
Mereka merasa aneh mendengar jawaban Alya. Seperti ada yang ditutupi oleh Alya dari sahabatnya. Namun mereka tak bertanya lebih lanjut.
"Oh ya, katanya ada restauran pizza yang lezat banget." ujar Rara.
"Ayo dong, sekali-sekali kita ke sana untuk menyicipi benar engga sih kalau pizza nya lezat seperti yang dikatakan orang-orang." sambung Rara.
"Aku mau coba deh," ucap Celine tertarik.
"Aku juga," ucap yang lainnya serentak kecuali Alya. Alya takut jika restauran itu tempat dimana Rasya bekerja. Karena selama ini, Alya tidak tahu dimana Rasya bekerja. Yang Alya ketahui hanya Rasya bekerja di restoran pizza. Alya tidak tahu alamat dan nama tempat dimana Rasya bekerja.
"Alya, kamu ikut kita kan?" Tanya Rara dengan nada seperti ingin memaksa dengan raut wajahnya penuh harapan agar Alya ikut dengan mereka.
"Engga dulu," tolak Alya.
"Alya sekali ini aja, please... Kita udah jarang loh kemana-mana. Kamu belakangan ini sibuk sekali. Sekali ini aja ya!" Mohon Rara pada Alya.
"Iya Alya, ikut kita ya!" ucap Celine dan yang lainnya.
__ADS_1
"Baiklah," jawab Alya dengan terpaksa.
Mereka naik angkutan umum untuk sampai ke restauran pizza yang dimaksud. Jarak antara universitas dan restauran tidak terlalu jauh. Hal ini sangat menyenangkan karena hemat biaya.
"Hi Mas," Panggil mereka untuk memesan makanan kepada seorang pria yang sedang mencatat. Pria tersebut menunduk sehingga tak begitu jelas wajahnya. Ketika pria tersebut tidak menunduk dan mengalihkan pandangan kepada sumber suara. Alya sangat terkejut begitu juga Rasya. Mereka saling mengenal bahkan status mereka sangat dekat sepasang suami dan istri.
Rasya dengan berat hati mendatangi para gadis yang salah satunya adalah istrinya sendiri. Kalau Rasya tidak memperdulikan panggilan tersebut maka sanksinya bisa berupa pemotongan gaji atau yang lebih buruk adalah dipecat.
"Mau pesan apa ya, Mbak?" Tanya Rasya ramah.
"Loh, Mas ini ya yang ngantar Alya ke kampus?" Tanya Sarah, Sarah dengan jelas mengenali wajah Rasya.
"Mas siapanya Alya?" Tanya Sarah selanjutnya.
"Aduh bagaimana ini?" gumam Alya bingung..
Bagaimana jika Rasya mengatakan kebenarannya. Bisa hancur studinya nanti. Rasya juga berpikir demikian. Ia tak mau studi Alya hancur hanya karena kejujuran yang ingin dikatakan. Terpaksa Rasya harus berbohong.
__ADS_1
"Hem.. Hanya teman biasa," ucap Rasya, seketika tubuh Alya yang menegang kembali normal. Wajahnya terlihat lega.
"Kirain kekasihnya," ucap Sarah sambil tertawa kecil.
"Kenapa kamu mikirnya seperti itu sih? Kamu kan tahu Alya tidak punya kekasih sama sekali." balas Raina geram walaupun mereka sudah berbaikan tapi Raina masih tidak suka kata-kata Sarah. Raina tahu ucapan Sarah barusan adalah sindiran kepala Alya bahwa Alya itu adalah wanita kuno yang tidak mau memiliki kekasih.
"Berarti aku ada kesempatan buat dapetin kamu." ucap Sarah sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Oh ya namanya Mas, siapa?" tanya Sarah dengan nada menggoda. Membuat Alya tidak suka dengan hal itu. Wajah Alya terlihat kesal ketika Sarah mulai menggoda Rasya.
"Panggil aja Rasya, Mbak." jawab Rasya ramah.
"Engga usah panggil Mbak. Panggil aja Sarah kalau mau panggil aku sayang juga boleh." Sarah mengulurkan tangannya dan bersalaman dengan Rasya. Alya semakin kesal, ia berpura-pura mengecek ponselnya. Berpura-pura ada yang mengirim pesan padanya.
"Oh ya, maaf ya teman-teman. Ayahku menyuruhku untuk cepat pulang." Padahal ayahnya tak memperdulikannya lagi semenjak Alya menikah dengan Rasya.
"Kenapa buru-buru?" Tanya Celine.
__ADS_1
"Iya nih.. Maaf ya!" Alya berjalan dengan langkah cepat. Wajahnya cemberut melihat kedekatan Rasya dengan Sarah.
"Maaf mau pesan apa Sarah dan teman-temannya?" Tanya Rasya.