
Belinda dan pria yang tak dikenalnya itu tiba di sebuah rumah yang cukup sederhana. Pria itu meminta Belinda untuk turun.
Belinda turun dan memperhatikan sekeliling rumah yang asri dengan banyaknya tanaman dan bunga di area halamannya.
"Silakan masuk, Nona." Pria itu mempersilakan.
"Iya, Tuan. Terima kasih."
Belinda masuk dan memperhatikan tata ruang rumah bergaya kuno itu. Sunyi. Tak ada tanda-tanda orang lain yang tinggal disana selain pria 40 tahunan itu.
"Umm, Tuan. Apa Tuan tinggal sendiri disini?"
"Iya."
Sebuah bunyi yang berasal dari perut Belinda menginterupsi keduanya.
Belinda nyengir kuda. "Maaf..."
"Anda lapar?"
Belinda mengangguk.
"Akan saya buatkan makanan." Pria itu melepas jasnya kemudian menuju dapur.
Belinda mengangguk kemudian mengikuti langkah pria itu masuk ke dapur yang langsung berhadapan dengan ruang makan.
"Duduklah saja disitu. Saya hanya memasak telor mata sapi. Beruntung saya selalu sedia nasi putih," ucap pria itu.
Tak lama aroma telur mata sapi yang menggugah selera telah tersaji di atas piring.
"Makanlah! Sepertinya kau sudah lama tidak makan."
Belinda kembali mengangguk dan langsung melahap makanan di piring.
"Apa benar dia Nona Belinda? Tapi ... kenapa dia tidak mengenaliku? Jadi dia belum meninggal?" Batin si pria.
"Ehem! Kalau boleh saya tahu, siapa nama Nona? Kenapa Nona tidak curiga sedikitpun pada saya? Bukankah tadi Nona bilang jika Nona adalah korban penculikan."
Belinda terdiam kemudian menjawab.
"Entahlah. Aku merasa Tuan adalah orang yang baik." Belinda tersenyum lalu melanjutkan makannya.
"Saya Michael. Panggil saja Mike. Nama Nona?"
"Aku Belinda. Belinda Rawles." jawab Belinda dengan mulut penuh makanan.
"Hah?!" Pria yang adalah Mike sangat terkejut dengan pengakuan gadis ini.
Mike memperhatikan dengan seksama gadis yang ada di hadapannya.
"Wajahnya memang benar adalah Nona Belinda. Tapi ... ada hal yang aneh dengannya? Apa dia benar-benar Nona Belinda yang asli? Seharusnya dia mengenaliku. Apa mungkin hanya mirip? Tapi namanya sama." Mike terus membatin dengan banyak pertanyaan yang mengganggu pikirannya.
Belinda telah menghabiskan makanan diatas piring, ia meminum air yang sudah Mike sediakan.
"Sebaiknya Nona membersihkan diri. Saya akan ambilkan baju ganti untuk Nona." Mike pergi ke kamar dan mengambil beberapa potong pakaian milik mendiang istrinya.
__ADS_1
"Pakailah ini! Ini milik mendiang istri saya. Setelah itu sebaiknya Nona istirahat."
Belinda mengangguk paham kemudian mengambil pakaian dari tangan Mike dan masuk kedalam kamar mandi.
Mike memperhatikan semua gerak gerik Belinda.
"Ada apa ini sebenarnya? Aku harus mencari tahu." gumam Mike.
Keesokan harinya, Mike terbangun dari tidurnya karena mencium aroma sedap dari arah dapur. Ia segera keluar dari dalam kamar. Ia melihat Belinda sedang memasak di dapur.
Mike benar-benar tak habis pikir dengan apa yang sedang terjadi. Ia mulai curiga dengan situasi ini. Ia kembali masuk kedalam kamar dan mengambil senjata api miliknya.
Mike menuju dapur dan menodongkan senjata pada Belinda.
"Jangan bergerak! Atau peluru ini akan menembus kepalamu!" ucap Mike.
"Hah?!" Belinda terkejut dan segera membalikkan badannya.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Mike dengan dingin.
"Aku ... aku Belinda, Tuan!" jawab Belinda terbata.
"Tidak mungkin! Jangan membohongiku!" geram Mike.
Belinda beringsut di lantai dan memegangi kaki Mike.
"Jangan bunuh aku, Tuan! Aku mohon! Aku akan katakan semuanya!" pinta Belinda dengan suara bergetar.
Mike menghela nafas. "Baiklah! Katakan semuanya! Kau bukan Belinda, bukan? Belinda yang asli sudah meninggal 10 tahun yang lalu. Bahkan aku ikut menemukan mayatnya di dalam hutan."
"Jadi ... Tuan mengenal Belinda Rawles?"
"Iya, aku mengenalnya. Maka dari itu aku bisa langsung tahu jika kau adalah palsu. Karena Nona Belinda yang asli pasti akan mengenaliku. Aku adalah asisten Tuan Donald Avicenna."
Belinda tertegun. "Baik, Tuan. Akan kuberitahu semuanya. Tapi tolong jangan bunuh aku!"
Mike mulai melunak. "Bangunlah! Ceritakan semuanya padaku! Jangan takut! Aku bukan orang jahat."
......***......
Hari ini adalah hari yang cukup membahagiakan untuk Roy dan keluarganya. Hari ini Roy akan kembali membuka gedung Avicenna Grup setelah seminggu ini tutup sementara.
Roy mendapat ucapan selamat dari orang-orang yang mendukungnya.
"Selamat ya, dokter Roy," ucap Kenzo yang datang ke kediaman keluarga Avicenna.
"Terima kasih, Ken."
"Selamat Papa! Aku senang Papa sudah berhasil menyelamatkan Avicenna Grup." Boy turut mengucapkan selamat pada Roy.
"Terima kasih, sayang. Ini juga berkatmu dan Mamamu."
"Tuan, sudah saatnya kita berangkat ke kantor." Ben menginterupsi.
"Ayo!" Roy meraih tangan Lian.
__ADS_1
Hari ini pembukaan kembali gedung Avicenna Grup disambut baik oleh masyarakat yang mulai percaya kembali dengan kredibilitas perusahaan besar ini. Juga rumah sakit yang mulai kembali beroperasi seperti biasa.
Rekan bisnis Roy mulai berdatangan untuk menawarkan kerjasama dengan perusahaan mereka. Ini semua berkat keberhasilan Roy yang bisa menarik simpati masyarakat yang memang gampang terpengaruh oleh berita-berita negatif yang terkadang belum tentu benar keasliannya.
Mike ikut bahagia melihat tuannya kembali berjaya. Namun dalam hatinya ia juga khawatir. Ia bingung apakah harus menceritakan soal Belinda palsu atau tidak.
"Sepertinya waktunya masih belum tepat. Aku akan sembunyikan dulu masalah ini. Jika semua mulai membaik, aku akan ceritakan masalah ini pada Tuan Roy." batin Mike.
*
*
"Roy, sidang Helena akan digelar seminggu lagi. Apa yang akan kita lakukan?" tanya Donald.
"Kakek tenang saja. Sidangnya berlangsung secara tertutup. Aku yakin semua akan baik-baik saja."
"Bagaimana dengan saham Julian di Avicenna Grup?"
"Hmm, biarkan saja, Kek."
"Tapi, Nak. Sesuai dengan peraturan perusahaan, pemegang saham berhak untuk menentukan kerjasama yang akan dilakukan oleh perusahaan. Itu artinya kau harus meminta ijin pada Julian sebelum melangkah lebih jauh."
"Kakek benar. Aku akan menemui Kak Julian hari ini juga. Kita tidak bisa menggantung terlalu lama kontrak kerjasama yang masuk."
"Iya, Nak. Kakek akan selalu mendukungmu."
Siang ini, Roy telah tiba di gedung Ar-Rayyan. Ia sudah membuat janji dengan Julian.
Kini Roy bersama Ben sedang berada di dalam lift untuk menuju ke ruangan Julian.
Tiba-tiba dada Roy terasa sesak. Ia memegangi dadanya.
"Tuan? Tuan baik-baik saja?" tanya Ben.
"Iya, Ben. Aku baik-baik saja. Aku akan ke toilet dulu sebelum bertemu Kak Julian."
Pintu lift terbuka dan Roy segera menuju ke toilet. Ia mencuci wajahnya di wastafel.
Roy memandangi wajahnya di cermin.
"Aku harus berhasil!" Roy memegangi dada kirinya.
"Dad! Tolong aku! Aku harus berhasil membujuk Kak Julian. Aku mohon, Dad! Berikan aku kekuatan!" batin Roy.
Roy keluar dari toilet dan segera berjalan menuju ruangan Julian.
Di dalam sana Julian sudah siap menyambut kedatangan Roy.
"Selamat datang, adikku!" sapa Julian dengan merentangkan tangannya.
*
*
#Bersambung
__ADS_1
Next???