
Rion menatap Aleya yang sedang berbincang bersama Nathan. Perlahan Rion mundur karena tak ingin mengganggu obrolan mereka. Ia yang sudah membawakan roti dan susu untuk Aleya, akhirnya ia urungkan.
Seorang perawat menghampiri Rion dan memintanya segera datang ke ruang periksa karena pasien sudah menunggu. Tak ingin makanan yang ia beli menjadi sia-sia, Rion memberikan bungkusan itu kepada para perawat yang berjaga.
Setelah semua pasien telah ia periksa, Rion keluar dari ruang periksa dan melihat beberapa kawan seprofesinya sedang berbincang serius. Rion pun menghampiri mereka.
"Ada apa ini?" tanya Rion.
"Ah, Dokter Rion. Ini ada rumah sakit di pelosok desa yang membutuhkan tenaga dokter. Kemungkinan dari rumah sakit Avicenna akan mengirimkan perwakilannya," terang Mina.
"Oh, begitu. Bisa aku lihat brosurnya?" izin Rion.
"Ini, Dokter. Kalau begitu kami permisi. Nanti dikira kita makan gaji buta!" kekeh Mina dan beberapa dokter lainnya.
Rion memandangi selebaran itu. Entah kenapa perasaannya ingin juga pergi kesana.
Saat sedang membayangkan hal yang terlintas dalam benaknya, tiba-tiba sebuah suara mengejutkannya.
"Kak Rion!"
Rion menoleh mencari sumber suara.
"Aleya?"
Gadis itu tersenyum kearah Rion. Ia melirik sekilas pada kertas yang dipegang oleh Rion. Mengetahui Aleya melirik kertas itu, Rion segera meremas kertas itu dan memasukkannya kedalam saku jas putihnya.
"Ada apa, Aleya?" tanya Rion untuk mengusir kecanggungan.
"Aku tadi ke ruangan kakak, tapi perawat bilang kakak sedang ada pasien. Aku hanya ingin memberikan ini." Aleya menyerahkan paper bag kecil ditangannya kepada Rion.
"Oh, terima kasih," balas Rion.
"Kakak berangkat pagi, jadi kupikir kakak pasti belum sarapan. Aku bawakan roti dan susu kotak."
"Ah iya, aku memang belum makan apa pun. Karena perubahan cuaca, jadi banyak anak-anak yang terserang penyakit."
Aleya mengangguk paham. "Kak, aku ... aku ingin meminta maaf. Aku tahu kakak pasti kecewa denganku. Aku..."
"Tidak apa. Aku mengerti perasaanmu."
"Mengerti?" Aleya mengernyit bingung.
"Aku tahu jika aku tidak berhak melarangmu. Kau bukanlah siapa-siapaku, Aleya."
"Apa maksud kakak? Bukankah kita..."
"Sudah ya! Kita bahas masalah ini nanti saja. Aku harus kembali ke ruang periksa. Terima kasih untuk roti dan susu kotaknya!"
Aleya yang ingin menghentikan langkah Rion nyatanya tak bisa karena pria itu segera berjalan cepat meninggalkan Aleya. Aleya hanya bisa menghela napas.
"Jangan diambil hati. Dia memang begitu."
Aleya menoleh ke arah suara yang bicara.
"Kak Dion?"
"Ini ada titipan dari Zeze." Dion menyerahkan sebuah paper bag kepada Aleya.
"Kau pasti butuh baju ganti karena kau menginap disini," ucap Dion.
"Terima kasih, Kak."
"Rion memang sulit ditebak. Dia hanya bertindak sesuai dengan hatinya." Dion mengajak Aleya duduk di sofa rumah sakit.
Aleya berusaha mendengarkan cerita Dion tentang Rion.
"Aleya, jika kau memang tidak ada perasaan apa pun pada adikku, maka jangan memberikan harapan padanya. Dia ... sudah pernah kehilangan orang yang dia cintai. Aku tidak ingin dia kembali terpuruk."
Aleya terdiam. Sungguh ia merasa berdosa kepada Rion. Sesaat mereka terdiam dan larut dalam pikiran masing-masing.
"Apa yang terjadi dengan mereka di masa lalu, Kak?" tanya Aleya untuk membunuh rasa penasarannya.
__ADS_1
"Gadis itu bernama Luna. Dia adalah cinta pertama Rion," terang Dion. "Kisah mereka tidak berjalan mulus. Karena gadis itu meninggalkan Rion."
"Kenapa?"
"Gadis itu meninggal dunia karena sakit yang dideritanya."
Aleya menutup mulutnya tak percaya. Ia tak menyangka jika Rion menyimpan kesakitan yang luar biasa.
......***......
Nathan menunggu kedatangan seseorang di ruang tunggu bandara. Ia melirik jam tangannya yang menunjukkan sudah waktunya orang yang ia tunggu seharusnya telah mendarat. Ia memainkan ponselnya untuk mengusir kebosanan.
"Ck, kau ini sangat mirip dengan kakakmu! Kupikir kau akan mencariku ketika pesawat telah dipastikan mendarat. Ternyata aku salah!" cerocos pria yang ditunggu oleh Nathan.
Nathan malah terkekeh melihat kekesalan yang dialami oleh pria yang tak lain adalah Kenji.
"Selamat datang, Kak. Aku sangat senang kakak bersedia datang," sapa Nathan yang berdiri dan memeluk Kenji.
"Kau ini!" Kenji mengacak rambut Nathan. "Bagaimana kondisi Boy?"
"Yah begitulah. Dia masih belum sadar. Papa bilang harus ada penawar untuk membuatnya bangun."
"Astaga! Kenapa semua ini bisa terjadi? Cepat antar aku menemui paman Roy dan paman Maliq. Aku harus tahu bagaimana kondisi Boy."
"Ayo, Kak!"
.
.
.
Seharian ini Kenji berkutat di laboratorium untuk membuat obat penawar racun yang ada di tubuh Boy. Kenji juga terkejut banyak hal terjadi selama ia meninggalkan Indonesia, termasuk kematian Natasha. Keluarga Avicenna sengaja menutup rapat agar berita kematian Natasha tidak sampai di konsumsi oleh negara luar.
"Bagaimana, Ken?" tanya Roy saat menghampiri Kenji.
"Masih kuuji coba, Paman. Sepak terjang paman Noel tidak bisa diragukan lagi. Dia memang seorang maniak."
"Iya, Paman.
.
.
.
Setelah tiga hari berlalu, akhirnya Kenji berhasil membuat penawar untuk Boy. Dengan ditemani oleh Roy dan yang lainnya, Kenji menyuntikkan penawar itu ke tubuh Boy.
"Akan butuh waktu 24 jam hingga penawar itu bekerja," jelas Kenji.
Lian dan Riana yang ada disana ikut bernapas lega.
"Terima kasih, Ken. Bibi tidak tahu lagi apa yang harus kami lakukan untuk membuat Boy kembali sadar," Lian menangis haru.
"Jangan sungkan, Bi. Boy adalah sahabatku. Aku juga ikut berduka cita atas kepergian Natasha. Aku tidak menyangka jika dia akan melakukan hal seperti ini." Kenji menghampiri Riana.
"Iya, Nak. Terima kasih. Mungkin ini semua memang sudah menjadi garis takdir Natasha. Dia sudah tenang disana," balas Riana yang nampak tegar.
Kenji melirik kearah Aleya yang ternyata selalu ada disisi Boy selama Boy tak sadarkan diri. Ia sudah mengira jika ada sesuatu diantara mereka.
Dua puluh empat jam hampir berlalu, dokter memeriksa kondisi Boy yang nampak lebih baik. Dan sesuai dengan prediksi Kenji, Boy mulai membuka matanya perlahan.
Lian amat bahagia melihat putranya kembali membuka mata. Ia berpelukan dengan Riana.
"Aleya..." lirih Boy yang melihat sekilas ada bayangan sosok Aleya dimatanya.
Semua orang di kamar itu menatap Aleya. Ternyata gadis cantik itu memang sungguh berarti dalam hidup Boy.
Lian mendekati Aleya dan memintanya menemui Boy.
Aleya berdiri tepat di samping brankar Boy. Boy tersenyum melihat Aleya baik-baik saja.
__ADS_1
"Terima kasih karena kau baik-baik saja," ucap Boy lirih.
Aleya tidak dapat berkata-kata dan hanya bisa menangis.
Maliq kembali memeriksa seluruh organ penting Boy.
"Semuanya normal. Formula dari Kenji benar-benar berhasil," ujar Maliq.
Roy dan Lian mengucap syukur yang tiada tara. Mereka saling berpelukan dan menangis haru.
......***......
Satu hari sebelumnya,
"Tolong kirim aku kesana, Ayah! Aku akan menjadi relawan dokter di desa itu."
"Nak, kau tahu apa resikonya, kan? Disana kau bukan hanya sebulan dua bulan, tapi bertahun-tahun."
"Aku tahu, Ayah. Justru itu lebih baik untukku!"
"Apa maksudmu? Aku dan ibumu tidak akan mau kehilanganmu untuk kedua kalinya."
"Tidak, Ayah. Ayah dan ibu tidak kehilangan aku. Aku tetaplah anak kalian. Percayalah!"
Maliq tidak tahu lagi harus menjawab apa. Keinginan Rion untuk pergi ke desa terpencil itu sangatlah besar. Maliq sendiri juga tidak tega melihat putranya harus menelan pil pahit lagi karena hatinya kembali terluka.
"Baiklah, Nak. Ayah akan kabulkan permintaanmu."
Dan disinilah Rion kini, menenteng tas besarnya dan bersiap untuk pergi. Di ruang tunggu bandara menunggu panggilan untuk keberangkatan pesawatnya. Ia sudah bertekad untuk mengalah. Mengalah bukan berarti kalah. Ia hanya ingin kebahagiaan untuk orang yang dicintainya.
"Kak Rion!" teriakan seorang gadis berhasil memudarkan semua lamunan Rion.
"Aleya?"
Gadis itu berlari menghampiri Rion. Dengan napas tersengal gadis itu berusaha bicara.
"Ja-ngan per-gi..." ucap Aleya terbata.
Rion hanya mengulas senyumnya. Sungguh ia tidak ingin pergi begitu saja meninggalkan cintanya.
Rion menarik tubuh Aleya dan memeluknya. Sebuah pelukan perpisahan untuk seseorang yang dicinta.
"Aku harus pergi, Aleya. Entah kapan angin akan membawaku kembali," ucap Rion ketika ia mengurai pelukannya.
Aleya menggeleng pelan. Air matanya telah luruh. Pria yang selalu menemaninya beberapa tahun ini memang tidak bisa bertengger di hatinya. Tapi melihatnya pergi tentu saja membuat hati Aleya sakit.
"Maafkan aku, Kak. Maafkan aku..." tangis Aleya makin keras.
Rion menyeka air mata Aleya. "Berjanjilah kau akan bahagia. Aku akan mendoakanmu dari jauh."
Rion mengecup kening Aleya dalam. Ketika pengeras suara mengumumkan penerbangannya, Rion segera menarik diri dan meninggalkan Aleya yang masih terisak.
Kehilangan cinta memang sakit
Tapi kehilangan seseorang yang mencinta dengan tulus,
Tentunya lebih menyakitkan,
Meski hatiku tidak pernah dengannya...
Hanya angin sebagai penanda rindu,
Selalu kusematkan doa untuknya,
...B E R S A M B U N G ...
*Aduh, terasa lagi iris bawang ini mah. Ya sudahlah, life must goes on, Aleya.
Akankah cinta Boy dan Aleya bersatu setelah kepergian Rion? Atau masih ada badai lagi yang menerjang?
Lalu bagaimana dengan kisah Dion dan Zetta? Apakah Marinka menerima Zetta sebagai menantu? Bagaimana reaksi Kenji saat tahu dia memiliki anak dari Zetta?
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ya kesayangan ๐๐๐