Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 133. Purnama Merindu


__ADS_3

Hari itu, Lian berkunjung ke rumah Riana. Lama tak bercengkerama membuat Riana merindukan masa-masanya yang lalu bersama Lian. Mereka saling mengenal sejak masih remaja. Banyak suka dan duka yang mereka hadapi bersama. Namun banyak hal juga berubah.


Mereka kini hidup masing-masing dengan keluarga kecil mereka. Hubungan pertemanan mereka makin bertambah erat saat putra dan putri mereka menjalin hubungan hingga bertahun-tahun lamanya.


"Lian?" Mata Riana berbinar ketika melihat sahabatnya berkunjung ke kediamannya.


"Hmm, iya ini aku," jawab Lian datar.


"Ayo masuk! Kenapa tidak menelepon dulu sebelum datang? Aku akan siapkan banyak camilan untuk kita berdua." Riana menggamit tangan Lian untuk masuk ke dalam rumahnya.


"Maaf, ponselku rusak. Jadi aku tidak bisa menghubungimu."


"Ah, begitu. Duduklah! Aku akan membuatkan teh untukmu." Riana masuk ke dalam dapur.


Lian mengangguk tanpa ekspresi apapun. Sungguh ia ingin mengumpati sahabatnya itu. Namun entah kenapa suaranya tercekat. Yang ia ingat hanya permintaan putranya agar tetap bersikap baik kepada Riana. Sungguh Boy selalu bisa mengambil hatinya.


Tak lama, Riana datang dengan membawa dua cangkir teh.


"Silakan diminum. Kupikir kau selalu sibuk di yayasan."


"Ya begitulah. Aku hanya menyempatkan diri untuk mampir sebelum berangkat ke yayasan."


Kini yayasan Avicenna Grup di pegang oleh Lian, terutama yang berhubungan dengan sekolah-sekolah yang ada di bawah Avicenna Grup.


"Umm, begini. Aku dan Mas Roy punya rencana untuk berkunjung kemari bersama dengan Boy. Kurasa sudah saatnya Boy dan Natasha melangkah ke jenjang selanjutnya," jelas Lian.


"Eh?" Riana tertegun.


"Mereka sudah bersama selama bertahun-tahun. Meski mereka masih muda, tapi aku rasa mereka sudah siap untuk menikah."


"Kita serahkan semuanya saja pada mereka, Li. Aku tidak ingin memaksa mereka untuk menikah dalam waktu dekat. Lagi pula karir Natasha..."


"Karir? Kau mementingkan karir putrimu? Luar biasa sekali kau, Riana. Putrimu masih bisa berkarir bahkan setelah menikah. Putraku tidak pernah melarangnya untuk berhenti, bukan?"


"Lian, apa yang kau bicarakan? Aku hanya ingin mereka menentukan masa depan mereka sendiri. Kita tidak perlu ikut campur urusan mereka."


Lian hanya diam dan tak menjawab. Ia malah memutuskan untuk berpamitan setelah meneguk tehnya.


"Aku harus pergi. Sebaiknya kau tanyakan pada putrimu, apa yang sebenarnya dia inginkan. Permisi!"


Riana hanya diam memandangi Lian yang pergi dari rumahnya.


"Sebenarnya apa yang diinginkan Lian?" gumam Riana.


Sementara itu, Lian merutuki dirinya yang malah berkata sebaliknya.


"Kenapa aku malah bicara tentang pernikahan? Aku malah ingin mereka pergi dari kehidupan Boy!" gumam Lian memijat pelipisnya pelan.


"Sebaiknya aku tanyakan pada Boy. Aku harus mendesaknya agar menjawab dengan tegas!" ucap Lian lalu masuk kedalam mobilnya.


Malam harinya, Lian menemui Boy yang baru saja pulang dari rumah sakit.


"Apa kau lelah, Nak?" tanya Lian dengan memijat pundak Boy dengan tangannya.

__ADS_1


"Tidak, Ma. Ini sudah menjadi tugasku sebagai seorang dokter. Bukankah justru Mama yang lelah? Mama mengurus yayasan sebesar itu sendirian. Kenapa Mama tidak minta Bibi Riana untuk membantu Mama?"


Pertanyaan Boy membuat Lian melepaskan tangannya dari bahu Boy. Hatinya bergemuruh jika mengingat kedekatan Boy dan Riana.


"Ma, ada apa?" Kini giliran Boy yang menghampiri Lian.


"Katakan yang sejujurnya pada Mama, apa yang kau harapkan dari hubunganmu dengan Natasha?"


Boy terdiam. Entah apa yang harus ia katakan pada Lian.


"Sayang... Kenapa kau diam? Kau mencintai Natasha, bukan?"


"Ada apa ini?" Roy yang mendapati Lian belum ada dikamarnya, lantas mencari keberadaan istrinya itu di kamar putranya.


"Mas, aku sedang bertanya pada putra kita, aku hanya ingin tahu apa dia benar-benar serius dengan Natasha atau tidak," jelas Lian.


"Apa yang kau bicarakan? Tentu saja putra kita serius dengan Natasha, bahkan mereka sudah bertunangan. Justru aku ingin mereka segera meresmikan hubungan mereka dalam ikatan pernikahan. Bagaimana Boy? Kau sudah siap kan menikah dengan Natasha?"


"Eh?"


Lian dan Roy menatap putra sulungnya yang juga menatap mereka bergantian.


......***......


Beberapa bulan kemudian,


Telah kujalani hari-hari ini, semuanya terasa sunyi setelah semuanya berlalu. Aku menapaki jalan yang semesta gariskan.


Kutinggalkan semua karena hanya akan menambah luka. Namun rasa masih terpaut di hati. Akan kukenang sepanjang hidup. Jika aku pernah mencinta dan merasa dicinta. Olehnya yang tak tergapai...


^^^Bintang berkelipan dan juga awan^^^


^^^Siapa tahu rindu yang mencengkam di hatiku...^^^


^^^Aku meminta pada yang ada,^^^


^^^Aku merindu pada yang kasih,^^^


^^^Aku merayu padamu yang sudi merinduku,^^^


^^^Rindu, telah melekat dalam hatiku,^^^


^^^Walau awan lalu,^^^


^^^Rinduku tak berubah arah...^^^


^^^(Purnama Merindu)^^^


"Aleya!"


Suara Alam membuyarkan lamunan.


"Kak Alam?"

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan disini? Ini sudah hampir larut malam."


"Aku hanya suka saat berada disini. Suara air terjun dan juga kesunyian. Semua itu membuatku lebih tenang."


"Kau tidak bisa melupakannya?"


"Eh?"


"Sudah kubilang cinta dan air mata itu berdekatan. Tapi ternyata kau memilih..."


"Aku memilih cinta... Entah kenapa aku memilihnya. Meski air mataku tidak akan kering hanya dengan mengenang cinta. Tapi..."


Mata Aleya sudah mulai mengembun. Sudah beberapa bulan berlalu sejak dirinya mengenal seseorang yang membuatnya tahu apa itu cinta.


"Pulanglah!"


Aleya menatap Alam. "Katakan apa yang akan terjadi, Kak? Kau pasti tahu sesuatu, bukan?"


Alam hanya mengulas senyum. "Kau sendiri yang akan menentukan jalan takdirmu." Alam menepuk pelan bahu Aleya.


Alam berjalan pergi meninggalkan Aleya. Namun baru beberapa langkah, Alam berbalik badan.


"Kau pasti akan bahagia setelah air mata yang kau keluarkan..."


Aleya hanya tersenyum mendengar kalimat penutup Alam.


"Semoga saja, Kak. Semoga..." lirih Aleya.


......***......


Pagi hari itu, Aleya tengah sibuk membantu para dokter yang bertugas di rumah sakit Avicenna. Pembangunan rumah sakit Avicenna telah selesai dan beberapa dokter bergantian di tempatkan di rumah sakit yang berada di desa terpencil itu.


Aleya yang memang ingin belajar ilmu kedokteran, selalu bersemangat untuk membantu para dokter meski pengetahuannya masih belum banyak.


"Aleya, tolong balut luka bapak itu ya!" ucap Dokter Mina.


"Baik, Dok." Aleya dengan sigap membersihkan luka pasien yang terjatuh saat mencari kayu bakar di hutan.


"Bapak harus lebih hati-hati saat berjalan. Jalan setapak hutan memang sangat licin apalagi setelah hujan turun," kicau Aleya sambil membersihkan luka dengan alkohol.


Ingatannya menguar tentang dirinya yang hampir terjatuh saat berjalan di hutan bersama Boy beberapa bulan lalu. Dengan segera Aleya menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.


"Fokus, Aleya! Fokus!" Aleya menyemangati dirinya sendiri.


Tanpa ia sadari, ada sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan gadis cantik itu. Bahkan seulas senyum terlukis dari wajah tampannya.


"Sudah lama sekali, Aleya. Terima kasih karena kau hidup dengan baik selama ini." Sosok tampan itu kembali tersenyum melihat kecekatan Aleya dalam mengobati pasien.


...B E R S A M B U N G...


"Aw aw aw, siapakah sosok itu ๐Ÿ˜ณ๐Ÿ˜ณ๐Ÿ˜ณ mungkinkah itu adalah......


*second part for this day, hope the third part? ๐Ÿ˜๐Ÿ˜

__ADS_1


komen dibawah yg minta part selanjutnya๐Ÿ˜š๐Ÿ˜š๐Ÿ˜š๐Ÿ˜š


...terima kasih ...


__ADS_2