
Aleya memandangi dengan seksama bangunan tinggi itu dengan tatapan tak percaya. Sungguh ia masih tak mengira keputusan kakak sepupunya untuk pergi dari desa dan merantau ke kota akan membuahkan hasil yang tidak main-main. Meski terkadang Aleya ingin mengikuti jejak Arzetta, tapi ia masih memikirkan perasaan ayahnya yang kini hidup sendiri di desa.
Aleya memasuki bangunan berlantai tiga yang bertuliskan Zeze Event Organizer. Ia pernah mendengar jika orang-orang kota tidak seramah dan sesopan orang-orang di desanya. Tentunya disini mereka berpemikiran modern dengan segala fasilitas canggih yang ada.
Namun Aleya yakin, jika dirinya juga sopan dan ramah pada orang lain, maka orang lain juga akan ramah padanya. Dengan memberanikan diri ia menemui seorang wanita yang ada di meja depan. Ia membaca papan yang tertulis di meja itu.
"Resepsionis," gumam Aleya.
"Permisi!" ucap Aleya sopan.
"Iya, Nona. Ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita itu sopan.
Mata Aleya berbinar karena ternyata ia disambut dengan hangat.
"Saya ingin bertemu dengan Kak Arzetta, apakah dia ada?"
"Oh, Nona Zeze? Apa Nona sudah membuat janji dengan beliau?"
"Eh? Janji?" Aleya nampak kebingungan.
"Iya, jika Nona ingin bertemu dengan Nona Zeze, Nona harus membuat janji terlebih dahulu."
"Umm, begini. Saya adalah adik sepupu Kak Zetta. Saya datang dari desa."
"Eh? Adik? Oh maaf, Nona. Saya pikir Nona adalah klien Nona Zeze. Mohon maaf, Nona. Nona Zeze sedang tidak ada di tempat. Beliau sedang rapat dengan klien. Jika Nona bersedia menunggu, maka saya akan antarkan Nona di ruang tunggu. Maaf dengan Nona siapa?"
"Saya Aleya. Aleya Sugandi."
"Baik, Nona. Mari saya antar ke ruang tunggu."
"Terima kasih."
Aleya duduk di ruang tunggu yang nyaman dan berpendingin.
"Nona Aleya mau minum apa?"
"Umm, teh saja."
"Baik, Nona. Sebentar ya!"
Aleya mengangguk. Ia mengedarkan pandangan menelisik ruang tunggu yang menurutnya sangat nyaman.
"Empat tahun aku tidak mendengar kabarnya ternyata Kak Zetta sudah menjadi wanita yang sukses. Tapi, dia sudah menikah atau belum ya?"
Tak lama teh hangat pesanan Aleya telah terhidang di atas meja. Aleya mengucapkan terima kasih.
"Eh, Nona! Tunggu!" cegah Aleya.
"Iya, ada apa, Nona Aleya? Maaf, tolong jangan panggil saya 'nona'. Panggil saja Widya."
"Oh, iya Kak Widya. Apa boleh aku bertanya? Apa Kak Zetta sudah menikah?"
Widya hanya mengulas senyum. "Belum, Nona. Kalau tidak ada lagi yang ingin Nona tanyakan, saya permisi dulu."
"Ah, iya silakan."
......***......
Hingga terang berganti gelap, Zetta masih belum menampakkan batang hidungnya. Aleya yang terlalu lama menunggu akhirnya tertidur.
Sebenarnya Widya sudah menghubungi Zetta dan mengabarkan jika Aleya datang dari desa, namun pekerjaannya yang padat tak memungkinkan dirinya untuk tiba lebih cepat ke kantor.
__ADS_1
"Wid, dimana Aleya?" tanya Zetta begitu tiba di kantor.
"Nona Aleya ada di ruang tunggu, Nona."
Zetta segera berjalan cepat dan membuka pintu ruangan itu.
"Aleya?" Zetta terkejut karena Aleya sedang terpejam. Dan yang lebih mengejutkan adalah tas besar yang dibawanya. Pikiran buruk segera menghampiri Zetta.
"Jangan-jangan Aleya kabur dari rumah seperti yang aku lakukan dulu. Tapi, bukankah dia sudah lulus kuliah dan menjadi seorang dokter? Untuk apa dia tiba-tiba ada disini?" batin Zetta.
Zetta menggoyang tubuh Aleya dan membuat gadis itu terbangun dari mimpi indahnya.
"Kak Zetta!" seru Aleya dan langsung memeluk Zetta.
"Aleya! Kenapa kau bisa ada disini?" Zetta sangat penasaran dengan kehadiran Aleya di kota.
"Apa kakak pikir aku kabur dari rumah seperti yang kakak lakukan?"
"Ish, kau!"
"Tidak, Kak. Aku datang ke kota karena ingin melanjutkan studiku."
"Kau datang kesini dengan siapa?"
"Dengan Kak Rion. Orang tuanya menginginkan Kak Rion kembali karena dia dibutuhkan di rumah sakit."
Zetta menghela napas lega.
"Ya sudah, kalau begitu ayo kita pulang. Ini sudah malam. Kau pasti lelah sudah menempuh perjalanan jauh."
Zetta membawa Aleya menuju rumahnya. Rumah yang tidak terlalu besar namun nyaman untuk ditinggali.
"Wah, rumah kakak sangat bagus!" Aleya melongo melihat interior rumah Zetta yang sangat nyaman.
Seorang asisten rumah tangga menghampiri Zetta. Zetta membisikkan sesuatu yang dijawab anggukan oleh sang asisten.
"Apa yang mereka bicarakan? Kenapa harus berbisik segala?" gumam Aleya.
"Aleya, Imah akan mengantarmu ke kamar. Sebaiknya kau istirahat. Besok kita bicara lagi."
Aleya mengangguk. "Iya, Kak. Aku yakin kakak juga pasti lelah." Aleya mengikuti langkah Imah menuju ke sebuah kamar tamu.
Keesokan harinya, Aleya terbangun di pagi hari dan mencari dimana letak dapur. Ia terbiasa memasak untuk ayahnya. Maka di rumah Zetta pun ia akan tetap memasak sebagai tanda terima kasih Zetta bersedia menampungnya.
Setelah berkutat selama hampir satu jam, Aleya menghidangkan masakannya dengan dibantu oleh Imah.
"Nona adalah tamu disini, kenapa Nona ikut repot memasak juga?" ucap Imah.
"Tidak apa. Aku sudah terbiasa bangun pagi dan memasak untuk ayahku. Tapi karena sekarang aku tinggal bersama Kak Zetta, maka aku akan memasak untuknya. Anggap saja aku membalas budi padanya karena sudah menampungku," balas Aleya.
"Balas budi apa? Justru kalianlah yang sangat berjasa untukku. Paman Kosih merawatku hingga aku dewasa. Meskipun akhirnya aku mengecewakan dia dengan kabur dari desa." Zetta tiba-tiba datang ke meja makan.
"Tidak, Kak. Jika ayah melihat kesuksesan kakak disini, pasti ayah juga sangat bangga pada kakak," sahut Aleya.
Ketika sedang berbincang, tiba-tiba seorang anak lelaki kecil menghampiri Zetta.
"Mama!" seru bocah lelaki itu.
"Hah?!" Aleya membulatkan mata. "Mama?" Aleya menatap Zetta dengan raut wajah bingung.
"Bukankah kakak belum menikah? Bagaimana bisa kakak...?"
__ADS_1
Zetta tampak salah tingkah.
"Aleya, aku akan menceritakan semuanya padamu. Tapi tolong, tunggu anakku pergi ek sekolah dulu."
Aleya berusaha memahami situasi kakak sepupunya itu.
"Baiklah."
Zetta meminta asisten dan supirnya mengantar putranya itu berangkat ke sekolah. Setelahnya ia menemui Aleya yang masih butuh penjelasan darinya.
"Kita bicara di teras belakang saja!" Zetta mengajak Aleya menuju teras belakang.
Aleya duduk di bangku yang ada di sana. Sebuah taman kecil dipenuhi bunga-bunga tertata rapi di teras belakang itu.
Aleya tidak memaksa Zetta untuk segera bicara. Ia tahu pasti banyak hal telah terjadi pada kakaknya itu.
"Empat tahun lalu, setelah aku mengatur acara pernikahan keluarga Avicenna. Aku dan timku biasa mengadakan pesta di sebuah klub malam. Saat itu, aku tidak sadar jika diriku terlalu banyak minum. Aku mabuk..."
Zetta menjeda ceritanya. Sementara Aleya masih mencerna apa yang diceritakan oleh Zetta. Sedikit banyak Aleya pernah tahu cerita kehidupan malam di kota dari Rion.
"Dalam keadaan tidak sadar, aku bertemu dengan seorang pria lalu kami..."
Aleya menatap Zetta dengan harap-harap cemas.
"Kami tidur bersama."
Aleya menutup mulutnya. "Lalu kakak hamil dan..."
"Iya, anak itu adalah hasil dari kisah satu malam bersama pria itu."
"Siapa pria itu, Kak?" Entah kenapa Aleya ingin sekali mengetahui semuanya.
"Aku tidak tahu. Aku tidak mengenalnya. Kami bertemu dalam keadaan tidak sadar dan kami menginginkan lebih, lalu kamipun melakukannya."
"Kakak..." Aleya memeluk Zetta. "Pasti kakak sangat menderita selama ini."
"Tidak. Ini adalah akibat dari perbuatanku sendiri. Aku sudah berbuat salah, maka aku harus menanggungnya. Tidak mungkin aku membunuh bocah kecil itu. Dia adalah cahaya dalam hidupku. Aku merasa tidak sendiri lagi saat dia hadir."
"Kakak..." Aleya terisak mendengar kisah kakak sepupunya itu.
Setelah saling berbagi kisah dan rasa, Aleya bertanya kembali.
"Siapa nama anak kakak?"
"Andra. Aku memberinya nama Andra Sugandi."
"Nama yang bagus. Maaf, Kak. Apa ... dia tidak pernah bertanya siapa ayah kandungnya?"
Zetta tersenyum. "Tentu saja pernah. Semua teman-teman sekolahnya memiliki seorang ayah, tapi dia hanya memiliki seorang ibu. Tspi kau tahu, dia bersikap sangat dewasa dengan tidak pernah menanyakan hal itu lagi padaku. Dia juga sangat pandai meski usianya baru menginjak tiga tahun."
Aleya menggenggam tangan Zetta. "Mulai sekarang, aku juga akan merawat Andra seperti merawat anakku sendiri. Aku akan menyayanginya juga agar dia tidak merasa kesepian. Mulai sekarang, kakak memiliki aku. Jadi, bagilah kesedihan kakak denganku. Mengerti?"
Zetta tersenyum. "Sejak kapan adik kecilku ini tumbuh menjadi wanita dewasa?"
Aleya dan Zetta tertawa bersama.
...B E R S A M B U N G...
"Wah, kira2 siapa ya ayah dari anaknya Zetta?Apakah salah satu teman Boy? Atau ada pria lain?
Hmmm cerita ini sebenarnya mau kutamatin, tapi tiba2 ide banyak mengalir, ya sudahlah, kita ikut aliran arus aja deh ๐ฌ๐ฌ๐ฌ semoga kalian tetap bersedia mengawalnya ๐๐karena kalian adalah semangatku ๐๐๐
__ADS_1