Jatuh Cinta Padamu

Jatuh Cinta Padamu
Bodoh Kalian!


__ADS_3

"Bawa Nona ke dalam," perintah Vio pada anak buah yang lainnya.


Kebetulan hari ini Cikha dan Luci lembur jadi Vio memerintahkan mereka untuk menjaga Dilah.


***


Ali masih meronta-ronta agar ikatannya longgar tapi mereka mengikatnya dengan kuat.


"Mengapa kalian mengingikan istriku hah!'" suara Ali memenuhi ruangan dan Reno tersenyum iblis kecuali Wildan yang terus saja menunduk.


"Kau bodoh atau apa? Istrimu itu orang terkaya. Jika kami memiliki istrimu tentu saja kami akan menjadi kaya," Reno menyeringai.


"Bodoh kalian, jika ingin kaya bekerjalah." ujar Ali berteriak.


"Cukup!" teriak Reno, wajahnya memerah menahan amarah.


"Aku akan menunjukkan sesuatu padamu," Reno tertawa iblis. Ia mengelilingi Ali dengan tawa jahatnya.


"Apa yang ingin kau tunjukkan?" Tanya Ali dengan menatap Reno tajam.


"Danial!" panggil Reno pada adiknya.


"Iya kak," Danial datang dengan wajah pura-pura polos.


"Jadi kalian kakak adik?" Ali berpura-pura kaget padahal ia tahu sebenarnya.


"Benar agen Ali, hahaha." Reno tertawa iblis.


"Wildan! Jelaskan padanya mengapa aku bisa memaksamu ke sini?" tanya Reno dengan suara berteriak.


"Maafkan aku Tuan Ali, aku terpaksa mengikuti rencana jahatnya. Aku diancam Tuan Ali. Jika tak mengikuti mereka, mereka akan membunuh ibuku. Satu-satunya orang yang kumiliki," ujar Wildan dengan nada sedih.


"Cukup! aku tak mau melihat air mata disini. Wildan, pergilah sebelum aku berubah pikiran!" teriak Reno, dengan segera Wildan lari dan meninggalkan tempat tersebut.


"Sekarang aku ingin melihat air matamu Ali." suara Reno terdengar misterius.


Reno, Danial, dan lainnya menyiram seluruh ruangan dengan bensin.


"Hahaha, sebentar lagi kamu mati Ali." ucap Reno tersenyum tipis.


***


"Nona sudah sadar?" tanya Luci khawatir.


"Iya, kepalaku agak pusing." ucap Dilah sambil memegang kepalanya.


"Duduklah Nona dan minum air ini." Cikha memberikan air putih.


***


Ali tersenyum senang melihat mereka menyiram bensin ke ruangan tersebut.

__ADS_1


"Kenapa kau sesenang itu Agen Ali, apakah kau tak sabar ingin bertemu Tuhan?" tanya Reno sambil tertawa senang.


"Bodoh kalian!" Ali lepas dari kursi dan tali yang mengikatnya. Kemudian ia menyingkirkan tali-tali tersebut ditubuhnya.


"Hei mengapa kau bisa lepas?" tanya Danial bingung, Reno yang menyiram bensin langsung menoleh kearah Ali.


"Aku mata-mata, ikatan seperti ini gampang sekali untuk di lepas." sekarang Ali yang tertawa misterius.


Ali mengeluarkan korek api dan menghidupkannya. "Siapa yang akan mati disini?" tanya Ali sambil mencoba membakar rumah tersebut.


"Lari!" teriak Reno dan Danial.


Seketika mereka keluar dari rumah tersebut. Rumah tersebut terbakar dengan hebatnya dan terdengar ledakan akibat drum drum yang berada disana.


Setelah keluar dari rumah, masalah belum selesai. Ali dihadapkan dengan Reno, Danial beserta 10 anak buahnya.


"Maju kalian satu-satu!" ucap Ali sambil mengeluarkan jurusnya.


Ali berkelahi dengan mereka, mereka bahkan kewalahan melawan Ali. Ali bahkan sempat-sempatnya mengetik pesan untuk istrinya sambil berkelahi.


***


Dilah sudah sadar, ia benar-benar panik kemudian ia mengecek ponselnya.


"(Sayang jangan khawatirkan aku, aku tidak apa-apa)," pesan singkat yang dilihat Dilah.


"Vio!" panggil Dilah


"Ada apa Nona?" tanya Vio sambil mengatur nafasnya.


Vio menghidupkan komputer, ia mengetik sesuatu di komputernya untuk melacak Ali.


"Dapat Nona!" senyumnya sambil melihat Dilah, Dilah membalas senyum Vio karena senangnya.


"Ayo kita kesana!" perintah Dilah dan berusaha berdiri.


"Nona sebaiknya kami saja, Nona tetaplah disini." ujar Vio yang khawatir terhadap bosnya.


"Tidak, aku tetap ikut."


Mereka menyiapkan mobil untuk menuju lokasi dimana Ali berada. Dilah membawa 5 orang laki-laki termasuk Ikhsan dan Vio kemudian 3 lagi adalah petugas keamanan kantor yang berbadan kekar.


Mereka membawa mobil dengan sangat cepat untuk ke lokasi tersebut. Mereka melihat perkelahian yang terjadi. Dengan segera Dilah turun dan ingin mendekat. Terlihat Ali kewalahan harus menghadapi 12 orang.


"Hei, kenapa diam saja? Bantu suamiku!" perintah Dilah pada anak buahnya.


Vio, Ikhsan dan 3 lainnya menggelengkan kepala dan terlihat takut.


"Kenapa, kalian takut?" tanya Dilah marah.


"Iya Nona, itu si jahat Reno, kami tak ingin berurusan dengannya." ujar pria berotot petugas keamanan Dilah.

__ADS_1


"Iya Nona, saya hanya pekerja kantor tak mungkin saja bertarung disana," ujar Ikhsan menciut.


"Dasar lemah!" kesal Dilah dan mendekati kearah suaminya.


"Sayang jangan terlalu dekat kamu masih sakit jangan bertarung biar aku saja." ujar Ali sambil mengelak pukulan musuh.


"Sayang aku tak tega melihatmu sendirian seperti itu." Dilah sangat sedih melihat ada darah di pipi dan tangan Ali karena pertarungan sengit.


Ali memukul anak buah Reno kemudian anak buah Reno tersungkur dan kesakitan akan tetapi ada 11 orang lagi yang akan di lawan. Ali mendekati istrinya sambil tersenyum karena 11 orang lagi masih sedikit jauh darinya.


"Sayang boleh aku minta ciuman," Ali menggoda istrinya dengan tersenyum.


Reno dan Danial mendengar itu kemudian mereka melotot sambil memegangi tangan yang sakit akibat pukulan Ali tadi.


"Untuk apa?" tanya Dilah penasaran dan pipinya merah merona.


"Sebagai kekuatan," ujar Ali, Dilah mengangukkan kepala dan mencium Ali di depan anak buah Reno dan karyawannya.


"Kurang ajar sempat-sempatnya mereka melakukan itu di saat genting sekali pun." ucap Danial kesal, ia masih mencintai Dilah mantan pacarnya.


"Tuan Ali, lihat ada yang ingin memukul Anda," suara Vio yang melihat Danial membawa kayu.


Ali membuka mata dan melepaskan ciuman kemudian ia menghindari pukulan Danial. Dan benar saja, setelah mendapatkan ciuman. Ali jadi semakin kuat, ia memukul mundur anak buah Reno.


"Ayo kita kabur!" ucap anak buah Reno serentak sambil memegang perutnya yang sakit.


Tinggal Reno dan Danial yang belum bangkit karena masih merasakan sakit. Kemudian Reno dan Danial bangkit dan jalan perlahan untuk melarikan diri.


"Aku akan membalasmu Ali." kesal Reno dan pergi meninggalkan tempat tersebut.


Dilah memepah Ali yang kesakitan ke mobil. Walaupun Ali menang tapi tetap saja ia merasakan sakit akibat pukulan Reno dan Danial beserta anak buahnya.


"Terima kasih telah menolongku," senyum Ali sambil membersihkan darah segar dibibirnya.


Dilah mengangguk dan membuka tasnya untuk mencari tisu dan membersihkan wajah Ali dari darah akibat pertarungan sengit.


"Auw, sakit Sayang," ucap Ali, karena Dilah menyentuh lukanya.


"Setelah sampai rumah, aku akan mengobatimu," senyum Dilah dan masih membersihkan lukanya.


"Iya, terima kasih atas perhatiannya." senyum Ali menggoda.


Dilah tiba-tiba kesal dan mengingat betapa khawatirnya ia pada suaminya. Dilah menyikut perut Ali dengan pelan namun Ali bersuara berlebihan.


"Aduh, sakit Sayang," ucap Ali memegang perutnya.


"Sakit ya, maafkan aku," suara Dilah terdengar khawatir.


"Becanda," tawa nakal Ali.


"Supir, bisakah lebih cepat sedikit aku ingin segera diobati istriku tercinta." ucap Ali sambil tersenyum pada Dilah, Dilah membalas senyum itu dengan cemberutnya.

__ADS_1


"Baik Tuan,"


Haa.... Kenapa aku dibilang supir, aku kan manager pemasaran di kantor istrinya. Batin Vio menjerit.


__ADS_2