Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 113. Sakit


__ADS_3

Boy mengikuti langkah Dion menuju ruang pemeriksaan lengkap yang berada di ruang sangat tertutup. Ada rasa gugup di hati Boy karena takut hasilnya tidak akan sesuai dengan harapannya. Harapannya hanya satu, menghabiskan sisa hidupnya bersama dengan wanita yang dicintainya yaitu Natasha. Boy sangat mencintai Natasha meski tahu jika Natasha hanyalah manusia buatan dan pastinya menikah dengannya tidak bisa membuat Boy memiliki keturunan.


Boy tidak mempermasalahkan soal keturunan, toh dirinya bisa menciptakan seorang bayi untuk dijadikan anak-anaknya kelak.


"Berikan semua barang-barangmu!" titah Dion.


"Eh?"


"Dompet, ponsel, jam tangan atau apapun yang ada di tubuhmu. Lepaskan semuanya dan berikan padaku."


Boy menurut dan memberikan semua barang-barangnya pada Dion.


"Butuh waktu berapa lama untuk pemeriksaan menyeluruh ini?" tanya Boy.


"Tidak lama. Hanya sekitar 15 hingga 30 menit saja."


"Lalu hasilnya? Kapan aku bisa menerima hasil dari pemeriksaan ini?"


"Sabar dulu, kawan. Diperiksa saja belum kau sudah menanyakan kapan hasilnya keluar." Dion menggeleng pelan melihat kawannya yang terlihat gugup.


"Gantilah bajumu dengan yang diberikan oleh asistenku."


Boy mengangguk paham kemudian mengikuti langkah seorang perawat pria. Sementara itu Dion mempersiapkan alat-alat yang akan memeriksa tubuh sahabatnya itu.


Tak berapa lama Boy kembali dengan memakai piyama pasien rumah sakit.


"Kau sudah siap?" tanya Dion.


"Iya. Meski aku sedikit gugup. Dan ... kuminta jangan sampai Papaku atau Ayahmu tahu soal pemeriksaan ini."


"Kau tenang saja. Aku tidak akan melanggar sumpahku sebagai seorang dokter. Ayo!"


Di tempat berbeda, Natasha dan teman-temannya keluar dari ruang bioskop dengan wajah sumringah. Kebanyakan dari mereka memuji film karya Produser Kang Joon A itu.


Di saat semua orang sibuk meminta berfoto bersama dengan sang produser, Natasha malah sibuk mengutak atik ponselnya untuk menghubungi Boy. Berkali-kali melakukan panggilan namun tak pernah diangkat oleh Boy.


Natasha kesal dengan sikap Boy yang selalu mengabaikannya di saat dibutuhkan.


"Kemana dia? Apa dia masih berkutat dengan pekerjaannya?" geram Natasha.


Natasha mondar mandir dengan terus menghubungi nomor ponsel Boy.


"Angkatlah, Boy! Kau benar-benar membuatku kesal!"


"Saat sedang kesal pun wanita cantik tetaplah cantik, ya!" suara pria yang tidak asing di telinga Natasha membuatnya menghentikan panggilannya.


"Kau? Apa yang kau lakukan disini? Apa kau mengikutiku?"


"Aku hanya tidak sengaja melintas di depan toilet wanita. Lagi pula ini adalah tempat umum, siapa saja boleh melintas kemari, kan?"


Natasha jengah. "Terserah kau saja, Tuan Sean Connan!" Natasha melangkah pergi meninggalkan Sean namun dengan cepat Sean mencekal lengan Natasha.


"Jangan meluapkan kekesalanmu pada semua orang hanya karena kekasihmu tidak mengangkat panggilan darimu!" ucap Sean yang berjarak begitu dekat dengan Natasha.


"Lepaskan! Atau aku akan berteriak!" ancam Natasha.


"Nona Natasha, kau harus ingat jika kita sebentar lagi akan menjadi lawan main. Kita akan sering bertemu. Bisakah kau bersikap lebih lembut padaku?"


Natasha menatap Sean dengan tatapan tak suka. Ia urung menjawab permintaan Sean.

__ADS_1


......***......


Boy melangkah gontai usai memeriksakan kondisi tubuhnya di rumah sakit. Ia menyesali keputusannya yang ingin mengetahui mengenai kondisi tubuhnya yang akhir-akhir ini mulai melemah tidak seperti biasanya. Selama ini ia hanya mengira jika dirinya hanya kelelahan saja. Namun pada kenyataannya semua tak seperti yang ia harapkan.


Boy menghubungi Fajri dan bertanya apakah ia sibuk atau tidak malam ini. Boy merasa butuh seorang teman untuk sekedar berbincang. Fajri meminta Boy untuk datang ke apartemen tempatnya tinggal. Pria jenius yang satu itu adalah kawan Boy yang pandai mengutak atik mesin.


Boy tiba di apartemen Fajri dengan wajah tertekuk dan lesu.


"Ada apa denganmu, kawan? Apa kau sedang bermasalah dengan Natasha?" tanya Fajri.


Boy menggeleng kemudian merebahkan tubuhnya di atas sofa. Tak lama bunyi bel menginterupsi keduanya.


"Apa kau mengundang orang lain lagi?" tanya Fajri sambil melangkah menuju pintu.


Seorang kurir pengantar makanan berdiri di depan pintu.


"Cari siapa?" tanya Fajri.


"Maaf, ini adalah pesanan Tuan Boy Avicenna," ucap si kurir pria.


"Eh? Pesanan Boy? Baiklah, bawa kemari." Fajri menerima barang yang dipesan Boy dan membayarnya.


"Apa kau sudah tidak waras? Kau memesan minuman keras?" sungut Fajri.


"Sudahlah, kemarikan saja!" Boy merebut bingkisan di tangan Fajri.


Boy membuka bungkusnya kemudian membuka tutup botol minuman beralkohol itu kemudian menenggaknya.


Fajri hanya menggeleng pelan melihat tingkah sahabatnya. Tidak pernah sekalipun ia melihat Boy hingga terpuruk seperti ini.


"Sebenarnya apa yang membuatmu jadi seperti ini, Boy?" gumam Fajri.


"Astaga! Kau benar-benar sudah tidak waras! Aku akan menghubungi Natasha dan memintanya datang kemari. Aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan kalian!" ucap Fajri kemudian menghubungi ponsel Natasha.


Fajri merutuki kebodohannya. "Yang benar saja! Ini sudah tengah malam, tidak mungkin aku meminta Natasha datang kemari. Ah, sial! Sebaiknya aku hubungi Rana saja agar menemaniku disini," putus Fajri.


......***......


Keesokan harinya, Fajri mengerjapkan mata dan melihat Boy yang terkapar di atas sofanya. Ditambah lagi kehadiran Rana yang malah ikut mabuk bersama dengan Boy. Sepertinya disini hanya Fajri yang masih berpikir jernih.


"Bangun! Aku memintamu datang kemari untuk menemani Boy, bukan untuk ikut mabuk bersamanya!" Fajri menggoyangkan tubuh Rana hingga ia terbangun.


Rana menguap dan menyadarkan diri dari pengaruh alkohol. "Maafkan aku! Aku tidak tahu jika Boy akan sekacau ini."


"Apa tidak ada yang kalian bicarakan selama kalian saling mabuk? Untung saja aku tidak mengundang Kenji. Bisa hancur apartemenku jika dia juga ikut datang." Fajri mengacak rambutnya.


"Entahlah! Aku tidak ingat dengan jelas apa yang dia bicarakan. Aku hanya samar-samar mendengar jika dia baru saja melakukan tes kesehatan bersama Dion, lalu dia dinyatakan sakit."


Fajri membulatkan matanya. "Sakit? Sakit apa?"


"Aku tidak tahu. Dia tidak bicara dengan jelas. Kau sendiri kenapa malah tidur dan tidak mendengar racauan Boy?"


"Aku sudah sangat mengantuk. Lagi pula kalian minum sampai pukul tiga pagi!" Fajri kembali menggeleng pelan dengan tingkah kedua sahabatnya.


Setelah keadaan terkendali, Fajri menghubungi Natasha dan memintanya datang. Fajri meminta Rana agar membantunya membawa tubuh Boy masuk ke dalam kamar Fajri. Ia tak ingin di cap sebagai sahabat yang buruk karena membiarkan Boy tidur di sofa.


Tiga puluh menit kemudian, Natasha datang ke apartemen Fajri.


"Maaf jika aku membuatmu datang sepagi ini," ucap Fajri.

__ADS_1


"Tidak apa. Jadi, semalam Boy menginap disini?" tanya Natasha.


"Iya, dia datang dengan keadaan yang cukup kacau," jawab Fajri.


"Aku minta maaf karena sudah merepotkan kalian. Lalu, dimana Boy sekarang?"


"Dia ada di kamarku. Mari!" Fajri menunjukkan arah kamarnya.


"Dia masih tidur. Semalam ia mabuk bersama Rana. Aku benar-benar minta maaf karena tak bisa mencegahnya."


Natasha berusaha mengulas senyumnya. "Sekali lagi terima kasih, Fajri."


Fajri mengangguk kemudian membiarkan pasangan kekasih itu menyelesaikan masalahnya.


"Boy! Bangun!" Natasha mengguncang tubuh Boy. Sebenarnya ia masih kesal karena sejak semalam Boy tidak menjawab panggilan darinya.


"Boy! Bangun! Jadi ini alasannya kau tidak menjawab panggilan dariku? Kau mabuk dan merepotkan sahabatmu sendiri. Boy!"


Boy tersentak karena mendengar suara teriakan Natasha.


"Nat?" Boy mulai menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam matanya.


"Kau disini? Bagaimana bisa?" Boy masih tidak sadar dengan apa yang sudah dilakukannya.


"Kau tidak mengangkat panggilan dariku dan kau mabuk di tempat sahabatmu! Kau harus menjelaskan semua ini padaku, Boy!" Natasha mulai naik pitam.


"Maafkan aku, Nat. Semalam aku ... aku ... " Boy tak kuasa melanjutkan kalimatnya.


"Kau apa?" tanya Natasha.


"Aku ... aku .... "


"Kau bisa berbagi denganku jika kau punya masalah. Kita adalah pasangan, Boy. Kau harusnya bisa percaya padaku, bukan dengan cara seperti ini!"


"Maaf, Nat. Aku terbawa emosi dan suasana."


Natasha masih menunggu penjelasan dari Boy.


"Aku mencintaimu, Nat. Sangat mencintaimu, tapi..."


"Tapi?" Natasha tidak percaya jika Boy terus menjeda ucapannya.


"Aku sakit, Nat. Aku ... aku bukanlah pria sempurna. Aku..."


"Kau pikir aku sempurna? Aku adalah wanita buatan yang lahir berkat dirimu. Aku bahkan tidak memiliki apa yang wanita miliki pada umumnya. Tapi kau tetap memilihku. Apa kau pikir aku tidak pernah memikirkan hal ini? Aku takut suatu saat kau meninggalkan aku karena aku tidak sempurna. Aku bahkan tidak bisa memberimu keturunan." Suara Natasha mulai melirih. Hatinya sakit saat mengutarakan apa yang menjadi ganjalan hatinya.


"Maafkan aku..." Boy memeluk Natasha yang tubuhnya mulai bergetar.


"Aku bahkan tidak berpikir jika kau begitu menderita memikirkan hal ini. Maafkan aku! Mulai sekarang kita akan menghadapi ini bersama. Segala kesakitan kita, akan kita hadapi bersama." Boy mengeratkan pelukannya.


......***......


...B E R S A M B U N G...


Para cameo di part ini ada dalam novel "Anak Sultan Milik CEO karya Bucin Fii Sabilillah" dan juga "Rasa, Rana dan Lara karya Restviani,"


Yang penasaran dengan novelnya bisa cuss mampir ya 😁😁


"Sebenarnya sakit apa yang di derita Boy? Apakah sama dengan yang di derita Roy? Yuk tebak tebak, kali aja bener, he he he."

__ADS_1


__ADS_2