Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 162. Takut Kehilangan Lagi


__ADS_3

Boy tiba di rumah sakit Avicenna dan langsung mendapat penanganan dari para dokter senior. Maliq segera memeriksa kondisi jantung Boy. Roy juga memanggil dokter ahli toxic untuk mengetahui racun apa yang di suntikkan ke dalam tubuh Boy.


Aleya hanya bisa menangis melihat kondisi Boy yang tak sadarkan diri. Rion menghampiri Aleya dan menenangkannya.


"Tenanglah! Aku yakin Boy adalah orang yang kuat. Dia pasti bisa melawan efek racun itu," ucap Rion.


Aleya hanya mengangguk. Rion kembali pergi dan menuju ke kantin. Ia membelikan beberapa makanan untuk Aleya.


"Makanlah dulu!" Rion menyodorkan roti dan sekotak susu.


"Aku tidak lapar," jawab Aleya yang wajahnya mulai pucat.


"Wajahmu pucat begitu. Kau harus tetap makan. Boy pasti akan sedih jika kau juga ikut sakit."


Aleya berpikir sejenak kemudian mengambil makanan di tangan Rion.


"Terima kasih, Kak," balas Aleya lalu melahap roti di tangannya.


Tak lama keluarga Boy ikut datang ke rumah sakit. Aleya segera menyudahi makannya.


"Bibi Lian, Bibi Riana," sapa Rion.


"Rion, bagaimana kondisi Boy?" tanya Lian dengan wajah cemas.


"Paman Roy dan ayah sedang menangani Boy. Bibi tenanglah!"


Riana memapah Lian untuk duduk di bangku panjang ruang tunggu. Sekilas Lian melirik kearah Aleya.


Aleya hanya menunduk karena merasa bersalah. Rion kembali pergi untuk membelikan minum untuk Lian dan Riana.


"Bibi, minumlah dulu!" Rion menyerahkan dua cup teh untuk Lian dan Riana.


"Terima kasih, Nak," balas Riana.


Tiba-tiba Aleya mendekati Lian dan Riana.


"Nyonya, maafkan saya," ucap Aleya.


"Karena saya Kak Boy jadi terluka," lirih Aleya sambil terisak.


Lian beranjak dari duduknya dan memegangi kedua bahu Aleya.


"Jangan merasa bersalah. Boy sudah berjanji akan menyelamatkanmu. Tentu saja itu sudah jadi kewajibannya untuk menolongmu."


"Tapi, Nyonya..."


"Jangan memanggilku nyonya. Panggil saja bibi."


"Baik, Bibi. Apa Bibi tidak marah padaku?" tanya Aleya gugup.


"Tidak, Nak. Aku yakin putraku adalah orang yang kuat. Kau juga harus yakin jika Boy pasti bisa selamat."


Aleya tersenyum. Ia merasa mendapat kekuatan karena Lian tidak marah padanya.


Rion yang melihat pemandangan itu seketika mundur perlahan. Lian sudah memberikan restu. Pasti akan mudah untuk Boy dan Aleya bersatu. Pikirnya.


Rion menyingkir dari depan ruang operasi dan berjalan menuju ruangannya.


"Rion!"


Di tengah perjalanan, Rion bertemu dengan Dion dan Zetta.


"Bagaimana kondisi Boy dan Aleya?" tanya Dion.


"Aleya baik-baik saja. Tapi Boy masih di ruang operasi," jelas Rion.


"Lalu kau mau pergi kemana?" tanya Zetta.


"Aku ingin menghirup udara segar sejenak," balas Rion kemudian kembali melangkah.


Dion dan Zetta pun kembali melanjutkan langkahnya.


......***......


Setelah berkutat selama tiga jam dalam ruang operasi, para dokter keluar dari ruang itu. Lian tak sabar ingin mengetahui kondisi putranya.

__ADS_1


"Mas, bagaimana Boy?" tanya Lian pada Roy.


"Dia sudah melewati masa kritisnya. Tapi..."


Semua orang nampak menunggu penjelasan Roy.


"Sepertinya kita membutuhkan penawar untuk bisa membangunkan Boy," lanjut Roy.


"Eh? Penawar?" ucap semuanya serempak.


"Untuk sementara kami akan mengobservasi kondisi Boy. Kalian tenanglah. Berdoa saja semoga Boy cepat siuman. Yang terpenting kondisi jantungnya dalam keadaan normal," papar Maliq.


Maliq melirik kearah gadis yang bersama Aleya. Sepertinya ada sesuatu antara putranya dan gadis yang bersama Aleya.


"Bibi, malam ini bibi pulanglah. Biar aku saja yang menjaga Kak Boy disini," tawar Aleya yang pastinya cukup mengejutkan untuk semua orang yang ada disana.


Lian tersenyum. "Kau yakin baik-baik saja? Bukankah kau juga baru saja mengalami kejadian yang tidak mengenakkan?"


"Tidak, Bi. Aku yakin. Aku akan menjaga Kak Boy. Percayalah!" tegas Aleya.


Roy memberi kode agar membiarkan Aleya menjaga Boy.


"Aleya, apa kau yakin akan berada disini?" tanya Zetta.


"Iya, Kak. Semua ini terjadi karena Kak Boy menolongku. Aku tidak bisa membiarkan dia sendiri disini."


"Baiklah jika itu maumu. Jangan lupa jaga kondisi tubuhmu."


"Iya, Kak."


......***......


Pagi harinya di kediaman keluarga Ibrahim, Dion yang sudah rapi dengan setelan jasnya keluar dari kamar dan menemui Rion di kamarnya. Tanpa harus mengetuk pintu ternyata Rion juga hendak keluar dari kamarnya.


"Ada apa, Kak?" tanya Rion.


"Ada yang ingin kubicarakan denganmu. Oh ya, semalam kau pergi kemana? Kau tidak kembali lagi menemui kami."


"Aku langsung pulang ke rumah dan tidur. Apa yang ingin kakak bicarakan denganku? Aku harus segera ke rumah sakit."


"Umm, begini. Aku ingin bicara dengan ayah dan ibu tentang hubunganku dengan Zeze. Menurutmu apa ayah dan ibu akan menyetujuinya?"


"Begitukah?"


"Yeah. Kalau kakak tidak percaya, kakak coba saja dulu. Sudah ya! Aku harus pergi!" Rion menepuk bahu Dion.


"Eh tunggu! Apa kau tidak ikut sarapan?"


Rion kembali berbalik. "Tidak. Aku akan langsung ke rumah sakit."


"Kalau begitu kau temui Aleya disana. Semalam dia menginap di rumah sakit. Bawakan juga makanan untuknya!" seru Dion.


Rion melambaikan tangan sambil berjalan menjauh.


"Kenapa semua orang hanya peduli pada Boy? Apa tidak ada yang tahu jika hatiku juga sakit?" gumam Rion.


Dion menyapa ayah dan ibunya lalu mereka menyantap sarapan bersama. Sambil mengunyah makanannya, Dion terus berpikir untuk mengatakan hal yang tepat di depan ayah dan ibunya nanti.


"Ayah, Ibu. Ada yang ingin kubicarakan dengan kalian," ujar Dion usai sarapan pagi telah selesai.


"Soal apa, Nak?" tanya Marinka.


Maliq nampak memperhatikan gerak gerik putra sambungnya.


"Katakan saja!" jawab Maliq.


"Begini Ayah, Ibu. Aku ... aku mencintai seorang wanita," ungkap Dion.


Marinka dan Maliq saling pandang.


"Aku ingin menikah dengannya. Aku serius dengan perasaanku padanya."


Marinka tersenyum. "Siapa dia, Nak?"


"Namanya Arzetta Sugandi. Dia pemilik Zeze Event Organizer."

__ADS_1


"Ah, gadis itu? Dia kan sering mengatur acara di keluarga kita," sahut Marinka gembira.


"Iya, Bu."


"Ajaklah dia kemari! Ibu ingin mengenalnya lebih jauh."


Dion tersenyum canggung. "Ayah, Ibu, ada hal yang harus kukatakan mengenai Zeze."


"Apa itu?" tanya Marinka penasaran.


"Dia ... dia sudah memiliki seorang anak."


Marinka dan Maliq kembali saling tatap. Sedari tadi Maliq hanya diam mendengarkan cerita Dion.


"Jadi, dia sudah pernah menikah sebelumnya? Begitu maksudmu?" tanya Marinka yang merasa putranya berbelit-belit dalam berkata.


"Bukan, Bu. Zeze belum pernah menikah."


Marinka menghela napas. Ia terlihat sedikit kecewa.


"Aku tahu Zeze melakukan kesalahan. Tapi, aku mencintai dia, Ayah, Ibu. Aku takut kehilangan dia. Dia dan anaknya adalah semangat untukku. Kumohon restui hubungan kami!" Dion memohon kepada kedua orang tuanya.


"Apa kau tahu siapa ayah dari anak Arzetta?" tanya Maliq pada akhirnya.


"Iya, Ayah. Aku tahu."


"Kenapa pria itu tidak bertanggung jawab pada Arzetta dan anaknya?" tanya Maliq.


"Itu ... Itu karena..." Dion bingung memberikan alasan pada Marinka dan Maliq.


"Baiklah. Kau tidak perlu menjawabnya. Bawalah wanita itu untuk makan malam disini," tegas Marinka yang mendapat gelengan kepala dari Maliq, namun Marinka bersikukuh ingin mengundang Zetta ke rumahnya. Maliq pun dengan pasrah menyetujui ide istrinya.


"Baik, Ayah, Ibu. Terima kasih banyak!" Dion mencium pipi orang tuanya bergantian. Dengan hati berbunga pria itu pergi ke rumah sakit untuk melakukan pekerjaannya.


......***......


Sementara itu di rumah sakit, Aleya masih setia menemani tubuh Boy yang masih belum sadarkan diri. Ia menatap wajah pria yang biasanya dingin itu dengan tatapan sendu.


Kenangan bersama Boy kembali menyeruak dalam ingatan Aleya. Bagaimana pria itu selalu berkata ketus kepadanya, bagaimana mereka berdebat dulu. Semuanya membuat Aleya tersenyum.


Kini ia tidak menginginkan apa pun selain pria itu kembali membuka mata. Aleya mengecup kening Boy kemudian keluar dari kamar itu.


Aleya duduk di bangku depan kamar rawat Boy.


"Selamat pagi, Aleya!" suara seseorang membuat Aleya mendongak.


"Nathan?"


"Iya, ini aku. Kudengar kau menjaga kakakku disini, jadi kubawakan sarapan untukmu. Kau pasti belum makan." Nathan memberikan sebuah paper bag yang berisi makanan.


"Terima kasih," ucap Aleya menerima paper bag itu.


Nathan duduk di samping Aleya.


"Aku yakin kakakku pasti akan kembali," ucap Nathan.


"Aku tidak menyangka jika ternyata perasaan kalian begitu kuat. Terpisah selama bertahun-tahun tapi hati kalian masih bertautan. Aku yakin kau adalah jantung hati kakakku."


Aleya berkaca-kaca mendengar kalimat Nathan. Ia bahagia sekaligus sedih. Ia tahu saat ini ia tengah menyakiti hati orang yang dengan tulus mencintainya. Tapi apa mau dikata. Cinta tak bisa dipaksakan. Sekuat apa pun kau mencoba mencinta, jika hati tak menyambut, tetap saja semua akan sia-sia.


"Jangan sedih! Aku pastikan kau tidak akan kehilangan kakakku."


"Terima kasih, Nathan." Aleya mencoba tersenyum meski saat ini hatinya begitu takut. Takut kehilangan orang yang dicintainya.


...B E R S A M B U N G...


*Hiks hiks hiks, sedih campur bahagia.


Semoga Boy cepat pulih 😢😢


*Coming UP next,


➡➡➡➡Rion memutuskan pergi 😩😩


Dan si koplak Kenji akan kembali hadir 😨😨

__ADS_1


...Stay tuned for the next UP,...


...Thank You...


__ADS_2