Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 125. Sisi Lain Boy


__ADS_3

Saat kita berjauhan dengan orang yang kita cinta, pikiran dan hati terkadang tidak bisa sejalan. Ingin hati mempercayai dengan segenap jiwa, namun gundah tetiba menerpa.


Ah, serahkan saja semua pada semesta.


......***......


Sudah hampir dua bulan Boy dan kawan-kawan berada di desa yang tak tersentuh oleh dunia luar. Sejurus dengan itu Natasha pun dibuat hampir gila karena tak juga mendapat kabar dari sang kekasih. Ingin rasanya menyusul kesana menuju tempat sang terkasih, namun kesibukannya di dunia hiburan tak memungkinkan untuk mementingkan egonya.


Karir Natasha mulai meroket dan hampir setiap iklan televisi dibintangi oleh dirinya dan juga Sean. Pundi-pundi harta pun mulai Natasha kumpulkan. Tanpa menunggu persetujuan Boy, Natasha membeli sebuah unit apartemen mewah yang sering ia kunjungi jika sedang suntuk.


Lagi dan lagi Natasha memandangi ponselnya yang tetap menghitam. Tak ada panggilan sama sekali dari Boy maupun asistennya. Bertanya pada keluarga Kenji pun hasilnya sama. Mereka berenam tak ada satupun yang mengabari keluarga disini karena memang terkendala jaringan telekomunikasi.


"Sudahlah, Princess. Kau tidak perlu khawatir. Aku yakin Tuan Dokter baik-baik saja disana. Asal kau tahu saja, desa yang bernama Selimut itu bahkan tidak tercatat di Gugel Maps. Itu berarti desa itu sangat terpencil," jelas Cicind dengan suara gemulainya.


"Hah?! Yang benar saja? Jangan-jangan Boy dan teman-temannya dibawa oleh makhluk halus?"


"Astaga, Princess. Jaman sudah modern dan kau masih percaya mitos? Jangan berlebihan! Aku dapat kabar jika setiap hari orang suruhan Tuan Fajri mengirim bahan bangunan ke tempat itu. Dan yang kudengar keenam pria tampan itu dalam keadaan baik-baik saja. Mereka hanya mengikuti aturan disana dengan tidak menggunakan ponsel ataupun internet."


"Kau yakin?" Natasha menunjukkan raut wajah tak percaya.


"Tentu saja yakin! Kau jangan cemas ya! Sisa dua minggu lagi sebelum kau bertemu pangeranmu. Bersemangatlah!"


"Terima kasih, Cind. Kau memang yang terbaik!" Natasha memeluk sahabat sekaligus managernya itu.


"Jangan sungkan, Princess." Cicind mengusap pelan punggung Natasha.


......***......


Di malam dingin ini, Aleya masih berada di pondok desa yang biasa dijadikan tempat berkumpul para muda mudi untuk sekedar bermusyawarah dalam mencapai kesepakatan yang berhubungan dengan masa depan desa. Entah kenapa pikiran Aleya masih tidak sinkron. Ia melamun tentang sesuatu yang masih tak jelas. Tentang masa depannya.


Aleya menopang wajahnya dengan kedua tangan dan menatap kosong ke depan. Sungguh ia bingung karena ayahnya didesak untuk menerima pinangan seorang pemuda yang ingin menikahinya. Meski pada akhirnya dengan tegas Aleya menolak karena ia masih ingin menikmati masa mudanya. Ditambah lagi ia sebenarnya ingin menimba ilmu sebagai seorang mahasiswi di sebuah universitas di kota.



Tentu saja semua motivasi itu Aleya dapat setelah berteman dengan Rion. Ia ingin tahu seperti apa itu dunia luar. Ingin bertemu kawan-kawan baru dan lanjut belajar di bangku kuliah.


Aleya hanya bisa menghembuskan napas kasar. Nasibnya tidak seberuntung anak-anak yang tinggal di kota.


"Sedang apa kau disini?" Suara seseorang seketika membuat lamunan Aleya buyar. Suara itu tidak asing ditelinganya. Suara seseorang yang selalu berdebat dengannya.


Aleya menatap datar terkesan dingin kearah orang itu.



"Kau sendiri kenapa ada disini?" tanya Aleya balik.


"Aku baru selesai memeriksa seorang ibu hamil di rumah itu," tunjuk si pria yang tak lain adalah Boy.


"Oh, begitu. Bidan desa bilang jika kandungan Ibu Irma bermasalah. Apa menurutmu juga begitu?" Aleya ingin tahu tentang ilmu kedokteran.


"Kau ingin tahu kebenarannya?"


Aleya mengangguk mantap.


"Tapi sebagai dokter aku tidak bisa mengatakan hasil pemeriksaan pasienku kepada orang asing."


Jawaban Boy membuat Aleya merengut. "Ya sudah! Sebaiknya kau pergi saja sana! Aku sedang ingin sendiri."


"Ini sudah malam, apa kau tidak takut sendirian disini?"


"Tentu saja tidak! Disini tidak akan ada orang jahat. Sudah sana pergi!" usir Aleya.


Meski ragu, Boy tetap berbalik badan dan meninggalkan Aleya sendiri. Boy berjalan kembali menuju rumah joglo yang ia tempati bersama kawan-kawannya.


Saat sedang berjalan santai, entah dari mana datangnya seorang pemuda bertabrakan dengan Boy.

__ADS_1


"Hei!" seru Boy marah. Pemuda itu terus berlalu dan tidak menggubris teriakan Boy. Suasana malam yang temaram membuat Boy tak bisa mengenali siapa pria tadi.


"Mau kemana dia? Ah sudahlah, biarkan saja." Boy kembali melanjutkan langkahnya. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti mengingat Aleya yang masih berada di pondok.


"Huh! Gadis itu! Kenapa juga aku memikirkan tentangnya?" Boy mengibaskan tangan dan tak ingin memikirkan Aleya.


"Biarkan saja! Bukankah dia bilang tidak akan ada yang berbuat jahat di desa ini." Boy meyakinkan diri dan kembali melangkah.


Sementara itu didalam pondok yang terbuka, Aleya kembali melamunkan masa depannya.


"Bagaimana caranya bicara dengan Ayah jika aku ingin berkuliah di kota?" Aleya memukuli pelan kepalanya. Sungguh ia ingin belajar lebih banyak tentang dunia kedokteran. Hatinya tergerak saat melihat Rion dan Dion membantu para warga desa. Aleya pun termotivasi ingin menjadi seperti mereka.


"Aleya!" Sebuah suara kembali membuyarkan lamunan Aleya.


"Hah?! Pandu? Apa yang kau lakukan disini?" tanya Aleya terkejut. Pasalnya Pandu adalah pemuda yang ia tolak lamarannya beberapa hari lalu.


"Berani sekali kau menolak lamaranku!" ucap Pandu dengan kilatan amarah.


"Aku berhak menolaknya karena aku tidak ingin menikah!" tegas Aleya.


"Dasar sok jual mahal! Kita lihat saja apa kau masih menolakku jika aku sudah mengambil mahkotamu!"


"Apa katamu?! Kau sudah tidak waras!" Aleya segera bangkit dari duduknya namun dengan cepat Pandu mencekal lengan Aleya dan membawanya ke luar pondok.


"Lepaskan aku!" Aleya memberontak dan akan berteriak. Namun lagi-lagi Pandu membungkam bibir mungil Aleya dengan tangannya.


Aleya berusaha menolak namun tenaga Pandu lebih kuat darinya. Ia berjalan terseret hingga sepatu bootsnya terlepas dan kaki Aleya tergores tanah.


Pandu membawa Aleya ke sebuah gubug kecil yang memang sudah ia siapkan untuk mengeksekusi Aleya.


Aleya masih berusaha meronta ketika Pandu merebahkan tubuhnya di sebuah ranjang di dalam gubug.


"Tidak, Pandu! Jangan lakukan!"


Pandu dengan membabi buta berusaha merobek pakaian Aleya. Tubuh Pandu mengunci tubuh Aleya.


Hingga akhirnya suara pintu didobrak dan membuat Pandu terperanjat kaget. Seseorang masuk ke gubug itu dan langsung memukuli Pandu.


Aleya bangun dan berusaha menutupi tubuhnya dengan pakaiannya yang sobek. Ia bersandar pada kepala ranjang dan memeluk kedua lututnya.


Pandu telah pergi dan kini sang penolong mendekati Aleya.


"Aleya! Ini aku! Jangan takut!" Suara yang Aleya kenal membuatnya refleks memeluk pria didepannya.


"Tolong aku! Aku takut!" lirih Aleya dengan sesenggukan.


Pria yang menolong Aleya, Boy sangat terkejut dengan pelukan tiba-tiba yang dilayangkan Aleya.


"Kau sudah aman! Aku akan mengantarmu pulang."


Aleya mengangguk dalam dekapan Boy. Namun setelahnya ia sadar apa yang sudah dilakukannya. Ia segera melepas pelukannya.


"Ma-maaf..." Aleya tertunduk malu.


Boy segera melepas jaketnya dan memakaikannya di tubuh Aleya.


"Pakailah! Jaketmu sobek, pakai saja punyaku."


"Tapi kau bagaimana? Udaranya sangat dingin."


"Tidak apa. Aku pernah tinggal di luar negeri. Disana lebih dingin saat musim salju. Kau baik-baik saja?"


Aleya mengangguk. "Terima kasih karena sudah menolongku."


"Hah! Aku sendiri tidak tahu kenapa aku harus berbalik arah saat hampir tiba di rumah joglo."

__ADS_1


Aleya mencoba mengulas senyumnya. Ia berusaha bangkit dari tempat tidur.


"Aw! Kakiku!" Aleya mengaduh.


"Kakimu terluka dan harus segera diobati. Jika tidak lukanya bisa infeksi. Apa di pondok ada kotak obat?" tanya Boy dengan melihat sekilas luka Aleya.


"Seingatku ada."


Tanpa basa basi Boy segera membawa tubuh mungil Aleya ala bridal dan berjalan keluar gubug kecil itu.


"Tu-tunggu! Kau tidak perlu menggendongku!" Aleya gugup karena baru kali ini ia bersentuhan dengan pria.


"Sudah jangan banyak protes! Kau terluka begini masih saja cerewet!"


Aleya tak menjawab lagi dan hanya bisa menunduk malu.


Tiba di pondok, Boy mendudukkan Aleya di kursi dan segera mengambil kotak obat. Aleya memperhatikan gerak gerik Boy yang sangat cekatan dalam memberikan pertolongan pertama.


"Ternyata dia punya hati yang baik juga," batin Aleya.


Boy telah selesai membalut luka di kaki kiri Aleya. Ia kembali menaruh kotak obat di tempatnya.


"Omong-omong, kau tahu dari mana jika aku ada di gubug itu?" tanya Aleya penasaran karena Boy tiba-tiba datang.


"Bukankah sudah kubilang aku sendiri tidak tahu kenapa aku harus berbalik badan dan kembali ke pondok. Sebelumnya aku memang berpapasan dengan pria tadi. Dan entah kenapa pikiranku langsung tertuju padamu."


Kata-kata Boy membuat wajah Aleya memerah.


"Sekali lagi terima kasih, Dokter Boy."


"Tidak perlu berterimakasih. Sudah jadi kewajibanku menolong orang yang sedang sakit. Aku akan mengantarmu pulang ke rumah."


"Eh?" Aleya terkejut.


"Kenapa? Apa kau bisa menggunakan kakimu untuk berjalan? Jika tidak bisa maka jangan membantah dan menurut saja!"


Boy kembali menggendong Aleya. Situasi canggung pun terjadi selama perjalanan menuju rumah Aleya.


"Kau adalah pria yang baik. Kenapa kau selalu menutupinya?" tanya Aleya untuk memecah keheningan.


"Aku tidak menutupinya. Aku hanya tidak bisa mengekspresikannya."


"Oh begitu." Aleya tidak kembali bertanya karena sudah tiba di depan rumahnya.


Kosih terkejut dengan kondisi Aleya yang terluka. Boy menurunkan tubuh Aleya di kursi ruang tamu. Setelahnya ia segera berpamitan karena hari sudah mulai larut.


Aleya meminta ayahnya untuk tidak bertanya lebih dulu. Saat ini Aleya hanya ingin beristirahat dan menetralkan degup jantungnya yang tak beraturan saat berdekatan dengan Boy.


"Ternyata dia pria yang baik. Namun sayang, sepertinya hatinya sudah tertambat pada wanita lain." Aleya mendesah kasar sebelum akhirnya ia merebahkan diri diatas ranjang dan memejamkan mata.


...B E R S A M B U N G...


"Aleya yang ditolong kok eke yg deg2an ha ha"


πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…


Maaf jika alurnya tidak sesuai harapan kalian😌😌


Semoga tetap bisa dinikmati 😬😬


Selamat Malam...


Yang suka kisah romansa ringan dan gak kebanyakan episod, bisa mampir ke Raanjhana


Berisi 5 season dengan cerita berbeda di tiap seasonnya. pastinya bikin baper daaaah, yang belum mampir yuk kepoin 😬😬

__ADS_1



__ADS_2