Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 32. Dari Hati ke Hati


__ADS_3

Keheningan memenuhi salah satu meja di sebuah warung makan khas Kota Jogja yang di isi oleh dua orang pria tampan yang saling tertunduk. Makanan diatas meja itu telah tandas.


Sudah beberapa menit berlalu dan belum ada yang saling angkat bicara. Hingga akhirnya ponsel Roy berdering dan terpapar nama Ben disana. Roy mengangkat panggilannya tanpa beranjak dari tempat duduknya.


Roy mengakhiri panggilannya. Ia menatap Patrick yang juga sedang menatapnya.


"Katakan padaku, Roy. Apa kau sakit?" tanya Patrick pada akhirnya.


Roy menarik sudut bibirnya. "Jadi sedari tadi kau ingin bertanya itu?" Ketegangan kembali mewarnai perbincangan kakak beradik itu.


"Jika kau masih menganggapku sebagai kakakmu, maka..." Patrick tak sanggup melanjutkan kalimatnya.


"Apa kau mencintai Belinda?" tanya Roy.


"Eh?" Patrick tercengang.


"Kau tidak tuli, bukan? Apa perlu aku mengulangnya?"


"Roy!!!" Patrick mulai memanas.


"Jika kau masih menganggap dirimu sebagai kakakku, maka lakukanlah apa yang harus kau lakukan sebagai seorang kakak."


Patrick terdiam.


"Jika ... terjadi sesuatu denganku. Aku mohon kau bisa menjaga Boy dan juga Belinda."


Patrick masih terdiam.


"Hanya itu saja yang kuminta darimu." Setelah mengatakan semua hal yang ada di hatinya, Roy segera bangkit dari duduknya dan bersiap untuk pergi.


"Terima kasih untuk sarapan paginya." ucap Roy kemudian pergi meninggalkan Patrick yang masih bergeming.


Patrick menatap nanar kepergian Roy. Ia sungguh tak menyangka jika Roy menyimpan rahasia besar yang tak diketahui oleh banyak orang. Ia menghela nafas panjang kemudian ikut beranjak dari duduknya. Namun sebelum pergi, Patrick membayar tagihan makan paginya.


......***......


Belinda melakukan pekerjaannya seperti biasa. Pagi tadi Boy pergi bersama Riana karena tak ada satupun baik Patrick maupun Kenzo yang datang ke tempat mereka untuk sarapan bersama.


"Oke, Bella, berbalik, senyum, oke! Good!" pengarah gaya mengatur gaya Belinda dalam berpose.


Belinda berlenggak lenggok dan berganti baju hingga berkali-kali. Ia mulai menikmati pekerjaannya sebagai model.


"Oke! Kita istirahat dulu!" ucap sang fotografer.


"Bella, thanks for today." lanjutnya.


"Yeah, you're welcome." balas Belinda kemudian berlalu dan masuk ke kamar istirahatnya.


Belinda meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Ia merebahkan tubuhnya di sofa panjang yang ada disana. Tak lama, ia memejamkan mata untuk sejenak.


Tiga puluh menit berlalu. Belinda masih terpejam. Sepertinya raganya amat lelah hingga ia tak menyadari ada seseorang yang tengah menatapnya dalam diam.


Orang itu tersenyum memperhatikan raut wajah Belinda yang terpejam. Ia menatap lekat setiap lekukan wajah Belinda yang menurutnya amat sempurna.


"Kau sempurna, Berlian..." lirihnya.


Mendengar seseorang menggumam, Belinda segera membuka mata dan mengerjap pelan. Belinda terkejut melihat seseorang ada didepannya.

__ADS_1


"Kau! Apa yang kau lakukan disini? Siapa yang mengijinkanmu masuk?" kesal Belinda.


Pria itu tersenyum melihat kemarahan Belinda.


"Kau semakin cantik saat sedang marah." kekeh pria yang tak lain adalah Roy.


Wajah Belinda bersemu merah. "Kau!" Tunjuk Belinda yang kini sudah memposisikan dirinya duduk.


"Kau terlihat sangat kelelahan. Sebaiknya kau berhenti dari pekerjaanmu dan fokus saja mengurus putra kita." ujar Roy.


"Hah?! Apa maksudmu?"


"Aku tidak ingin kau kelelahan karena pekerjaan ini. Masalah uang kau tidak perlu khawatir. Aku akan memberimu uang bulanan. Berapa? 50 juta? 100 juta?"


Belinda memejamkan mata menahan amarahnya.


"Dengar, Tuan! Aku dan anakku tidak butuh uangmu. Aku bisa membiayai hidupku sendiri." kesal Belinda yang merasa jika Roy meremehkannya.


Roy menggeser duduknya hingga disamping Belinda. Ia meraih tangan Belinda dan menggenggamnya.


"Maafkan aku karena sudah membuatmu hidup bersusah payah selama beberapa tahun ini. Aku ingin menebus semua kesalahanku di masa lalu. Kumohon, Belinda..." Roy menatap lekat wanita yang sudah melahirkan anak untuknya.


Belinda melepas genggaman tangan Roy. "Tolong jangan begini. Kita tidak sedekat itu untuk bisa saling bersentuhan." Belinda beranjak dari duduknya. Ia mengatur degup jantungnya yang terasa tak beraturan.


"Kita bisa memulainya dari awal." ucap Roy yang ikut berdiri.


Mereka berdiri berhadapan.


"Demi Boy," lanjut Roy.


"Jangan membawa Boy dalam hal ini. Kau boleh bertemu dengannya kapanpun kau mau karena dia memang anakmu. Tapi, jangan berharap lebih tentang hubungan kita. Aku sedang tidak ingin memiliki hubungan dengan siapapun saat ini." jelas Belinda.


"Eh?" Pertanyaan Roy membuat Belinda tersentak.


"Bukankah Boy menginginkan sebuah keluarga yang utuh? Kenapa kau bersikap egois dengan mementingkan perasaanmu sendiri?"


"Kurasa kau tahu apa alasanku," Belinda memalingkan wajahnya.


"Apa ini tentang Zara?" ucap Roy.


Belinda tidak menjawab.


"Aku tahu kau pasti memikirkan tentang Zara. Tapi kau harus tahu, hubungan kami tak seperti yang terlihat di muka umum."


"Itu bukan urusanku." balas Belinda.


"Apa kau yakin? Kau tidak ingin Boy memiliki keluarga yang utuh?"


Belinda menatap Roy. Ia tahu jika pria di depannya ini serius dengan ucapannya.


"Kau urus dulu hubunganmu dengan tunanganmu. Setelah itu kau bisa datang menemuiku."


"Benarkah? Kau serius?" mata Roy berbinar.


"Sebaiknya kau keluar. Aku tidak mau di cap sebagai perebut tunangan orang."


"Kau tidak merebutku dari siapapun, Belinda. Karena sudah lama hatiku tidak tertambat pada wanita manapun."

__ADS_1


"Hah?!"


Roy tersenyum kemudian mengecup singkat kening Belinda. "Aku akan menunggumu hingga selesai bekerja."


"Eh? Tapi, bagaimana dengan pekerjaanmu?"


"Aku sudah menyerahkan semuanya pada Ben."


Ada sedikit rasa senang di hati Belinda saat Roy mengatakan akan menunggunya.


......***......


Belinda pulang ke apartemen bersama Roy. Di perjalanan menuju apartemen, hanya kesunyian yang memenuhi ruang di mobil sport milik Roy.


Belinda menatap jalanan diluar kaca mobil. Entah apa yang ia rasakan sekarang saat bersama dengan Roy. Ia sendiri tak menyangka jika yang menanam benih padanya adalah seorang pria seperti Roy.


"Aku berencana mengajak Boy untuk menemui kakekku." Roy mencairkan suasana dengan obrolan hangat.


"Kakekmu?"


"Kurasa kau pernah bertemu dengannya. Donald Avicenna. Hanya dia yang tahu tentang proyek rahasia ini."


Belinda terdiam dan mencoba mengingat tentang kakek Roy.


"Kau yakin jika kakekmu bukanlah..."


"Bukan! Aku yakin bukan kakek yang sudah membuat kampung halamanmu tak berpenghuni. Atau mungkin ada orang-orang yang sengaja memakai nama keluarga Avicenna agar kau membencinya."


"Eh? Apa hal seperti itu mungkin?"


"Kau tidak tahu apa yang sedang kau hadapi, Bels. Jadi, kumohon kau bisa mengandalkan Patrick Hensen dalam hal ini."


"Patrick? Sejak kapan kau menjadi dekat dengannya?"


"Ada banyak rahasia di dunia ini, Belinda. Kau hanya belum menyadarinya saja."


"Baiklah. Aku percaya denganmu. Kau bisa membawa Boy bertemu kakekmu. Tapi..."


"Tapi apa?"


"Kuharap kau tetap merahasiakan identitasku didepan kakekmu. Aku ... aku masih belum siap menghadapi dunia."


Roy tersenyum. "Kau tenang saja. Aku tidak akan bicara apapun pada kakek."


Belinda balas tersenyum. Rasanya lega setelah saling mengungkap rasa dari hati ke hati.


......***......


#bersambung...


"Happy weekend kesayangan mamak 😍😍😍"


Jangan lupa tinggalkan jejak 👣👣


👍Like


💟Gift

__ADS_1


💋comments


...thank you...


__ADS_2