh.


"Roy? Untuk apa kau datang kesini? Bukankah kita sudah tidak punya hubungan apa-apa?" ketus Zara.


"Zara, aku turut berduka atas kehilanganmu. Aku tak menyangka jika Kakek Gerald akan pergi secepat ini."


Zara tersenyum sinis. "Lalu?"


"Apa kau tidak ingin mengetahui apa penyebab kematian Kakek Gerald?"


Zara mulai paham kemana arah pembicaraan Roy berlabuh.


"Maaf ya, tapi aku tak berniat untuk mengajukan proses otopsi."


"Zara!!!" Roy menaikkan nada suaranya.


"Orang yang sudah meninggal, biarkan saja sudah meninggal. Untuk apa harus menyakitinya dengan melakukan otopsi? Itu hanya akan menyakitinya, Roy."


Roy mengepalkan tangan. Rasanya sia-sia saja bicara baik-baik dengan wanita kejam ini.


"Jadi, kau mengakui semua perbuatanmu?"


"Perbuatan?" Zara mengernyit bingunf.


"Dengan kau tidak mengijinkan adanya proses otopsi, itu menandakan jika kau ada di balik kematian Kakek Gerald."


"Kau!!! Jangan bicara sembarangan denganku! Pengawal!!!" teriak Zara memanggil para pengawalnya. Dan beberapa pria bertubuh besar segera datang.


"Usir dia dari sini. Dan jangan biarkan dia masuk ke rumah ini lagi tanpa ijin dariku!!"


"Baik, Nona." Pengawal itu segera mencengkeram lengan Roy dan membawanya keluar dari rumah besar itu.


Roy mengumpat kesal. "Kita lihat saja, Zara. Aku pasti bisa mendapatkan bukti jika kaulah yang sudah melenyapkan Profesor Gerald." ucap Roy kemudian masuk kedalam mobilnya dan pergi dari komplek rumah Zara.


......***......


#bersambung


"Yaelah dokter tampan, itu kan wanita ular. kau harus melawannya dengan licik juga dong."


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya kesayangan. Jangan lupa mulai nanti jam 11 malam sudah bisa kasih VOTE loh.


kali aja ada yg mau sedekah VOTE biar mak thor makin semangat ngehalunya.


...thank you ...


yuk mampir juga ke Raanjhana, yg bergenre roman dewasa. ati2 yg masih bocil di larang mampir. wkwkkwkwk

__ADS_1



__ADS_2