
Pagi yang indah kali ini. Dimana matahari terbit dengan cerah. Alya melihat persediaan uang di celengan tinggal menipis. Ia bingung harus bagaimana mengatakan pada Rasya ia membutuhkan uang. Sedangkan minggu ini Alya harus membayar uang semester.
"Alya, mengapa melamun?" Sapa Rasya kemudian ia duduk di sebelah Alya.
Alya menggelengkan kepalanya namun Alya kembali melamun.
"Katakan ada apa?" Rasya tak percaya dengan jawaban bahasa tubuh Alya. Rasya yakin bahwa Alya menyembunyikan sesuatu.
"Aku belum bayar uang semester," ucap Alya pelan.
"Tabunganku juga menipis," sambung Alya selanjutnya.
"Oke, aku akan membayarnya. Kamu tak perlu khawatir." Jawab Rasya.
Rasya bersiap untuk pergi bekerja. Ia memanaskan motornya sambil melihat penampilannya di kaca. Alya berjalan dengan perasaan ragu. Rasya juga tak menawarkan tumpangan padanya karena peristiwa kemarin.
"Rasya, kamu mau kemana?" Tanya Alya basa basi.
"Pergi bekerja seperti biasa," jawab Rasya.
"Aku mau ke kampus, bisakah kamu memberiku tumpangan?" ucap Alya dengan nada agak ragu. Bahkan matanya terpejam siap jika Rasya menolak untuk memberi tumpangan. Namun berbeda dengan Rasya, ia merasakan perasaan yang luar biasa bahagia. Seakan bunga bunga cinta mekar di hatinya. Perasaan yang sulit dideskripsikan.
__ADS_1
"Ayo naik," ucap Rasya.
Rasya memakai kaca mata hitam untuk menambah aura keren pada dirinya. Jantung semakin berdebar ketika Alya berpegangan pada pinggang Rasya. Bahkan Rasya membawa motor tidak ngebut seperti biasanya agar momen seperti ini tidak cepat hilang. Rasya juga memberikan candaan kepada Alya agar suasana mencair. Alya tertawa mengemaskan membuat hati Rasya terasa damai. Sesekali Rasya melihat Alya dari kaca spion.
"Bahagia selalu," ucap Rasya sambil mengusap rambut Alya. Alya membalasnya dengan senyuman. Inilah hal yang mengherankan bagi Alya. Mengapa Rasya selalu berkata "Bahagia selalu," ketika Rasya menghantarkan Alya ke kampus.
"Rasya," panggil Alya ketika Rasya mulai mengendarai motornya masih tidak terlalu jauh.
"Hah?" Tanya Rasya heran. Mengapa Alya memanggilnya.
"Terima kasih, Rasya." ucap Alya tulus.
"Sama-sama,"
Jantung Rasya berdetak lebih cepat dari biasanya. Rasya kembali merasakan jatuh cinta yang sesungguhnya. Bahkan rasa bahagia tersebut terbawa hingga saat ia bekerja. Rasya terus tersenyum pada saat bekerja. Sesekali ia menyentuh dadanya yang berdetak hebat.
"Kenapa teman? Semalam kami melihatmu berwajah melas sekarang kau sangat bahagia. Ada apa?" Tanya Wina perwakilan teman temannya.
"Selama ini Alya memperlakukanku layaknya musuh.."
"Lalu?" Tanya teman-teman Rasya serentak.
__ADS_1
"Tapi tadi ketika aku mengantarkannya ke kampus untuk pertama kalinya dia mengucapkan terimakasih, Rasya."
"Wow..." Teman-teman Rasya berbinar senang. Selama ini mereka tahu hubungan Rasya dan Alya sangat rumit namun mendengar kabar baik ini mereka sangat mendukung.
"Seketika diriku seperti terbang ke angkasa kemudian jantungku berdetak kencang..."
"So Sweet...." ucap Wina
"Itu sangat manis, kawan..." Ucap Alfian sambil memeluk Rasya.
Di kampus, Alya melihat keributan aneh. Ia melihat teman-temanya berkumpul di aula kampus. Alya heran melihat teman-temanya menatap Alya sinis.
"Ada apa?" Alya menyelinap dari sekumpulan orang yang melihat dinding. Alya terkejut melihat coretan di dinding berupa tulisan. "Randy Love Alya." Semua orang membenci tindakan tersebut termasuk Alya sendiri. Ia datang menghampiri Randy yang tidak tahu malu.
"Kau suka pernyataan cintaku padamu?" Tanya Randy dengan gaya tengik khasnya.
"Dasar pengecut!" Alya memarahi Randy.
"Kau pengecut dengan cara ini kau mempermalukan ku, hah?" Ucap Alya marah.
"Ingat Alya.. Kau tidak bisa lepas dariku. Aku akan buat kamu menerima cintaku, apapun alasannya."
__ADS_1