
...Impian bagi dua insan yang menikah...
...Mendapat buah hati sebagai pelengkap cinta...
...πππ...
Kenji yang bersiap untuk pulang, membawa tubuh Andra dalam gendongannya. Masih tak ada kabar dari Zetta maupun Dion. Kenji memutuskan membawa Andra ke apartemennya saja.
Dengan hati-hati Kenji merebahkan tubuh mungil Andra di kursi belakang mobil. Ia memandangi wajah damai malaikat kecil yang telah mengubah hidupnya. Terkadang terbersit dalam hatinya yang terdalam jika ia ingin bisa berkumpul dengan Andra dan juga Zetta. Namun takdir memang berkata lain. Ada hati lain yang mengisi kekosongan Zetta saat dirinya bahkan tak mengetahui tentang kehamilan gadis itu.
Kenji menghela napas kasar. "Mungkin semua tidak bisa menjadi seperti semestinya. Begini saja sudah cukup! Zetta dan Dion tidak menjauhkan aku dari Andra." Ken memberikan kecupan di kening Andra.
Kenji menuju ke kursi kemudi dan bersiap pergi. Namun lagi-lagi ia menangkap bayangan Keyra yang sedang melangkah keluar dari area kampus. Ia memutuskan menghampiri Keyra dan Minah.
"Bi Minah! Kalian mau pulang?"
"Iya, Prof. Hari kan juga sudah sore. Tidak ada lagi mahasiswa di kampus."
"Kalian naik apa?"
"Kami terbiasa naik bus umum! Ayo, Bu!" jawab Keyra ketus dan menarik tangan Ibunya.
"Tunggu!" cegat Kenji.
"Ada apa?" tanya Keyra yang selalu ngegas.
"Aku akan mengantarkan kalian pulang!"
"Tidak perlu! Ayo, Bu!"
"Keyra, kumohon! Aku hanya ingin membantu. Lagi pula ini sudah hampir petang. Pasti akan lama menunggu bus."
Keyra menatap ibunya yang seakan mengiyakan permintaan Kenji.
"Baiklah," jawab Keyra pasrah.
Mereka bertiga menuju mobil Kenji.
"Oh ya, Bi Minah duduk di belakang dan tolong jaga Andra. Kau, duduk di depan, Keyra!"
"Heh?! Yang benar saja!"
"Sudah, jangan bertengkar, Keyra. Kasihan nanti putra Profesor terbangun," lerai Minah.
"Iya, iya, baiklah."
Keyra pun duduk di samping Kenji. Tak ada percakapan yang berarti selama perjalanan menuju ke rumah Minah. Hanya sesekali Keyra menjadi penunjuk arah bagi Kenji yang memang belum tahu dimana rumah gadis itu.
Sebenarnya batin Keyra bertanya-tanya apakah Kenji memang sudah menikah atau seorang single parent. Namun pemandangan yang dilihatnya pagi tadi, membuatnya merasa ragu. Kenji bersama seorang wanita hamil yang membawa anak.
Keyra menggelengkan kepalanya cepat. Kenapa juga ia harus memikirkan pria yang sudah beristri?
"Kau kenapa? Apa ada hal yang mengganjal pikiranmu?" tanya Kenji yang melirik Keyra.
"Tidak ada. Aku tidak memikirkan apa pun," balas Keyra.
"Jangan bohong! Kau tidak pandai berbohong, Nona."
Keyra memalingkan wajahnya. Beruntung Minah yang duduk di kursi belakang ikut tertidur pulas bersama Andra. Jadi, perbincangan mereka tidak didengar oleh Minah.
"Jika kau penasaran dengan statusku, maka ... aku akan mengatakannya dengan jujur padamu."
"Eh?"
"Aku adalah pria lajang, Keyra. Aku belum menikah. Masa laluku yang kelam membuatku melakukan kesalahan yang besar hingga lahir Andra dalam kehidupanku."
"Eh?"
"Aku tidak menikahi ibu kandung Andra karena ia memilih pria lain yang sangat mencintainya. Apalah aku yang dulu hanya seorang pemain wanita. Aku tidak bisa meyakinkan dia untuk bersama denganku."
Keyra terdiam mendengar cerita Kenji.
"Tapi, kini aku merasa telah kembali hidup. Aku bertemu seseorang yang mengubah hidupku, mengubah gaya hidupku. Aku ingin menjadi lebih baik dari aku yang sebelumnya."
__ADS_1
Keyra menundukkan wajahnya.
"Dan orang itu adalah kau, Keyra..."
Seketika Keyra mendongakkan kepala lalu menatap Kenji.
"Aku bersungguh-sungguh, Keyra."
Keyra yang biasanya ketus dan dingin terhadap pria. Entah kenapa bisa luluh dengan semua kejujuran Kenji. Semua masa lalu kelam pria itu tak ada yang ditutupinya. Tidak seperti pria yang pernah tertambat dihatinya namun hanya meninggalkan luka.
Ketika Keyra akan menjawab pernyataan Kenji, ponsel pria itu berdering dan membuyarkan semua kata-kata yang akan diucapkan Keyra.
Kenji segera mengangkat panggilan dari Dion. Wajahnya pucat mendengar apa yang dikatakan oleh Dion.
"Baik, aku akan segera kesana," jawab Kenji kemudian menutup sambungan telepon.
Kenji memutar arah mobilnya. Membuat Keyra bertanya-tanya.
"Ada apa? Kenapa memutar arah?"
"Zetta, ibunya Andra akan melahirkan."
"Heh?!" Keyra ikut terkejut. "Lantas bagaimana denganku dan ibuku? Kalau begitu turunkan aku disini saja!"
"Tidak! Kau ikutlah dulu ke rumah sakit. Setelah itu aku akan mengantarmu pulang."
Keyra tak bisa menolak permintaan Kenji. Ia pun hanya menyetujui apa yang pria itu putuskan.
...πππ...
Sementara itu di desa Selimut, Aleya yang masih bekerja di rumah sakit, dikejutkan dengan kedatangan Boy. Wajah Boy terlihat panik ketika menemui Aleya.
"Kak, ada apa?"
"Zetta akan melahirkan," ucap Boy yang membuat Aleya tercengang.
"Melahirkan? Bukankah tanggal perkiraan lahirnya masih satu bulan lagi?"
"Zetta kelelahan dan mengalami pendarahan. Dia harus segera melahirkan bayinya."
"Iya, ayo!"
*
*
*
Boy yang selalu menyiapkan helikopter pribadinya untuk kondisi darurat, akhirnya bisa membawa Aleya dan Kosih agar bisa menemani Zetta saat melahirkan bayinya.
Selama perjalanan, Aleya nampak cemas. Ia terus berdoa untuk kelancaran persalinan kakaknya itu. Kosih yang sudah seperti ayah bagi Zetta, juga tak kalah cemas.
"Aku yakin Zetta pasti baik-baik saja. Kalian tenang saja. Sebentar lagi kita akan tiba di rumah sakit." Boy berusaha menguatkan Aleya dan Kosih.
Setelah menempuh perjalanan selama dua jam, akhirnya Boy, Aleya dan juga Kosih tiba di rumah sakit Avicenna. Mereka bertemu Dion dan Kenji yang sedang menunggu di depan kamar bersalin.
"Syukurlah kau datang, Boy. Tolong selamatkan, Zetta," ucap Dion penuh harap.
"Iya, iya. Kau tenang ya! Aku akan segera kesana." Boy berpamitan dan masuk ke ruang bersalin.
Aleya melihat Andra yang nampak di gendong oleh seorang wanita yang tak dikenalinya. Ia pun mendekati gadis itu.
"Kau pasti lelah. Sini biar aku saja yang menggendong Andra," ucap Aleya.
"Tidak apa. Justru kau yang lelah, karena baru saja menempuh perjalanan jauh," balas Keyra.
"Namaku Aleya, kau?" Aleya memperkenalkan diri.
"Namaku Keyra," sahut Keyra.
Aleya tersenyum manis dan melirik kearah Kenji. Ada semburat kebahagiaan ketika mengetahui jika Kenji telah memiliki tambatan hati.
*
__ADS_1
*
*
Setelah berkutat selama tiga jam dalam ruang operasi, akhirnya Boy berhasil menyelamatkan bayi Zetta yang lahir prematur. Bayi kembar berjenis kelamin perempuan dan laki-laki ini harus masuk ke sebuah tabung untuk pemulihan.
Boy menemui keluarga Zetta yang menunggu dengan harap-harap cemas. Boy memutuskan untuk melakukan tindakan operasi karena kondisi Zetta yang tidak memungkinkan untuk melahirkan secara normal. Ia melakukan yang terbaik untuk bisa menyelamatkan nyawa ibu dan bayi kembarnya.
"Terima kasih, Boy. Terima kasih." Dion memeluk Boy mengucapkan rasa syukur yang besar pada pria itu.
Kenji juga ikut terharu merasakan kegembiraan keluarga kecil Dion. Ia menatap Andra yang masih tertidur pulas karena memang waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam.
Boy meminta Aleya dan Kosih untuk beristirahat di apartemen miliknya karena lebih dekat dengan rumah sakit dari pada harus menuju ke rumah Zetta. Sementara Kenji memutuskan untuk membawa Andra ke rumahnya.
Dion kini berjaga sendiri sambil memandangi kedua bayi mungilnya. Setelah keduanya lahir, ia langsung menghubungi Maliq dan Marinka. Namun Dion menolak saat kedua orang tuanya ingi langsung datang menjenguk. Hari yang sudah malam membuatnya tak tega meminta orangtuanya datang. Cukup dirinya saja berjaga di rumah sakit.
"Akan kau namai siapa kedua bayi lucu itu?" tanya Boy yang baru memeriksa kondisi Zetta.
"Entahlah. Aku menyerahkan semua pada Zetta saja."
"Kau sudah menghubungi Rion?"
"Belum. Mungkin besok saja. Lagi pula ini sudah malam. Kau sebaiknya pulang dan beristirahat. Kau pasti sangat lelah. Aku langsung merepotkanmu begitu kau tiba disini."
"Hei, kawan. Aku adalah sahabatmu. Jangan merasa sungkan."
"Bagaimana hubunganmu dengan Aleya? Sepertinya berjalan dengan lancar," goda Dion.
"Yeah, begitulah. Aku akan secepatnya membawa Aleya bertemu Mama dan Papa juga Aurel."
"Aku ikut senang mendengarnya. Akhirnya kau menemukan kebahagiaanmu juga, kawan." Dion menepuk bahu Boy.
"Terima kasih, kawan."
...πππ...
Keesokan harinya, Rion datang bersama Shelo untuk menjenguk Zetta dan kedua bayi kembarnya. Maliq beserta Marinka juga sudah ada disana. Mereka amat gembira mendapat sepasang cucu yang akan melengkapi keluarga mereka.
Semua orang berkumpul dan menantikan Zetta yang akan memberikan nama untuk putra dan putrinya.
"Kak, selamat ya! Sekali lagi kakak berjuang sebagai seorang ibu. Kakak adalah wanita yang hebat," ucap Aleya.
"Terima kasih, Adikku. Terima kasih, Paman." Zetta melirik Kosih.
"Kira-kira siapa nama si kembar?" tanya Rion penasaran.
"Kita tunggu kakaknya dulu ya! Dia yang akan memberikan nama untuk kedua adiknya," jawab Zetta.
Tak lama, Andra datang bersama Kenji dan membuat seisi ruangan heboh.
"Mama!" seru Andra menghampiri brankar Zetta.
"Sayang. Kau tidak naka kan bersama Daddy?"
"Tidak, Ma. Aku adalah anak yang patuh. Aku juga tidak mengganggu saat Daddy sedang bersama bibi Keyra."
Celotehan polos Andra menggugah gelak tawa diantara semua orang disana.
"Kenji, awas jangan kebablasan lagi! Nikahi dia dulu baru cetak gol sebanyak mungkin," nasihat Maliq yang malah mendapat sebuah cubitan dari Marinka.
"Kau ini! Ada anak kecil disini. Jangan bicara yang aneh-aneh."
Kemudian semuanya pun tertawa.
"Andra sayang, katakan pada Paman, siapa nama kedua adikmu itu!" Rion mendekati Andra dan menggendong tubuh mungil bocah itu.
"Hmm, siapa ya?" Andra mengetuk-ngetukkan jarinya ke dagu.
"Bagaimana jika Zion dan Zelia? Sepertinya bagus," ucap bocah kecil itu.
Semua yang mendengar tersenyum setuju dengan ide dari Andra.
"Iya, Nak. Mama suka nama itu," sahut Zetta.
__ADS_1
ππππππ
Senangnya semua orang telah menemukan kebahagiaan masing-masing...