
Sejak tadi Zara sudah mengawasi apartemen Roy yang juga menjadi tempat tinggal Belinda dan juga Patrick. Ia memarkirkan mobilnya di basement. Ia yakin jika hari ini akan mendapat banyak bukti. Banyak rahasia yang tersembunyi di dalam apartemen itu. Dan itu membuat Zara makin bersemangat untuk menemukan teka teki yang selama ini tersembunyi.
Tak lama menunggu, munculah Boy bersama dengan Kenzo dan Riana yang akan mengantarnya ke sekolah.
"Hmm? Jadi mereka memang tinggal bersama?" gumam Zara.
"Ini sangat menarik! Jika pihak rumah sakit tahu mengenai hal ini, pasti Kenzo dan Riana akan mendapat hukuman. Mereka tinggal bersama tapi tidak menikah. Ckckck, sungguh contoh yang buruk," lanjut Zara bermonolog.
Setelah melihat Boy bersama Kenzo dan Riana, Zara kembali dikejutkan dengan pemandangan yang membuat hatinya dongkol. Roy dan Belinda muncul dari dalam lift dan menuju ke mobil milik Roy.
Senyum lebar menghiasi wajah kedua insan yang sedang di mabuk asmara itu.
"Brengsek! Wanita itu benar-benar sudah melewati batas! Awas saja kau, Belinda atau siapalah namamu. Kau akan menerima akibatnya setelah ini. Aku sudah menyiapkan kejutan untukmu." Zara terkekeh mengingat rencana licik yang sudah ia persiapkan dengan matang.
Setelah lama menunggu, Zara masih berdiam diri di tempat parkir apartemen itu. Sebenarnya ada aturan jika bukan penghuni apartemen tidak diijinkan memasuki lahan parkir disana, namun karena kelicikan Zara, dia menyuap beberapa penjaga agar mengijinkannya masuk selama beberapa jam.
Dan ketika pintu lift terbuka, Zara kembali menyeringai karena orang yang dinantinya akhirnya muncul. Zara segera keluar dari dalam mobilnya dan menghampiri orang yang ditunggunya.
"Julian Patrick Avicenna!" seru Zara yang membuat si pemilik nama menoleh kearahnya.
"Hah? Zara?" gumam Patrick.
Zara bertepuk tangan di depan Patrick.
"Luar biasa, Julian! Aku tidak menyangka ternyata kau mampu melakukan ini semua. Kau bersembunyi selama bertahun-tahun lalu tiba-tiba kau kembali kesini. Entah apa yang sebenarnya kau rencanakan."
"Zara! Dari mana kau tahu jika aku tinggal disini?"
Zara tertawa. "Aku tidak sebodoh itu untuk kau kelabui, Julian. Aku tahu semuanya tentang kau dan juga gadis bernama ... Bella Belinda."
Patrick mengepalkan tangannya.
"Apa yang kau inginkan, Zara?"
"Umm, mudah saja. Katakan yang sebenarnya padaku. Apa kau yang selama ini menyembunyikan keberadaan gadis yang bernama Putri Berlian?"
Patrick enggan menjawab. Rasanya percuma saja meladeni wanita macam Zara, pikirnya.
"Kau tidak mau menjawab? Hmm, baiklah. Jangan sampai kau menyesali kebisuanmu ini. Kau pikir aku tidak mampu menemukannya, hmm? Aku lebih dari mampu untuk menghancurkan kalian semua yang sudah mengacaukan rencanaku!" seru Zara.
Patrick masih tak berminat untuk menggubrisnya.
"Oh ya? Apa kau sudah menerima kiriman dariku?"
"Eh?"
"Sebuah paket yang dikirim untukmu beberapa waktu lalu."
Patrick memelototkan matanya. Amarahnya sudah diujung kepala.
"Jadi, kau yang mengirimkan paket itu?" tanyanya.
"Benar sekali. Aku hanya ingin tahu seperti apa responmu saat mengenang masa pahit itu! Kau harus tahu tujuanmu, Julian! Apa kau ingin kehilangan untuk kedua kalinya?"
"Apa maksudmu?"
"Katakan yang sejujurnya padaku dan aku akan mengatakan semua rencanaku padamu!"
__ADS_1
Patrick sedikit berpikir.
"Maaf, aku tidak berminat. Aku harus pergi!" Patrick tak ingin berlama-lama lagi dengan Zara.
"Julian!!! Kau akan menyesal jika sampai terjadi sesuatu dengan Belindamu!!!"
Patrick sama sekali tak menanggapi kata-kata Zara lagi. Ia memilih untuk segera pergi dengan mobilnya.
Zara mengepalkan tangannya dengan kesal karena tak berhasil membujuk Patrick.
"Ini semua gara-gara Bibi Helena. Awas saja kau, Bibi! Dan kau, Putri Berlian!!! Kau akan mendapat hukuman karena sudah berani merebut Roy dariku!"
Zara meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Cepat lakukan apa yang sudah kita rencanakan! Jangan sampai gagal atau kau tidak akan mendapatkan uangmu!" Tutup Zara setelah mengatakan maksud tujuannya.
......***......
"Bella, ada yang ingin bertemu denganmu," ucap Jimmy dengan menggamit lengan Belinda.
"Siapa, Jim?"
"Seorang produser TV."
"Produser TV? Untuk apa dia ingin menemuiku?" Belinda merasa bingung dengan penuturan Jimmy.
"Sudahlah. Temui saja dulu."
Karena tak enak hati jika harus menolak. Maka dengan sedikit berat hati, Belinda menemui orang yang mengaku sebagai produser TV itu.
"Bella Belinda... Senang bertemu dengan Anda, Nona." Pria itu mengulurkan tangannya kearah Belinda.
Belinda menyambutnya. "Terima kasih." ucapnya.
"Bella, ini adalah produser Eric Kim. Dia kemari karena ingin mengajakmu bekerja sama." jelas Jimmy.
"Kerja sama? Kerja sama apa ya?" Tanya Belinda bingung.
"Begini, Bella, aku sedang membuat sebuah film pendek. Dan aku tertarik untuk menjadikanmu sebagai bintang utama." terang Eric.
"Eh? Tapi ... aku tidak punya pengalaman di bidang akting." jawab Belinda jujur.
"Tidak apa, Bella. Kami akan adakan pelatihan untukmu juga. Aku sungguh tertarik dengan wajah khas Indonesia milikmu."
"Ah? Terima kasih."
"Jadi bagaimana? Apa kau bersedia?" tanya Eric.
"Umm..." Belinda nampak berpikir. Ia melirik kearah Jimmy yang mengacungkan jempolnya.
"Aku ... tidak yakin jika aku bisa melakukannya. Tapi aku akan berusaha untuk belajar." balas Belinda.
"Terima kasih, Bella. Apakah aku bisa mengajakmu sekarang? Maksudku... kita akan menemui staf yang laen di lokasi syuting."
"Hmm, baiklah."
Tanpa ada kecurigaan sedikitpun, Belinda mengikuti langkah Eric. Menolakpun rasanya tak bisa. Menurut Jimmy, Eric memang benar seorang produser dan dia tidak berbohong.
__ADS_1
Jimmy terus meyakinkan Belinda untuk menerima pekerjaan yang diberikan oleh Eric. Hingga akhirnya, Belinda ikut bersama Eric menuju ke lokasi syuting yang diceritakan Eric.
Selama perjalanan menuju lokasi, tidak ada kata yang diucapkan oleh Eric. Belinda masih berpikir positif.
"Mungkin banyak hal yang sedang dia pikirkan." batin Belinda dengan mengedikkan bahu.
Belinda mulai merasa aneh dengan jalanan yang dilewati Eric.
"Maaf, kita mau kemana?" tanya Belinda ragu.
"Kau diamlah saja! Atau aku akan berbuat kasar padamu." seringai Eric menjadi menyeramkan.
Mata Belinda terus melirik Eric yang terlihat menyeramkan. Wajah ramahnya kini tak lagi ia tampilkan.
Tibalah mereka di sebuah rumah yang jauh dari kota. Eric meminta Belinda untuk turun.
"Sebenarnya ini tempat apa? Kenapa kau membawaku kemari?"
Karena kesal Belinda selalu bertanya, Eric segera menarik lengan Belinda dan menyeretnya masuk.
"Hei!!! Lepaskan!" teriak Belinda.
Namun rasanya sia-sia saja. Tenaga Eric lebih besar darinya.
Eric melemparkan tubuh Belinda hingga tersungkur ke lantai kemudian mengunci pintunya.
Belinda meringis kesakitan. Setelahnya ia bangkit dan mengedarkan pandangan.
"Tempat apa ini?" gumam Belinda.
Belinda mengamati ruang yang mirip dengan suasana kamar rumah sakit.
"Uhuuk uhuuk!!"
Belinda mendengar ada suara orang terbatuk-batuk dari arah berlawanan. Belinda takut. Namun ia tak bisa mengabaikan suara itu. Dengan begitu ia berpikir jika dirinya tidak sendirian di ruangan itu.
Belinda menajamkan pendengarannya mencari asal suara. Ia menyibakkan tirai yang menjuntai. Mata Belinda terbelalak melihat ada seseorang terbaring di atas brankar.
Belinda mendekati orang itu. Ia menutup mulutnya tidak percaya. Ia mengenali orang itu.
"Profesor Gerald?!" seru Belinda.
......***......
#bersambung
Jangan lupa tinggalkan jejak ya kesayangan 😘😘
👍LIKE
💋COMMENTS
🌹GIFTS
💯VOTE
...THANK YOU...
__ADS_1