Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 92. Terbongkar (1)


__ADS_3

Beberapa hari kemudian,


Lusi mondar mandir tak tenang di rumahnya. Sudah beberapa hari berlalu sejak ia meminta tolong pada Julian namun hingga kini belum ada jawaban dari Julian.


Lusi yang melihat Lian sedang bersiap pergi ke kantor, tiba-tiba menghentikannya.


"Tunggu, Nak!"


"Ada apa, Bu?" tanya Lian sambil membereskan barang yang akan ia bawa.


"Umm, apa Nak Julian sangat sibuk?"


Lian menatap ibunya. "Tentu saja dia sangat sibuk. Apalagi besok adalah peluncuran produk baru kami."


"Begitu ya." Lusi terlihat kecewa.


"Bu, aku berangkat dulu ya!"


"Iya, Nak. Hati-hati."


Lusi mengantar Lian hingga taksi yang membawa putrinya menghilang dari pandangan.


"Bu, apa yang sedang kau lakukan?" tanya Lono yang melihat istrinya masih berdiri di luar rumah.


"Tidak ada, Ayah. Aku hanya mengantar putri kita."


"Tolong buatkan kopi untukku. Aku harus kembali bekerja."


"Baiklah, suamiku."


Lusi mengekori suaminya. Hatinya masih tak tenang karena Julian seakan menggantungnya.


"Apa sebaiknya kuhubungi Nak Julian saja ya?" Gumam Lusi.


"Apa ibu mengatakan sesuatu?" Tanya Lono yang mendengar istrinya bergumam.


"Ah tidak, Ayah. Mungkin ayah salah dengar. Kalau begitu ibu akan buatkan kopi dulu untuk ayah."


Lima menit kemudian, Lusi mengantarkan kopi pesanan suaminya ke ruang kerja.


"Ini kopinya, Ayah!" Lusi meletakkan secangkir kopi di atas meja.


"Terima kasih, Bu."


Lusi langsung keluar dan tak bicara apapun lagi. Tekadnya sudah bulat. Ia harus segera menghubungi Julian untuk mengetahui perkembangan proposal yang ia berikan.


Lusi menunggu dengan harap-harap cemas.


"Halo," sapa Julian di seberang.


"Halo, Nak Julian. Ini ibunya Lian."


"Oh, iya Bibi. Ada apa?"


"Begini, aku ingin menanyakan soal proposal yang kemarin aku titipkan pada Nak Julian."


"Eh? Proposal?" Julian terdengar bingung.


"Iya. Malam itu setelah mengantar Lian pulang, aku memberikan proposal didalam map pada Nak Julian."


"Oh, iya, iya. Maafkan aku, Bi. Aku lupa. Tapi sudah kutaruh diatas meja kerjaku. Nanti akan kutinjau dulu."


"Begitu ya. Baiklah. Maaf jika aku mengganggu waktu Nak Julian. Sekali lagi terima kasih."


"Sama-sama, Bi."


Panggilan berakhir. Lusi bernafas lega.


"Huft! Semoga saja Nak Julian bisa membantu kami."

__ADS_1


......***......


Disisi lain, akhirnya Roy menemukan seorang pria bernama Wahyudi yang pernah di katakan oleh Helena. Wahyudi mengetahui dengan pasti siapa dalang dibalik menghilangnya orang-orang di desa Lian.


Roy meminta Ben agar bisa membawa Wahyudi ke hadapannya.


"Kenapa Tuan ingin bertemu dengannya? Bukankah hubungan Tuan dan Nona Lian sudah berakhir? Apa perlu membuktikan pada orang tua Nona Lian jika Tuan tidak bersalah?" Tanya Ben.


"Aku harus membuktikan jika diriku tidak bersalah, Ben. Orang tua Lian juga harus tahu siapa yang sudah melakukan ini pada mereka."


"Lalu setelahnya, apa Tuan ingin kembali bersama Nona Lian?"


"Tentu saja! Lian harus kembali padaku!" Tegas Roy.


Setelah menunggu selama satu jam, Ben tiba bersama seorang pria bernama Wahyudi.


Roy membawa Wahyudi ke sebuah kamar hotel untuk bicara. Ini adalah kesempatan bagus karena Julian sedang sibuk dengan proyek barunya. Jadi di saat lengah, Roy memanfaatkan situasi.


"Selamat siang, Pak Wahyudi. Saya adalah Roy Avicenna. Pasti bapak sudah mendengar tentang keluarga saya."


Wahyudi yang nampak takut hanya bisa menganggukkan kepala.


"Jangan takut, Pak. Saya hanya ingin bertanya. Karena ini adalah masalah reputasi saya di depan keluarga istri saya." ucap Roy.


"Apa yang Tuan inginkan? Bukankah semua keluarga Avicenna sama saja? Mereka hanya bisa menginjak injak orang miskin."


"Tolong jangan salah sangka. Tuan saya bukanlah orang jahat." Bela Ben.


Roy meminta Ben untuk diam dan tidak ikut campur urusannya.


"Siapa yang datang hari itu ke kampung bapak? Kenapa penduduk kampung tidak ada yang mau bicara? Dan kenapa bapak bersembunyi?" Roy bertanya to the point dengan nada tegas namun tidak menakutkan. Malah terdengar Roy memohon pada Wahyudi agar mau bicara jujur.


Wahyudi nampak menimang nimang untuk bicara.


"Jangan takut! Saya tidak akan menyakiti bapak. Bahkan saya bersedia membebaskan bapak dari belenggu ketakutan yang selama ini bapak alami."


Roy memerintahkan Ben untuk menunjukkan beberapa foto. Foto itu adalah foto anggota keluarga Avicenna dan orang-orang di sekitar keluarga Avicenna.


Wahyudi meneliti foto itu satu persatu. Sudah hampir 12 tahun. Tentu saja semuanya terasa sulit. Apalagi Wahyudi juga sudah mulai berumur senja.


Roy menunggu dengan memijat pelipisnya pelan.


"Ya Tuhan! Semoga firasatku tidak benar. Kak Julian, kau tidak akan melakukan ini, bukan?" Batin Roy.


"Ini!" Wahyudi menunjuk satu foto.


Ben dan Roy saling pandang diiringi ekspresi terkejut.


"Baiklah. Setelah ini, saya akan pastikan jika kampung nelayan tempat tinggal bapak dulu, akan kembali seperti semula. Ben, tolong kau urus semuanya!"


"Baik, Tuan! Lalu masalah orang itu..."


"Aku yang akan mengurusnya bersama Lian."


"Baik, Tuan. Mari Pak Wahyudi. Saya akan mengantar Anda kembali."


......***......


Di dalam ruangannya, Julian mencari berkas yang dikatakan oleh Lusi tadi. Sudah lama mencari namun apa yang dimaksud Lusi tetap tidak dia temukan.


"Kemana map itu? Aku sangat yakin menaruhnya di atas mejaku. Leon!!"


Seperti biasa hanya Leon orang yang bisa menyelesaikan masalah untuk Julian.


"Leon!"


"Iya, Tuan."


"Apa kau melihat map di atas meja?"

__ADS_1


"Map? Map yang mana, Tuan? Bukankah banyak sekali berkas yang ada di meja Tuan!"


"Argh! Kau juga tidak bisa diandalkan!" Geram Julian.


"Tuan, sebentar lagi peluncuran produk baru Ar-Rayyan Grup. Sebaiknya Tuan bersiap. Semuanya sedang menunggu kehadiran Tuan."


Julian mendesah pelan.


"Baiklah. Aku akan segera kesana."


Sepeninggal Leon, Julian kembali memikirkan tentang permintaan Lusi.


"Maafkan aku, Bibi. Aku akan mengurus proposalmu nanti," ucapnya dalam hati.


.


.


.


Keesokan harinya di rumah kelurga Berlian,


Lusi sedang menonton acara di televisi yang menampilkan berita peluncuran produk Ar-Rayyan Grup yang baru.


"Sayang, cepat kemari! Perusahaan Nak Julian meluncurkan produk baru!" Seru Lusi memanggil Lono, suaminya.


"Ada apa, Bu? Kenapa kau berteriak?" Lono datang tergesa menuju ruang TV.


"Kemarilah, Ayah! Lihatlah putri kita bersama dengan Nak Julian ada di televisi. Mereka sangat cocok ya!"


"Ish, Ibu! Kau masih tidak menyerah ya! Biarkan putri kita memilih pilihannya sendiri."


Lusi mengerucutkan bibirnya. Kini mereka mendengarkan berita di TV dengan seksama. Namun setelahnya, ekspresi wajah mereka berubah 180 derajat.


"Apa ini, Bu? Bukankah produk yang mereka luncurkan adalah produk yang kubuat? Bagaimana bisa mereka mendapatkan komposisi yang sama dengan yang aku buat?" Lono menatap tajam ke arah istrinya.


"Ayah! Tolong dengarkan aku dulu!" Lusi mulai menyadari kesalahannya.


"Tega sekali kau, Bu!" Lono berlalu meninggalkan istrinya.


Saat Lian kembali dari kantor, ia melihat suasana yang berbeda diantara ayah dan ibunya. Mereka duduk berhadapan namun tak bicara apapun.


"Ayah, ibu! Ada apa ini?" Tanya Lian menatap ayah dan ibunya bergantian.


"Tanyakan saja pada ibumu ini!" jawab Lono.


Lian makin tak mengerti dengan situasi ini.


"Ibu, cepat jelaskan padaku!"


"Ayah, ibu minta maaf. Ibu tidak tahu jika Nak Julian akan mengkhianati kita!"


"Apa?! Mengkhianati?" Lian menautkan alisnya.


"Iya, Nak. Ibumu ini memberikan proposal pada Julian tentang produk yang ayah buat dengan harapan bisa membantu untuk mematenkan hak milik produk pada ayah. Tapi nyatanya, pria bernama Julian itu hanya memanfaatkan ibumu dan malah mengklaim produk itu sebagai milik perusahaannya," jelas Lono dengan berapi-api.


Tubuh Lian mendadak lemas. Ia terduduk lesu.


"Tidak mungkin! Kenapa aku tidak menyadarinya? Kenapa aku terlalu tak acuh dengan apa yang sedang ayah lakukan? Ini semua salahku!" Gumam Lian.


"Apa yang kau katakan, Nak? Ini bukan salahmu!" Lono memegangi bahu Lian.


"Ayah..."


"Sekarang kau tahu 'kan, Bu! Jika Julian itu tidak sebaik yang kau kira!" Tutup Lono sebelum akhirnya meninggalkan Lian dan ibunya yang masih mematung.


...B E R S A M B U N G...


"Kira2 foto siapa yg ditunjuk oleh Wahyudi? Lalu apa yang akan Lian lakukan dengan Julian yg diduga mengkhianati keluarganya?"

__ADS_1


__ADS_2