Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 95. Terbongkar (4)


__ADS_3

"Apa ini? Jadi kakak lah yang selama ini datang ke makam Rain dan menaruh buket bunga disini?"


Seru Lian dengan mata memerah dan memandangi Julian tajam. Julian bangkit dari bersimpuh dan balik menatap Lian namun dengan tatapan sendu.


"Apa maksud semua ini, Kak? Apa kakak berpura-pura mengasihani kami?"


Julian masih diam dan tak menjawab.


"Katakan sesuatu, Kak! Kenapa kakak mengunjungi makam Rain setiap minggu?"


Lian geram dengan sikap Julian yang terus terdiam.


"Jawab, Kak!"


Julian memalingkan wajahnya. Ia menahan gemuruh hatinya yang juga amat kehilangan sosok yang terkubur dibawah sana.


"Jika aku mengatakan kebenarannya, apa kau akan percaya padaku?" Akhirnya Julian buka suara.


"Tergantung! Hal apa yang ingin kakak bicarakan."


"Ini ... mengenai putramu."


Lian membulatkan mata. Tangannya terkepal menantikan apa yang akan dikatakan Julian yang pastinya sesuatu yang tidak baik. Begitu pikir Lian.


"Katakan! Aku siap mendengarnya!" Cetus Lian.


"Maafkan aku, Lian. Aku ... minta maaf padamu dan juga Roy," lirih Julian.


Lian masih menunggu apa yang ingin dikatakan Julian.


"Jasad yang di kebumikan disini ... bukanlah putramu," tutur Julian.


Mata Lian seketika membola sempurna. "A-apa katamu?! Bukan anakku?"


Tubuh Lian terasa lemas dan limbung. Julian sigap menopang tubuh Lian.


"Aku akan jelaskan semuanya didepan Roy dan juga kedua orang tuamu. Kau harus percaya padaku! Sekarang sebaiknya aku mengantarmu pulang ke rumah."


"Lalu ... siapa bayi yang terkubur disini?" Tanya Lian lirih.


"Aku akan jelaskan semuanya. Ini sudah hampir gelap, tidak baik berada di pemakaman. Ayo!" Julian memapah tubuh Lian dan membawanya masuk ke dalam mobilnya.


Sepanjang perjalanan, Lian hanya diam dengan tatapan kosong. Julian segera menghubungi Roy dan memintanya datang ke rumah orang tua Lian.


......***......

__ADS_1


Kini mereka duduk berkumpul untuk mendengar penjelasan. Lian, Roy, kedua orang tua Lian dan juga Julian.


Julian meminta agar mereka tidak menghakiminya terlebih dulu dan dengarkan apa yang akan ia katakan.


"Mungkin kalian tidak percaya dengan apa yang akan kukatakan. Tapi ini adalah sebuah kenyataan dan aku harus mengatakannya," ujar Julian mengawali pembicaraan.


"Katakan kenapa kakak bilang jika yang terkubur atas nama Rain bukanlah anakku?" Lian benar-benar tidak sabar mendengar seluruh ceritanya.


"Itu benar, Lian. Yang terkubur didalam sana adalah ... anakku!" Jelas Julian.


"Apa?!" Semua yang mendengarnya terkejut dengan pernyataan Julian.


"Kak, tolong jangan bercanda! Bagaimana mungkin yang dimakamkan disana bukanlah putraku?" Roy ikut menimpali.


"Itulah kenyataannya!" Balas Julian.


"Lalu dimana anakku? Apakah dia masih hidup?" Lian bertanya dengan suara bergetar.


"Iya, Lian. Putramu dan Roy masih hidup. Ini semua adalah ulah Zara lima tahun lalu."


Lian menggeleng tidak ingin mempercayai semua ini.


"Tidak! Ini tidak mungkin! Dimana anakku!!!" Lian menghampiri Julian dan mengguncang tubuh Julian.


Lusi memegangi lengan Lian dan memintanya untuk tenang.


"Bagaimana aku bisa tenang, Bu! Putraku ternyata masih hidup. Selama lima tahun aku meratapi kepergiannya, tapi ternyata dia masih hidup. Anakku! Dimana kamu , Nak?!" Tubuh Lian luruh dan terjatuh.


"Maafkan aku, Lian, Roy. Aku tidak tahu dimana anak kalian. Tapi yang jelas, Zara bilang jika dia menitipkannya di panti asuhan." Sesal Julian.


"Jadi, anak itu adalah ... anak kakak dan Zara?" Roy amat penasaran dengan semua ini.


"Iya. Aku melakukan hal yang seperti yang Profesor Gerald lakukan pada Lian. Aku meminta Noel untuk menanam benihku dalam rahim Zara. Tapi ternyata ... setelah sembilan bulan, bayi kami meninggal. Zara tidak terima dengan kenyataan ini, lalu menukarnya dengan bayi kalian."


Roy berpikir sejenak. "Bagaimana bisa? Aku ada disana saat bayi kami lahir."


"Kau tahu bukan seperti apa liciknya Zara. Bahkan kini dia merubah dirinya menjadi Esther. Kau pasti sudah tahu itu, bukan?" Julian bertanya pada Roy.


Roy mengangguk.


"Aku akan membantu kalian untuk bisa bersama dengan putra kalian lagi. Sekali lagi aku minta maaf. Lian, aku janji aku pasti akan menemukan putramu. Aku permisi." Julian pun berpamitan dari rumah Lian.


Roy mengikuti Julian dibelakangnya.


"Kakak!" Panggil Roy.

__ADS_1


Julian berbalik badan.


"Terima kasih dan maaf. Selama ini kita bersitegang karena kita di adu domba oleh Noel. Aku ... ingin kita kembali seperti dulu. Bisakah, Kak?" Mata Roy berkaca-kaca mendapati banyaknya waktu yang terbuang bersama kakak tercintanya.


Julian mengangguk. "Iya. Kita akan memulai semuanya dari awal. Maafkan aku, Roy. Aku melakukan banyak kesalahan selama bertahun-tahun. Aku berjanji akan menemukan Noel dan membuatnya membayar semua perbuatan yang dia lakukan pada kita." Tutup Julian sebelum akhirnya pergi dengan mobilnya.


Roy kembali ke rumah Lian dan tak mendapati Lian ada di ruang tamu.


"Lian sudah masuk ke kamar. Dia butuh istirahat," ucap Lono yang diangguki oleh Roy.


"Ada yang perlu kita bicarakan, Nak Roy!" Tutur Lono.


"Iya, Ayah," jawab Roy.


Roy duduk berhadapan dengan Lono dan juga Lusi yang ikut bergabung.


"Sebenarnya bagaimana hubunganmu dengan putri kami?" Tanya Lusi yang sudah tak sabar.


"Umm, sebelumnya aku minta maaf karena ... kami merencanakan ini untuk membongkar kejahatan Kak Julian. Tapi ternyata ... semua ini hanyalah salah paham dan kami berselisih karena ulah orang-orang yang menginginkan keluarga kami pecah."


"Kakakku tidak bersalah. Jadi, kalian tolong jangan membencinya. Dan mengenai hubunganku dengan Lian ... kami memang masih terikat pernikahan. Aku dan Lian belum bercerai hingga saat ini," terang Roy.


Lono dan Lusi saling pandang dengan raut wajah penuh tanya. "Jadi ... kalian selama lima tahun ini berpura-pura berpisah?"


"Iya, Bu. Maafkan kami. Saat itu Ibu mendesak Lian agar segera berpisah denganku. Dan secara tak sengaja Lian sendiri yang mencetuskan ide ini. Aku minta maaf, Ayah, Ibu." Roy bersimpuh memohon maaf kepada kedua orang tua Lian.


......***......


Waktu berlalu begitu cepat, baik pihak Roy maupun Julian akhirnya berhasil menemukan Noel di sebuah motel di luar kota. Noel di bawa ke hadapan Julian. Julian amat geram dengan Noel yang sudah menipunya selama ini.


Namun menurut Roy lebih baik Noel di beri hukuman sesuai hukum yang berlaku. Setelah memikirkan semuanya dengan matang, akhirnya di putuskan jika Noel di serahkan ke pihak yang berwajib dengan bukti-bukti yang sudah di dapatkan Julian dan Roy.


Setelah Noel tertangkap, kini giliran Esther yang menghilang dan sedang dalam proses pencarian.


"Kau tenang saja, Roy! Aku akan pastikan untuk menemukan Zara," ucap Julian menepuk pelan bahu Roy.


"Tolong maafkan semua kesalahan kakak padamu dan juga Lian. Kakak..."


"Sudahlah, Kak. Aku yakin kakak terpengaruh dengan apa yang dilakukan Noel. Sekarang kita akan membuka lembaran baru. Dan mengenai anakku ... aku yakin aku pasti bisa menemukannya."


"Terima kasih, Roy. Aku janji aku akan membantumu untuk menemukan putra kalian." Julian memeluk Roy. Kerinduan akan sosok saudara yang sudah lama Julian nantikan.


...B E R S A M B U N G...


"HAPPY weekend all.. mon maap kalo mamak telat2 up, lagi ada acara di luar kota. Semoga besok tetap bisa UP untuk menghibur kalian semua. Kira2 besok ada kejutan apa yah untuk Roy dan Lian? Apa mereka akhirnya menemukan anak mereka? Kita tunggu besok ya..."

__ADS_1


__ADS_2