Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 119. Takut Kehilangan


__ADS_3

Boy mendatangi butik Jimmy Choo untuk fitting setelan tuksedo yang akan ia kenakan di acara pertunangannya dengan Natasha tiga hari lagi. Senyum merekah tak berhenti mengembang dari wajah tampan Boy. Entah kenapa wajah dinginnya terlihat tampan karena senyuman maut yang mampu membuat para gadis bertekuk lutut.


Saat sedang mengepas setelannya, ponsel Boy berbunyi. Panggilan dari Fajri, sahabatnya. Boy tersenyum lalu menjawab.


"Jawab dengan video!" serunya.


"Wah, kau nampak menawan, kawan!" seru Fajri.


"Terima kasih, Ji. Apa kau masih berada di Jerman?"


"Iya."


"Pastikan kau datang di acara pertunanganku."


"Tentu saja. Aku sedang mengurus beberapa hal disini dan juga ... mobil pesananmu."


"Wah, bagaimana kabarnya pesananku itu?"


"Kau benar-benar dokter yang gila! Kau membuat para teknisiku kebingungan dengan permintaan anehmu itu."


Boy tertawa. "Jangan marah! Nanti wajah tampanmu hilang."


"Kalian sudah baik-baik saja?"


"Thanks to you, buddy. Kau selalu bisa diandalkan."


"Tidak ada lain kali, Boy. Sekali lagi kau membuat ulah, aku tidak akan membantumu."


"Iya, aku janji. Lagi pula Kenji juga sudah meminta maaf kan?"


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Fajri dengan wajah serius.


Wajah Boy berubah sendu. "Kawan, aku akan bertunangan. Bisakah kau tidak membahas yang sudah berlalu?"


"Baiklah. Aku tutup teleponnya. Aku harus mengurus pekerjaanku."


"Sekali lagi terima kasih, Ji. Kau adalah yang terbaik. Titip salam untuk Paman Irfan dan Bibi Fajira."


"Yeah. You're welcome. Bye."


Boy terdiam setelah menerima panggilan dari Fajri. Sungguh ia tidak ingin membohongi Fajri mengenai masalahnya. Tapi ia juga cukup malu untuk mengatakan kebenarannya. Mungkin jika waktunya tiba, Boy akan jujur di depan Natasha dan juga teman-temannya.


......***......


Boy tiba di rumah sakit Avicenna setelah mendapat panggilan dari Dion. Ia harap-harap cemas untuk mendengar hasil pemeriksaannya tentang kondisi jantungnya.


"Hai, kawan. Sulit sekali untuk bertemu denganmu," sapa Dion ketika Boy masuk ke ruangannya.


Boy tersenyum kikuk. "Maaf, aku terlalu sibuk, kawan." Sebenarnya bukan karena urusan pekerjaan, Boy hanya terlalu takut untuk mendengar sesuatu yang buruk tentang kondisinya.


"Duduklah dulu! Jangan terlalu tegang. Aku tidak akan memakanmu," canda Dion.


"Ish, kau!" Boy duduk berhadapan dengan Dion.


"Ini adalah hasil tesmu." Dion mulai membuka sebuah map yang berisi selembar kertas.

__ADS_1


"Hasil tesmu sangat baik, kawan. Jantungmu baik-baik saja. Aku dan ayah sudah melakukan penelitian tentang ini. Biar ayah saja yang menjelaskannya. Sebentar lagi dia datang," jelas Dion.


Boy bernapas lega karena hasil tes kondisi jantungnya dinyatakan baik. Namun sepertinya ada hal lain yang ingin disampaikan Dion dan Maliq.


Tak lama pintu ruangan Dion diketuk dan munculah pria paruh baya yang masih terlihat gagah di usianya yang memasuki kepala 4.


"Halo, Boy. Apa kabarmu?" sapa Maliq dengan menepuk bahu Boy.


"Aku baik, Paman. Paman sendiri bagaimana?"


"Paman baik. Apa kalian sudah bicara?" tanya Maliq dengan menatap Boy dan Dion bergantian.


"Ayah saja yang menjelaskan pada Boy," ucap Dion.


"Baiklah, Boy. Paman dan Dion sudah melakukan penelitian kenapa kau bisa mengalami impotensi dini." Maliq nampak menghela napas sebelum melanjutkan kalimatnya.


"Sebelumnya Paman minta maaf karena ini semua juga karena campur tangan Paman."


Boy mendengarkan dengan seksama.


"Karena ketakutan yang dialami oleh orang tuamu, maka semua ini bisa terjadi. Apa kau ingat saat kau masih kecil kami selalu memintamu untuk meminum obat yang kami samarkan dengan mengatakan jika itu adalah vitamin," terang Maliq dengan pelan dan hati-hati.


Boy mencoba mengingat kenangan masa kecilnya.


"Sepertinya aku ingat, Paman. Memangnya ada yang salah dengan semua itu, Paman?" tanya Boy.


"Boy, obat itu adalah obat untuk memperbaiki kinerja organ jantung. Roy terlalu takut jika kau memiliki riwayat sakit yang sama dengannya. Maka dari itu, dia memintaku untuk membuat obat yang bisa mencegahnya. Kondisi jantungmu memang bagus. Tapi, Paman lupa jika setiap obat pasti memiliki efek samping bila dikonsumsi dalam jangka waktu yang panjang. Maafkan Paman, Boy. Besar kemungkinan jika kondisimu sekarang adalah karena pengaruh obat yang kau konsumsi selama ini."


Boy tertegun setelah mendengar semua penjelasan Maliq.


"Temanku?" Boy mengerutkan dahi.


"Kenji. Dia membuatkan formula untukmu," jawab Dion.


"Kau bercerita pada orang lain? Apa ada lagi yang tahu selain Kenji?" tanya Dion.


"Tidak ada. Maaf aku memberitahu Kenji. Dia adalah orang yang paling santai diantara kita berenam. Aku pikir aku bisa membagi sedikit kesedihanku padanya," ucap Boy dengan menggaruk tengkuknya.


"Tidak apa, Boy. Kenji sangat handal dalam membuat formula-formula yang mencengangkan dalam bidang kesehatan. Paman yakin dia bisa membantumu. Tapi, formula yang ia buat ini sedang kami uji coba apakah berbahaya untuk tubuhmu atau tidak. Kami akan mencocokkannya lebih dulu dengan DNA milikmu," papar Maliq.


Boy mengangguk paham. "Terima kasih, Paman Maliq. Aku berhutang pada kalian."


"Jangan sungkan, Boy. Aku dan ayahmu adalah teman baik, sama sepertimu dan Dion. Kalau begitu, Paman permisi dulu. Jika sudah ada hasilnya, Dion akan mengabarimu."


"Baik, Paman." Boy beranjak dari duduknya lalu menjabat tangan Maliq.


Dion menghampiri Boy dan menepuk bahunya.


"Terima kasih, Dion. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku jika kau tidak membantuku."


"Jangan berkecil hati. Setiap masalah pasti memiliki jalan keluar. Kudoakan kau selalu bahagia dengan Natasha."


"Aku sangat mencintainya, Dion. Aku sangat takut kehilangan dia. Aku mengenalnya seumur hidupku. Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan jika dia pergi meninggalkanku." Boy berkaca-kaca mengingat semua kenangannya bersama Natasha.


......***......

__ADS_1


Lian kembali ke rumah setelah mengurus persiapan pertunangan di Royale Hotel. Rasa letih mulai dirasakan tubuhnya. Ketika dirinya baru memasuki rumah, tiba-tiba ibunya juga memasuki rumah.


"Ibu? Ibu dari mana?" tanya Lian.


"Ibu dari makam ayahmu. Sudah lama ibu tidak mengunjungi makamnya," balas Lusi.


"Kenapa ibu tidak mengajakku? Aku juga ingin mengunjungi makam ayah."


"Tidak apa, Nak. Kau kan sedang sibuk mengurus pesta pertunangan Boy."


"Lain kali ibu harus mengajakku. Aku tidak akan membiarkan ibu pergi sendirian lagi."


Lusi tersenyum kemudian membelai wajah Lian. "Saat seorang anak mulai tumbuh dewasa, dia pasti akan sibuk untuk mengurus hidupnya sendiri. Sebagai orang tua, kita harus bisa memahami itu."


Lian menatap sendu kearah Lusi. Betapa ia merasa bersalah karena terlalu sibuk mengurus pekerjaan dan juga kedua putranya.


"Sebaiknya ibu beristirahat. Ibu pasti lelah," ucap Lian.


"Kau juga pasti lelah, Nak. Kau juga harus istirahat."


Lian mengangguk kemudian mengantar Lusi masuk ke kamarnya.


Sementara itu, Boy kembali ke rumah dan melihat suasana rumah sudah sepi.


"Semua orang pasti sudah masuk ke kamar masing-masing," gumamnya.


Boy menaiki tangga dan menuju kamarnya. Entah kenapa Boy terhenti saat memegang handel pintu. Ia menatap pintu kamar kedua orang tuanya. Ingin rasanya ia berkunjung kesana. Sudah lama ia tak menyapa Lian dan Roy sebelum tidur.


Boy mengetuk pintu dan terdengar suara mempersilakan dirinya masuk.


"Papa, Mama," sapa Boy.


"Boy? Kau sudah pulang, Nak?" tanya Lian antusias yang melihat putra sulungnya.


"Iya, Ma."


"Jika kau ingin menanyakan tentang persiapan pesta pertunanganmu, maka kau jangan khawatir. Mama sudah mengaturnya dengan sangat baik, Mama..."


"Tidak, Ma. Aku hanya ingin melihat kalian."


Lian dan Roy saling pandang.


"Sudah lama aku tidak mengucapkan selamat tidur pada kalian." Boy naik keatas tempat tidur dan merebahkan kepalanya dinpangkuan Lian.


"Aku merindukan belaian tangan Mama."


Lian tersenyum dan mengusap lembut rambut Boy.


...B E R S A M B U N G...


"hiks hiks hiks, hubungan anak-orang tua memang selalu bikin meleleh mewek jika mengingatnya."


Mampir juga yuk ke,๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡


Raanjhana, bergenre adult romance, yang isinya ada 5 seasons dengan kebaperan di tiap seasonnya. hehehe.

__ADS_1



__ADS_2