
24 Jam sebelum tewasnya Natasha dan Sean,
Rion yang merasa marah setelah berkelahi dengan Boy, nyatanya ia malah ingin menemui Aleya untuk meredam amarahnya. Setelah menenangkan diri dan mengobati luka memarnya di apartemen, Rion datang ke rumah Zetta untuk menemui Aleya.
Namun ternyata Rion melihat sesuatu yang membuatnya sesak. Boy juga mendatangi Aleya dalam kondisi mabuk. Rion melihat Aleya yang masih peduli pada Boy dan mengantar Boy ke rumahnya.
Rion menunggu Aleya. Dan memang Aleya langsung kembali ke rumah Zetta. Rion tak bisa berkata apapun. Ia yang membutuhkan Aleya untuk berbagi rasa malah membuatnya kecewa karena gadis itu masih memiliki rasa untuk Boy.
Rion memutuskan untuk menghilang sementara waktu.
......***.......
10 jam sebelum tewasnya Natasha dan Sean,
Natasha mendapat informasi dari orang suruhannya jika Aleya kini berkuliah di Universitas Avicenna. Ia yang sudah dipenuhi amarah segera menemui Aleya.
Bak gayung bersambut, Natasha melihat Aleya sedang di depan gerbang kampus. Ia segera turun dan memberikan pelajaran untuk Aleya. Namun sayang, ia tak sempat berbuat lebih pada Aleya karena Sean segera datang dan membawanya pergi.
Natasha amat kesal dengan Sean.
"Kenapa kau menghentikanku, Sean! Aku belum memberi pelajaran pada gadis itu, brengsek!"
"Tasha tenangkan dirimu! Kau harus sadar siapa dirimu! Apa jadinya jika kau masuk headline berita, selebriti terkenal melakukan tindak kekerasan di depan kampus Avicenna. Kampus itu adalah milik keluarga suamimu. Kau harus berpikir jernih, Tasha!"
Natasha mengatur napasnya. Apa yang dikatakan Sean ada benarnya juga. Nama baik dan ketenaran yang selama ini ia dapatkan akan hancur dalam satu hari.
"Yeah. Kau benar. Terima kasih, Sean. Sekarang bawa aku ke resto. Kurasa aku lapar," ucap Natasha yang mulai terkontrol.
"Ya Tuhan! Aku tidak bisa melihat Tasha lebih brutal dari ini. Dia akan lebih sulit dikendalikan jika terus meminum formula dari paman Noel," batin Sean.
......***......
Enam jam sebelum tewasnya Natasha dan Sean,
Sean mengantar Natasha ke apartemen mewah milik wanita itu dan berpamitan pergi.
"Kau tidak ingin menemaniku?" tanya Natasha manja.
"Benar. Semua hal tentangmu memang telah berubah, Tasha. Sikapmu yang tadinya dingin padaku dan selalu mencintai suamimu, kini berubah. Kau sudah bukan Natasha yang dulu lagi. Aku suka kau bisa mencintaiku dan membuatku seutuhnya memilikimu. Tapi, bukan dengan cara seperti ini. Sudah bertahun-tahun berlalu. Aku tidak ingin melihatmu hancur, Tasha. Aku akan menghentikan semua ini. Ya, aku akan menghentikan semua ini!" batin Sean dengan menatap Natasha.
"Ada apa? Apa yang kau pikirkan?" suara Natasha membuat Sean kembali tersadar.
"Tidak ada. Kau istirahat saja dulu. Aku akan kembali lagi nanti." Sean mengecup singkat bibir Natasha kemudian pergi. Ia akan menemui Noel dan meminta pria tua itu berhenti melakukan balas dendam.
......***......
Lima jam sebelum tewasnya Natasha dan Sean,
Sean mendatangi Noel di apartemen miliknya. Pria tua itu sedang menikmati sore hari menjelang senjanya di balkon apartemen.
"Kau sudah kembali? Bukankah biasanya kau tidak pernah pulang?" tanya Noel.
__ADS_1
"Ada yang harus aku katakan pada Paman, makanya aku pulang," jawab Sean.
"Tentang apa?" Noel menatap pria yang sudah dianggap seperti putranya sendiri.
"Tolong hentikan semua ini, Paman. Hentikan semua rencana balas dendam Paman!"
"Apa katamu?!" Noel mengernyit heran.
"Jangan jadikan Natasha sebagai alat untuk balas dendam Paman. Aku mohon!" Sean memohon dengan wajah memelas.
"Apa maksudmu? Natasha adalah milikku! Aku yang menciptakan wanita kloning itu! Dia bukanlah manusia. Dia hanya alat. Kau mengerti?!" teriak Noel.
"Tidak, Paman. Natasha bukanlah alat. Kecerdasan buatan yang Paman ciptakan seharusnya tidak digunakan untuk melakukan kejahatan! Aku mencintai Natasha dengan tulus. Dan aku akan melindunginya!" tegas Sean.
Noel menggeleng pelan. "Nak, kau akan menyesal karena kau sudah berani melawanku."
Sean tidak menggubris kata-kata Noel dan memilih pergi dari apartemen itu.
Sean melajukan mobilnya menuju kembali ke apartemen Natasha. Ia memukuli kemudi karena merasa sangat kesal dengan Noel. Pria yang ia anggap sebagai penolong dirinya nyatanya kini malah ingin menghancurkan impiannya perlahan.
"Tidak bisa kubiarkan! Aku akan membawa Natasha pergi dari sini. Aku harus membawanya pergi sejauh mungkin dari kota ini."
Sean turun di sebuah mini market dan membeli barang-barang kebutuhan dirinya dan Natasha. Tekadnya sudah bulat untuk membawa lari Natasha dari kota ini.
Tak lupa ia juga mengambil uang di kartu ATM miliknya. Ia tak ingin terlacak oleh Noel sedikitpun.
"Untuk sementara uang segini cukup untuk kami hidup. Setelahnya aku akan memindahkan uangku ke rekening yang lainnya. Iya, aku harus bisa tidak terlacak oleh paman Noel," gumam Sean.
......***......
Sean kembali ke apartemen Natasha dan meminta gadis itu untuk bersiap. Sean mengatakan semua rencananya. Tidak semuanya. Hanya tentang melarikan diri saja.
Sean meyakinkan Natasha jika dirinya amat mencintai wanita itu dan ingin hidup bahagia dengannya.
"Sean, aku masih menikah dengan Boy. Tidak mungkin aku pergi darinya. Lagi pula ada Aurel. Bagaimana dengannya?" tolak Natasha.
"Anakmu akan baik-baik saja bersama keluarga suamimu. Bukankah Boy sangat menyayangi Aurel?"
Natasha berpikir sejenak. "Kenapa kau ingin kita melarikan diri? Bagaimana dengan bisnis dan karirku?"
"Keselamatanmu lebih penting dibandingkan apa pun, Tasha." Sean memegangi kedua bahu Natasha.
Natasha melihat ada kesungguhan di mata Sean. Apa yang dikatakan pria ini ada benarnya juga. Jika keluarga Boy tahu mengenai hubungan gelap mereka, maka reputasinya juga tetap hancur. Tidak ada bedanya dengan kabur dan mencoba hidup bahagia bersama dengan pria yang sangat mencintainya. Dari pada ia harus terus bersama Boy tapi hati suaminya itu juga tertambat pada wanita lain.
"Baiklah. Aku akan ikut denganmu!" putus Natasha.
Sean tersenyum bahagia. Mereka berdua segera mengemas barang-barang mereka terutama pakaian yang akan mereka bawa.
......***......
Dua jam sebelum tewasnya Natasha dan Sean,
__ADS_1
Lian mendapat pesan misterius yang akhir-akhir ini terus menerornya. Pesan yang berkali-kali menampilkan gambar menantunya sedang bersama pria lain dalam berbagai kegiatan.
Sebenarnya Lian sudah mengetahui hubungan gelap menantunya dengan rekan bisnisnya sejak ia melihat keduanya di toko kosmetik milik Natasha yang berada di sebuah pusat perbelanjaan. (see chapter 135)
Selama ini Lian hanya bungkam karena ia tak ingin putranya hancur ketika mengetahui hubungan gelap istrinya. Semua kekecewaan terhadap menantunya itu ia simpan sendiri.
Namun malam ini Lian tak bisa diam lagi. Sebuah pesan kembali masuk dan menampilkan jika menantunya itu sedang mengemas barang-barangnya ke dalam sebuah tas besar.
"Tidak tahu malu! Apa mereka berencana kabur bersama, huh?! Tidak bisa kubiarkan! Akan kuberikan kalian berdua pelajaran sebelum kalian kabur!" sungut Lian kemudian mengendap-endap keluar dari rumah.
......***......
Satu jam sebelum tewasnya Natasha dan Sean,
Lian tiba di apartemen yang diberitahukan oleh si pengirim pesan misterius. Ia menghela napas terlebih dahulu sebelum menekan bel pintu kamar itu.
"Keterlaluan kau, Natasha! Jadi selama ini kau tinggal bersama dengan pria itu disini! Kau bahkan tidak peduli sedikitpun tentang putrimu! Dasar jaalang!" sungut Lian dalam hati.
Tak lama pintu pun terbuka. Menampakkan Natasha yang sangat terkejut melihat kehadiran ibu mertuanya.
"Ma...Ma?" ucap Natasha terbata.
"Sayang, siapa yang datang? Apa pesanan kita sudah datang?" Sean ikut melihat tamu yang datang. Sean membulatkan mata saat melihat tatapan Lian yang dipenuhi amarah.
"Tega sekali kalian melakukan ini pada putraku! Apa yang ada di otak kalian, huh? Kau sendiri yang memohon agar Boy menikahimu empat tahun lalu. Kau bahkan sempat hampir gila karena putraku ingin membatalkan pertunangan kalian. Tapi apa ini? Kau malah bersenang-senang dengan pria lain! Kau hanya ingin mempermainkan putraku, begitu?"
"Ma, aku..."
"Tidak perlu menyangkalnya. Aku sudah mengetahui hubungan kalian jauh sebelum ini. Kalian berniat untuk kabur bersama, bukan? Baik, lakukan saja. Tapi ... Kau harus berpisah dulu dengan putraku. Aku tidak ingin kau masih memiliki ikatan dengan putraku saat kau kabur bersama pria ini!" Lian berkata dengan tegas namun tetap berusaha tenang. Imejnya sebagai wanita terpandang harus tetap ia jaga meski di depan para pengkhianat ini.
"Kami saling mencintai, Nyonya. Apa salahnya dengan itu?" sahut Sean.
"Bagus sekali. Dengan begini akan lebih mudah bagi putraku untuk menceraikanmu, Natasha. Dan kau juga harus ingat, selama ini ibumu tinggal di rumah kami. Begitu kalian berpisah, ibumu itu juga harus keluar dari rumah kami."
Natasha nampak berpikir.
"Apa kau tidak memikirkan ibumu saat melakukan semua ini? Kau juga sudah membuat persahabatan diantara kami menjadi renggang. Aku muak dengan kalian berdua. Kau dan ibumu!" Lian mengatur napasnya.
"Jangan berpikir untuk kabur sebelum kau menandatangani surat perpisahanmu dengan Boy. Jika kau melakukan itu, maka aku tidak segan menyakiti ibumu!" ancam Lian.
"Besok pagi, tunggu aku datang kesini. Aku akan menyiapkan dokumen perpisahan kalian. Dan setelah itu, kau bisa pergi jauh dengan pria ini. Dan jangan lupa kau bawa serta juga ibumu itu! Rumah kami bukan panti sosial yang bisa menampung ibu seorang pengkhianat sepertimu!"
Setelah mengatakan semua hal itu di depan Natasha dan Sean, Lian pun keluar dari kamar apartemen tanpa berpamitan.
...B E R S A M B U N G...
*sudah mulai jelas atau masih abu2 nih? He he he.
Sebenarnya kisah Natasha dan Sean ini cukup mengharukan, tapi jalan yg mereka tempuh adalah salah. Lalu, bagaimana kronologi kematian mereka berdua? dan apa saja yg terjadi setelah berita kematian mereka mencuat? Tunggu di next chapter ya! ๐ฌ๐ฌ
Genks, Mumpung hari senin nih, kali aja ada yg mau kasih Vote untuk semangatin Boy. Terima kasih ๐๐
__ADS_1
...Happy Monday...