Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 145. M A A F


__ADS_3

...Satu kata yang memiliki berjuta makna...


...Karena bisa terucap tulus dari hati...


...Atau hanya bibir saja yang bicara...


...Satu kata yang bisa mengubah segalanya...


...M A A F...


......***......


Maliq kembali masuk ke dalam rumah sakit dan mencari keberadaan Dion dan Boy. Choky memberitahu jika mereka pergi ke ruang kerja Boy.


Maliq yang akan masuk ke dalam, tiba-tiba terhenti karena mendengar perdebatan antara putranya dan putra sahabatnya. Mereka membicarakan satu perempuan yang juga dicintai oleh putranya, Rion.


Maliq menghembuskan napas kasar ketika melihat Dion keluar dengan wajah merah padam. Merasa kasihan terhadap Boy, Maliq pun masuk ke dalam ruangan itu. Maliq mengenal Boy sejak ia masih kecil. Ia sudah menganggap Boy seperti putranya sendiri.


"Nak..." panggil Maliq dengan suara lembut.


"Apa Paman mendengar semuanya?" tanya Boy tanpa basa basi.


"Iya, Nak. Maaf jika Paman ikut campur urusan kalian. Tapi, kalian adalah anak-anak Paman. Paman menyayangi kalian semua. Paman tidak ingin ada perpecahan diantara kalian hanya karena seorang gadis."


"Maafkan aku, Paman. Ini semua salahku. Aku yang sudah bermain api. Jadi, aku yang harus menanggung akibatnya."


"Sudah, Nak. Jangan menyalahkan dirimu lagi. Rion juga salah karena sudah memukulmu. Paman sudah memintanya untuk minta maaf. Kalian bersahabat sejak remaja. Paman tidak ingin hal seperti ini terulang kembali."


"Iya, Paman. Dan tolong rahasiakan semua ini dari Papaku. Aku tidak ingin dia kecewa padaku."


"Iya, Nak. Kau tenang saja. Lanjutkan obati lukamu. Maaf atas sikap Dion tadi." Maliq menepuk bahu Boy.


"Tidak masalah, Paman."


......***......


Malam harinya, Boy berkutat lagi dengan pekerjaannya di ruang kerja. Seharian ini pekerjaannya terbengkalai karena insiden bersama Rion tadi.


Saat sedang fokus mengecek laporan perusahaan, sebuah getaran dari ponsel Boy membuatnya menjeda pekerjaannya.


"Kenji? Ada apa dia meneleponku?" gumam Boy.


"Halo, buddy. Apa kabarmu?" suara Kenji terdengar lantang di seberang sana.


"Ish, kau! Tidak perlu berteriak! Aku tidak tuli." jawab Boy kesal.


"Maaf, kawan. Aku sedang berada di klub."

__ADS_1


"Ya ampun! Apa kau belum berhenti juga jadi cassanova?"


"Aku masih menikmatinya, Boy."


"Ck, hati-hati. Pakailah pengaman selalu. Jangan sampai kau menghamili seorang gadis."


"Itu tidak akan terjadi, Boy. Oh ya, omong-omong soal pengaman, aku sudah mengirim paket untukmu. Kau tahu, formula ini bekerja lebih cepat dan kuat, namun membuatmu slow dalam bermain."


Boy menggeleng pelan. "Paket? Apa paket ini yang dimaksud Kenji?" batin Boy. Sebelum menuju ke ruang kerjanya, seorang asisten menghentikan Boy dan memberikan sebuah kotak paket.


"Boy! Halo! Kau masih disana?" teriak Kenji.


"Eh? Iya, kenapa Ken?"


"Kau sudah terima paketnya atau belum?"


"Sudah, Ken. Terima kasih."


"Semoga kau dan Natasha selalu bahagia. Karena sejatinya pernikahan akan terasa hambar tanpa sebuah hubungan intim."


Boy hanya tersenyum getir.


"Oke! Aku hanya ingin memberitahu soal itu saja. Kalau begitu aku tutup teleponnya. Bye, buddy!"


"Bye!"


Ada rasa tak biasa ketika melihat paket itu. Hubungannya dengan Natasha mulai renggang sejak Natasha memutuskan untuk memulai bisnis produk kecantikan bersama Sean setahun lalu.


Boy tak bisa melarangnya karena ia sudah berjanji akan selalu mendukung karir Natasha. Namun kini semua itu mulai disesalinya.


Ia terlalu lemah di depan Natasha. Ya, saat itu ia hampir saja memutuskan pertunangan dengan Natasha karena kehadiran Aleya dalam hidupnya. Tapi Natasha melakukan hal nekat dan hampir depresi.


Kenzo dan Riana memohon agar Boy kembali bersama Natasha. Hingga akhirnya mereka menikah dan Boy berusaha melupakan Aleya.


Hubungan mereka berjalan baik-baik saja hingga beberapa tahun ini. Tapi Boy merasa Natasha banyak berubah. Dia bukan lagi Natasha yang Boy kenal dulu.


Gadis manis yang ceria itu berubah menjadi angkuh dan semena-mena. Ia bahkan tega mengabaikan putrinya sendiri hanya karena urusan pekerjaan. Selalu alasan karir yang Natasha utarakan pada Boy.


Karena tak ingin berdebat, Boy memilih mengalah. Ia masih yakin jika pernikahan mereka akan tetap bertahan karena adanya Aurel diantara mereka.


Boy kembali tersenyum getir saat melihat sebotol obat pemberian Kenji. Hingga saat ini Natasha tak pernah tahu soal penyakit Boy.


"Kau benar, Natasha. Semua orang punya rahasia. Dan tidak sepantasnya orang lain tahu mengenai rahasia kita. Biarlah semua akan tetap menjadi rahasia." Boy menenggak satu butir pil yang baru Kenji kirim. Ia mengambil air putih dan meminumnya untuk memastikan obat itu bekerja dengan baik.


Tubuh Boy mulai terasa panas. Kenji benar. Cara kerjanya sungguh lebih cepat dibanding obat sebelumnya.


Boy berjalan lunglai menuju kamarnya. Sudah pukul satu dini hari. Ia yakin jika Natasha sudah kembali.

__ADS_1


Begitu memasuki kamar, Boy melihat Natasha sudah tertidur pulas. Tanpa persiapan apapun Boy langsung menyingkap selimut yang membungkus tubuh Natasha.


"Maafkan aku, Nat. Aku sudah tidak tahan lagi," ucap Boy yang sudah dipenuhi hasrat lelakinya.


Natasha terkejut karena Boy sudah berada diatasnya dan menyingkap gaun tidurnya.


"Boy! Apa yang kau lakukan? Hentikan!" Suara Natasha tercekat karena Boy segera membungkamnya.


Tanpa pemanasan Boy memasuki Natasha. Sebuah pekikan lolos dari bibir Natasha.


"Ah! Hentikan, Boy! Kau menyakitiku!"


"Diamlah! Aku yakin kau akan menikmatinya!"


Boy melepaskan satu persatu kain yang menempel pada tubuh istrinya. Meski sudah sedikit terlambat.


Gerakan Boy mulai membuat Natasha melayang. Ia tak lagi bersuara. Hanya dehaman kenikmatan yang terdengar.


"Maafkan aku, Aleya. Aku harus melupakanmu. Aku pasti bisa melupakanmu," racau Boy di sela aktifitas panasnya bersama Natasha.


Natasha yang mendengar lirihan Boy segera mendorong tubuh Boy menjauh.


"Siapa yang kau sebut tadi, huh! Kau menyebut nama wanita lain saat kita sedang bercinta? Brengsek kau, Boy!" Natasha segera turun dari tempat tidur.


"Nat, maafkan aku! Maaf!" Boy mencekal tangan Natasha.


"Kau masih mengingatnya, huh! Mau sampai kapan bayang-bayangnya akan selalu ada dalam pernikahan kita? Cinta sesaatmu itu nyatanya menjadi cinta sejatimu! Begitukah Tuan Boy Avicenna? Jika saja Papa dan Mama tahu soal ini, apa kau bisa menjelaskan pada mereka? Ingat baik-baik, Boy! Aku tidak akan membiarkan satu orang pun merebut apa yang sudah menjadi milikku! Camkan itu!"


Natasha memunguti gaun tidurnya dan dipakainya kembali. Ia keluar kamar dan menuju kamar Aurel.


Sementara Boy merutuki dirinya sendiri karena hasratnya kembali tertunda. Ia menuju kamar mandi untuk mendinginkan suhu tubuhnya.


"Sial! Kenapa aku malah mengingat Aleya saat bersama Natasha? Kau memang payah, Boy!"


Boy memukul cermin di kamar mandi dan membuat tangannya terluka. Darah segar mengucur dari tangan kanan Boy.


"Aleya! Sepertinya aku memang tidak bisa melupakanmu. Maafkan aku, Aleya. Maafkan aku..." gumam Boy dengan memandangi pantulan dirinya sendiri pada cermin yang retak itu.


...B E R S A M B U N G...


*Sebuah kata maaf ada kalanya akan tetap menorehkan luka pada yang mendengarnya meski disana ada sebuah penyesalan


...-Makthor-...


......***......


...Happy Saturday...

__ADS_1


...Happy weekend all...


__ADS_2