
Dilah menutup mulutnya. Ia melirik Eldo yang tersenyum misterius. Pikiran Eldo tidak bisa ia tebak.
"Kamu ingin aku suapin?" tanya Eldo masih dengan senyum manisnya.
"Tidak usah," Dilah menyingkirkan makanan tersebut. Eldo menjadi pilu, keinginannya ditolak oleh sang istri.
"Sayang, kapan kamu mau menerimaku? Aku sudah banyak membuktikan bahwa aku benar-benar mencintaimu. Aku berharap kau mau menerimaku." pinta Eldo sambil memegang tangan istrinya.
"Lepaskan! Aku tidak akan menerimamu walaupun kau baik padaku. Aku tahu Eldo kau itu pura-pura baik padaku. Kau tak ingat bagaimana kau berpura-pura baik selama 1 tahun padaku dan ternyata kau punya niat busuk sekarang aku yakin kau juga begitu." Dilah bangkit dan ancang-ancang untuk melangkah namun tiba-tiba perutnya terasa sakit.
"Aduh!" pekiknya sambil memegangi perutnya yang terasa sakit.
Eldo ingin memegang perut istrinya namun sang istri menepisnya. Tapi Eldo tak menyerah ia mencoba memegangnya. Dilah hanya pasrah melihat Eldo memegang perutnya. Karena dipegang Eldo mendadak perut Dilah membaik.
Eldo mendongak melihat Dilah sambil tersenyum menggoda. Karena dilihat terus membuat Dilah terusik ia pun memalingkan wajahnya.
"Anakku marah padamu. Kau tidak memperdulikan perasaan Papanya." jelas Eldo yang membuat Dilah melotot.
__ADS_1
"Ini tidak ada hubungannya!" Dilah menggeram kesal. "Au, au, aduh!"Dilah merasakan sakit pada perutnya.
"Eldo pengang lagi perutku!" pinta Dilah sambil mengaduh kesakitan.
"Aku tidak mau kau tidak percaya pada ucapanku." Eldo jadi kesal ia tak menuruti perintah Dilah. Ia membelakangi Dilah kesal.
"Eldo kumohon!" pinta Dilah menghiba.
Eldo masih kesal ia enggan berbicara sepatah kata pun.
"Iya, iya Eldo apapun yang kau minta akan aku penuhi," Dilah memegangi perutnya yang sakit.
"Sekarang aku boleh minta sesuatu darimu," Eldo tersenyum sekilas dan mengambil ponselnya.
"Apa?" tanya Dilah dengan jutek.
"Kalau aku meneleponmu suatu saat nanti kamu angkat ya. Kalau aku mengirim pesan singkat padamu kamu balas ya." Eldo menunjukkan ponselnya yang penuh dengan pesan singkat beruntun untuk Dilah namun tak dibalas bahkan tak dilihat sedikitpun.
__ADS_1
Dilah mengambil ponsel Eldo. Ia lihat pesan singkat yang diberikan Eldo. Mulai dari pesan romantis, pesan penuh perhatian, dan banyak lagi pokoknya.
"Aku sayang sama kamu," Eldo mencium sekilas pada kening Dilah.
tubuh Dilah menegang. Ia benar-benar bingung harus mengatakan apa. Ia juga bingung harus berbuat apa.
"Aku pernah ke rumahmu waktu itu. Aku baca buku diary kamu. Kamu sangat-sangat cinta padaku kan. Kamu juga berdoa dan menuliskan pada buku itu agar aku mencintaimu seperti kau mencintaiku. Inilah kenyataannya Sayang aku mencintaimu. Ini jawaban atas doamu. Yang awalnya aku tidak mencintaimu sekarang cinta itu datang."
Eldo memegang tangan Dilah mengecupnya dengan lembut dan menempelkannya dipipinya.
"Kau baca buku diaryku?" tanya Dilah kesal.
Betapa malunya Dilah jika Eldo benar-benar membacanya. Eldo akan tahu kadar cinta Dilah padanya begitu besar. Semua kisah perjalanan cinta antara Eldo dan dirinya waktu SMA tertulis lengkap di buku tersebut.
"Iya aku baca, mama Ayunda yang memberikan buku diarymu padaku. Itu sebabnya dia menerima lamaranku tanpa bertanya padamu. Karena Mama tahu kau sangat mencintaiku," Eldo menceritakan semuanya awal mula ia jadi ikutan jatuh cinta.
"Itu hanya masa lalu, sekarang jangan harap kau mendapatkan cintaku," Dilah masih saja angkuh dan gengsi berpura-pura tidak mencintai Eldo padahal ia sama dengan Eldo. Sama-sama mencintai pasangan mereka.
__ADS_1
Kapan kerumitan rumah tangga kalian berakhir?😰😵