
"Danial, jangan mendekat!" Amel berupaya untuk mundur.
"Kau menolakku? Aku sudah halal untukmu," Danial menyentuh dagu Amel dengan satu jari telunjuknya.
"Danial, aku tahu itu. Tapi.. Tapi..,"
"Tapi apa? Bukankah ini bukan yang pertama untukmu, mengapa kau gugup sekali?" Danial semakin mendekat, kini Amel terperangkap antara sandaran tempat tidur dan tubuh besar Danial.
"Jangan coba-coba, Danial! Aku akan teriak!" Amel mengancam.
"Tolong!" teriak Amel yang disambar ciuman hangat dari Danial.
Cukup lama Danial mencium bibir Amel. Karena kehabisan nafas, Amel mendorong Danial tapi tubuh Danial yang kuat mengakibatkan Danial mundur hanya sedikit.
"Amel! Jangan menolak sesuatu yang halal bagimu, kau sudah banyak berdosa dengan melakukan hubungan dengan pria yang belum menikahimu," ujar Danial bijak, untuk pertama kalinya Danial sebijak ini.
"Apa bedanya aku dengan dirimu, Danial! Kau juga sama, aku tahu masa lalumu, Danial," ucap Amel sebal.
"Jangan basa-basi, kau ingin membuka pakaianmu atau aku yang membukanya," Danial langsung to the point.
"Bisakah kita mengundurkan waktu untuk melakukannya, misalnya 5 tahun kedepan," Amel mencoba mencari-cari bahan pembicaraan agar Danial melupakan niatnya itu.
"5 tahun kedepan? Kau ingin membuatku sengsara," ucap Danial dengan nada kesal.
"Aku.. Aku.. Tidak ingin membuatmu sengsara,"
"Wanita ini terlalu banyak bicara, kau tahu aku sudah sangat tidak sabar,"
Setelah membuang pakaian Amel kesembarang arah. Danial baru sadar bahwa Amel juga tidak kalah cantiknya. Iya, Amel terlihat cantik walau tidak memakai sehelai kain pun.
__ADS_1
"Kenapa aku baru sadar kalau kau begitu cantik, mengapa tidak dari dulu aku menikah denganmu?"
***
"Lihatkan sudah hampir 2 hari Papamu tidak membalas pesan mama, dia sungguh menyebalkan," Dilah mengomel sambil menyuapi Franz dengan bubur.
Ponsel Dilah bergetar, ia mengambilnya dari meja yang tidak jauh dari tempat ia duduk.
"Franz, pesan dari Papa kamu," ucap Dilah girang tanpa membaca pesannya terlebih dahulu.
"[iya, terima kasih]" Dilah membacanya dari dalam hati.
"Hanya itu? Hanya itu balasannya. Memangnya tidak bisa membalas lebih panjang lagi?" Dilah mengucapkannya dengan geram. Franz yang melihat ibunya mengomel membuat ia tertawa munggil.
"Franz, kau mentertawakan Mama," Dilah mendadak cemberut.
"Nak, tidur ya!" Dilah meletakkan Franz di box bayi. Namun, Franz meronta-ronta dan menangis.
Dilah mengangkat Franz dan meletakkannya di tempat tidur.
"Tidur sama Mama ya, Nak." ucap Dilah sambil mengelus punggung Franz.
Ini kesempatan bagus untuk membuat Ali cemburu, batin Dilah
Dilah memontret dirinya sedang mencium Franz. Kemudian, ia mengirim poto tersebut kepada Ali.
Ali sudah selesai makan, ia duduk di sofa sambil menulis sesuatu. Ponselnya bergetar dengan malas ia mengambil ponselnya tersebut. Kemudian, ia melihat kiriman poto dari istrinya.
"Mereka begitu mengemaskan, rasanya aku ingin pulang untuk memeluk mereka berdua," ujarnya tersenyum.
__ADS_1
Ai menghubungi Dilah, ia sangat merindukan istri dan anaknya.
"Assalamualakum," Ali mengucapkan salam.
"Wa'alaikum salam," jawab Dilah dengan jutek.
"Franz sedang apa?"
"Sedang tidur,"
"Aku merindukan kalian,"
"Kami juga," ucap Dilah singkat-singkat.
Ali tertawa pelan mendengar jawaban Dilah yang begitu pendek.
"Ada apa, ayo cerita!" ucap Ali sedikit tertawa.
"Tidak mau, aku mau tidur," ucap Dilah sebal.
Rasa sebalnya ini diakibatkan balasan pesan yang begitu singkat yang dikirim oleh Ali.
"Maaf menganngumu ingin tidur, aku tutup ya," Ali belum memutuskan sambungan.
"Hah, jangan! Iya, iya, aku cerita. Jadi begini, aku merindukanmu, aku sangat merindukanmu. Kumohon jangan siksa aku karena rasa rindu ini, kumohon pulang ya Sayang. Aku.. Aku.. Aku janji akan selalu percaya padamu,"
Aku juga tersiksa karena rasa rindu ini, tapi aku tidak mungkin pulang. Aku sudah terlanjur menerima misi ini, Ali membantin.
"Sayang, kamu pulang ya!" Dilah berkaca-kaca.
__ADS_1