
"Aku dan Boy ... kami adalah ... agen FBI."
"Hah?! Apa? Agen FBI?" Roy membulatkan matanya.
Hening. Tak ada respon lagi dari Roy maupun Patrick. Hanya suara keyboard yang sedang di hentak pelan oleh Boy yang menggema di kamar itu.
"Bagaimana kalian bisa menyembunyikan semua ini dariku?" gumam Roy yang masih bisa di dengar oleh Patrick.
Roy memegangi dadanya yang terasa sakit. Ia memilih keluar dari kamar Boy.
Patrick yang melihat gelagat aneh Roy, segera mengikuti langkah Roy.
"Roy? Ada apa? Apa kau baik-baik saja?" Patrick terlihat cemas melihat kondisi Roy.
Seharian ini Roy lupa meminum obatnya. Ditambah masalah menghilangnya Belinda membuat pikirannya tak tenang.
"Aku tidak apa. Bisa kau jelaskan apa yang terjadi denganmu dan Boy? Sejak awal aku merasa kedekatanmu dengan Boy dan Belinda sangatlah aneh. Kau bahkan mengganti nama Berlian menjadi ... Aakkhh!" Roy masih memegangi dadanya yang terasa sesak.
"Roy, jangan memaksakan dirimu! Sebaiknya kau kembali ke kamarmu."
"Tidak. Aku tidak bisa tenang sebelum Belinda ditemukan."
Patrick menghela nafas dengan kukuhnya pendirian Roy.
"Aku akan jelaskan semuanya saat kau sudah baik-baik saja. Apa kau bawa obatmu?"
"Obatnya ada di kamarku."
"Baiklah, kau tunggu disini. Aku akan mengambilnya. Berapa kunci kombinasi kamarmu?"
"1710." jawab Roy.
"Baiklah. Kau istirahat di sofa dulu saja."
"Terima kasih, Julian."
......***......
Usai meminum obatnya, kondisi Roy mulai membaik. Ia dan Patrick masih berbincang ringan di sofa ruang tamu.
Tak berselang lama, pintu apartemen Belinda terbuka dan menampakkan sosok Kenzo dan Riana yang baru pulang bekerja. Ekspresi wajah Riana menatap Roy dingin. Sepertinya Kenzo sudah menceritakan tentang menghilangnya Belinda pada Riana.
"Jelaskan apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Belinda bisa sampai menghilang?" tanya Riana dengan menyilangkan tangannya.
"Ken, kau..." Patrick melirik kearah Kenzo yang malah mengedikkan bahunya.
"Pat? Apa kau akan diam saja?" cecar Riana.
"Ri, tenangkan dirimu dulu," ucap Patrick.
"Mana bisa aku tenang? Sahabatku menghilang dan tidak tahu apa yang terjadi dengannya. Jika terjadi sesuatu yang buruk dengannya, bagaimana?"
Kata-kata Riana membuat tiga pria yang ada disana mematung tak menjawab.
"Dokter Roy, apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah kau bersama Belinda?"
"Aku ... Juga tidak tahu apa yang terjadi. Saat aku menjemputnya di butik Jimmy, Belinda sudah tidak ada." ucap Roy jujur.
"Aku sangat yakin ini pasti ada hubungannya dengan mantan tunanganmu itu. Benar 'kan? Hanya dia yang mampu melakukan hal seperti ini. Kau harus bisa menemukan Belinda, Dokter Roy! Aku tidak akan memaafkanmu jika terjadi sesuatu pada sahabatku!"
__ADS_1
Riana segera pegi ke kamarnya setelah menumpahkan kekesalannya pada Roy.
"Ri, tolong jangan begini..." Patrick berusaha mengejar Riana. Namun rasanya sia-sia saja. Riana segera menutup pintu kamarnya rapat-rapat.
"Sudahlah, Julian. Yang Riana katakan memang benar. Ini semua adalah salahku." sesal Roy.
"Jangan menyalahkan dirimu, Roy. Tidak ada gunanya saling menyalahkan." lerai Patrick.
Ketika tiga pria itu sedang larut dalam lamunan masing-masing, suara Boy memecahkan keheningan diantara mereka.
"Paman, aku menemukan titik lokasinya." seru Boy.
"Benarkah?" Roy, Patrick dan Kenzo segera mendatangi Boy di kamarnya.
......***......
Roy mengecup kening Boy yang kini sudah terlelap. Ia keluar dari kamar Boy untuk mencari udara segar. Hatinya masih tak tenang memikirkan nasib Belinda.
"Julian? Kau belum tidur?" tanya Roy yang melihat Patrick ada di balkon.
"Hmm. Kau sendiri? Kenapa keluar dari kamar Boy? Apa Boy sudah tidur?"
"Iya, dia sudah tidur."
Patrick memposisikan duduk di kursi yang ada di balkon. Roy pun menyusulnya.
"Jadi, apa kau sudah siap menjelaskan semuanya?" tanya Roy.
Patrick menatap Roy sekilas kemudian menatap lurus ke depan.
"Mungkin jika Belinda dan Boy tidak kembali kesini, semua ini tidak akan terjadi. Masalah bertubi-tubi datang setelah mereka pindah kemari. Mereka hidup tenang di Amerika dengan aku yang menjaga mereka dari kejauhan."
"Apa maksudnya?"
"APA?!"
"Bahkan jauh sebelum aku tahu jika bayi itu adalah anakmu. Aku sudah menjaga Boy dan ibunya."
Roy mendengarkan dengan seksama semua yang dikatakan Patrick.
"Boy adalah seorang anak yang cukup handal dalam memecahkan kasus yang ditangani FBI. Pihak kami sering meminta bantuan Boy untuk melakukan autopsi. Dari situlah, Conrad Webster, pimpinan FBI mengangkat Boy menjadi agen termuda di FBI."
"Boy dipasangkan denganku sebagai pembimbingnya. Dan kasus pertama yang dia tangani adalah ... Kasus menghilangnya Profesor Gerald."
"Apa?!" Roy menggeleng pelan tak percaya.
"Profesor Gerald masih memiliki 'Green Card'. Itu artinya dia masih terdaftar sebagai warga negara Amerika. Oleh karena itu kasus ini ditangani oleh kami."
"Apa kau menemukan titik terang mengenai kasus ini?"
"Kau sendiri sudah tahu siapa yang terlibat."
"Eh? Maksudmu..." Roy memotong kalimatnya sendiri.
"Zara Asterlita Rayyan. Dia di duga sebagai dalang dari menghilangnya Profesor Gerald. Kau juga sudah menemukan soal itu, bukan?"
"Iya. Aku juga mencurigainya. Tapi, Zara adalah cucu kakek Gerald. Jadi, mana mungkin kalian menjeratnya dengan tindak pidana?"
"Benar. Dia memang keluarga satu-satunya yang dimiliki Profesor Gerald. Tapi tidak menutup kemungkinan jika Zara juga melakukan kekerasan terhadap kakeknya sendiri. Itu bisa di jerat dengan hukuman penjara, Roy. Dan juga ... Tentang menghilangnya orang tua Belinda. Aku curiga jika ini ada hubungannya dengan keluargamu."
__ADS_1
"Keluargaku adalah keluargamu juga, Julian!" seru Roy.
"Aku tahu. Tapi semua sudah berubah, Roy."
"Baiklah. Siapa yang kau curigai?"
"Ayah dan ibumu, Roy."
"Omong kosong! Ayahku adalah ayahmu juga!" ucap Roy tak percaya.
"Aku tidak memintamu untuk mempercayainya. Bukankah tadi kau meminta penjelasanku?"
Roy mendesah kasar. "Apa kau punya bukti?" tanya Roy.
"Kami sedang menyelidikinya."
"Kami? Jangan bilang jika Kenzo juga..."
"Iya, Kenzo juga agen FBI." tegas Patrick.
Roy mengangguk paham.
"Kau sendiri? Ceritakan apa yang terjadi denganmu, Roy? Apa kau sakit? Aku menyelidiki obat yang kau konsumsi itu, dan..."
"Benar, aku sakit, Julian. Bukankah kau sudah tahu sejak kita kecil?"
"Tapi, kupikir kau sudah sembuh."
"Tidak. Tidak ada obat yang bisa menyembuhkanku. Yang ada hanyalah untuk memperpanjang usiaku saja."
Patrick mendesah pelan. "Apa Belinda tahu soal ini?"
"Tidak. Boy dan Belinda tidak tahu. Dan kumohon kau juga merahasiakannya dari mereka."
"Sampai kapan, Roy?"
Roy mengulas senyumnya. "Jika aku boleh meminta bantuan darimu. Maka ... Aku ingin kau menjaga mereka jika terjadi sesuatu denganku."
"Roy!!! Jangan berpikiran pendek begitu!! Kau pasti bisa sembuh. Pasti ada cara! Dengan cangkok jantung mungkin?"
Roy menggeleng. "Sudahlah, Kak. Aku hanya ingin hidup tenang di sisa hidupku. Tapi kenapa rasanya sangat sulit?"
Patrick tidak membalas lagi dan memilih masuk ke dalam rumah. Ia merebahkan diri di sofa.
"Tidurlah, Roy! Besok kita akan sibuk untuk mencari Belinda."
Roy tak menjawab dan memilih pergi ke kamar Boy untuk beristirahat.
......***......
#bersambung
Jangan lupa tinggalkan jejak ya kesayangan 😘😘
👍LIKE
💋COMMENTS
🌹GIFTS
__ADS_1
💯VOTE
...THANK YOU...