
Seorang wanita paruh baya dengan gaya elegannya sedang menunggu seseorang di sebuah kafe terkenal yang biasa ia gunakan untuk berkumpul bersama teman- teman sosialitanya. Wanita paruh baya itu adalah Helena Avicenna.
Wajahnya panik karena sedari tadi seseorang yang meminta untuk bertemu tak kunjung datang. Siapa lagi jika bukan Zara Asterlita Rayyan. Gadis itu makin memiliki kuasa atas Helena meski kini ia sudah jatuh miskin.
Dari kejauhan, Zara nampak tengah memperhatikan tingkah Helena yang gusar.
"Astaga! Wanita tua itu memang tidak sabaran. Baiklah. Kita mainkan permainan ini segera." gumam Zara.
Zara mematut penampilannya yang jauh dari kata mewah seperti dirinya yang dulu. Ia sengaja memakai kaus lengan pendek yang dipadukan dengan celana jeans belel. Mulai sekarang ia akan mengubah imejnya di depan orang-orang.
Zara berjalan cepat seakan terburu-buru dan menghampiri Helena.
"Bibi, maaf. Aku datang terlambat," ucap Zara.
Helena tercengang melihat penampilan Zara yang sangat berbeda. Tak ada lagi kesan branded yang melekat di tubuh Zara.
"Zara? Apa benar ini kamu?" tanya Helena.
"Iya, Bibi. Ini aku."
"Kenapa kamu berpenampilan seperti ini?"
"Apa maksud Bibi? Aku tetaplah Zara meski aku sudah jatuh miskin." ketus Zara tak terima.
"Sayang, maafkan aku. Aku hanya tidak menyangka kamu akan berubah seperti ini." Helena mengulurkan tangannya memeluk Zara.
"Mari duduk, sayang," ucap Helena.
Zara mengikuti perintah Helena dengan baik.
"Bagaimana kabarmu? Maaf Bibi belum sempat menemuimu setelah insiden pembacaan wasiat kakekmu beberapa waktu lalu."
"Tidak apa, Bi. Kini aku mulai terbiasa untuk hidup sederhana."
"Kamu tinggal dimana sekarang?"
"Julian membelikanku sebuah rumah sederhana tapi nyaman untuk ditinggali. Bibi jangan cemas."
"Anak itu! Dia benar-benar keterlaluan! Harusnya dia ingat siapa dirinya! Berani sekali dia mengambil semua harta keluarga Rayyan dan sekarang hidup enak." ucap Helena berapi-api.
"Bukankah seharusnya Bibi yang tahu diri? Bibi bisa menjadi anggota keluarga Avicenna karena apa? Karena pengorbanan dari kakak Bibi sendiri, bukan?" balas Zara.
"Kau!!" Helena rasanya ingin menyobek mulut Zara yang selalu berkata tajam itu.
"Sudahlah. Aku meminta Bibi kemari bukan untuk membahas tentangku, tapi untuk menindaklanjuti rencana kita sebelumnya. Bibi harus ingat jika aku harus tetap mendapatkan kembali apa yang seharusnya kudapat. Aku ingin Roy kembali padaku." tegas Zara.
"Zara... Kau tahu sendiri jika Roy sangat sulit untuk dibujuk."
"Tidak sulit, Bibi. Karena sekarang aku akan memanfaatkan kemiskinanku untuk menarik perhatian Roy. Aku akan mencari simpati darinya dan juga orang-orang di sekitarku."
Helena hanya diam mendengarkan semua rencana Zara.
"Kuharap Bibi akan ikut masuk kedalam rencanaku ini. Jika tidak...?" Zara menepuk dagunya.
"Baiklah. Aku akan ikuti semua keinginanmu. Oke?" Helena terpaksa mengiyakan.
"Oke! Aku percaya pada Bibi. Dan kuharap Bibi tidak akan mengacaukan rencanaku kali ini." Zara segera melenggang pergi usai mengatakan semua hal pada Helena.
Sementara Helena, ia mendengus kesal karena sudah kalah dari Zara. Gadis itu memiliki bukti yang bisa menjadi boomerang untuknya.
"Aku tidak bisa membiarkan Zara terus menerus mengancamku. Aku akan cari cara untuk mencuri bukti-bukti yang ada ditangannya." seringai Helena lalu meneguk habis minuman diatas meja.
__ADS_1
......***......
-Rumah Sakit Avicenna-
Roy berjalan memasuki koridor rumah sakit bersama Ben sambil berdiskusi tentang pertemuan nanti dengan pihak Julian. Rencananya Avicenna Grup akan bekerja sama dengan Ar-Rayyan milik Julian.
Netra Roy tertuju pada seseorang yang sedang menyapa pasiennya ramah. Roy segera melangkah menemui wanita yang tak lain Zara.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Roy ketus.
"Dokter Roy!" Zara menyapa Roy ramah.
"Kamu masih berani menampakkan batang hidungmu disini, huh?!"
"Dokter Roy, apa maksud Anda? Saya adalah dokter anak di rumah sakit ini." ucap Zara dengan nada lirih.
"Setelah kamu membuat Kenzo dipecat dan Riana diskors? Apa kamu masih punya hati, Zara?" Roy terlihat sangat kesal dengan Zara.
Sejak pembacaan wasiat kakeknya, Zara tidak pernah menunjukkan batang hidungnya di rumah sakit ini. Roy pikir Zara tidak akan kembali bekerja.
"Saya butuh pekerjaan ini, Dokter. Dokter sendiri tahu jika saya ... sudah tidak memiliki apapun lagi selain pekerjaan ini. Tolong jangan pecat saya, Dokter..." pinta Zara dengan nada memelas.
Roy tertegun. "Siapa dia? Sejak kapan Zara bersikap seperti ini di depanku? Dia tidak seperti Zara yang kukenal." batin Roy.
"Tuan, sebaiknya jangan berdebat disini. Lihatlah, banyak orang yang memperhatikan Tuan dan Nona Zara," bisik Ben di telinga Roy.
Roy mengangguk paham.
"Baiklah. Lanjutkan pekerjaanmu, Dokter Zara."
Zara memberi hormat kemudian kembali ke ruangannya untuk memeriksa pasien selanjutnya. Ia menarik sudut bibirnya.
"Kurasa Roy akan masuk ke dalam permainanku." Zara tersenyum menyeringai.
......***......
Kini Belinda sedang bersiap bersama Boy. Putranya itu memakai setelan jas untuk anak-anak yang terlihat lucu saat dikenakan Boy.
"Wah, keponakan Bibi tampan sekali." puji Riana.
"Terima kasih, Bi."
"Bels, keluarga Avicenna adalah keluarga yang baik. Tuan Donald orang yang sangat ramah dan baik."
"Benar, Ma. Kakek buyut sangatlah baik," sahut Boy.
"Iya sayang. Mama percaya kok." Belinda membelai wajah putranya.
Bunyi bel apartemen membuat Boy segera berlari dan membukakan pintu.
"Papa!!!" Seru Boy saat melihat Roy sudah diambang pintu.
"Hai, jagoan! Kau sudah siap?"
"Tentu, Pa. Ayo, Ma!" Boy mengajak Belinda untuk turut keluar.
"Hai, Bels. Kau cantik sekali."
"Terima kasih. Aku tidak tahu apakah baju ini cocok atau tidak dipakai untuk bertemu keluargamu."
"Kau cocok memakai apapun, Bels."
__ADS_1
Kalimat Roy membuat wajah Belinda bersemu merah.
*
*
*
Perjalanan 45 menit pun mereka lalui dengan kesunyian. Roy melirik Belinda yang duduk di kursi belakang.
"Jangan tegang, Bels. Santai saja," ucap Roy.
"Iya, Dokter Roy." jawab Belinda.
Roy tersenyum tipis mendengar Belinda yang selalu memanggilnya dengan panggilan 'dokter'.
Tiba di kediaman keluarga Avicenna, Belinda dan Boy tercengang karena rumah Roy sangatlah besar dan mewah.
"Ayo masuk!" Roy menggandeng tangan Belinda dan menggendong Boy.
Mereka disambut oleh pelayan rumah.
"Silahkan Tuan Roy. Tuan Donald dan yang lainnya sudah menunggu," tutur si pelayan.
Roy memasuki ruang keluarga dan disana ia melihat Donald dan Dandy.
"Dad.. Kakek..." sapa Roy.
"Halo, Nak. Halo Boy, cucu kakek." sapa Donald dengan menciumi pipi Boy.
Donald melirik kearah Belinda yang berdiri disamping Roy.
"Apa kabar, Nak? Senang bisa bertemu denganmu lagi." sapa Donald pada Belinda.
"I-iya Tuan." jawab Belinda gugup.
Dandy juga ikut menyambut kedatangan Roy dan calon keluarga kecilnya.
"Kakekmu sudah menceritakan semua pada Daddy." Dandy menepuk pelan lengan Roy.
"Jadi, kapan kalian akan menikah?" tanya Dandy.
"Eh? Menikah?" Roy dan Belinda saling pandang.
"Tentu saja kalian harus menikah, bukan? Lihatlah, putra kalian sudah besar. Dia pasti menginginkan sebuah keluarga yang utuh." jelas Dandy.
"Aku menunggu Belinda siap, Dad." Roy memeluk bahu Belinda.
"Belinda?" Dandy nampak terkejut.
"Ja-jadi namamu adalah Belinda?" Dandy terlihat gugup.
"Bukan, Dad. Nama aslinya adalah Putri Berlian. Belinda hanya nama samaran. Oh ya, dimana Mommy?"
"Mommy disini, Nak." sahut Helena yang baru datang bersama seseorang.
"Zara? Apa yang dia lakukan disini?" gumam Roy dalam hati.
......***......
#bersambung
__ADS_1
"Wah wah, wanita ular akan semakin licik nih kayaknya. Berlian, kau harus bersiap melawan wanita ular itu!"