Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 88. Kartika Butik


__ADS_3

Pagi hari itu, Lian bergegas bangun dari tidurnya dan mencari keberadaan ayah dan ibunya. Ia bermaksud meminjam ponsel ibu atau ayahnya untuk menghubungi nomor ponselnya.


"Haduh! Masih sepagi ini ayah dan ibu pergi kemana?" Lian celingukan mencari sosok ayah dan ibunya.


Lian mengacak rambutnya frustasi. Ia harus segera menemukan ponselnya.


"Bagaimana jika Kak Julian menghubungiku tapi tidak tersambung? Oh ya ampun!! Aku tidak tahu lagi harus bagaimana!!"


Lian memutuskan untuk membersihkan diri lebih dulu. Usai mandi, Lian memakai setelan kerjanya. Sebuah rok selutut warna hitam dan kemeja berwarna soft pink.


Lian merias wajahnya natural. Sapuan liptint warna nude adalah favoritnya. Rambut sepunggungnya ia gerai bebas seperti biasa.


Sebuah dering yang asing menggema di kamarnya. Itu adalah bunyi dari ponsel milik wanita yang kemarin bertabrakan dengannya.


Lian segera mengangkat panggilan itu.


"Halo," Sapa Lian.


"Halo, maaf, Nona. Saya adalah orang yang kemarin bertabrakan dengan Nona di Mall XYZ. Saya rasa ponsel kita tertukar."


"Ah iya, benar, Nyonya. Saya baru menyadarinya saat semalam saya ingin menghubungi seseorang. Saya benar-benar minta maaf. Saya sangat ceroboh."


"Tidak apa. Saya juga ceroboh."


"Oh ya, kira-kira apa kita bisa bertemu hari ini? Saya sangat membutuhkan ponsel saya, Nyonya."


"Tentu saja. Nona bisa datang ke Kartika Butik. Saya ada disana setiap hari."


"Oh begitu. Kalau begitu saya akan kesana sebelum pergi ke kantor."


"Iya, Nona."


"Sekali lagi saya minta maaf."


Panggilan berakhir. Lian menatap wallpaper yang menampilkan seorang bocah lelaki sedang tersenyum.


"Kau sangat menggemaskan! Pasti orang tuamu sangat bahagia memilikimu." Lian mengusap layar ponsel itu.


"Kenapa aku tidak rela harus mengembalikan ponsel ini?" Lian memegangi dadanya.


"Astaga, Lian! Apa yang kau pikirkan? Sudah saatnya kau berangkat. Kemarin aku lolos tidak dimarahi oleh Kak Julian. Belum tentu hari ini bisa lolos lagi!"


Lian segera menyambar tas slempang andalannya lalu menyapa ayah dan ibunya yang sedang menyantap sarapan bersama.


"Lian, sarapan dulu!" ucap Lusi.


"Wah, sepertinya enak. Oh ya, tadi ayah dan ibu pergi kemana? Aku mencari kalian tapi kalian tidak ada."


"Kami pergi ke pasar, Nak. Produk buatan ayahmu sangat laku di pasaran." cerita Lusi.


"Benarkah? Kalau begitu Ayah harus mematenkan produk ayah. Jangan sampai di dahului oleh pihak yang tidak bertanggung jawab."


"Bagaimana caranya, Nak?" tanya Lono.


"Coba kau tanya pada Nak Julian! Dia pasti bisa membantu ayahmu!" pinta Lusi.


"Ibu! Kita jangan terus bergantung pada Kak Julian. Itu tidak baik!"


"Benar apa kata putri kita. Kita bisa mematenkan produk kita sendiri tanpa harus meminta bantuan pada Nak Julian." tegas Lono.


Lian mengangguk setuju.


"Kalian ini!!! Ayah dan anak sama saja!" sungut Lusi kemudian berlalu dari meja makan.


Lian dan Lono saling ber'tos' ria. "Terima kasih, Ayah. Ayah adalah yang terbaik!"


...*...


...*...

__ADS_1


...*...


Lian dalam perjalanan menuju Kartika Butik. Tanpa jenuh Lian memandangi foto anak lelaki di wallpaper ponsel itu.


"Mungkin jika Rain masih ada, dia pasti sudah sebesar ini sekarang." Mata Lian tiba-tiba mengembun.


"Ya Tuhan! Apa yang aku pikirkan? Aku tidak boleh merutuki takdir Tuhan." Lian mengerjapkan matanya agar tidak menangis.


"Nona, sudah sampai di tempat tujuan." ucap si supir taksi.


"Ah, iya, Pak."


Lian memberikan ongkos taksi kemudian memandangi bangunan butik yang cukup besar dan megah itu.


"Wah! Aku sering mendengar namanya tapi aku baru pertama kali melihat tempat aslinya."


Lian berjalan memasuki butik yang ternyata baru saja buka itu.


"Selamat pagi, ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang pegawai butik ramah.


"Selamat pagi. Saya ingin bertemu dengan Nyonya Kartika. Apa beliau ada?"


"Ibu Kartika belum datang. Silakan Nona tunggu di ruang tunggu saja."


"Oh, begitu ya." Lian mengikuti langkah pegawai butik yang mengantarnya ke sebuah ruang tunggu.


"Nona ingin minum apa?"


"Ah, tidak perlu. Saya hanya sebentar ingin bertemu dengan Nyonya Kartika."


Pegawai itu mengerti kemudian meninggalkan Lian.


Lian menatap sekeliling ruangan yang berwarna soft cream itu.


Tak lama, seorang wanita cantik masuk kedalam ruangan yang ditempati Lian. Lian segera berdiri menyambut kedatangan si pemilik butik.


"Selamat pagi, maaf ya saya sedikit terlambat."


"Tidak apa."


"Maaf dengan Nona..."


"Berlian, panggil saja Lian." Lian mengulurkan tangannya.


"Kartika, panggil saja Tika." Kartika menyambut uluran tangan Lian.


Mereka duduk bersebelahan.


"Jadi, Nyonya Tika adalah pemilik butik ini? Saya sudah sering mendengar tentang Nyonya."


"Oh ya? Benarkah? Saya sangat tersanjung. Saya sendiri tidak tahu jika saya seterkenal itu."


Mereka pun tertawa kecil.


"Oh ya, ini ponsel Nona Lian." Kartika menyerahkan ponsel Lian.


"Ah iya, terima kasih." Lian menerima ponselnya kembali. Kini giliran Lian yang menyerahkan ponsel Kartika. Ada sedikit keengganan saat tangannya menyerahkan ponsel itu.


"Bagaimana kalau kita bertukar nomor ponsel? Sepertinya takdir sengaja mempertemukan kita dengan cara tak terduga." ucap Kartika.


"Boleh. Umm, Nyonya, kalau boleh saya tahu, foto yang ada di ponsel itu..."


"Ah ini adalah putraku."


"Oh begitu ya. Kalau boleh tahu berapa usianya?"


"Tahun ini dia genap berusia 5 tahun."


Lian mengangguk paham.

__ADS_1


"Tolong jangan memanggilku 'nyonya'. Aku tidak setua itu, Nona Lian."


"Ah, kalau begitu bagaimana kalau kupanggil kakak saja?"


"Boleh. Usiaku baru akan menginjak 35 tahun."


"Itu berarti aku lebih muda dari kakak."


Baru saja suasana mencair, tiba-tiba saja ponsel Lian berdering. Lian memutar bola matanya malas. Sudah bisa di tebak siapa yang menghubunginya.


"Maaf, Kak Kartika. Aku harus pergi bekerja." pamit Lian.


"Iya, silakan. Kalau boleh tahu, dimana kau bekerja?"


"Ar-Rayyan Grup."


"Oh, begitu."


Kartika memandangi punggung Lian yang mulai menjauh dari pandangannya.


"Jadi, dia bekerja pada Julian?" Kartika mengusap dagunya.


...*...


...*...


...*...


Sudah bisa Lian duga jika Julian akan murka kepadanya. Lagi-lagi Lian lupa waktu. Lian mengetuk pintu ruang kerja Julian.


"Masuk!" terdengar sahutan dari dalam ruangan.


"Permisi, Kak. Maaf aku datang terlambat. Hari ini aku..."


"Duduklah!"


"Eh?"


"Aku memintamu datang bukan untuk memarahimu. Apa kau pikir aku sejahat itu hingga selalu memarahimu? Apa aku terlihat semenakutkan itu?" tanya Julian yang membuat Lian mematung.


"Ada apa dengannya?" batin Lian.


"Lalu, ada urusan apa kakak memanggilku?" tanya Lian pada akhirnya.


"Apa kau sudah membuka hadiah dariku?"


"Hadiah?" Lian menautkan alisnya.


Lian sampai melupakan jika kemarin Julian memberinya sebuah paper bag.


"Maaf, Kak. Aku belum membukanya." jawab Lian jujur.


"Tidak apa. Kau bisa membukanya nanti. Yang terpenting adalah kau menerimanya."


Lian tak mengerti dengan arah pembicaraan Julian.


"Menerimanya?"


"Iya. Aku sangat berharap kau bisa menerimanya."


Julian menatap Lian dengan tatapan yang tak biasa. Bukan seperti Julian yang Lian kenal lima tahun ini.


"Kenapa dia menatapku begitu? Itu mengingatkanku pada seorang sahabat yang telah lama menghilang. Tatapan itu adalah milik Patrick."


Mata Lian mengembun kala ingatannya memutar memori tentang kebersamaannya bersama Patrick, sahabat terbaiknya.


...B E R S A M B U N G...


"Kira2 Julian kasih hadiah apa ya ke Lian?" 😯😯😯

__ADS_1


__ADS_2