
"Aku tahu mungkin ini akan mengejutkan untukmu. Tapi, aku tidak ingin kau mendengarnya dari orang lain."
"Sebenarnya ada apa, Mas?" Lian mulai merasa ada yang aneh dengan sikap suaminya.
"Aku ... aku sakit, Lian," ucap Roy jujur.
"A-apa?! Sakit?! Sakit apa maksud, Mas?" Lian menatap wajah suaminya lekat dalam temaran lampu.
"Alasan kenapa aku mengikuti proyek rahasia dari Profesor Gerald adalah ... karena aku sakit. Aku ... divonis tak bisa memiliki keturunan."
"Eh? Apa?!" Lian mulai mengingat apa yang terjadi dengannya tujuh tahun lalu. Memang tidak ada yang memberitahunya siapa pria yang menanam benih dan apa alasannya. Yang ia ingat saat itu Donald berkata jika dia membutuhkan pewaris untuk keluarganya.
"Maaf karena aku baru mengatakannya sekarang. Saat itu aku ingin mengatakannya padamu namun kamu menolak untuk mengetahui alasannya."
Lian terdiam. Kepalanya mendadak pening mendengar semua kebenaran dan kejujuran yang diungkapkan Roy.
"Umurku tidak akan lama lagi, Lian."
Lian bagai tersambar petir. Hatinya begitu syok mendengar penuturan Roy.
"Aku memiliki sakit jantung yang tidak akan bisa disembuhkan. Bahkan untuk cangkok jantung pun ... masih ada kemungkinan tidak berhasil jika bukan dari bagian keluarga sekandung."
Tubuh Lian mendadak lemas.
"Maafkan aku, Lian. Tapi aku janji, di sisa waktuku aku ingin membahagiakanmu dan juga Boy."
"Jangan bicara begitu!!!" seru Lian dengan mata berkaca-kaca.
"Lian..."
"Kau harus hidup, Mas. Jangan menyerah! Aku yakin kita bisa menemukan solusinya." Lian memeluk Roy dan menangis disana. "Aku tidak ingin kehilangan kamu, Mas."
Roy membalas pelukan Lian. Ia makin erat mendekap Lian.
"Kita akan menghadapi ini bersama, Mas." ucap Lian berkali-kali.
......***......
Pagi itu terjadi keheningan antara Roy dan Lian. Pasangan baru itu tak biasanya saling diam seperti itu.
Helena yang melihat gelagat mereka berdua merasa senang. Ternyata hanya seumur jagung saja kemesraan yang mereka tunjukkan didepan orang-orang. Pikirnya.
Lian berangkat ke butik Jimmy tanpa adanya kata yang bisa ia ucapkan pada Roy. Mereka hanya saling sapa sekenanya saja.
Roy sedang memberi waktu pada Lian untuk bisa memikirkan hubungan mereka kedepannya. Biarlah Lian menyadarinya sendiri.
Roy bersikap pengecut? Anggaplah begitu. Dia sendiri yang sudah membawa Lian masuk dalam kehidupannya namun kini ia memilih agar Lian keluar dari hidupnya. Alasannya klise, ia tak ingin Lian menderita karena penyakit yang diderita Roy.
Semalam setelah Lian mengatakan jika ia akan mendampingi Roy, ternyata Roy memilih jalan yang berbeda.
__ADS_1
"Maaf, karena aku harus membawamu masuk dalam kehidupanku. Aku memang sangat bahagia saat aku bisa menemukanmu dan juga Boy. Tapi ... aku tidak bisa menahan kalian untuk tetap berada disisiku. Aku ingin kalian meraih kebahagiaan yang mungkin tidak ada aku didalamnya."
Lian terpaku mendengar kalimat Roy.
"Kumohon berbahagialah, Lian. Aku sudah bicara dengan Kak Julian. Aku yakin dia bisa menjaga kalian saat aku tidak ada..."
Lian tidak menjawab dan memilih pergi ke tempat tidur.
Lian memutuskan menghubungi Maliq dan memintanya untuk bicara empat mata. Ia tahu jika selama ini Roy amat dekat dengan Maliq. Pasti Maliq tahu sesuatu tentang kondisi Roy.
"Terima kasih sudah bersedia menerima undanganku. Kamu tidak memberitahu Mas Roy 'kan?" tanya Lian.
"Tidak, aku tidak memberitahu Roy. Sebenarnya ada apa ini? Kenapa kamu memintaku untuk bertemu berdua?"
"Apa benar jika Mas Roy sakit?" tanya Lian tanpa ragu lagi.
Maliq nampak menghela nafasnya. "Jadi kau sudah tahu?"
Lian mengangguk. "Mas Roy sendiri yang menceritakannya padaku."
"Iya, Lian. Roy memang sakit dan tak bisa disembuhkan."
"Tidak! Aku tak bisa membiarkan Mas Roy pergi dengan cara seperti ini." seru Lian yang membuat Maliq tercengang.
"Lian, tenanglah! Aku sedang berusaha melakukan penelitian untuk mencari obat untuk Roy. Selama ini aku hanya memberinya obat untuk meredakan sakitnya tapi itu tidak menyembuhkannya."
Lian tak menjawab. Pikirannya sudah kacau.
"Apa itu?" tanya Lian.
"Kumohon kau tetap disamping Roy."
"Tapi dia memintaku untuk pergi."
"Jangan dengarkan dia, Lian. Roy pastinya kesepian. Tapi semenjak kehadiranmu dan Boy mengisi harinya, hal itu membuat Roy memiliki semangat hidup. Jadi, kumohon, tetaplah berikan semangat untuknya." pinta Maliq.
......***......
Donald merasa sudah saatnya Dandy mengetahui tentang kondisi Roy yang sebenarnya. Ia mengundang Dandy ke ruang kerjanya disaat keadaan rumah sedang sepi.
"Ada apa Ayah?" tanya Dandy.
"Duduklah! Ada hal yang harus aku bicarakan denganmu."
Dandy tampak mendengarkan ayahnya dengan seksama.
"Sudah saat kau mengetahui soal ini." Donald memberikan rekam medis milik Roy.
"Apa ini ayah?"
__ADS_1
"Itu adalah catatan medis kondisi Roy."
"Apa maksudnya ini, Ayah?"
"Roy sakit, Dandy." lirih Donald.
"Apa? Kenapa selama ini aku tidak mengetahuinya? Apa ayah sengaja menutupinya dariku?" Dandy terlihat marah.
"Apa kau pikir kau punya waktu untuk anak-anakmu? Juga istrimu? Apa dia pernah peduli pada putranya? Dia hanya peduli pada perjodohan Roy dengan gadis pilihannya. Dia hanya peduli pada kehidupan sosialitanya!"
Dandy nampak terpukul dengan kata-kata Donald.
"Lalu, apa yang akan terjadi dengan Roy, Ayah?"
"Dia tidak bisa disembuhkan. Dia ... hanya tinggal menunggu waktunya saja."
"Tidak! Kita harus melakukan sesuatu. Pasti ada cara, ayah."
"Setelah semua ini terjadi kau ingin menyembuhkannya? Kemana saja kau saat dia kesakitan? Kau hanya mementingkan perusahaan, dan juga ... gadis simpananmu itu!" seru Donald.
"Hah?!" Dandy tampak terkejut.
"Apa kau pikir ayah tidak mengetahui apa yang kau lakukan diluaran sana? Ayah tahu kau bahkan menyakiti hati putra sulungmu. Kau sudah bermain api dengan wanita yang dia cintai." Hati Donald teramat sakit mengungkap fakta yang terjadi pada keluarganya.
"Lalu istrimu? Apa dia pernah peduli pada putranya? Dia bahkan tega menyingkirkan kakak kandungnya sendiri untuk bisa hidup sebagai istrimu! Apa kau pikir ayah tidak tahu itu? Dan kau hanya diam saja melihat ulah Helena karena saat itu kau dibutakan oleh cintanya. Tapi aku hanya diam, Dandy! Aku adalah pria tua bodoh yang sudah menghancurkan kehidupan anak dan cucuku sendiri. Julian? Apa kau pernah peduli padanya? Bahkan orang lain lebih peduli padanya daripada kita keluarganya. Kau berdosa padanya, Dandy! Aku berdosa padanya! Kita semua berdosa padanya!" Donald mengakhiri kalimatnya dengan berderai air mata sambil memukuli dadanya yang terasa sesak. Sedangkan Dandy hanya diam mendengar semua kebenaran yang sudah lama ia tutupi juga kejujuran Donald mengenai Roy.
Di tempat berbeda, seorang pria muda tengah mengusap wajahnya setelah mendengar pembicaraan dua pria paruh baya yang telah ia sadap. Dia adalah Julian yang sudah menyadap seluruh isi rumah keluarga Avicenna, keluarganya sendiri.
Di temani Leon, asistennya, Julian tampak menyeka air matanya setelah mendengar pernyataan Donald, kakeknya. Leon tampak iba pada bosnya itu. Sesungguhnya ia yakin jika Julian adalah orang yang baik dan bukan seorang pendendam.
"Tuan..." panggil Leon yang membuat Julian kembali ke alam sadarnya.
"Ada apa?" tanya Julian berusaha bersuara tegas.
"Apa Tuan yakin akan tetap melakukan rencana Tuan?"
"Untuk apa kau bertanya, Leon? Tentu saja semua rencana yang sudah kita susun harus tetap berjalan."
"Tapi Tuan ... mereka adalah keluarga Tuan sendiri."
"Kejahatan tetaplah kejahatan, Leon. Dan hukum akan tetap berlaku pada siapa saja yang melanggarnya. Meski itu adalah hukum yang kubuat sendiri." tegas Julian sambil mengepalkan tangannya.
......***......
...#Bersambung......
"Hai genks, mamak kembali. dengan kondisi yg udah lumayan fit, alhamdulillah.
Rahasia-rahasia yang disimpan keluarga Avicenna akan mulai terkuak ya genks.
__ADS_1
Semoga kalian tetap suka dengan jalan ceritanya yg sedikit ruwed inih 😅😅"