Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 89. Cinta atau Persahabatan


__ADS_3

Pukul delapan malam, Lian tiba di rumahnya. Rasa lelah yang teramat sangat mendera tubuhnya. Hari ini banyak hal yang mengejutkan untuknya.


Lian duduk di tepi tempat tidurnya dan kembali mengingat tentang putra Kartika. Wajah mungilnya mengingatkan Lian pada sosok seseorang.


"Tapi siapa ya?"


Semakin memikirkannya semakin membuatnya frustasi. Lian memutuskan untuk membersihkan diri sebelum menuju alam mimpi.


Saat sedang mengeringkan rambut, Lian teringat dengan apa yang Julian katakan tadi.


"Hadiah?"


Lian mengambil paper bag diatas meja. Ia membuka isinya yang ternyata sebuah kotak.


"Apa ini?" Lian terkejut karena ternyata isinya sebuah cincin berlian.


"Apa maksud Kak Julian memberiku sebuah cincin?"


Lian mengambil cincin yang menurutnya sangat indah itu.


"Ini sangat cantik, tapi..."


Lian berpikir sejenak.


"Tidak. Aku tidak bisa menerimanya. Akan sulit jika hubungan kami lebih dari ini. Lagipula aku masih terikat pernikahan dengan Mas Roy. Besok akan kukembalikan saja!" putus Lian kemudian menaruh kotak cincin itu diatas nakas.


Lian merebahkan tubuhnya dan memejamkan mata. Tidak lama Lian kemudian terlelap dan terbuai dalam mimpi yang indah.


Keesokan harinya, Lian terbangun dan langsung menuju ke kamar mandi. Semalam ia memimpikan sesuatu yang aneh. Ia bermimpi ada seorang anak kecil yang menghampirinya dan memanggilnya Mama.


"Kenapa mimpiku aneh sekali?" Lian menggaruk kepalanya.


"Ah, sudahlah. Itu hanya sebuah mimpi. Sebaiknya aku bergegas. Aku tidak boleh terlambat lagi hari ini."


Sekitar sepuluh menit Lian keluar dari kamar mandi dan melihat ibunya sedang duduk di tepi tempat tidurnya.


"Ibu! Apa yang ibu lakukan disini?"


"Putriku, siapa yang memberimu cincin berlian secantik ini?"


Lian terkejut. Ibunya membuka kotak cincin pemberian Julian.


"Ibu!" Lian segera merebut kotak itu dari tangan ibunya.


"Apa ... Nak Julian yang memberikannya?" tanya Lusi dengan sedikit menggoda Lian.


"Ibu! Jangan berpikiran aneh-aneh. Lagipula aku akan mengembalikannya pada Kak Julian. Aku tidak pantas menerimanya."


"Astaga, anak ini! Kenapa harus dikembalikan? Bukankah ini pertanda bagus? Itu artinya Nak Julian serius denganmu."


"Ibu, aku dan Kak Julian tidak ada hubungan apapun. Sebaiknya ibu keluar dari kamarku. Aku ingin mengganti bajuku." Lian mendorong tubuh ibunya hingga keluar dari kamarnya.


"Dengar, kau harus pikirkan baik-baik sebelum mengembalikannya!" teriak Lusi dari luar kamar Lian.


"Kalian ini masih pagi sudah berisik. Ada apa?" tanya Lono.


"Ayah, sepertinya putri kita akan segera menikah."


"Heh? Bagaimana bisa? Menikah dengan siapa?"


"Tentu saja dengan Nak Julian. Memangnya siapa lagi!"


Lono menggelengkan kepala. "Jangan memaksanya. Kita serahkan semua pada putri kita."


Lian sudah siap dengan setelan kerjanya. Ia keluar dari kamar dan duduk di meja makan untuk sarapan bersama ayah dan ibunya.


"Dengarkan ibu! Kau jangan terburu-bruu mengambil keputusan. Nak Julian adalah pria yang baik."


"Ibunya Lian! Sudah ayah bilang jangan memaksa putri kita. Biarkan dia yang menentukan jalan hidupnya sendiri."


"Dia sudah menjanda selama lima tahun, apa lagi yang dia tunggu?"


"Ibu! Aku akan menikah jika aku memang ingin menikah! Sebaiknya aku berangkat sekarang. Aku tidak ingin mendengar omong kosong ibu lebih banyak!"


Lian menggamit tas lalu keluar dari rumahnya.


...*...

__ADS_1


...*...


...*...


Jam makan siang pun tiba. Lian sengaja mengajak Julian untuk makan siang bersama. Ia sudah mengambil keputusan jika ia akan mengembalikan hadiah pemberian Julian.


"Kau sering makan disini?" tanya Julian sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling kafe.


"Tidak juga. Tapi makanan disini sangat enak. Kakak pasti menyukainya."


"Semoga saja!"


Tak lama makanan mereka pun tiba. Lian dan Julian makan dalam diam. Lian mencari momen yang pas untuk bicara dengan Julian.


"Ada apa? Sepertinya ada yang ingin kau katakan!" Julian mengetahui gelagat aneh Lian.


Lian tersenyum kecil. "Kakak tahu?"


"Tentu saja. Apa kau lupa jika aku adalah mantan agen FBI. Aku sangat pandai membaca orang."


Lian menundukkan kepala. Ia tak bisa mundur lagi.


"Begini, Kak. Aku ingin ... mengembalikan ini," ucap Lian dengan menyodorkan paper bag yang kemarin diberikan oleh Julian.


Julian menatap Lian.


"Kenapa mengembalikannya? Itu adalah hadiah untukmu."


"Kurasa aku tidak pantas menerimanya."


"Kau sangat pantas menerimanya, Lian."


"Kak, kumohon! Aku selalu menganggap kakak sebagai temanku. Sahabatku. Jadi..."


"Aku tahu. Kau menolakku! Apa kau masih mencintai Roy?"


Lian memilih tak menjawab.


"Baiklah. Aku tidak akan memaksa." Julian mengambil gelas dan meneguk air didalamnya. Tenggorokannya terasa kering.


"Aku ingin kakak kembali menjadi Patrick. Menjadi sahabatku. Bisakah?"


Lian terkekeh mendengar jawaban Julian.


......***......


Lian mendapat pesan dari Roy yang memintanya datang ke apartemen. Dengan senang hati Lian datang kesana. Sudah dua hari ini Lian tak mendengar kabar tentang Roy. Kesibukan yang melanda keduanya membuat jarak terasa jauh namun hati mereka tetaplah dekat.


Lian membuka pintu apartemen. Suasana terasa sunyi. Lian memanggil nama Roy.


"Mas! Kamu dimana?" Lian mencari keberadaan Roy.


"Dia bilang sudah sampai disini. Kenapa tidak ada?"


Lian melepas tas slempangnya dan ia letakkan di sofa ruang tamu. Kakinya melangkah maju menuju kamar tidur.


"Jangan-jangan dia ada di kamar."


Lian membuka pintu kamar. Dan begitu terkejutnya dia ketika Roy langsung menarik tangannya dan menempelkan tubuhnya ke dinding.


"Mas! Kau mengagetkanku!"


Tanpa menjawab Roy langsung menghujani Lian dengan kecupan manis di bibir. Menyesapnya pelan dan memagutnya dengan ritme yang teratur.


Meski tak siap, namun Lian mampu mengimbangi permainan Roy. Ketika semua menjadi lebih panas dan menuntut lebih, Roy langsung merebahkan tubuh Lian ke atas tempat tidur.


"Mas!" Lian mendorong dada Roy.


"Kenapa? Bukankah kau juga menginginkannya?" Goda Roy.


"Ish, kau ini! Aku sedang datang bulan."


Roy mengernyit. "Benarkah?"


"Mana mungkin aku berbohong!"


Roy menyerah, kemudian ia keluar dari kamar. Lian mengikutinya.

__ADS_1


"Mas!" Lian memeluk Roy dari belakang.


"Aku mencintaimu. Jangan marah!" bujuk Lian.


"Aku tidak marah. Aku hanya cemburu." jawab Roy lirih.


"Cemburu?" Lian melepas pelukannya dan berjalan menghadap Roy.


"Mas cemburu dengan siapa?"


"Siapa lagi? Kau tadi makan siang dengan kakakku."


Lian tertawa. "Jadi Mas melihatnya?"


"Aku juga ada disana. Kau mengembalikan sesuatu pada Kak Julian. Apa itu?"


"Aku mengembalikan hadiah yang ia berikan. Kurasa aku tidak pantas menerimanya. Lagipula, kami lebih cocok menjadi sahabat."


"Lalu?"


"Tidak ada lagi. Hanya begitu saja." Lian memeluk Roy.


"Aku ingin kalian kembali seperti dulu. Bukankah kau sangat dekat dengan kakakmu?" ucapnya.


"Iya, aku juga merindukan Kak Julian yang dulu."


"Kau benar, Mas. Aku juga merindukan Patrick yang dulu. Pria hangat dan penuh perhatian. Sahabatku. Ya, dia akan tetap menjadi sahabatku sampai kapanpun juga."


......***......


Roy dan Lian duduk di sofa. Saling bercerita sambil menyantap cemilan yang Lian beli. Roy fokus menonton televisi.


"Mas..."


"Hmm?"


"Apa kau mengenal Kartika pemilik Kartika Butik?"


Entah kenapa Lian ingin bertanya tentang Kartika pada Roy.


"Kartika Wijaya maksudmu?"


"Aku tidak tahu nama panjangnya tapi dia adalah pemilik Kartika Butik."


"Aku hanya mengenal namanya saja. Kenapa?"


"Beberapa hari yang lalu kami bertemu. Karena insiden kecil, ponsel kami tertukar. Dan di layar ponselnya, aku melihat ada foto seorang anak kecil. Anak itu begitu menggemaskan."


Roy mengerutkan kening.


"Seandainya saja Rain masih hidup, dia pasti sudah sebesar anak dari Kak Kartika."


"Sayang... Apa kau belum bisa melupakan tentang Rain?"


"Mana ada seorang ibu yang melupakan anaknya?"


Roy membawa Lian dalam dekapannya.


"Jadi kau ingin memiliki seorang bayi lagi?" tanya Roy menggoda.


"Ish, Mas!"


"Kita bisa langsung membuatnya jika kau sangat menginginkan seorang bayi!"


Lian mencubit pinggang Roy.


"Aw! Aw! Sakit, sayang!"


Lian tertawa. "Tidak ada yang bisa menggantikan posisi Rain, Mas. Dia akan tetap ada di hatiku."


Roy merasa iba melihat kesedihan Lian. Ia mendekap erat tubuh istrinya yang mulai bergetar.


...B E R S A M B U N G...


"Hola genks, new moon, new hope.


semoga bulan ini menjadi berkah utk kita semua. Aamiin.

__ADS_1


Yang mau sedekah Vote silakan, mumpung hari senin 😁😁"


...Terima Kasih...


__ADS_2