Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 104. Pembalasan Zara


__ADS_3

Diantara seluruh kebahagiaan yang terpancar di wajah anggota keluarga Avicenna, seorang wanita malah menggeram kesal mengepalkan tangan sambil menatap senyuman yang tersungging di wajah orang-orang yang ia lihat di layar televisi. Siapa lagi kalau bukan Esther alias Zara.


Mata Esther memerah merasakan amarah yang naik ke atas kepalanya. Sungguh ia tak mengira jika Lian dan Roy akan menemukan putra mereka kembali.


"Brengsek! Apa ini? Kenapa mereka bisa menemukan bocah itu? Bukankah bocah itu berada di luar negeri? Atau jangan-jangan selama ini Noel membohongiku?" Esther membanting barang-barang yang ada di sekitarnya.


"Argh! Kurang ajar kalian semua! Lihat saja nanti! Aku tidak akan membiarkan kalian terus tertawa seperti itu sementara aku terpuruk dan harus menjadi buronan seperti ini!" ucap Esther dengan berapi-api.


Esther keluar dari rumahnya dengan memakai penutup kepala dan juga masker untuk menutupi wajahnya. Ia mengendap-endap di depan rumah tahanan dimana Noel berada di dalamnya.


"Aku harus bisa masuk ke dalam. Tapi, bagaimana jika mereka mengenaliku?" Esther mondar mandir memikirkan cara yang bagus agar bisa masuk tanpa dikenali.


Senyum seringai menghiasi bibirnya. "Aku tahu caranya!"


Esther melangkah masuk ke dalam rumah tahanan. Petugas memeriksa Esther dengan seksama. Ketika si petugas meminta Esther untuk membuka maskernya, Esther menolak dan beralasan jika dirinya sedang sakit.


"Uhuk, uhuk! Saya sedang sakit, Pak. Akan lebih baik jika saya tetap memakai masker saya. Uhuk, uhuk!" Esther terbatuk dengan keras agar bisa mengelabui para penjaga.


"Baiklah, silakan masuk! Sebaiknya setelah ini kau beristirahat," ucap si penjaga.


"Baik, Pak. Terima kasih."


Esther melangkah masuk kemudian meminta penjaga memanggilkan Noel Alexander.


Tak lama, sosok Noel pun muncul dengan mengernyitkan dahi. Pasalnya Noel seakan tak mengenali orang yang menjenguknya.


"Duduklah! Ini aku!" ucap Esther.


Noel membulatkan mata. "Esther?! Kau memang sudah gila! Semua orang mencarimu dan kau datang kemari? Harusnya kau lari ke ujung dunia agar tidak ada orang yang menemukanmu."


"Diamlah! Aku tidak akan bisa pergi kemanapun karena aku sudah dicekal. Lagi pula aku tidak punya uang untuk pergi kemanapun."


"Lalu untuk apa kau datang kemari?"


"Kau berbohong padaku!" Sorot mata Esther terlihat tajam menusuk mata Noel.


"Kau bilang jika anak Lian dan Roy berada di luar negeri. Tapi nyatanya mereka kini telah berkumpul kembali. Kau menipuku!"


Noel tertawa kecil. "Anak itu memang dibawa ke luar negeri. Aku tidak tahu jika mereka berhasil menemukannya. Kau sendiri tahu jika Julian adalah mantan agen FBI. Anak Roy juga seorang genius. Wajar jika mereka berhasil menemukannya."


"Kau!" Esther berteriak hingga membuat pengunjung lain melihat kearah mereka.


"Harap tenang!" lerai seorang petugas.


"Maaf, Pak," ucap Esther.

__ADS_1


"Apa maumu? Aku yakin kau nekat datang kesini karena membutuhkan bantuanku," terka Noel.


"Iya. Aku butuh bantuanmu. Aku butuh uang! Kau pasti menyimpan uangmu di suatu tempat. Aku tahu itu."


Noel berdecih. "Kau akan tetap tertangkap meski kau memiliki banyak uang."


"Aku tidak peduli. Saat ini yang harus kulakukan adalah menghancurkan keluarga itu. Aku sudah muak melihat kebahagiaan mereka. Bantu aku, Noel! Hanya kau yang bisa membantuku!" Lagi-lagi Esther menggunakan rayuan mautnya untuk mengelabui Noel.


Dan sekali lagi Noel bersedia membantu Esther karena ia sendiri juga ingin membalas keluarga Avicenna.


......***......


Roy dan Julian selesai makan siang dengan para kliennya di sebuah resto yang cukup terkenal. Resto itu adalah langganan keluarga Avicenna saat menyambut para kliennya.


Makan siang pun telah usai. Roy dan Julian akan kembali ke kantor masing-masing. Meski kini mereka bersatu untuk mengurus Avicenna Grup, namun mereka juga punya tanggung jawab lain. Roy masih tetap sebagai dokter forensik. Dan Julian yang tetap mempertahankan Ar-Rayyan Grup.


"Kau akan langsung kembali ke rumah sakit?" tanya Julian.


"Iya, Kak. Aku ada rapat penting dengan para direksi."


"Jangan terlalu lelah! Kau harus menjaga kesehatanmu!" Julian menepuk pelan bahu Roy.


"Iya, Kak. Tenang saja!"


"Ada di luar resto, Kak. Tadi parkiran penuh karena aku datang terlambat."


"Baiklah, sampai bertemu lagi di rumah."


Roy mengangguk kemudian melangkah keluar. Ponselnya bergetar menandakan ada sebuah panggilan masuk. Roy pun menjawabnya.


"Halo, Ben. Bagaimana persiapan rapatnya? Tolong kau urus dulu. Aku akan segera kesana."


Roy masih bicara di telepon sambil menyeberang jalan. Ia tak memperhatikan jika dari arah kanan melaju kencang sebuah mobil kearahnya.


Si pengemudi makin tancap gas ketika melihat Roy yang sedang tidak fokus dan masih asyik berbincang dengan Ben.


"Awas Roy!" Sebuah teriakan membuat Roy menoleh dan melihat mobil melaju kencang kearahnya.


Roy tersentak ketika seseorang mendorong tubuhnya hingga terjerembab ke arah lain dan mengakibatkan orang itulah yang tertabrak mobil.


BRAK!


Bunyi kencang dari arah belakangnya membuat Roy seketika bangkit dan menghampiri orang yang telah menolongnya.


"Kakak!" Roy memekik ketika melihat orang yang menolongnya adalah Julian yang kini tengah bersimbah darah tergeletak di tengah jalan.

__ADS_1


Roy memeluk tubuh Julian sambil mengguncangnya pelan.


"Kakak! Kak Julian! Bangun, Kak! Tolong! Panggilkan ambulans!" teriak Roy dengan berlinang air mata.


Suasana di depan resto mendadak ramai dengan kejadian kecelakaan yang menimpa Julian. Beberapa orang menangkap si pengemudi yang tak lain adalah Esther.


Esther sendiri masih tak habis pikir jika yang ditabraknya bukanlah Roy melainkan Julian.


......***......


Roy dan Julian tiba di rumah sakit. Ben yang mendengar berita kecelakaan Julian segera menyusul ke sana. Ben melihat pakaian Roy yang penuh dengan darah Julian.


Ben menghampiri Roy. "Tuan! Sebaiknya Tuan mengganti pakaian Tuan dulu."


Roy masih terdiam. Ia sangat syok melihat kakaknya meregang nyawa menyelamatkan dirinya.


"Harusnya aku yang ada di sana, Ben. Tapi kakak menolongku. Bagaimana bisa kakak mengorbankan nyawanya untukku?" tangis Roy kembali pecah.


"Mas Roy!" suara Lian membuyarkan kesedihan Roy. Lian berjalan cepat menghampiri Roy.


Lian menatap kondisi suaminya yang memprihatinkan dengan noda darah di pakaiannya. Lian segera memeluk Roy.


"Tenanglah, Mas. Aku yakin Kak Julian adalah orang yang kuat. Dia pasti selamat. Dokter pasti akan melakukan yang terbaik untuk Kak Julian." Lian mengusap lembut punggung suaminya yang bergetar.


Sementara itu, Esther digelandang ke kantor polisi oleh beberapa orang. Leon juga ada disana untuk mengurus masalah ini. Kali ini Esther tidak akan bisa kabur lagi. Sudah cukup pelariannya selama ini.


Leon menatap Esther yang tangannya gemetar dan saling bertaut satu sama lain. Bibirnya terus menggumamkan kata-kata yang sulit untuk didengar.


"Sepertinya dia sudah tidak waras," lirih Leon.


Petugas polisi yang menanyai Esther akhirnya menyerah dan membawanya ke ruang interogasi tertutup agar bisa membuat Esther lebih tenang.


Dengan tatapan mata kosong Esther terus bergumam,


"Jika aku tidak bisa memiliki Roy, maka orang lain pun tidak berhak memilikinya. Sebaiknya kau mati saja, Roy. Sebaiknya kau mati saja, Roy."


Kalimat itu terus berulang ia gumamkan dengan sesekali ia tersenyum aneh.


...B E R S A M B U N G...


"Wah, sepertinya Zara memang sudah tidak waras, hiiiii merinding..."


Jangan lupa mampir juga ke karya mamak yg lain. Caranya, klik aja poto profil mamak nanti akan muncul 5 judul karya mamak di sini.


...Terima Kasih ...

__ADS_1


__ADS_2