Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 129. Malam Api Unggun


__ADS_3

Berlian merapikan kamar Boy karena sebentar lagi putra sulungnya itu akan kembali ke rumah. Nathan yang melihat ibunya sedang sibuk di kamar kakaknya segera menghampiri Lian.


"Ma! Apa yang Mama lakukan di kamar Kak Boy?"


"Kau ini! Kakakmu sebentar lagi akan pulang, Nathan. Mama juga akan menyiapkan makan malam spesial untuk menyambut kedatangan kakakmu." Mata Lian berbinar sudah tak sabar menanti kedatangan putra sulungnya itu.


Nathan hanya menggeleng pelan. Ia lalu pergi dari kamar Boy.


"Eh, sayang..." panggil Lian yang membuat Nathan berbalik.


"Ada apa, Ma?"


"Jangan lupa nanti kau jemput kakakmu ya! Sepertinya mereka nanti mendarat di landasan milik Dirgantara Corp."


"Iya, terserah Mama saja." Nathan meninggalkan Lian yang masih merapikan kamar tidur Boy.


Nathan berjalan kembali ke kamarnya dan bertemu Lusi.


"Sayang, kau kenapa? Kenapa wajahmu cemberut begitu?" tanya Lusi sambil mengusap kepala Nathan.


"Tidak ada, Nek. Aku senang kakak akan kembali."


"Jangan dimasukkan hati. Mamamu bersikap begitu bukan karena dia tidak menyayangimu. Tentu dia sangat menyayangimu. Kau sudah makan siang? Kau pasti lelah setelah seharian belajar di sekolah."


"Iya, Nek. Aku mengerti. Aku sudah makan tadi. Kalau begitu aku masuk ke kamar dulu ya, Nek."


"Iya, sayang..." Lusi menatap sendu pada cucu bungsunya.


Lusi menghampiri Lian yang masih sibuk di kamar Boy.


"Lian..." panggil Lusi.


"Ibu? Ada apa?"


"Kau harus lebih perhatikan Nathan. Dia masih anak-anak. Dia masih butuh perhatian darimu," ucap Lusi dengan berhati-hati.


"Ibu! Kenapa bicara begitu? Tentu saja aku sangat menyayangi Nathan."


"Tapi kau terlihat selalu memikirkan Boy saja."


"Tidak, Bu! Itu tidak benar! Aku menyayangi kedua putraku. Aku memberikan kasih sayang yang sama tanpa membeda-bedakan mereka."


"Baiklah. Ibu harap kau memang bersikap adil pada mereka." Lusi meninggalkan Lian yang masih sibuk menata ulang kamar Boy.


Tak kalah heboh dengan Lian, Natasha pun bersiap untuk menyambut kedatangan kekasih tercintanya itu yang akan tiba besok. Ia terus bercerita dengan Cicind tentang kepulangan Boy.


Rasa rindu karena tak bertemu selama dua bulan kini akan berakhir.


"Princess, kau terlihat sangat gembira. Kau pasti sudah tidak sabar ya menanti kedatangan si Tuan Dokter itu."

__ADS_1


"Tentu saja, Cind. Kami berpisah selama dua bulan dan tanpa berkirim kabar sama sekali. Aku sangat merindukannya," ucap Natasha menggebu-gebu.


"Ya sudah, aku pergi dulu. Sebentar lagi pengambilan gambar bagianmu dan Sean. Siapkan dirimu!" Cicind meninggalkan Natasha di ruang ganti miliknya.


"Minum?" tawar Sean yang tiba-tiba datang dengan secangkir coklat hangat.


Natasha tersenyum dan menerima cangkir itu.


"Terima kasih, Sean." Natasha meneguk pelan coklat hangat pemberian Sean.


"Sebenarnya apa maksud Paman Noel memberikan ramuan itu untuk Natasha? Kulihat dia masih baik-baik saja. Apa ramuan ini berguna untuk jangka panjang? Aku ingin membantumu, Tasha. Tapi aku tidak bisa. Maafkan aku..." lirih Sean dalam hati.


......***......


Malam ini adalah malam puncak acara pembacaan kisah Legenda Desa Selimut. Beberapa tetua sedang menyiapkan acara api unggun di sebuah lapangan besar yang memuat banyak orang.


Aleya ikut sibuk untuk menyiapkan makanan untuk para penduduk desa dan juga para tamu spesial yang terpilih.


"Aku bantu ya!" Rion menawarkan diri.


"Kak Rion? Boleh jika kakak tidak keberatan," jawab Aleya.


"Tentu saja aku tidak keberatan." Rion segera menempatkan diri.


"Jadi, apa menu kita malam ini, Aleya?" Fajri, Kenji, Dion dan Rana ikut menghampiri mereka berdua dan ikut membantu Aleya.


"Kalian? Sebaiknya kalian duduk saja dan menunggu. Aku tidak enak hati jika kalian membantuku seperti ini," tolak Aleya.


"Sudahlah, kalian duduk saja. Kak Rion juga," perintah Aleya.


Setelah semua tamu-tamu dan penduduk desa berkumpul, Aleya mengedarkan pandangan mencari seseorang yang mengganggu pikirannya akhir-akhir ini.


"Kak Boy dimana ya?" batin Aleya. Ia celingukan mencari Boy dalam gelapnya malam yang hanya di temani cahaya bulan malam ini.


"Kau cari siapa?"


"Hah?!" Aleya terkejut karena ternyata Boy ada di belakangnya.


"Ka-kak Boy?" gugup Aleya.


"Apa kau mencariku?"


"Eh?" Aleya memberanikan diri menatap pria tinggi di depannya.


"Sebentar saja! Hanya sebentar aku ingin menatapnya dalam diam. Karena besok aku akan mulai melupakannya," batin Aleya.


"Aleya!" Suara Rion kembali membuyarkan suasana.


"Kak Rion?"

__ADS_1


"Acaranya akan segera mulai. Ayahmu mencarimu!" ucap Rion sambil menatap tajam kearah Boy.


"Ah, iya. Aku segera kesana." Aleya segera pergi meninggalkan dua pria yang masih saling tatap.


"Apa yang kau lakukan disini, Boy?" tanya Rion dingin.


"Kenapa memangnya?" tanya Boy balik dengan santai.


"Aku tahu ada sesuatu diantara kalian berdua. Aleya ... tertarik denganmu."


Boy tersenyum seringai. "Dia masih anak-anak, Rion."


"Apa kau juga menyukainya?"


"Apa maksud pertanyaanmu?" Boy menatap Rion tak suka.


"Aku minta kau jangan main-main dengan Aleya! Aku tidak akan membiarkan dia terluka! Ingat itu, Boy!" ancam Rion dengan mengarahkan jari telunjuknya di depan wajah Boy.


......***......


Acara api unggun pun di mulai. Kosih sebagai kepala desa membuka acara dengan khidmat. Semua orang terdiam saat Kosih mulai membacakan kisah Legenda Desa Selimut.


Keenam pemuda kota yang berkesempatan untuk mendengar kisah legenda itu pun ikut larut masuk dalam cerita. Semua terlarut dalam suasana malam yang makin syahdu.


Boy menguap beberapa kali karena rasa kantuk yang mulai menyerang. Ia memutuskan untuk undur diri dari acara api unggun itu.


Boy berjalan kembali menuju kamarnya. Samar-samar ia melihat seseorang berdiri di depan kamarnya. Namun ketika ia mendekat ternyata tak ada siapapun.


Boy dengan santainya masuk kedalam kamar. Ia merasa haus dan mencari air minum di dalam kamarnya namun tak menemukan apapun.


"Hah, sial sekali! Sebaiknya aku ke kamar Kenji saja. Biasanya dia menyimpan minuman soda."


Boy keluar kamar dan menuju kamar Kenji yang ada disamping kamarnya. Kenji yang terbiasa ceroboh dan tak mengunci pintu, membuat Boy dengan leluasa masuk kedalam kamar itu.


Boy melihat sebuah botol minuman dan langsung meneguknya dalam sekali tenggak.


"Ah! Minuman apa ini? Rasanya sangat aneh." Boy mengerjap pelan kemudian kembali masuk ke kamarnya.


Tak lama Boy merasa tubuhnya panas. Ia mengibas-ngibaskan sweater tebal yang dipakainya.


"Ada apa ini? Kenapa aku merasa badanku terasa panas?"


Boy menuju kamar mandi dan melepas sweater tebalnya. Ia menyiram kepalanya. Ia mengatur nafas yang mulai memburu.


"Sial! Minuman apa yang ada di botol itu? Kenapa membuatku hingga seperti ini?" Boy mengusap wajahnya. Ia merasakan gairah memuncak dalam dirinya.


"Astaga! Jangan-jangan ini adalah obat perangsang! Tidak! Aku harus bagaimana?" Boy terus menyiram tubuhnya dengan air dingin agar hawa panas itu menghilang.


...B E R S A M B U N G...

__ADS_1


"haduh, apa yang akan dilakukan Boy dengan kondisinya ini?


ada yg bisa menebak? ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜


__ADS_2