Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 172. Memilih Pergi


__ADS_3

...Hati, tidak akan bisa tertebak...


...Meski kau mencoba untuk merabanya...


......***......


Rion dan Shelo makan di sebuah warung tenda yang menjual nasi goreng dan teman-temannya. Shelo nampak sama sekali tak masalah dengan semua hal yang berbau sederhana.


Dulu, Rion sempat berpikir jika Shelo adalah anak yang manja dan tidak mandiri karena dia dibesarkan dengan kemewahan yang dimiliki oleh kedua orang tuanya. Namun yang dilihatnya kini membuat Rion mengubah pemikirannya tentang Shelo.


"Kupikir gadis kaya sepertimu tidak terbiasa dengan makanan pinggir jalan seperti ini," tutur Rion jujur.


Shelo tertawa. "Jadi, kenapa kakak tidak membawaku ke resto mewah? Kenapa kakak malah membawaku kemari?"


Pertanyaan Shelo membuat Rion tersentak. Ia kembali menjawab dengan sesuatu yang juga menohok.


"Lantas kenapa kau tidak menolaknya saja? Kau bisa menyebutkan salah satu restoran mewah yang ada di kota ini dan aku akan membawamu kesana. Kau sendiri yang bilang jika kau tidak masalah dengan makanan pinggir jalan," tukas Rion.


Shelo menghentikan makannya. Ia menatap Rion yang duduk di depannya dengan tatapan menusuk.


"Aku tahu apa yang ingin kakak bicarakan! Kakak pasti ingin membahas soal perjodohan kita, kan? Tapi bukan seperti ini caranya!"


Shelo menghela napas sebelum melanjutkan kalimatnya.


"Aku juga masih belum bisa menerima perjodohan ini. Tapi, aku berusaha menghargai keputusan kedua orang tua kita. Aku berusaha mengenal kakak dan menerima semua takdirku. Tapi, jika kakak tidak berusaha untuk memahami diriku, maka semua ini tidak bisa dilanjutkan. Apa kakak masih dibayang-bayangi masa lalu kakak? Jika iya, katakan saja langsung semuanya pada bibi Marinka dan jangan memberikan harapan pada orang tua kita masing-masing."


Rion terdiam dengan semua kata-kata Shelo. Ia tak mengira jika gadis 17 tahun itu sangatlah dewasa.


Shelo beranjak dari duduknya karena Rion tak juga menjawab. Ia berjalan menyusuri trotoar sendirian dengan kesal.


"Bagaimana bisa ada pria yang berpikir picik seperti itu? Apa dia sama sekali tidak memikirkan bagaimana perasaanku? Dasar egois!" Gumam Shelo dengan menghentakkan kakinya kesal.


"Shelo!" Sebuah suara tak menghentikan langkah Shelo.


"Shelo, aku minta maaf!" Rion mencekal tangan Shelo.


Shelo menatap Rion jengah.


"Paling tidak izinkan aku untuk mengantarmu pulang. Aku sudah berjanji pada orang tuamu untuk membawamu kembali pulang dengan selamat," bujuk Rion.


"Baiklah," balas Shelo pasrah. Saat ini ia tak bisa bersikap seenaknya karena ada hati orang tua yang harus ia jaga.


......***......


Satu minggu kemudian,


Di sebuah dusun yang jauh dari jangkauan luar dan tertutup kabut, seorang pria sedang duduk sendiri sambil memandangi langit. Suara binatang malam yang bersahutan menjadi teman setianya satu minggu ini.

__ADS_1


Tak lama seorang pria lain menghampiri pria yang duduk tadi. Pria itu menepuk pelan pundak temannya.


"Jika kau datang kesini hanya untuk duduk sendiri sepanjang waktu, maka sebaiknya kau kembali ke rumah!" tegas pria itu.


"Ish, kau! Kau sendiri sudah berada disini selama bertahun-tahun dan kau tidak memberitahuku!" sungut pria satunya tak mau kalah.


"Dengar, Rion! Kau pergi dari rumah hanya untuk menghindari perjodohanmu dengan Shelo, bukan?" Pria itu menggeleng pelan.


"Sudahlah, Boy. Paling tidak kita juga melakukan hal yang sama, kita sama-sama kabur dari rumah sebagai pelampiasan!"


Pria yang tak lain adalah Boy menimpuk Rion dengan sebuah bantal sofa.


"Jangan bercanda! Aku sudah merencanakan ini jauh sebelum semuanya terjadi. Sudah malam, sebaiknya kau tidur. Besok ikutlah denganku datang ke rumah sakit. Aku membutuhkanmu disana."


.


.


.


...Pagi mendera jiwa-jiwa yang meronta...


...Tak ada salahnya kami pergi...


...Hanya untuk sekedar menenangkan hati,...


Rion berjalan malas ke sebuah tempat yang di sebutkan Boy semalam. Sebuah rumah sakit? Rion tak mengerti kenapa Boy memilih membangun rumah sakit di dusun terpencil yang masih menjadi bagian dari desa Selimut.


Beberapa waktu lalu, Rion menemui Choky untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan Boy. Choky bilang jika Boy memang sudah merencanakan pembangunan proyek rumah sakit ibu dan anak di dusun terpencil ini sejak tiga tahun lalu.


Rion tidak menyangka jika hubungan Boy dan Aleya berakhir begitu saja karena ego masing-masing. Rion menggeleng pelan dan melanjutkan langkahnya.


Rion tertegun ketika melihat plang yang terpasang di depan halaman rumah sakit.


"Rumah sakit ibu dan anak 'Aleya'?" gumam Rion.


Rion menghela napas. "Ternyata Boy memang masih mengenangnya hingga memberi nama rumah sakit ini dengan nama Aleya."


Rion memasuki rumah sakit yang cukup ramai karena banyak warga yang akan memeriksakan kondisi kesehatannya. Boy mengajak beberapa dokter umum untuk berjaga di IGD dan juga beberapa perawat yang bersedia untuk bekerja di tempat terpencil.


"Dokter Rion!" panggil seseorang yang adalah Boy.


Rion memutar bola matanya malas. Boy menghampiri Rion yang masih berdiri mematung.


"Pasien anak-anak di dusun cukup banyak. Kuharap kau bisa membantu hingga aku menemukan dokter anak yang bersedia bekerja disini," ucap Boy sambil menepuk pelan bahu Rion.


"Ya ya, baiklah," jawab Rion malas.

__ADS_1


"Jangan begitu. Anggap saja kau sedang menumpahkan pelampiasanmu dengan mengabdikan diri di rumah sakit ini," nasihat Boy.


"Kau sendiri bagaimana? Apa kau sudah menemukan apa yang kau cari? Kau bahkan meninggalkan semuanya untuk tinggal disini."


Boy terdiam. "Kau benar. Aku meninggalkan segalanya hanya karena egoku."


"Bagaimana dengan Aurel?"


"Dia sering mengunjungiku disini."


"Baguslah!"


Kemudian mereka berdua sama-sama terdiam.


"Dokter Boy! Ada seorang pasien yang akan melahirkan," ucap seorang perawat menghampiri Boy dan Rion.


"Baik, saya akan segera kesana. Rion, bersiaplah! Kita sudah mengambil keputusan untuk hidup kita, jadi jalanilah dengan segenap hatimu!" Boy kembali menepuk bahu Rion dan berlalu.


Rion mengedarkan pandangan melihat sekeliling rumah sakit yang nampak asri itu. Ia tersenyum kemudian mencari bilik periksa untuk poli anak.


......***......


Marinka terbaring lemah di tempat tidur setelah membaca surat yang ditinggalkan Rion untuknya. Sungguh ia tak menyangka jika putra bungsunya lebih memilih pergi diam-diam dari pada bicara baik-baik dengannya.


Sejak kepergian Rion, kondisi tubuh Marinka juga mulai lemah. Suasana hatinya yang tadinya berbunga-bunga kini menjadi layu. Ia dan Maliq juga meminta maaf pada keluarga Julian karena putra mereka sudah mengacaukan perjodohan yang sudah disepakati.


Maliq setia mendampingi Marinka yang terbaring lemah.


"Jangan memikirkan hal lain, pikirkan saja kondisi kesehatanmu, Bu. Ayah janji akan mencari Rion hingga ke ujung dunia pun," ucap Maliq dengan mencium punggung tangan istrinya.


"Terima kasih, Ayah. Tolong jangan terlalu keras padanya. Akulah yang sudah membuatnya pergi. Dia pasti merasa tertekan karena aku terlalu memaksanya menerima perjodohan ini."


"Sudah, Ibu jangan memikirkan apa pun dulu. Sebaiknya ibu istirahat." Maliq mengecup puncak kepala Marinka kemudian keluar dari kamar.


Maliq bertemu Dion yang sudah menunggu di depan kamar.


"Bagaimana kondisi Ibu?" tanya Dion.


"Ibumu butuh istirahat. Biarkan saja dia sendiri dulu. Lalu bagaimana dengan pencarianmu?"


"Rion berada di dusun Kabut yang masih berada dalam wilayah desa Selimut. Dia bersama Boy disana."


"Huh! Anak itu! Bisa-bisanya dia kabur untuk kedua kalinya!" geram Maliq.


"Ayah tenang saja! Aku akan membuatnya kembali ke rumah. Sudah cukup semua air mata yang ibu teteskan untuknya!" sahut Dion dengan mengepalkan tangan.


...B E R S A M B U N G...

__ADS_1


*Terima kasih untuk kalian yg sudah mendukung nopel receh yg satu ini. Kurencanakan novel ini akan tamat dalam waktu dekat. Adakah yg tidak rela jika mereka tamat? 😬😬


__ADS_2