
...Kenangan tentang dirimu tidak pernah pudar...
...Meski aku berusaha menghapusnya dari lubuk yang paling dalam...
...Akan selalu ada gemuruh riak yang membuatku mendekat kepadamu...
...πΉπΉπΉ...
Boy menyapa para warga yang datang ke rumah sakit untuk memeriksakan kesehatannya. Beberapa ibu hamil juga susah berjejer disana menunggu Boy memeriksa kandungan mereka.
Aleya tersipu malu karena Boy mengenalkannya sebagai seseorang yang spesial di hati Boy. Tak sedikit pula yang mengagumi kecantikan alami Aleya yang memang sudah terkenal di desa Selimut. Banyak pemuda patah hati tentunya karena Aleya kini telah memiliki tambatan hati.
"Kau jangan cemburu ya! Disini aku adalah idola para ibu-ibu," bisik Boy di telinga Aleya.
Aleya membulatkan mata. "Percaya diri sekali!"
"Itu memang fakta. Jika kau tidak percaya, aku akan membuktikannya." Boy bersiap melepas genggaman tangannya dari tangan Aleya. Namun Aleya menggelengkan kepala.
"Tidak perlu, Kak. Aku percaya kok!" Aleya menggenggam kembali tangan Boy. Ia tersenyum sangat manis didepan Boy, membuat pria itu tak tahan menahan gejolak dalam dirinya.
Ah, andai saja bukan di tempat umum, pasti Boy udah gerak cepat tuh, hihi.
Hari pun berganti siang dan berganti sore. Di dusun Kabut menjelang malam selalu terjadi hujan deras bahkan terkadang badai. Aleya yang berniat pulang ke rumah pun tak bisa karena terjebak badai yang cukup besar.
Boy menawari Aleya untuk menginap di rumahnya saja. Rumah sederhana tempat tinggal Boy selama menetap di dusun Kabut. Mengusung tema minimalis modern dengan dua lantai yang cukup nyaman.
Lantai bawah digunakan untuk kamar tidur dan lantai atas untuk ruang kerja Boy. Bagaimanapun juga Boy tetap memikul tanggung jawab sebagai penerus rumah sakit Avicenna.
"Umm, ada dua kamar dibawah. Kau bisa menempati yang satunya," jelas Boy.
Aleya menjawab dengan sebuah anggukan. Sebenarnya Aleya sangat canggung harus bermalam di tempat Boy. Tentu saja itu akan menjadi bahan gunjingan nantinya. Dan ia tak ingin merusak reputasi ayahnya sebagai kepala desa juga Boy sebagai seorang dokter.
"Jangan berpikiran buruk. Penduduk dusun ini sudah mulai beradaptasi dengan modernisasi. Mungkin kau tidak tahu, tapi ada kalanya teknologi itu penting. Aku sudah menghubungi ayahmu jika kau menginap di tempatku."
"Eh? Ayahku?"
"Aku tidak ingin mengkhianati kepercayaannya. Aku akan menjaga putrinya dengan baik."
Aleya mengerucutkan bibirnya.
"Masuk dan beristirahatlah. Kamar itu kemarin di tempati oleh Rion."
"Eh? Kak Rion? Dia datang kemari?"
Boy mengangguk. "Dia kabur dari perjodohannya. Tapi sekarang kudengar dia sudah menerima perjodohannya itu."
"Oh, syukurlah."
__ADS_1
"Apa kau masih memiliki perasaan terhadapnya?" selidik Boy.
"Eh? Tidak! Aku dan Kak Rion..."
"Sudahlah! Tidak perlu membahasnya." Boy terlihat kesal karena teringat kejadian beberapa tahun silam dimana ia memergoki Rion yang mencium Aleya dan gadis itu tidak menolaknya. Boy berasumsi jika Aleya pasti memiliki rasa terhadap Rion saat itu.
Aleya pun masuk kedalam kamar dan membersihkan diri. Ia memilih memakai kaus milik Boy yang terlihat kebesaran di tubuh mungilnya.
"Mana mungkin ada pakaian wanita disini," keluh Aleya. Kaus itu terlihat seperti gaun pendek ketika dipakai Aleya.
"Tidak ada pilihan lain." Aleya memilih kaus yang paling besar untuk dipakainya.
Usai berganti baju, Aleya menuju ke dapur dan menyiapkan makan malam untuknya dan Boy. Tak banyak yang bisa masak karena bahan makanan pun terbatas.
"Hanya ada mie instan dan telur saja. Apa kak Boy setiap hari memakan ini? Kasihan sekali..." Aleya mendesah pelan kemudian memasak mie goreng sebagai menu makan malam.
Ketika makanan sudah siap, Aleya mengetuk pintu kamar Boy namun tak ada sahutan dari dalam.
"Kemana dia? Apa mungkin..." Aleya mendongak ke lantai atas. Ia pun melangkahkan kakinya menaiki anak tangga yang terbuat dari kayu itu.
Sampai di lantai atas Aleya melihat satu ruangan yang ia yakini adalah ruang kerja Boy. Aleya berjalan kesana kemudian mengetuk pintu.
"Kak! Makan malam sudah siap!" teriak Aleya.
"Masuklah!" Boy menjawab panggilan Aleya.
"Jika kakak masih sibuk maka aku..."
"Tidak! Tidak! Kemarilah! Aku akan lebih bersemangat karena ada kau disini."
"Eh?"
"Duduk saja di sofa. Tunggu aku sebentar! Kita akan turun bersama."
Aleya mengangguk paham kemudian mendaratkan tubuhnya di sofa.
"Kenapa kakak melakukan ini?" tanya Aleya yang diliputi rasa penasaran dengan semua tindakan Boy.
"Melakukan apa?"
"Semua ini! Membangun rumah sakit, jalan raya, bahkan rumah."
Boy menyudahi pekerjaannya dan menghampiri Aleya. Ia duduk disamping Aleya.
"Aku hanya melakukan apa yang hatiku inginkan," ucap Boy.
"Tapi kenapa harus disini?"
__ADS_1
"Entahlah. Mungkin karena Tuhan tahu aku akan menemukan jantung hatiku disini."
Wajah Aleya memerah. Semua hal tentang Boy memang selalu membuatnya mabuk kepayang. Aleya tak sanggup menatap pria yang berkata manis itu.
"Dengar, aku bersungguh-sungguh, Aleya. Aku tidak akan melepaskanmu lagi. Kumohon jangan pergi lagi dariku. Aku tidak akan sanggup jika harus kehilanganmu untuk kesekian kalinya," ungkap Boy jujur.
Aleya terdiam mendengar semua kejujuran Boy.
"Maaf..."
Boy tertegun karena Aleya kembali mengucap kata 'maaf'.
"Maaf karena aku sudah menyakiti hati kakak. Padahal dengan melakukan semua ini, aku telah menyakiti hatiku sendiri." Mata Aleya menghangat. Buliran kristal itu mulai mengalir di pipi mulusnya.
"Hei, jangan meminta maaf. Akulah yang harusnya meminta maaf. Ketika kau memilih menjauh, harusnya aku yang mendekat. Ketika kau makin menjauh, harusnya aku tetap mengejarmu hingga kau kembali ke pelukanku." Boy merangkum wajah Aleya dan menyeka air mata gadis itu.
"Terima kasih karena kakak masih mencintaiku..."
"Akulah yang harus berterimakasih. Tuhan akhirnya mengirimmu kembali padaku. Aku sangat bahagia, Aleya."
Aleya tersenyum mendengar semua kata yang keluar dari mulut Boy. Ia tahu ada kesungguhan disana.
Suasana makin syahdu diantara dua insan yang sedang memadu kasih ditemani suara kucuran air hujan yang membasahi bumi. Boy makin mengikis jarak dengan Aleya. Ia tak akan melepas cintanya lagi.
Ketika tubuhnya makin tak berjarak dengan Boy, Aleya memejamkan mata dan merasakan lembutnya sentuhan bibir sang pujaan hati. Boy selalu bergerak dengan pelan agar Aleya merasa nyaman.
Suara decapan mulai tercipta meski tertutup oleh derasnya air hujan yang mengalir. Boy sangat merindukan gadisnya. Dilumaatnya habis rasa manis yang ada disana. Gairah muda mulai meletup namun semua harus memahami batasnya.
Setelah puas menyesap madunya, Boy melepas tautannya dan mengusap bibir mungil yang basah itu.
"Kau pasti lapar. Ayo kita makan!" ajak Boy yang mendapat anggukan dari Aleya.
Mereka menuruni anak tangga bersama-sama dengan saling bergandengan tangan.
"Besok aku akan bicara dengan ayahmu. Aku akan melamarmu secara resmi," ucap Boy.
"Eh? Secepat itu?"
"Kali ini aku tidak akan membiarkanmu protes lagi. Mengerti?!"
Aleya diam dan akhirnya menurut dengan semua keputusan Boy. Meski bibirnya ingin menolak, namun hatinya merasa sangat bahagia karena cintanya kini telah kembali.
ππππ
Boy - Aleya, kalian kok bikin baper siiiiihhhh
__ADS_1
*Waow, lagi bengek pun bisa up 3 part. Dukung mereka selalu ya genks πππ