
Julian kembali ke kamarnya setelah melihat adegan mesra antara Lian dan Roy. Entah kenapa hatinya bergemuruh. Bertahun-tahun hatinya beku dan tak tersentuh. Kini hatinya mulai menghangat karena kehadiran Kartika. Namun ingatan masa lalunya membuat hatinya bimbang.
Julian memilih merebahkan diri disamping tubuh istrinya yang telah lebih dulu berada di tempat tidur. Ia memandangi Kartika yang terpejam dengan tubuh membelakanginya.
Kartika sebenarnya masih belum tertidur pulas. Ia hanya menghindar dari suaminya yang akhir-akhir ini bersikap tak seperti biasanya. Julian yang kini menjadi suaminya seakan berubah menjadi Julian yang sebelumnya.
Kartika terperanjat ketika merasakan tangan kekar Julian memeluknya. Kepala Julian ditelusupkan ke ceruk leher Kartika. Namun Kartika memilih diam dan berpura-pura tak tahu.
Kartika tersenyum karena Julian ternyata masih peduli padanya. Sedikit perhatian saja sudah membuatnya amat bahagia. Hingga akhirnya Kartika benar-benar memejamkan mata dan menuju ke alam mimpi. Rasanya malam ini menjadi malam dengan mimpi yang indah.
Esok paginya, Kartika terbangun dengan tangan Julian yang setia memeluknya. Hatinya amat bahagia. Ia membalikkan badan dan melihat prianya masih terpejam.
Kartika mengelus rahang kokoh Julian.
"Aku mencintaimu Julian. Selalu mencintaimu. Jangan pernah pergi dariku ataupun berubah," lirih Kartika.
"Aku mendengarnya, sayang. Ucapkan yang keras."
"Julian? Kau sudah bangun?"
"Hm, aku sudah bangun."
Untuk beberapa saat mereka saling menatap tanpa kata. Tanpa bicara lagi Julian menarik tengkuk Kartika dan membuat tubuh mereka tak berjarak.
Julian melakukan pagutan yang sangat lembut hingga beberapa menit berlalu.
"Aku ingin kita pindah dari sini," ucap Julian.
"Eh?" Kartika terkejut.
"Jangan berpikiran buruk. Aku hanya ingin kita memiliki privasi sendiri. Disini, Roy bersama Lian dan kedua putra mereka juga kedua orang tua Lian. Aku juga memiliki rumah yang di wariskan oleh Kakek Gerald. Aku harus menjaga rumah itu sampai Zara keluar dari tahanan."
Kartika terdiam. Tentu saja dia senang karena hanya hidup berdua bersama dengan Julian. Tapi di sisi lain, ia juga sedih karena harus tinggal berjauhan dengan Nathan.
"Apa kau sedih karena tidak bisa bertemu Nathan setiap hari?" Pertanyaan Julian seakan mengetahui isi hati Kartika.
Kartika tidak menjawab dan hanya menatap Julian sendu.
"Kau bisa menemuinya kapanpun kau mau. Bahkan saat liburan kita akan minta ijin pada Roy dan Lian agar bisa membawa Nathan menginap di rumah kita. Bagaimana?"
"Terserah kau saja. Aku adalah istrimu. Tentu saja aku harus ikut kemanapun kau pergi."
"Terima kasih," balas Julian dengan membawa Kartika dalam dekapannya.
......***......
Setelah bertahun-tahun hidup di negeri orang, Kenzo dan keluarga kecilnya kembali ke negara asal Riana, istri Kenzo. Sebenarnya kembalinya mereka ke Indonesia karena rengekan si putri cantik mereka yang sudah merindukan sahabat kecilnya.
"Dad, apa Daddy sudah menghubungi Uncle Roy? Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Boy." Lagi-lagi Natasha, putri Kenzo dan Riana merengek agar segera bertemu dengan Boy.
Selama tinggal di luar negeri, Boy dan Natasha memang sangat dekat dan mereka bersahabat. Kondisi Riana yang tidak memungkinkan untuk hamil membuat Kenzo akhirnya memilih jalan pintas dengan melakukan kloning menggunakan tubuh Boy. Kecanggihan teknologi yang di kembangkan Noel nyatanya berguna untuk kehidupan orang lain.
__ADS_1
"Daddy tidak menghubungi siapapun, Nak. Bukankah kau ingin memberi kejutan untuk Boy?"
"Ah, begitu. Baiklah, Dad. Lagi pula ulang tahun Boy adalah besok. Ini pasti akan jadi kejutan yang menyenangkan untuk Boy." Natasha amat tak sabar menunggu hari esok.
Riana menatap Kenzo dengan penuh tanya.
"Tenang saja, sayang. Aku sudah siapkan sebuah tempat tinggal untuk kita." Kenzo merangkul bahu Riana dengan penuh cinta.
"Baiklah. Aku percayakan semuanya padamu. Ayo!"
Mereka bertiga melangkah keluar meninggalkan bandara.
.
.
.
Hari ini adalah hari ulang tahun Boy yang ke 12. Lian menyiapkan pesta kecil-kecilan untuk merayakan hari jadi putra sulungnya itu.
"Undanglah beberapa teman sekolahmu, Nak," ucap Lian.
"Tidak perlu, Ma. Aku lebih suka merayakannya dengan orang-orang terdekat saja."
"Hm, baiklah. Terserah kau saja." Lian mencoel hidung Boy gemas.
Malam hari ketika semua orang telah berkumpul, Boy menutup mata melakukan sebuah permintaan sebelum meniup lilin ulang tahunnya.
"Apa permintaanmu, Boy? Apa kau meminta supaya aku datang?" Suara khas Natasha membuat semua orang yang hadir menoleh kearahnya.
Boy mengernyitkan dahi. "Natasha?"
Natasha tersenyum. "Iya, Boy. Ini aku!" Ia berlari kearah Boy dan langsung memeluknya.
"Aku merindukanmu, Boy," ucap Natasha.
Lian yang melihat putra sulungnya dipeluk oleh seorang gadis seumurannya pun merasa cemburu.
"Maaf kami datang tanpa pemberitahuan." Suara Kenzo membuat perhatian mereka kini kembali beralih pada Kenzo dan Riana yang masuk setelah putri mereka.
"Riana!" Lian berseru gembira. Mereka berduapun berpelukan.
"Sudah lama sekali ya!" ucap Lian.
"Iya. Bertahun-tahun kita tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?"
"Hei, Ri. Harusnya aku yang bertanya begitu." Kemudian mereka berdua tertawa.
Suasana makan malam pun terasa hangat dengan kedatang tiga tamu di rumah keluarga Avicenna. Perbincangan nostalgia tercipta diantara mereka.
Usai makan malam, Natasha mengajak Boy berkeliling rumah besar Avicenna.
__ADS_1
"Kau tinggal di istana yang sangat megah, Boy. Aku iri padamu."
"Ini bukan rumahku, ini rumah keluarga Papaku."
"Tapi kau akan mewarisinya suatu hari nanti. Aku ingin melihat kamarmu, ajak aku kesana!"
"Iya, ayo baiklah."
Mereka berdua naik ke lantai atas dan menuju ke kamar Boy. Sedari tadi Julian memperhatikan tingkah kedua anak itu. Ia merasa ada yang aneh dengan sikap Natasha.
"Julian, ada apa? Semua orang menunggu di ruang keluarga. Ayo kita ikut bergabung," ajak Kartika dengan menggamit lengan Julian.
Julian mengangguk dan mengikuti langkah Kartika.
Tiba di ruang keluarga, Roy dan Kenzo sedang berbincang dengan seru. Begitu pula dengan Lian dan Riana.
Julian duduk bersama Kartika dan memperhatikan semua orang.
"Ehem!" Julian menginterupsi.
"Oh, Pat, maaf." Kenzo menghentikan obrolannya dengan Roy.
"Maaf jika aku mengganggu obrolan kalian, tapi ... ada yang harus kusampaikan. Ini tentang ... putri kalian, Natasha," buka Julian dengan suara tegas namun perlahan.
Kenzo dan Riana saling tatap.
"Ada apa dengan putri kami?" tanya Riana.
"Maaf jika aku harus mengatakan ini, tapi ... aku merasa ada yang aneh dengan putri kalian. Eksperimen yang dilakukan Noel sebelumnya tidak pernah melakukan kloning dari tubuh pria ke tubuh wanita. Maksudku aku takut jika ada sesuatu yang salah dengan ini. Dulu saat kami melakukan kloning Belinda, semuanya nampak sama, namun sifat dan tindakannya sangat mudah kita atur karena dia tetap saja manusia buatan. Lalu anak kalian..."
Semua terdiam mendengarkan apa yang akan dikatakan Julian.
"Kau juga tidak meminta pendapatku lebih dulu saat melakukannya. Aku tahu saat itu hubungan kita sedang buruk, tapi aku tetaplah kawanmu, Ken. Aku tetap peduli padamu meski aku menjadi orang yang jahat pada keluargaku sendiri," sesal Julian.
Riana nampak terdiam. Ia memang merasa jika Natasha amat berbeda dengan anak seusianya meski tubuhnya memang bisa tumbuh karena mengikuti pertumbuhan dari usia tubuh Boy.
"Lalu apa yang harus kita lakukan, Pat?" tanya Kenzo.
"Kita tunggu perkembangannya. Jika memang ada yang tidak beres. Itu berarti Noel sengaja melakukannya untuk menjebak kita. Kau tahu bukan jika dia mendekatiku dan Kakek Gerald hanya untuk membalas dendam. Tidak menutup kemungkinan jika dia juga hanya ingin mengerjaimu saja."
Semua orang kembali terdiam dan hanyut dalam pikiran masing-masing. Terlebih Lian yang merasa jika Julian bukanlah Julian yang seperti biasanya.
Kak Julian tidak mengingatku, tapi dia bahkan mengingat dengan jelas insiden kloning Belinda dengan baik. Sebenarnya apa yang terjadi? Apa Kak Julian menyembunyikan sesuatu? Apa ingatannya sudah kembali? Batin Lian.
...B E R S A M B U N G...
"Seperti apa Natasha yang sebenarnya? Apakah dia akan menjadi manusia buatan yang jahat? Lalu bagaimana dengan Boy yang menganggapnya sebagai sahabat? Akankah Boy percaya jika Natasha bukan seperti yang dia bayangkan?"
...Happy Monday...
Senin Ngangenin...😘😘
__ADS_1