Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 173. Penyesalan


__ADS_3

...Tiada kata yang bisa terucap...


...Selain kata maaf yang tulus dari hati...


...Namun semua itu tak bisa menghapus rasa sesak yang terlanjur terbentuk...


......***......


Hari ini Dion sudah memutuskan untuk pergi menjemput Rion agar kembali pulang. Tak ada ampun lagi untuk adik kembarnya itu.


Sebelum pergi, Dion berpamitan pada istri dan putranya.


"Sayang, Papa pergi dulu ya. Jangan nakal di rumah sama Mama," ucap Dion lalu mencium puncak kepala Andra.


"Iya, Pa. Papa tenang saja. Aku akan menjaga Mama dan adik bayi," sahut bocah 6 tahun itu.


"Anak pintar!" Dion mengusap pelan kepala Andra.


Dion beralih menatap Zetta dengan perut buncitnya.


"Maaf ya aku harus pergi meninggalkanmu. Ini semua karena ulah adikku itu."


"Tidak apa. Lagi pula ada Imah disini dan juga putra kita, Andra."


Dion menatap perut Zetta. Ia mengelus perut itu pelan. "Kesayangan Papa yang ada di dalam, maaf ya Papa tinggal dulu. Papa janji akan segera kembali."


"Iya, Papa. Aku akan baik-baik saja di perut Mama," sahut Zetta dengan menirukan suara anak kecil.


Mereka bertiga pun tertawa. Tak lupa Dion mendaratkan sebuah kecupan singkat di bibir Zetta sebelum pergi.


Tiba di sebuah landasan helikopter, Dion bertegur sapa dengan Kenji yang juga akan ikut untuk menjemput Rion.


"Kau tenang saja! Aku juga menyewa beberapa orang untuk menjaga Zetta dan Andra," ucap Kenji.


"Ish, kau! Dia itu istriku! Kau tidak perlu sampai segitunya!" Raut wajah Dion nampak tak suka dengan pernyataan Kenji.


Kenji mengangkat kedua tangannya. "Maaf, kawan. Aku hanya membantu. Jika kau tidak suka aku akan membatalkannya," sahut Kenji yang langsung membuka ponselnya.


"Tidak perlu! Aku sangat berterimakasih padamu. Tapi harusnya kau minta izin dulu dariku. Karena sudah terlanjur, kalau begitu biarkan saja. Lagi pula aku akan lebih tenang jika semakin banyak orang yang menjaganya."


Kenji manggut-manggut. "Oke! Mari kita berangkat! Kita jemput paksa si pengecut itu!" Semangat Kenji terasa berkobar membuat Dion hanya tersenyum.


......***......


...Satu hal yang tidak akan terulang adalah waktu dan juga rasa penyesalan...


...Karena semua tak akan lagi sama meski kau benar-benar telah menyesalinya...


Tiba di sebuah lapangan luas di dusun Kabut, Dion dan Kenji langsung menuju ke rumah sakit dimana Rion sedang bekerja memeriksa pasiennya. Sebelumnya, Dion sudah menghubungi Boy jika dirinya akan datang untuk menjemput Rion.


Awalnya Boy menolak untuk bekerja sama karena Rion baru saja menemukan sesuatu dalam dirinya yang selama ini menghilang. Namun ketika Dion mengatakan tentang kondisi Marinka, Boy tak bisa menolak lagi. Akhirnya ia setuju untuk menjalankan rencana agar Rion bersedia kembali pulang.


Boy menyambut kedatangan dua pria sahabat baiknya. Mereka saling berpelukan melepas kerinduan.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Dion.


"Aku baik. Kalian sendiri?" tanya Boy balik.


"Yah seperti yang kau lihat!" jawab Kenji enteng.


"Dimana Rion?" Dion tak ingin membuang waktu untuk bisa membawa adiknya pulang.


"Jam segini dia sedang memeriksa pasiennya." Boy melirik jam tangannya.


"Baiklah. Kita tunggu hingga dia selesai bekerja. Kau ajaklah ke tempat yang sudah kita sepakati."


Boy mengangguk kemudian berlalu.


*

__ADS_1


*


*


Boy menunggu Rion keluar dari ruang periksa miliknya. Akhirnya yang ditunggu keluar juga dengan sedang meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku.


"Boy? Kau disini?" tanya Rion heran melihat Boy ada di depan ruangannya.


"Iya. Ada yang ingin kubicarakan denganmu. Kau ada waktu?"


Rion berpikir sejenak. "Baiklah."


Dua sahabat yang pernah berseteru karena masalah wanita kini mulai kembali dekat. Dan selama mereka tinggal bersama di dusun ini, baik Rion maupun Boy tidak ada yang membahas tentang Aleya.


"Sebenarnya kita mau kemana?" tanya Rion yang merasa Boy membawanya jauh dari area rumah sakit.


"Nanti kau juga tahu. Sebentar lagi sampai," balas Boy.


Hingga akhirnya mereka tiba di sebuah tempat yang membuat Rion tertegun. Ia melihat Dion dan Kenji sedang menunggu kedatangan mereka.


"Apa maksudnya ini, Boy? Apa kau membohongiku?" tanya Rion dengan menunjukkan kemarahannya.


"Maaf, hanya ini yang bisa kulakukan." Boy mengangkat tangannya tanda tak mengerti apa yang terjadi.


"Dari mana kakak tahu aku ada disini?" tanya Rion pada Dion.


"Itu tidak penting. Yang terpenting adalah aku datang kesini untuk menjemputmu. Ikutlah denganku!"


"Kakak tahu kan apa alasanku pergi?"


"Ibu sakit. Dia sakit karena memikirkanmu," balas Dion.


"A-apa?" Rion nampak terkejut.


"Sudah cukup semua yang kau lakukan pada ibu. Kau membuat ibu bersedih, apa kau tidak merasa bersalah?" Dion mulai emosi dan meminta anak buah yang dibawanya untuk memegangi kedua lengan Rion agar tidak kabur lagi.


"Aku tidak akan melepaskanmu lagi, dasar pengecut! Kau juga harus meminta maaf pada keluarga paman Julian. Kau benar-benar membuat kami malu, Rion!"


Tak ada yang berani menginterupsi semua kemarahan Dion. Biarlah pria itu puas menasihati adik kembarnya yang tak bicara sepatah kata pun.


Setelah melalui perdebatan yang alot, akhirnya Rion bersedia kembali pulang ke rumahnya. Dengan langkah gemetar Rion memasuki rumah yang beberapa minggu ini ia tinggalkan. Ia tak mengira jika akan secepat ini kembali ke rumah itu.


Maliq menyambut kedatangan Rion dengan sebuah senyum seorang ayah untuk putranya.


"Temuilah ibumu! Dia sangat merindukanmu."


Rion mengangguk kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar Marinka. Hatinya bergemuruh ketika melihat ibunya terbaring lemah di tempat tidur. Tangisnya pecah melihat betapa ia sangat melukai hati ibunya.


"Maafkan aku, Ibu... Maafkan aku..." Rion memeluk Marinka dan mendapat sambutan hangat dari wanita yang melahirkannya.


"Iya, Nak. Ibu memaafkanmu. Jangan menangis lagi! Ibu memaafkanmu!" Marinka merangkum wajah Rion dan menghapus air mata putra bungsunya.


Dion dan Maliq tersenyum lega melihat pemandangan itu. Mereka pun ikut bergabung dengan Rion dan Marinka.


"Aku juga mau dipeluk Ibu!" rengek Dion bak anak kecil.


Marinka tertawa. "Kau sudah akan menjadi seorang ayah tapi masih saja manja! Kemarilah, Nak! Kalian adalah kesayangan Ibu!" Marinka memeluk kedua putranya.


......***......


Malam ini, Rion menemui Julian dan Kartika di kediamannya. Rasa canggung, sesal, gugup, semua melebur menjadi satu. Rion mengedarkan pandangan berharap Shelo muncul dan menemui dirinya, namun nihil.


Rion duduk berhadapan dengan Julian dan Kartika. Tak banyak kata yang bisa terucap dari bibir Rion selain kata maaf.


"Kami sudah memaafkanmu, Rion. Tapi, jika kau memang berniat melanjutkan perjodohan ini, maka kau temui Shelo dan bicara dengannya. Kami tidak akan ikut campur urusan kalian mulai dari sekarang. Kami menyerahkan semua keputusan di tangan Shelo," tutur Julian.


Rion mengangguk paham. "Terima kasih atas pengertian Paman dan Bibi. Aku akan menemui Shelo dan bicara dengannya. Omong-omong dimana Shelo?" Rion tak ingin membuang waktu lagi.


Kartika melirik Julian. "Shelo sedang mengadakan pesta kelulusan bersama teman-temannya di Royale Hotel."

__ADS_1


"Baik. Aku akan menemuinya sekarang juga."


Julian melihat tekad yang kuat dari sorot mata Rion. "Semoga kau memang benar-benar menyesali semuanya dan tidak mengecewakan kami lagi."


Rion mengangguk kemudian berpamitan pada Julian dan Kartika.


......***......


Rion memarkirkan mobilnya di halaman Royale Hotel kemudian masuk ke dalam. Ia bertanya pada resepsionis dimana pesta kelulusan sekolah Avicenna sedang berlangsung. Rion segera menuju ballroom lantai tiga begitu mendapat jawaban.


Rion harap-harap cemas untuk bertemu dengan Shelo. Apa saja yang ingin dia katakan saat mereka bertemu nanti masih belum ia pikirkan. Hanya kata maaf saja yang terus terngiang di otaknya.


Pintu lift terbuka, Rion berlari kecil mencari ballroom yang dimaksud resepsionis. Rion mengatur napas sebelum memasuki ruang yang ternyata penuh sesak itu.


"Sial! Dimana Shelo?" Rion mengedarkan pandangan mencari keberadaan sosok Shelo.


Rion memutuskan untuk bertanya pada para siswa yang ada disana apakah ia mengenal Shelo atau tidak. Hingga sepuluh menit berlalu, akhirnya Rion menemukan sosok Shelo yang sedang berbincang dengan kawan-kawannya.


Rion berjalan menghampiri Shelo.


"Shelo!"


Shelo membulatkan mata melihat Rion ada di depannya.


"Ayo ikut denganku!" Tanpa bisa mengatakan kata pembuka, Rion langsung mengatakan maksudnya.


"Apa maksud kakak? Tiba-tiba datang tidak jelas!" Shelo menghindari Rion dan akan melangkah pergi.


Namun dengan cepat Rion mencekal lengan Shelo.


"Kumohon ikut denganku!" ucap Rion.


"Lepas! Aku tidak mau ikut denganmu!" ketus Shelo.


Saat mereka berdua berdebat, tiba-tiba seorang pemuda datang dan melepaskan cengkraman tangan Rion di tangan Shelo.


"Ada apa ini? Dia tidak mau pergi denganmu jadi jangan memaksanya!" ucap pemuda itu.


"Sudahlah, Reval. Aku tidak mau ada keributan disini. Kita pergi saja!" Shelo menarik tangan Reval dan akan membawanya pergi.


"Shelo adalah calon istriku!" teriak Rion yang membuat Shelo berbalik badan dan menatapnya jengah.


Kawan-kawan Shelo pun tak kalah terkejut dengan pernyataan Rion.


"Apa itu benar, Shelo?" tanya Reval.


Shelo menatap Rion tajam. Seakan tak ada lagi yang bisa ia percaya dari mulut pria itu.


"Bukan! Aku bukan calon istrinya!" tegas Shelo kemudian membalikkan badan dan akan melangkah pergi.


Secepat kilat Rion kembali meraih lengan Shelo dan membalikkan tubuhnya hingga tubuh Shelo menabrak tubuh tegap Rion yang pastinya lebih tinggi dari Shelo.


Tak ingin menunggu lagi, Rion segera menarik tengkuk Shelo dan mendaratkan bibirnya pada bibir ranum Shelo.


Gadis itu membulatkan mata dengan apa yang dilakukan Rion padanya. Semua orang yang ada disana pun ikut terkejut dengan adegan ciuman yang tiba-tiba itu.



...B E R S A M B U N G...


*Hayoooo mau komen apa? πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…


Promosi genks, mampir juga yuk ke πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡




Raanjhana berisi kumpulan 5 kisah romansa yg bikin baper 😁😁

__ADS_1


__ADS_2