
Aleya masih setia duduk dengan para penduduk desa dan mendengarkan cerita ayahnya mengenai legenda desa tempat tinggalnya. Malam semakin larut dan kisah itu masih belum usai.
Namun Aleya melihat seseorang bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan acara. Aleya tahu siapa orang itu. Sosoknya sangat ia kenali meski dalam temaram malam.
Setelah menunggu beberapa saat, Aleya ikut bangkit dari duduknya. Ia menuju ke kamarnya dan mengambil sesuatu.
"Aku harus mengembalikan jaket milik Kak Boy. Besok dia akan kembali ke kota dan tidak akan kembali lagi. Maka aku juga ... harus kembali dengan kehidupanku yang dulu," gumam Aleya.
Aleya mengatur napas sebelum ia menuju kamar Boy. Tiba di depan kamar, ruangan itu terasa sunyi dan seakan tak berpenghuni.
"Sepertinya Kak Boy tidak ada di dalam."
Aleya memutuskan untuk berbalik badan dan kembali ke kamarnya. Langkah Aleya kembali terhenti kala melihat sosok yang tak asing.
"Kak Rion? Apa yang kakak lakukan disini?" tanya Aleya sambil celingukan.
"Aku menunggumu. Aku tahu kau tadi pergi lebih awal dari acara api unggun. Apa kau ingin menemui Boy?"
"Eh? Bu-bukan begitu..." Aleya salah tingkah. Gadis remaja itu seakan mati kutu karena Rion selalu memergoki dirinya.
"Apa itu yang ada di tanganmu?"
"Ah, ini? Ini adalah..." Aleya bingung harus menjawab apa lagi. Ia tak pandai berbohong.
"Aleya, aku tahu kau menyukai Boy. Tapi, sekali saja berikan aku kesempatan. Hanya sekali," batin Rion.
"Ini untuk kakak!" seru Aleya.
"Eh?" Rion terkejut.
"Iya, ini untuk Kak Rion. Kemarikan tangan kakak!"
Aleya memasangkan gelang rotan ke tangan Rion.
"Ini adalah hadiah untuk kakak. Anggap saja sebagai kenang-kenangan dariku," ucap Aleya.
"Bagus! Aku menyukainya. Kau membuatnya sendiri?"
"Iya. Aku membuatnya sendiri," jawab Aleya.
"Baiklah. Ini sudah malam. Sebaiknya kau masuk ke kamarmu. Aku juga akan kembali ke kamarku."
Aleya mengangguk. Ia melambaikan tangan melepas kepergian Rion. Ia masuk ke dalam kamar dan menghembuskan napas kasar.
"Gelang itu sebenarnya untuk Kak Boy. Tapi, aku tak enak hati pada Kak Rion. Dia sudah sangat baik padaku."
Aleya menatap jaket milik Boy yang sudah ia bungkus rapi. "Lalu bagaimana dengan ini? Sebaiknya besok saja aku berikan pada Kak Boy."
Sementara itu, Boy masih menyiram tubuhnya dengan guyuran air dingin. Ia merasakan efek yang cukup kuat pada minuman yang ia minum tadi.
"Sialan kau, Kenji! Bagaimana bisa kau membawa minuman laknat seperti itu kemari?" umpat Boy yang masih terus mengguyur tubuhnya.
Acara api unggun pun telah usai. Semua orang mulai meninggalkan tempat itu. Kenji dan Dion berpamitan lebih dulu sedang Fajri dan Rana masih berbincang dengan Kosih.
Kenji tiba di kamarnya dan melihat botol minuman dengan tutup yang terbuka.
__ADS_1
"Hah?! Siapa yang meminumnya? Ini gawat! Formula itu belum kuuji coba." Kenji mengacak rambutnya.
"Jangan-jangan..." Kenji langsung menuju kamar Boy yang ternyata tidak terkunci.
"Boy! Kau dimana?"
"Aku di kamar mandi!" seru Boy.
Kenji segera menuju ke kamar mandi. "Boy! Apa kau meminum ramuan yang kubuat?"
"Dasar gila! Minuman apa yang kau buat ini?"
"Maaf, Boy. Minuman itu untuk suami yang sulit bergairah dengan istrinya. Aku baru membuatnya dan belum menguji cobanya. Rencana akan kuteliti dulu dan jika berhasil aku akan membuatnya secara massal."
"Sialan, kau! Sekarang apa yang harus kulakukan? Cepat lakukan sesuatu!" teriak Boy.
Mendengar keributan dari kamar Boy, Dion ikut masuk kesana.
"Ada apa ini?" tanya Dion yang ikut bingung karena Kenji menyiram tubuh Boy dengan air dingin.
Kenji menjelaskan secara singkat pada Dion. Paham dengan situasi yang terjadi, Dion segera menuju kamarnya dan mengambil sesuatu.
"Minumlah ini, Boy!" perintah Dion pada Boy.
Dengan cepat Boy meminum obat dari Dion. Perlahan pengaruh minuman Kenji berangsur hilang. Boy terkulai lemas di lantai kamar mandi.
"Ayo bangun, Boy! Kau akan sakit jika kau basah kuyup begini. Sebaiknya ganti bajumu dan istirahat," ucap Dion memapah tubuh Boy.
Dion menatap tajam kearah Kenji. "Awas saja jika terjadi sesuatu dengan pasienku!" seloroh Dion dengan marah.
"Hei, tenang kawan. Boy juga pasienku. Oke?" Kenji menjawab dengan santai lalu kembali ke kamarnya.
Pagi harinya, Aleya bangun dari tidurnya dan langsung membersihkan diri. Niatnya untuk mengembalikan jaket Boy harus terlaksana. Ia mematut diri didepan cermin sebelum keluar dari kamarnya.
Waktu masih menunjukkan pukul empat pagi. Pasti orang-orang belum terbangun. Pikir Aleya.
Namun sesuatu terjadi ketika Aleya membuka pintu kamarnya.
"Kak Boy?" Orang yang akan ditemuinya tiba-tiba muncul dihadapannya.
"Iya, ini aku," ucap Boy santai.
"Ada perlu apa kakak datang kemari?"
"Kau sendiri pagi-pagi buta begini mau kemana? Dan bungkusan apa itu?"
"Eh? Ini ... ini adalah milik kakak. Jaket yang waktu itu kakak pinjamkan, ini aku kembalikan!" Aleya menyerahkan bungkusan itu pada Boy.
Boy menerimanya dan langsung membukanya.
"Kau pakai saja!" Boy memakaikan jaketnya ke tubuh Aleya.
"Eh? Tapi, Kak..."
"Sudah! Ayo jalan!" Boy langsung meraih tangan Aleya dan membawanya pergi.
__ADS_1
Mereka menyusuri jalanan setapak dengan udara dingin yang menusuk tulang.
Aleya sempat menggigil karena merasakan hawa dingin yang tak biasa.
"Kau kedinginan?" tanya Boy.
Aleya mengangguk. Boy merapatkan jaket miliknya ke tubuh Aleya.
"Kau harus hidup dengan baik setelah ini. Kau ingin mengejar cita-citamu, bukan? Maka kejarlah! Aku yakin kau pasti bisa." Boy merapikan syal yang dipakai Aleya.
Aleya hanya menatap orang yang kini ada didepannya.
"Apakah bisa didalam impianku juga ada kakak disana?" Bibir Aleya bergetar saat mengutarakan pertanyaan itu.
Boy terdiam. Ia menatap wajah mungil nan cantik itu meski tanpa polesan make up disana.
Mata Aleya mengembun. Ia sadar diri siapa dirinya. Ia tahu jika semua ini hanyalah hal semu yang suatu saat akan menghilang. Tapi tak bisakah dirinya berharap sedikit?
...Ada yang bilang cinta itu buta....
...Orang yang pintar mendadak bodoh saat merasakan jatuh cinta....
...Lantas, apakah seseorang tak pantas mencinta? Tak pantaskah seseorang mengharap untuk dicinta?...
...Bagaimana denganku?...
...Berada di tengah seseorang yang mencinta dan aku juga menghiba cinta......
...Apa yang harus kuperbuat?...
...Sedikit bodoh tapi manis....
...Aku akan menyebutnya begitu......
Aleya mulai menutup mata ketika kedua tangan kekar itu merangkum wajahnya. Bibirnya yang bergetar mendadak geming karena sesuatu telah menempel disana.
Aleya membuka mata dan mengerjap merasakan sebuah sentuhan yang baru pertama kali ia rasakan.
Matanya kembali terpejam kala sebuah pagutan lembut bermain di bibirnya.
...Terima kasih,...
...Terima kasih karena sudah memberiku kesempatan untuk merasakan sebuah hal yang manis. ...
...Sebuah kesalahan yang manis. ...
...Namun aku tak ingin melewatkannya....
...Aku tak ingin semua ini cepat berakhir....
...Aku mencintaimu, Kak Boy......
...B E R S A M B U N G...
__ADS_1
"Huaaaaa huaaaaa😳😳😳🙈🙈🙈
Akankah mereka bersatu? Kalian dukung siapa nih?