
Boy memapah tubuh Kenji yang sudah tak sadarkan diri keluar dari klub. Ia membawa tubuh sahabatnya ke sebuah apartemen miliknya. Tiba di apartemen mewahnya, ia merebahkan tubuh Kenji ke tempat tidur.
Boy menghela napas melihat Kenji yang tampak frustasi karena kisah asmaranya tak bisa berlanjut bersama Zetta. Bahkan ia juga baru mengetahui jika Kenji memiliki anak dari Zetta.
Satu hal yang menjadi perhatian Boy adalah kata-kata terakhir Kenji sebelum ia tak sadarkan diri. Kenji menuturkan jika ayah Aleya sedang ada di kota ini.
Boy memiliki sebuah rencana yang ia yakini akan mengubah masa depannya. Ya, ia sudah bertekad untuk maju ke depan dan pantang menyerah untuk memperjuangkan cintanya pada Aleya.
Sementara itu, Dion pulang ke rumahnya dan melihat kedua orang tuanya masih bercengkerama di ruang keluarga. Dion segera menghampiri mereka.
"Ayah, Ibu," sapa Dion.
"Hai, Nak. Kau sudah pulang?" tanya Marinka.
Dion tidak menjawab dan malah menatap kedua orang tuanya secara bergantian.
"Ada apa, Nak?" tanya Maliq.
Tiba-tiba Dion berlutut di depan Maliq dan Marinka. Kedua orang tua itu saling melempar pandang.
"Ada apa ini, Nak?" tanya Marinka.
"Ayah, Ibu. Aku ingin meminta ijin untuk menikahi Zetta. Aku tahu ini sangat mendadak. Tapi, aku sudah yakin dengan keputusan yang kubuat. Aku bahkan sudah meminta restu pada wali Zetta yaitu pamannya," jelas Dion tanpa jeda.
Marinka dan Maliq hanya terdiam mendengar kejujuran putra mereka.
"Kau yakin dengan keputusanmu? Meski kau bukan ayah dari anak Zetta?" sarkas Maliq.
"Ayah..." Marinka mengelus lengan suaminya.
"Sebaiknya kau istirahat dulu, Nak. Besok kita bicarakan lagi masalah ini," lanjut Maliq.
Dion cukup memahami situasi orang tuanya yang pasti terkejut dengan pernyataannya yang tiba-tiba. Ia pun bangun dan berpamitan pada keduanya untuk pergi ke kamar.
Di tempat berbeda, Zetta merasa lega karena akhirnya ia benar-benar memilih Dion untuk menjadi pendamping hidupnya. Meski ia sudah sepakat tidak akan menghalangi Kenji jika ingin bertemu dengan Andra. Bagaimanapun Zetta tidak bisa memutus hubungan anak dan ayah itu.
Sedangkan Aleya, kini ia dilanda gundah gulana karena keputusannya untuk menolak Boy. Memang benar saat ini prioritas utamanya adalah belajar, bukan memikirkan soal kisah cintanya. Aleya menatap langit-langit kamarnya. Entah kenapa rasa rindu menyeruak dalam hatinya saat beberapa hari ini tidak bertemu dengan Boy.
"Semoga kakak baik-baik saja disana," harap Aleya sebelum memejamkan matanya.
Malam ini ditutup dengan rasa bahagia masing-masing orang dan kegundahan masing-masing orang juga.
......***......
Tiga hari kemudian, Aleya sibuk dengan persiapan pertunangan Zetta dan Dion yang sengaja dilakukan secara sederhana. Zetta tidak ingin mengundang banyak orang.
Maliq yang awalnya bersikukuh menolak Zetta, akhirnya luluh karena pengertian yang diutarakan oleh Marinka kala itu.
"Mungkin Dion memang mirip denganmu. Dia menyukai wanita yang sudah memiliki anak," ucap Marinka setelah Dion meminta restu.
"Ah, kau ini! Kenapa jadi membawa-bawa diriku?"
"Tentu saja. Semua ada sebab dan akibatnya. Aku yakin semua ini berhubungan. Sudahlah, kita restui saja mereka."
"Tapi, kenapa harus keluarga itu?" Maliq masih berat untuk memberikan restu. Pastinya Marinka paham apa yang dimaksud suaminya.
"Jika ini tentang Rion... Maka kau jangan membandingkan mereka. Rion pergi karena ingin menggapai kebahagiaannya sendiri. Lagi pula, untuk apa memaksakan cinta yang tidak berpihak pada kita?" terang Marinka.
Maliq nampak menghela napasnya. "Baiklah. Jika itu bisa membuatmu bahagia, maka aku akan mendukung keputusan Dion."
Dan hari yang ditunggu oleh Dion akhirnya tiba. Sebuah lamaran sederhana telah berjalan dengan khidmat. Rasa haru bersatu dengan rasa bahagia yang menyeruak.
"Sekarang tinggal membicarakan masalah pernikahan," buka Kosih.
__ADS_1
"Eh?" Zetta dan Dion saling pandang. Begitu juga dengan Maliq dan Marinka.
"Saya setuju saja, Paman," sahut Dion yang mendapat senggolan dilengannya oleh Zetta.
"Betul itu, Nak Dion. Niat yang baik memang harus disegerakan," sambung Kosih.
"Ayah, Ibu, aku ingin secepatnya menikah dengan Zetta," tegas Dion.
Marinka tersenyum menanggapi keseriusan putranya. "Iya, Nak. Ibu setuju saja. Ayah juga, kan?" Marinka menyenggol lengan Maliq.
"Tekadmu sangat kuat, Nak. Ayah tidak mungkin menghalangi kalian lagi."
Dion dan Zetta saling pandang dan melempar senyuman.
......***......
Hari ini adalah hari libur. Aleya menghabiskan waktu dengan berkutat di dapur untuk membuat camilan. Zetta yang biasanya menghabiskan waktu dengan bekerja kali ini ia juga ingin belajar memasak di dapur bersama Aleya. Sementara Andra sedang bermain ditemani Kosih.
"Ayo, Kek! Kita main lagi disana!" seru Andra yang kegirangan bermain bersama kakeknya.
Zetta tersenyum bahagia karena Kosih bisa menerima Andra sebagai cucunya.
"Kakak tumben tidak pergi bekerja," ucap Aleya menyadarkan lamunan Zetta.
"Aku sengaja tidak mengambil pekerjaan di hari libur. Aku ingin lebih dekat dengan anak dan juga pekerjaan rumah," jawab Zetta.
"Kakak pasti ingin menjadi istri yang terbaik untuk kak Dion."
"Iya, Al."
"Mama ayo sini!" panggil Andra meminta Zetta mendekat.
"Kakak temani Andra bermain dulu ya! Ayahmu pasti lelah bermain dengan anak seaktif Andra." Zetta berjalan menghampiri Andra dan Kosih.
"Iya, Nak. Andra adalah anak yang sangat aktif. Andra, kakek istirahat dulu ya! Sekarang kau bermainlah dengan mamamu."
"Iya, Kakek. Nanti kita main lagi!"
Aleya sudah menyiapkan secangkir teh untuk ayahnya. Pria paruh baya itu kelelahan setelah bermain dengan Andra.
"Ayah, minumlah dulu! Aku akan ambilkan camilan untuk Ayah," ucap Aleya.
"Iya, Nak. Terima kasih." Kosih menyesap tehnya perlahan.
Tak lama bel di rumah Zetta berbunyi menandakan ada tamu yang datang. Imah yang sigap akan membuka pintu dicegah oleh Kosih.
"Biar aku saja, Bi. Kau lanjutkan saja pekerjaanmu," ujar Kosih.
"Baik, Tuan," balas Imah lalu kembali menuju dapur membantu Aleya.
Kosih membuka pintu rumah dan melihat sosok yang sudah lama tak dijumpainya.
"Bapak?" gumam tamu itu terkejut.
"Masuklah, Nak!" sambut Kosih hangat.
Mereka berdua duduk berhadapan di ruang tamu. Aleya yang penasaran dengan siapa yang datang segera menuju ke ruang tamu.
"Ayah, siapa yang da...tang?" Aleya terkejut melihat sosok itu tersenyum padanya.
"Kak Boy?" lirih Aleya.
"Aleya, buatkan teh untuk Dokter Boy!" titah Kosih.
__ADS_1
"I-iya, Ayah." Aleya kembali ke dapur dengan berjuta pertanyaan.
"Untuk apa kak Boy datang kemari?" batin Aleya.
Usai membuatkan secangkir teh untuk Boy, Aleya akan kembali ke dapur namun dicegah oleh Kosih.
"Duduklah, Nak! Temani Dokter Boy mengobrol."
"Eh?" Aleya masih tidak paham dengan apa maksud kedatangan Boy.
Dengan pasrah Aleya duduk di samping ayahnya.
"Nak Boy sudah membicarakan semuanya pada Ayah. Sekarang tinggal giliranmu, Nak," ucap Kosih.
Sebenarnya, saat pertama kali Kosih datang ke kota, Boy lah orang pertama yang bertemu dengannya. Boy juga yang sudah menyiapkan pesawat jet pribadi untuk memberi kejutan pada Aleya. Boy sudah mengutarakan niatnya untuk meminang Aleya. Namun semua hal tertunda karena kisah Zetta dan Dion yang akhirnya terkuak. Kini Boy datang untuk meminta jawaban Aleya setelah sebelumnya Kosih memberikan restunya.
Aleya tertegun karena ternyata ayahnya dan Boy sudah merencanakan semua ini dan dirinya tidak mengetahuinya.
"Ayah! Kenapa tidak membicarakan hal ini denganku lebih dulu? Dan kau, Kak Boy! Kenapa selalu melakukan hal sesuka hatimu?" Aleya tampak menunjukkan kemarahannya.
"Nak, niat Nak Boy itu baik. Kenapa kau harus marah? Ayah tahu kau juga..."
"Cukup, Ayah! Aku yang akan menentukan jalan hidupku sendiri. Untuk saat ini prioritas utamaku adalah belajar. Aku ingin segera menyelesaikan studiku!" tegas Aleya.
"Aku minta maaf, Aleya. Aku juga sangat mengerti tentang keputusanmu. Aku tidak akan memaksamu. Aku akan menunggu hingga kau siap," jawab Boy.
Aleya menatap pria didepannya malas.
"Kalian bicara saja dulu. Jangan terbawa emosi, Nak." Kosih undur diri dari ruang tamu meninggalkan Boy dan Aleya.
"Kenapa kakak suka sekali memaksakan kehendak kakak?" sungut Aleya.
"Aku akan menunggumu, Aleya. Aku tidak akan memaksa. Aku hanya berpikir jika tidak ada salahnya aku meminta izin dari ayahmu lebih dulu."
Aleya tidak membalas lagi. Percuma saja berdebat dengan pria di depannya ini.
......***......
Hari pernikahan Dion dan Zetta pun tiba. Tak ada pesta meriah seperti kebanyakan keluarga kaya lainnya. Kedua mempelai hanya ingin berbagi kebahagiaan dengan orang-orang terdekat saja.
Aura bahagia selalu terpancar di wajah mereka berdua. Mereka pikir perjuangan untuk menggapai kebahagiaan akan melalui jalan yang terjal, namun ternyata mereka mendapat jalan yang mudah.
"Sayang, ayo kita berfoto untuk kukirimkan pada Rion," ajak Dion.
"Ayo! Kita tunjukkan juga cincin pernikahan kita untuknya. Aku yakin dia ikut berbahagia untuk kita meski dia tidak hadir."
"Iya."
Dion mengarahkan ponselnya dan mengambil gambar mereka berdua dengan menunjukkan cincin pernikahan mereka.
Sementara itu, jauh di pelosok desa sana, seorang pemuda tersenyum getir mendapat kiriman foto dari saudara kembarnya. Meski tak bisa menghadiri acara sakral saudaranya, Rion selalu menyematkan doa untuk kebahagiaan orang-orang yang dicintainya.
Satu doa selalu terselip dalam pekatnya malam.
"Aleya, semoga kau selalu bahagia..." ucapnya lirih sambil memandang langit malam yang penuh dengan kilauan bintang.
...B E R S A M B U N G...
*Is there anything u wanna say? 😬😬
...Happy Monday...
Senin ngangenin, yuks siapa yg mau kasih vote nya untuk Boy dan Aleya.
__ADS_1
...Terima kasih...