
"Tidak ada sedikit pun rasa cinta untukmu," ucap Denia kesal.
"Aku mengerti!" sebenarnya rasanya sakit sekali, tapi Ryan mencoba untuk menahannya.
"Permisi Kak!" Mita masuk ke ruangan Ryan.
Sekarang Mita bekerja di perusahaan MWM yang di pimpin oleh kakaknya sendiri. Ryan sudah berjanji akan menjaga Mita untuk menjalankan wasiat ayahnya.
"Eh, ada Kakak ipar juga," Ryan memberi isyrat sesuatu sehingga Mita mengucapkan kata, "ups," dan menutup mulutnya dengan satu tangan.
"Ada apa Mita?" tanya Ryan yang tersenyum manis.
Denia yang tidak mengetahui Ryan dan Mita adalah kakak adik membuat Denia agak sedikit kesal melihat kehadiran Mita.
"Aku membawa makanan untukmu, Kak," ucap Mita sambil membuka bekal makanan.
Denia ingin beranjak pergi, "Denia, kau tak mau makan ini?" ucap Ryan menawarkan makanan.
"Tidak usah, aku buru-buru," ucap Denia dengan senyum terpaksa.
"Apakah dia cemburu, Kak?" tanya Mita tertawa kecil.
"Tidak mungkin, dia memang seperti itu," ucap Ryan, ia tak mau adiknya atau orang lain mengetahui kehidupannya.
"Tapi aku melihat aura cemburu terpancar dari wajahnya," sebagai sesama wanita Mita mengetahui bahwa Denia cemburu.
"Semoga saja," ucap Ryan tersenyum tipis.
Setelah makan masakan buatan adiknya, Sekarang Ryan melaksanakan rapat dengan Kliennya.
Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam Ryan enggan pulang ke rumah. Untuk apa terlalu cepat pulang, ia tak pernah disambut istrinya ketika pulang. Jam telah menunjukkan pukul 10, Ryan bosan terus berada di kantor sehingga ia memutuskan untuk pulang. Ia sampai rumah pukul 11 karena jarak antara kantor dan rumahnya 1 jam.
Ryan membuka pintu, pikirannya menjadi bingung. Tidak biasanya Denia sudah berada di rumah. Biasanya Denia pulang paling cepat jam 12 malam.
"Tidak biasanya kamu pulang secepat ini?"
__ADS_1
"Aku tidak mabuk hari ini,. jadi aku pulang lebih awal," ucap Denia jutek.
"Tidurlah, sudah malam. Jangan biasakan bergadang!" ucap Ryan perhatian, tapi dengan nada bicara dingin.
"Siapa wanita tadi?" Denia langsung to the point untuk bertanya.
"Oh dia karyawan di perusahanku," ucap Ryan santai sambil melepas sepatunya.
"Untuk apa dia membawakanmu makanan?"
"Kau tak pernah masak untukku, jadi dia aku suruh bawa makanan setiap harinya. Lagi pula masakannya enak," ucap Ryan memuji Mita, walaupun tidak seperti itu ceritanya. Mita membawakan makanan karena inisiatif sendiri untuk lebih dekat dengan kakaknya.
Setiap hari? Degh!
"Kau tidak takut pada saat dia memasak ia memberikan racun ke masakannya," ucap Denia menakut-nakuti.
"Seandainya dia melakukan itu, aku tetap memakannya. Karena memang makanan yang dia masak sangat lezat," ucap Ryan memuji lagi, Denia bertambah kesal.
"Aku ini istrimu, bisa ya kamu memuji masakan wanita lain di depanku," ucap Denia kesal dan masuk ke kamar.
Baru pertama kali dia mengatakan hal itu. Aku senang sekali karena kami berkomunikasi cukup banyak hari ini. Biasanya aku dan Denia berbicara seperlunya saja. Ryan
Di dalam kamar Denia menggerutu karena kesal bercampur marah.
Percuma aku pulang cepat kalau dianya memuji wanita lain. Katanya dia cinta samaku tapi apa? Sudah lah, aku tak percaya kata-katamu lagi Ryan. Gerutu Denia di dalam hati.
***
Dilah dan Ali sudah berada di kamar Dilah. Kamar yang bersejarah dalam kisah kehidupan mereka.
"Sayang, kamu mual tadi?" tanya Ali sambil mengoreksi buku-buku muridnya.
"Iya," jawan Dilah cepat.
"Aku merasa tak tega melihatmu begitu, melihatmu muntah, terkadang kamu tidak nafsu makan. Terkadang kamu lemas, maafkan aku yang telah menyebabkanmu begitu,"
__ADS_1
"Tidak apa-apa Sayang, aku malah senang sekali merasakan pengalaman ini," Dilah tersenyum sambil mengelus perutnya.
Keesokan harinya Ali berangkat kerja tak lupa ia berpamitan pada istrinya.
***
Di sekolah San Teresyia Bakti Shool.
"Kamu daftar lomba Luna?" tanya Lucia kesal.
"Tahu dari mana?" tanya Luna balik.
"Tidak perlu tahu," ucap Lucia sewot, "Kamu sadar diri dong Luna kamu cuma rangking terakhir, Ter-akhir," Lucia menggunakan pemenggalan kata terakhir.
"Tidak usah mengurus yang bukan urusanmu," ucap Luna melawan dan pergi meninggalkan Lucia.
***
Jam pulang sekolah lagi-lagi Amel menghadang jalan Ali. Sehingga Ali terpaksa mengajaknya ikut.
"Sebenarnya aku ingin cepat pulang Amel," ucap Ali gelisah.
"Sebentar saja, aku ingin bicara."
Akhirnya mereka berhenti di sebuah cafe. Amel berbicara cukup lama dengan Ali. Sebenarnya Ali malas mendengar pembicaraannya akan tetapi ia tetap mendengarkannya saja. Sebagai bentuk penghormatan.
"Sudah kan Amel, aku buru-buru," Ali masuk ke mobil dan langsung pulang.
Mengapa hatiku berdebar? Rasanya aku ingin bertemu dengannya lagi dan lagi. Perasaan apa ini?
Amel merasakan hal aneh, tiba-tiba ia begitu merindukan Ali, diam-diam ia melihat media sosial Ali. Hatinya makin tidak karuan melihat wajah tersebut.
Apakah aku jatuh cinta padanya? Ini tidak boleh terjadi, aku dulu sangat membencinya bahkan aku sering menghinanya.
Amel tiba-tiba merasakan detakan jantung yang begitu berbeda. Pikirannya selalu tentang Ali. Cinta tak terduga menghampirinya.
__ADS_1
"Aku harus mendapatkanmu Ali, aku yakin kau dan istrimu tak saling mencintai." tekat Amel.