
"BERLIAN!" seru Julian ketika wahana yang dinaikinya mengempaskan tubuhnya meluncur ke bawah dengan kecepatan yang sangat cepat.
Boy yang berada di bawah wahana seakan mendengar seseorang meneriakkan nama ibunya.
"Suara apa tadi?" gumam Boy bingung. Sejenak ia berpikir jika benar ada seseorang yang meneriakkan nama ibunya. Hanya ada satu orang yang ia curigai.
"Paman Julian?" Boy menghampiri Julian yang sudah turun dari wahana.
"Paman baik-baik saja?" tanya Boy melihat wajah tegang Julian.
Julian hanya menganggukkan kepala.
"Julian?" Kartika dan Nathan ikut bergabung dengan Boy dan Julian.
Julian tersenyum kearah Kartika.
"Apa ada lagi wahana yang ingin kalian naiki?" tanya Julian pada kedua bocah di depannya.
"Aku sudah lelah, Paman," ucap Nathan lesu.
"Nathan sudah kelelahan. Sepertinya dia mengantuk. Sebaiknya kita pulang saja," ucap Kartika.
"Baiklah, ayo!" Julian menggandeng tangan Boy dan berjalan beriringan dengan Kartika dan Nathan.
......***......
Keesokan harinya, Julian tidak fokus bekerja karena ada hal yang sedang dia pikirkan. Tentu saja dia memikirkan soal memorinya yang telah kembali.
Bagaimana bisa aku melupakan tentang Lian? Apa memang aku harus melupakan dia? Sebaiknya aku menemui Marko. Aku harus mengetahui kondisi tubuhku.
Julian meraih kunci mobil dan keluar dari ruang kerjanya. Ia meminta Leon agar menunda beberapa rapat dengan kliennya.
"Tuan mau pergi kemana?" tanya Leon.
"Ada urusan penting sebentar. Tolong kau urus dulu pekerjaan disini."
"Baik, Tuan."
Julian melanjutkan langkahnya keluar gedung kantornya. Ia menuju ke rumah sakit Avicenna.
Tiba di sana, Julian segera mendaftar sebagai pasien Dokter Marko. Kebetulan dia adalah kawan lama Julian. Dia adalah dokter bedah syaraf terbaik di rumah sakit Avicenna.
Julian menyapa Marko ketika dirinya dipanggil masuk. Ia menceritakan sedikit tentang apa yang dialaminya. Marko meminta Julian untuk melakukan CT Scan kembali. Sudah cukup lama Julian tidak memeriksakan kondisinya karena merasa sehat-sehat saja dan tak ada keluhan.
Usai proses CT Scan, Marko kembali menemui Julian dan membacakan hasilnya.
"Jadi ... kau sudah ingat tentang adik iparmu?" tanya Marko.
"Iya."
"Karena ada kejadian yang mengejutkanmu lalu kau secara tiba-tiba mengingat masa lalumu. Secara keseluruhan kondisimu baik. Tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Kau masih meminum obatmu?"
Julian terdiam.
__ADS_1
"Julian!" Marko menginterupsi.
"Mark, tetap rahasiakan kondisiku ini."
"Eh? Kenapa?"
"Cukup kau saja yang mengetahuinya."
Marko menghela nafas. "Apa karena kau tidak ingin keadaannya makin rumit?"
"Ya begitulah."
"Apa kau masih memiliki perasaan padanya?"
Julian kembali terdiam.
"Kau sudah menikah, Jul. Kau harus ingat itu!"
"Dia adalah wanita pertama yang menggetarkan hatiku setelah sekian lama aku menutup hatiku setelah kepergian Belinda. Kau sendiri tahu itu."
Marko menyilangkan tangannya.
"Tapi kau harus ingat, dia adalah adik iparmu."
"Iya, aku tahu. Aku sangat berterimakasih jika kau bersedia menyembunyikan hal ini."
"Tentu saja. Kau adalah pasienku. Dan seorang dokter harus menghargai privasi pasiennya."
"Thanks. Kalau begitu aku permisi."
Julian berdecih. "Itu artinya kau bekerja padaku. Dan kau tahu, aku tidak suka pengkhianat." Julian berlalu setelah mengatakan kalimat terakhir.
"Astaga! Kenapa dia sangat menyeramkan? Ingatannya sudah kembali. Begitu pula dengan sikap dingin yang dulu pernah ia tampilkan. Semoga ini tetap menjadi hal yang baik." Marko mengusap wajahnya.
......***......
Seminggu telah berlalu dan Julian masih berpura-pura di depan semua orang. Lian dan Roy sudah kembali ke rumah usai bulan madu yang mereka lakukan.
Julian kembali ke rumah usai pekerjaannya selesai. Ia masuk ke kediamannya dan mencium aroma sedap dari arah dapur. Ia mengikuti arah hidungnya berlabuh.
Dilihatnya Lian sedang menyiapkan makan malam untuk anggota keluarganya. Julian tersenyum melihat wanita itu masih sama seperti dulu.
"Ehem! Masak apa?"
"Kakak? Sudah datang?"
"Iya. Aku baru datang dan langsung mencium aroma yang sangat menggoda."
Lian tertawa. "Aku hanya memasak makanan rumahan, Kak. Sebaiknya kakak bersihkan diri dulu lalu bergabung untuk makan malam. Tidak biasanya kakak kembali sebelum makan malam."
"Mulai sekarang aku akan kembali sebelum makan malam. Aku tidak akan melewatkan makan malam lagi." Julian berbalik badan kemudian melangkah menuju kamarnya di lantai atas.
Lian memandangi Julian dengan tatapan aneh.
__ADS_1
"Ada apa dengannya? Kenapa tatapannya terlihat berbeda? Dia terlihat seperti ... Patrick Hensen," gumam Lian mengernyitkan dahi.
.
.
.
Waktu makan malampun tiba, semua anggota keluarga Avicenna berkumpul dalam satu meja makan. Suasana riuh pun selalu tercipta kala Nathan merengek meminta disuapi.
Dengan sigap Kartika menawarkan diri. Lian tidak cemburu melihat kedekatan putranya dengan Kartika. Ia sendiri sadar jika Kartika amat menyayangi Nathan.
"Nathaniel Putra Avicenna!" seru Roy.
Sontak membuat semua orang menoleh kearah Roy.
"Kau ini sudah mulai besar, harusnya kau belajar untuk makan sendiri. Jangan merepotkan Mama Lian ataupun Bibi Tika. Mengerti?!"
"Tidak apa, Roy. Nathan kan masih..."
"Tidak, Kak Tika! Itu akan jadi kebiasaan buruk untuknya."
Nathan hanya terdiam kemudian mengangguk. Dia mengambil sendok yang dipegang Kartika dan menyuapi dirinya sendiri.
"Nah begitu baru jadi anak baik! Belajarlah untuk melakukan semuanya sendiri dari sekarang. Kakakmu juga sangat mandiri. Kau harus mencontohnya!"
Nathan menganggukkan kepala. Lian merasa geram dengan sikap suaminya. Namun ia sendiri tak ingin merusak suasana makan malam. Begitu juga dengan Lono dan Lusi yang hanya menumpang hidup di rumah besar itu.
Usai makan malam, Lian bicara dengan Roy di ruang kerjanya. Ibu mana yang terima jika anaknya diperlakukan seperti itu didepan keluarganya sendiri. Meski Nathan sudah mulai beranjak besar, tapi tetap saja dia masih anak-anak, itu menurut Lian.
"Kurasa Mas sudah keterlaluan! Kenapa memperlakukan putra kits seperti itu?"
Roy yang sedang membaca berkas tiba-tiba menutupnya.
"Dia sudah beranjak besar, Lian. Kalian jangan terlalu memanjakannya. Coba lihat kakaknya! Bahkan Boy selalu bersikap dewasa dalam menghadapi masalah."
Lian mulai meradang. "Jangan membanding-bandingkan satu anak dengan yang lainnya. Karena pada dasarnya tiap anak punya sifat berbeda, kemampuan yang berbeda juga. Jangan memarahinya hanya karena dia tidak sepintar kakaknya. Dia tumbuh di panti asuhan, Mas. Apa kita pernah memikirkan bagaimana perasaannya? Dia kehilangan banyak hal diusianya yang masih sangat kecil. Dia mengalami masa-masa sulit sebelum bertemu dengan Kak Tika dan Kak George. Bisakah kau mengerti itu?" Nafas Lian terengah. Air matanya berusaha ia tahan.
Roy menghampiri istrinya. "Maaf..."
Hanya satu kata yang bisa Roy ucapkan. Roy meraih wajah istrinya dan menghapus buliran bening di pipi Lian.
"Maafkan aku. Aku tidak berpikir jauh hingga kesana. Maafkan aku..."
Lian yang ingin menjawab pernyataan Roy nyatanya tak bisa membuka mulut karena Roy sudah lebih dulu membungkamnya.
Lian yang merasakan jika permohonan maaf suaminya sangatlah tulus segera menerima semua perlakuan yang dilakukan Roy. Ia melingkarkan tangannya ke leher Roy dan sedikit berjinjit untuk menyamai tingginya dengan Roy. Sementara Roy menarik pinggang Lian lebih dekat agar lebih intens mengeksplor candunya.
Suara lenguhan mulai terdengar dari keduanya yang mulai terbawa suasana hangat. Tanpa mereka sadari sepasang mata sedari tadi memperhatikan keduanya karena pintu ruang kerja Roy tak tertutup sempurna ketika Lian memasukinya.
...B E R S A M B U N G...
"Apakah itu Julian yang memergoki kemesraan Lian dan Roy? Lalu apakah Julian akan kembali ke sifatnya yang dulu? Atau dia akan tetap pura-pura lupa?"
__ADS_1
...Selamat Hari Minggu ...