
Namun selama aku bernyawa,
Aku kan mencoba menjadi seperti yang kau minta
(Seperti yang Kau Minta - Chrisye)
......***......
Julian tiba di rumahnya yang megah nan mewah namun sunyi. Usai membersihkan diri dan memakai piyama tidurnya, Julian pergi ke ruang kerjanya.
Julian ingat tentang paper bag yang dikembalikan Lian kepadanya. Ia mengambil dan membuka kotak yang berisi sebuah cincin berlian yang ia pesan khusus hanya untuk Lian.
Julian tersenyum memandangi cincin itu.
"Dia bilang dia ingin aku menjadi sahabatnya. Menjadi Patrick. Seperti dulu," gumam Julian.
"Baiklah. Jika itu yang kau inginkan, Lian. Aku akan kembali menjadi Patrick seperti yang kau minta."
Julian kembali fokus pada notebook dan pekerjaannya hingga rasa kantuk menyerang lalu ia memutuskan untuk kembali ke kamarnya.
"Besok adalah hari yang penting. Besok semuanya akan berubah," lirih Julian sebelum memejamkan mata.
Keesokan harinya,
Julian bersiap-siap memakai setelan jasnya. Penampilannya ia ubah agar menjadi Patrick si agen FBI.
"Hmm, lumayanlah. Waktu sudah berganti. Tapi aku harus tetap menjadi Patrick yang dulu."
Usai mematut diri di cermin, Julian menuruni tangga dan menyapa asisten rumah tangganya.
"Selamat pagi semuanya!" seru Julian dengan senyum sumringah yang membuat para asisten mengernyit heran.
Pasalnya sejak pindah ke rumah peninggalan keluarga Rayyan, Julian sama sekali tak pernah menunjukkan sikap ramah ataupun senyum yang lebar. Ia hanya sesekali tersenyum kecil saja.
Julian menuju meja makan dan menyantap sarapan paginya. Senyum merekah terus ia kembangkan.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Tuan kita? Apa dia kesurupan?" bisik Eti pada Bi Nur.
"Hush! Jangan sembarangan! Sejak kedatangan Nona Lian waktu itu, Bibi rasa Tuan Julian sedikit berubah. Semoga saja kehadiran Nona Lian bisa membawa perubahan dalam hidup Tuan Julian."
.
.
.
Tiba di gedung Ar-Rayyan Grup, Julian menyapa satu persatu karyawannya. Sungguh peristiwa yang amat langka dan patut diabadikan.
"Eh, eh, apa kau tahu tadi untuk pertama kalinya Tuan Julian mengembangkan senyumnya padaku."
"Benarkah?"
"Iya, benar. Kurasa ada sesuatu dengan dirinya."
"Semoga ini adalah hal yang bagus."
"Iya, semoga saja."
Lian tak sengaja mendengar pembicaraan dua orang karyawati ketika dirinya sedang membuat kopi di pantry.
"Kak Julian berubah?" Lian menggaruk tengkuknya.
Lian tak mau berpikir keras dan kembali ke ruangannya dengan secangkir kopi ditangan.
Lian terkejut karena di dalam ruangannya sudah ada Julian yang sedang duduk di kursi kebesaran milik Lian.
"Astaga! Kak Julian? Mengagetkan saja!" Lian mengelus dadanya.
"Ha ha, kau ini! Apa aku terlihat seperti hantu, huh?!"
Lian mengernyitkan dahi. Ada yang aneh dengan nada bicara Julian.
__ADS_1
"Kenapa? Kemarilah! Aku tidak akan memarahimu karena kau terlambat hanya untuk membuat kopi."
Lian menautkan alisnya.
"Sudahlah! Aku tidak ingin berbasa-basi." Julian bangkit dari duduknya dan menghampiri Lian.
"Nanti malam aku ingin menantangmu!" ucap Julian.
Lian menatap Julian.
"Ada apa dengannya? Ini masih pagi dan dia membicarakan tentang nanti malam?" batin Lian.
"Siapkanlah dirimu, Nona Lian!"
Usai mengatakan apa yang ingin ia katakan, Julian pergi dari ruang kerja Lian.
"Astaga! Dia benar-benar aneh! Itu berarti apa yang dikatakan orang-orang itu benar." Lian bergidik ngeri membayangkan anehnya sikap Julian.
.
.
.
Jam kerja sudah habis, itu artinya semua karyawan sudah diperbolehkan untuk kembali pulang ke rumah masing-masing. Namun tak begitu dengan Lian yang masih berkutat dengan pekerjaannya.
Lian mulai menguap karena efek kopi pagi tadi telah habis.
Tok
Tok
Terdengar sebuah ketukan di pintu ruangan Lian membuatnya menoleh. Sesosok kepala muncul dan membuat Lian terkejut.
"Kakak! Kenapa tidak masuk? Kenapa malah menunjukkan kepalamu saja?"
"Tidak! Aku tidak ingin mengganggumu. Tapi, ini sudah usai jam kerja. Sebaiknya kau cepat keluar!"
"Cepatlah keluar! Aku tunggu!"
Lian memiringkan kepalanya tak paham dengan maksud Julian.
Lian pun membereskan meja dan meraih tas slempangnya.
"Sebenarnya apa yang dia inginkan?" gumam Lian.
Lian melihat Julian menunggunya di lobi.
"Kak!"
"Oh, hai. Kau sudah datang. Ayo ikut!" Julian menarik pergelangan tangan Lian.
"Kita mau kemana, Kak?"
"Bernostalgia." jawab Julian santai.
Lian hanya tersenyum tipis dan menuruti keinginan Julian.
"Sepertinya memang ada yang berbeda dengannya." batin Lian.
Mobil Julian berhenti di sebuah warung tenda penjual Bakmie Jowo. Lian terkejut karena Julian membawanya ke tempat yang dulu sering mereka kunjungi.
"Kak? Kau membawaku kemari? Kau masih mengingatnya?"
"Tentu saja. Ayo masuk!"
Lian tersenyum senang kemudian masuk ke dalam warung tenda tersebut.
"Bang, pesen mie kuah pedas dua ya!" seru Julian pada penjual bakmie.
"Siap, Bos." jawab si penjual.
__ADS_1
Lian menepuk pelan bahu Julian.
"Kakak serius? Kakak tidak bisa memakan makanan pedas!"
"Sudahlah! Kita duduk di luar saja!"
Lian masih tidak mengerti dengan sikap Julian.
Tak lama pesanan mereka datang. Julian mengusap tangannya dan berkata,
"Kita bertarung!"
"Heh?"
"Iya, kita bertarung siapa yang lebih cepat menghabiskan bakmie, dialah pemenangnya." ucap Julian.
"Tunggu, tunggu! Kita..."
"Seperti masa lalu..." jawab Julian membalas keingintahuan Lian.
Ya, dulu Lian dan Patrick sering berlomba saat memakan makanan bersama. Namun Patrick selalu kalah karena dia tak bisa memakan makanan pedas.
"Kau yakin, Kak?"
"Tentu saja! Ayo mulai! Satu, dua, tiga!"
Lian memakan bakmie dengan lahap karena sedari tadi ia juga sangat lapar. Julian pun tak mau kalah.
"Kali ini aku akan menang, Lian!" ucap Julian yakin.
"Oh ya? Kurasa kakak tidak akan bisa mengalahkanmu!" balas Lian tak kalah yakin.
Berulang kali Julian meminum air di gelasnya sambil mengatur nafas karena lidahnya terasa panas.
Lian tertawa kecil dan mengintip dari ekor matanya.
"Dia sudah kembali. Patrick sahabatku sudah kembali. Terima kasih, Tuhan! Semoga setelah ini aku akan semakin dekat dengannya untuk membongkar semua kejahatannya. Maaf karena aku harus melakukan ini. Aku harus mengelabuimu." Gumam Lian dalam hati.
"Done!!!" teriak Julian.
Lian membulatkan mata karena Julian ternyata berhasil memenangkan pertandingan makan bakmie pedas ini.
"Aku menang!!!" seru Julian gembira.
Lian menatap Julian sambil menggeleng pelan.
Julian menyapa semua pengunjung juga memberi pelukan untuk si penjual bakmie.
"Karena malam ini aku berhasil mengalahkan sahabatku, Berlian. Maka, malam ini semua yang makan disini aku gratiskan. Aku akan mentraktir kalian semua!"
Sontak semua orang yang makan disana bersorak gembira dengan pengumuman Julian.
Selesai membayar semua tagihan, Julian mengantar Lian kembali ke rumahnya.
"Terima kasih," ucap Julian.
"Kenapa kakak berterimakasih? Harusnya aku yang berterimakasih."
"Apa aku sudah menjadi sahabatmu?" tanya Julian.
"Eh?"
"Patrick Hensen, sahabatmu."
"Iya. Kau kembali. Sahabatku telah kembali. Terima kasih," ucap Lian.
Lian berpamitan pada Julian kemudian masuk ke dalam rumah.
Lian memegangi dadanya. "Maafkan aku, Kak. Kurasa sudah saatnya kita mengakhiri semua ini." Batin Lian dengan memejamkan mata.
...B E R S A M B U N G...
__ADS_1