Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 53. I Marry You


__ADS_3

Satu bulan kemudian,


Hari itu Lian menemui Jimmy dan memintanya untuk mendesain gaun pengantin untuknya. Jimmy begitu bahagia karena akhirnya Lian bisa bersatu dengan Roy.


Berita pernikahan Lian dan Roy sampai juga di telinga Julian. Ia hanya menghela nafas mendengar semua berita yang mulai mencuat itu. Meski hatinya sakit, namun ia berusaha menerima semuanya.


Lalu bagaimana dengan Zara? Apakah dia juga bisa berlapang dada seperti Julian?


Zara selalu datang menemui Julian dan membujuknya agar bersedia membantunya memisahkan Lian dan Roy.


"Zara!!! Lupakan saja Roy! Kau harus bisa melanjutkan hidupmu. Ini demi kebaikanmu." nasihat Julian.


"Kau yakin kau juga bisa melupakan wanita itu? Kau bahkan menyematkan nama Belinda padanya."


"Cukup Zara! Aku harus bekerja. Keluarlah! Kita pikirkan lagi nanti."


"Ingat Julian! Kau harus ingat tentang kesakitanmu. Dan juga kehilanganmu karena siapa. Mereka harus menerima balasannya, Julian!" Zara melengos keluar dari ruangan Julian tanpa berpamitan.


Entah sejak kapan mereka menjadi dekat bahkan berteman. Sepeningal Zara, Julian memijat pelipisnya pelan.


"Apa lagi ini? Kenapa semua jadi begini?" gumam Julian.


......***......


Rona kebahagiaan selalu terpancar di wajah Roy dan Lian di hari-hari menjelang pernikahan mereka. Boy juga terlihat sibuk mempersiapkan pesta pernikahan ayah dan ibunya.


"Mas, kita buat pernikahan yang sederhana saja. Lagipula Boy juga sudah besar. Aku takut orang-orang akan berpikiran buruk tentangmu. Citramu sebagai seorang dokter harus tetap baik di mata masyarakat." usul Lian.


"Iya, baiklah sayang. Kita undang teman-teman dekat kita saja."


Lian mengangguk. "Lalu bagaimana dengan Zara? Apa dia ... sudah bisa menerima hubungan kita, Mas?"


"Sayang, untuk apa memikirkan tentang dia? Dia bahkan selalu membencimu."


"Aku tahu. Tapi aku merasa jika ... dia sangat mencintaimu." Lian tertunduk.


"Sudahlah. Aku tidak suka kamu membahas soal dia. Kita sudah sepakat untuk melupakan masa lalu dan menatap masa depan." Roy membawa Lian dalam dekapannya.


"Iya, Mas." Lian memejamkan mata merasakan hangatnya pelukan dari Roy.


......***......


Hari pernikahan akhirnya tiba. Lian berjalan anggun menuju altar pernikahannya bersama Roy. Meski ia merasa sedih karena tak ada orang tua yang mendampinginya, namun kehadiran Boy seolah menutup kesedihannya. Ia melakukan semua ini untuk Boy.


Roy tersenyum pada Lian. Ia sudah sangat siap untuk mengucap janji suci pernikahan mereka.


Suara tepukan riuh menyambut pasangan pengantin baru ini. Sesuai dengan permintaan Lian, Roy memang mengadakan pesta sederhana namun penuh makna.

__ADS_1


Mereka melakukan dansa sebagai pasangan suami istri dan selalu mengumbar senyum bahagia. Tanpa mereka tahu jika ada hati lain yang tengah terluka di balik kebahagiaan Lian dan Roy.


Zara mendengus kesal melihat kemesraan Roy dan Lian. Terlebih ia menatap tajam kearah Helena. Zara masih mengira jika pernikahan ini bisa terjadi karena Helena tak becus melaksanakan perintahnya.


"Kita lihat saja nanti, Bibi Helena. Seperti apa reaksimu saat melihat kedatangan gadis itu?" seringai Zara sebelum meninggalkan pesta pernikahan Roy dan Lian.


......***......


Acara pernikahanpun telah usai, kini Roy dan Lian menjalani peran mereka sebagai suami dan istri. Roy memboyong keluarga kecilnya ke kediaman Avicenna. Meski Lian selalu mendapat perlakuan buruk dari Helena, namun ia berusaha sabar menghadapi ibu mertuanya itu.


Lian menjalankan perannya sebagai istri dan menantu dengan baik. Setiap hari ia menyempatkan diri untuk memasak makanan untuk keluarga barunya itu.


"Wah, ini masih pagi dan kamu sudah sibuk, Nak." ucap Donald yang melihat banyaknya makanan yang tertata diatas meja makan.


"Aku hanya membuat menu sederhana. Semoga kakek menyukainya."


"Tentu saja aku menyukainya. Kau pandai memasak, Nak."


"Ada apa ini, ayah? Masih pagi sudah ramai." Dandy ikut bergabung. "Wah, Lian? Kamu yang membuat semua ini?"


"Tidak semuanya, Pa. Aku dibantu oleh asisten rumah tangga juga." jawab Lian.


"Jadi, semua orang sudah berkumpul ya? Bagus sekali kamu, Lian. Pagi-pagi sudah membuat heboh seisi rumah." Helena ikut bergabung di meja makan.


Tak lama Roy dan Boy juga ikut bergabung. Mereka langsung menyantap sarapan pagi mereka.


"Hmm, ini sangat enak, Lian." puji Dandy.


"Ah, rasanya biasa saja kok." cibir Helena.


"Belum tentu wanita yang kau agung-agungkan itu bisa menyediakan sarapan pagi untuk kita, Lena" ucap Donald.


"Eh? Siapa yang Ayah maksud? Zara? Zara adalah wanita karir yang sibuk, mana sempat dia memasak dan berkutat di dapur. Lagipula sudah ada asisten rumah tangga, untuk apa dia bersusah payah." bela Helena.


"Lian juga sibuk. Dia juga punya pekerjaan. Tapi dia tetap menomorsatukan keluarganya. Kami beruntung memiliki menantu seperti Lian." Donald tak mau kalah.


"Mom, Kakek. Sudahlah! Kita 'kan sedang makan, sebaiknya jangan berdebat. Malu 'kan sama Boy!" lerai Roy.


Seketika itu juga mereka langsung terdiam. Lian me menjadi tak enak hati dengan Roy. Ini semua adalah karena dirinya.


"Mas, maaf ya. Karena aku situasi di rumah kamu jadi memanas," ucap Lian saat mereka berdua dalam perjalanan menuju butik Jimmy. Meski telah menikah, Lian tetap melakukan aktifitasnya sebagai model Jimmy Choo.


"Tidak apa. Mom dan Kakek memang suka sekali berdebat sejak dulu. Kuharap kamu tahan melihat sikap mereka."


"Iya, Mas. Atau kamu ... ingin kita punya kehidupan sendiri saja?"


"Maksud kamu?"

__ADS_1


"Kita pisah rumah dengan keluargamu. Tapi ... kalau kamu tidak setuju juga tidak apa. Aku hanya mengusulkan saja." Lian nampak tertunduk.


"Maaf ya, sayang. Jika harus pindah sepertinya Kakek tidak akan mengijinkan kita."


"Baik, aku mengerti."


"Oh ya, apa aku boleh bertanya sesuatu?"


"Tanyakan saja, Mas."


"Apa ... kamu tidak ingin melanjutkan kuliahmu?"


"Eh? Kuliah? Di usia segini?"


"Tidak ada kata terlambat, Lian. Jika kamu bersedia, aku akan mendaftarkanmu."


"Eh? Jangan, Mas. Akan kupikirkan lebih dulu saja. Terima kasih karena Mas sudah memperhatikan tentang pendidikanku." ucap Lian dengan menatap Roy penuh cinta.


......***......


Malam ini, Roy merasa tak tenang. Ia sedang menyiapkan hati untuk mengungkap kebenaran tentang dirinya pada Lian.


Roy tak ingin Lian mengetahuinya dari orang lain. Mereka adalah pasangan menikah, tentu saja akan lebih baik semua dibicarakan dengan baik-baik.


Dibawah cahaya temaram lampu kamar mereka, Roy sengaja menciptakan suasana romantis untuk Lian. Lian cukup terkejut saat suaminya memberi sebuah kejutan yang manis.


"Mas? Ada apa ini?" tanya Lian.


"Ini adalah kejutan untuk istriku tercinta."


Roy mengulurkan tangan memeluk Lian.


"Mari, duduk!" ajak Roy.


Roy membawa Lian untuk duduk di sofa kamar mereka. Suasana redup membuat hati Lian berdebar. Ia berpikir jika malam ini adalah malamnya bersama Roy. Malam yang biasa dihabiskan oleh pasangan pengantin baru.


"Aku tahu mungkin ini akan mengejutkan untukmu. Tapi, aku tidak ingin kau mendengarnya dari orang lain."


"Sebenarnya ada apa, Mas?" Lian mulai merasa ada yang aneh dengan sikap suaminya.


......***......


#bersambung


"Mungkinkah Roy akan bicara jujur soal penyakitnya? Lalu apa reaksi Lian setelah mengetahui kebenarannya?


Lian sudah tidak lagi menjadi Belinda ya genks, karena Belinda yg asli akan segera muncul. Nah lho! Apa Belinda yg asli memang belum meninggal? Atau ada rahasia besar lainnya dibalik kembalinya Belinda? Kita tunggu kisah mereka selanjutnya ya genks"

__ADS_1


#Mohon maap hari ini hanya UP 1 bab, mamak lagi gak enak body 🙏


doakan mamak sehat kembali jadi bisa terus menghibur dunia perhaluan Indonesia. terima kasih 😊


__ADS_2