Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 161. Cerita Boy tentang Aleya


__ADS_3

Boy terus memandangi foto-foto Aleya yang dikirimkan Noel padanya. Sungguh ia sangat menyesal karena gadis tak bersalah itu harus ikut terseret dalam masalah keluarganya.


"Apa yang harus kulakukan? Aleya... Maafkan aku. Kau harus ikut masuk dalam masalah ini. Maafkan aku..."


Boy meratapi kesedihannya seorang diri didalam ruang kerjanya.


"Bertahanlah, Aleya! Aku pasti akan menolongmu! Aku janji," ucap Boy dengan mengepalkan tangannya.


Lian mengetuk pintu ruang kerja Boy. Ia ingin bicara dengan putra sulungnya itu. Lian masuk dan melihat Boy sedang menatap langit malam dari jendela ruang kerjanya.


"Nak, ini sudah malam. Kau masih belum tidur?" Lian menghampiri Boy.


"Mama sendiri kenapa belum tidur?" tanya Boy balik.


"Apa kau memikirkan gadis itu?" tanya Lian dengan suara lembutnya.


"Iya, Ma. Dia tidak bersalah tapi dia ikut terseret dalam masalah keluarga kita."


Lian mengusap punggung Boy.


"Apa kau mencintai dia?" tanya Lian yang ingin tahu seperti apa perasaan putranya pada Aleya.


Boy tidak menjawab dan hanya menatap Lian.


"Kurasa aku tidak berhak mencintainya. Aku sudah menyakiti hatinya."


"Apa ada hal yang tidak kau ceritakan pada Mama?"


Boy menatap manik ibunya yang meneduhkan.


"Dia seperti Mama," ucap Boy.


"Eh?" Lian terkejut.


"Aku dan dia memang awalnya saling berseberangan. Kami beradu pendapat dan selalu bertengkar. Tapi semakin aku mengenalnya, aku ... mulai merasakan ada sesuatu yang berbeda dengannya. Dia sangat lembut dan perhatian seperti Mama. Tatapan matanya menyejukkan hatiku."


Lian tersenyum. "Karena dia kau ingin membatalkan pernikahanmu?"


"Aku sangat egois jika aku sampai melakukan itu. Aku menyakiti dua hati sekaligus. Natasha dan dia. Aku tahu dia pasti kecewa denganku."


Lian berusaha mendengarkan cerita putranya tanpa menjeda sedikitpun.


"Aku melakukan kesalahan bersamanya. Kesalahan termanis yang tidak akan aku lupakan." Boy menerawang jauh.


"Aku tidak bisa bersama dengannya, Ma. Karena Rion juga mencintainya."


"Lalu apakah gadis itu juga mencintai Rion?"


Boy terdiam. Ia tahu dalam lubuk hati Aleya masih ada dirinya disana.


"Aku tidak bisa bersaing dengan sahabatku sendiri, Ma."


Lian tersenyum mendengar jawaban putranya.


"Biar semesta saja yang menjawab semua kegelisahanmu," tutup Lian sebelum keluar dari ruang kerja Boy.

__ADS_1


......***......


Zetta bertanya pada Rion tentang keberadaan Aleya namun ternyata Rion juga tidak tahu dimana Aleya. Semalam tadi Aleya tak pulang dan ponselnya juga tidak bisa dihubungi.


Rion mengepalkan tangan mendengar kabar menghilangnya Aleya. Sehari kemarin Rion sangat sibuk dengan pekerjaannya dan tidak menemui Aleya.


Hanya ada satu nama yang Rion curigai. Boy. Sahabatnya sendiri yang pastinya tahu dimana Aleya.


Rion dengan segenap amarah di hatinya menemui Boy yang sedang berjalan di lorong rumah sakit.


"Dokter Boy!" teriak Rion.


Boy yang sudah tahu dengan apa maksud Rion segera membawa pria itu masuk ke ruangannya. Rion sendiri tahu jika dirinya membuat masalah lagi maka ia bisa mendapat sanksi dari direksi rumah sakit.


Tak mau kalah dengan Rion, Zetta juga menemui Boy dengan ditemani Dion.


Boy meminta mereka semua tenang dan mendengarkan apa yang akan Boy katakan.


"Aleya diculik!" ucap Boy dengan tenang meski dalam hatinya ia juga khawatir dengan kondisi Aleya.


"Apa katamu?! Diculik? Siapa yang melakukan ini pada adikku?!" Zetta menarik kerah baju Boy namun segera ditenangkan oleh Dion.


"Kita dengarkan dulu penjelasan Boy. Jangan tersulut emosi!" lerai Dion.


Boy memberikan ponselnya pada Rion. Sebuah video yang dikirimkan Noel kini dilihat oleh Rion dan Zetta.


"Kenapa Aleya sampai terseret dalam masalah keluargamu?" tanya Rion sinis.


"Aku tidak tahu," jawab Boy.


"Rion, jangan berbuat gegabah. Paman Noel adalah orang yang tidak waras. Dia bisa menyakiti Aleya jika kita berbuat nekat," tutur Dion.


"Hah?!" Rion dan Dion tercengang. Sementara Zetta hanya bisa menangis.


"Tolong selamatkan adikku!" pinta Zetta pada Boy.


"Pasti! Aku pasti akan menyelamatkan Aleya."


......***......


Malam ini, Rion dan Boy sedang menanti kedatangan Julian dan timnya untuk misi penyelamatan Aleya. Sebelumnya Boy sudah menghubungi Noel jika dirinya akan datang seorang diri sesuai dengan instruksi dari Noel.


"Rion..." panggil Boy.


"Hmm," sahut Rion dengan dehaman.


"Jika terjadi sesuatu denganku malam ini, maka ... aku minta kau jaga Aleya dengan baik."


Rion tersenyum getir. "Apa yang kau bicarakan?"


"Berjanjilah kau akan menjaga Aleya."


Rion menatap sendu sahabatnya itu.


"Aku pasti menjaganya! Kau jangan khawatir!"

__ADS_1


Tak lama, Julian datang bersama orang-orang terhebatnya yang pastinya berpengalaman dalam menangkap penjahat. Mereka pun menuju ke tempat dimana Noel menyekap Aleya.


Sesampainya di tempat yang disepakati, Boy berjalan sendiri sesuai dengan arahan Noel. Ia masuk ke dalam gudang dan bertemu dengan Noel.


Dari kejauhan Boy bisa melihat Aleya yang duduk dengan tangan dan kaki yang terikat dan juga mulut yang ditutup lakban.


Aleya menggeleng saat melihat kedatangan Boy. Ia tak ingin Boy terluka saat berhadapan dengan kegilaan Noel. Satu hari bersama Noel membuat Aleya cukup tahu jika Noel adalah psikopat yang berbahaya. Bahkan Aleya tahu jika maksud Noel memanggil Boy adalah untuk menghabisinya.


"Wah, wah, aku tidak menyangka jika kau merelakan dirimu untuk ditukar dengan gadis itu. Apa kau begitu mencintainya, Dokter Boy?" ucap Noel dengan seringai mengerikan.


Pria separuh abad itu masih terlihat gagah meski sudah dimakan usia.


"Kau tidak bisa menjawabnya? Atau aku saja yang menjawabnya? Hmm, itu berarti kau sudah mengkhianati istrimu, bukan begitu Dokter Boy? Kau bermain hati dengan gadis ini?"


Boy menatap Aleya yang matanya sudah digenangi air mata. Aleya meminta Boy untuk pergi melalui isyarat matanya.


"Lepaskan dia! Bukankah Paman hanya menginginkanku?" ucap Boy dengan suara tegasnya.


Noel tertawa. "Baiklah. Kulihat kau sangat mencintai dia." Noel menghampiri Aleya dan melepas ikatan tangan dan kakinya.


Aleya segera melepas lakban di mulutnya.


"Kak Boy! Pergi!" teriak Aleya.


Noel segera menarik Aleya dan mengarahkan jarum suntik ke leher Aleya.


"Jangan bergerak atau dia akan mati!" ancam Noel.


Aleya meminta Boy untuk pergi. Namun tentu saja Boy tidak akan pergi sebelum ia menyelamatkan Aleya.


"Ambil jarum suntik di meja dan suntikkan ke tubuhmu!" perintah Noel pada Boy.


Aleya menggeleng. "Jangan, Kak!" lirih Aleya.


"Cepat!" teriak Noel.


Boy berjalan maju dan mengambil jarum suntik yang entah sudah ada obat apa didalamnya.


"Cepat suntikkan ke tubuhmu!" perintah Noel. "Apa kau ingin gadis ini yang mati lebih dulu?"


"Jangan, Paman! Baiklah, akan kulakukan!"


Boy tidak punya pilihan lain. Ia yakin jika Julian dan timnya akan segera menyelamatkannya dan Aleya. Dengan memejamkan mata Boy menyuntikkan jarum suntik ke lengannya.


Boy jatuh tersungkur merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Tepat di saat Boy terjatuh, tubuh Noel juga ikut melemas karena tim Julian tepat sasaran menembak kaki Noel.


Aleya langsung berlari menghampiri Boy yang sudah jatuh ke tanah.


"Kak Boy!" Aleya memeluk tubuh Boy. Tangisnya tak bisa lagi dibendung.


Julian dan timnya segera masuk ke gudang dan menangkap Noel.


"Sudah berakhir, Noel. Kali ini kau harus benar-benar membusuk di penjara!" ucap Julian yang mendapat sorotan tajam dari Noel.


Rion juga masuk ke gudang dan melihat Aleya menangisi tubuh Boy yang terpejam. Hatinya sakit melihat sahabatnya meregang nyawa, namun yang lebih menyakitkan adalah karena kini ia menyadari jika Aleya memang masih mencintai Boy.

__ADS_1


...B E R S A M B U N G...


*Gak bosan2 buat bilang untuk terus dukung makthor agar terus semangat. Pengennya kisah ini ditamatin bulan ini, tapi ada planning untuk lanjut ke cerita dokter lainnya, hehe, masih tetep nyambung lah ya sama judulnya😬😬 semoga kalian tetap setia mendukungku, karena kalian adalah semangatku😍😍


__ADS_2